----- Original Message -----
From: okidsw <[EMAIL PROTECTED]>
> Ya itu memang betul, karena cewek itu memang sangat suka perhatian dan
> suka
> digoda (asal digodain dengan bener oleh orang lain yang masuk
> kategorinya).
> Tapi selain cewek juga berhak menentukan siapakah orang yang tepat dan
> terbaik untuknya
Betul, dengan catatan dia tidak sedang terikat dengan seseorang.
> Jadi dalam hal memilih orang yang tepat (He's the one) faktor kesetiaan
> dalam berpacaran memang dapat dikesampingkan. Karena menikah cuma sekali,
> jadi harus dipastikan bahwa ia orang yang tepat bagi kita.
Apa sih memangnya tujuan pacaran ? Kalau memang tidak yakin dan belum pasti
bahwa dia orang yang tepat buat kita, kenapa nggak putus dulu, baru pilih
yang lain. Fair buat semuanya kan ?
> Setiap orang berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi dirinya sendiri,
> karena dialah yang akan ia ajak hidup bersama seumur hidup. Tanyakan pada
> dirimu sendiri apakah he/she (pasanganmu) layak menjadi ayah/ibu dari
> anak-anakmu ????
Exactly, oleh karena itu kalau kita diberi kesempatan untuk pacaran, gunakan
sebaik2nya untuk menjajaki sifat, kebiasaan dan kecocokan masing2, akan
tetapi harus fair and square dong, seandainya ada yang lain yang lebih
'menarik' dan lebih 'reliable' -katakan... yang sekarang silahkan diputus
dulu, start all over again dengan yang baru ini....
> Jadi kalau sudah pacaran, dan tak yakin pacar itu adalah "he is the one",
> ada orang lain yang mengejar, dan merasa orang baru ini lebih baik
> kepribadian, kedewasaan, kualitas mental, perilaku, serta yakin yang baru
> adalah 'he is the one' , jangan ragu-ragu tinggalkan yang lama dan
> beralih ke yang baru.
Nah, kalau 'tinggalkan' dan 'putuskan' nggak apa2... akan tetapi
'tinggalkan' ini harus sama sekali bersih dari unsur 'selingkuh' , 'mendua'
dan semacamnya, kenapa ...? karena kalau tidak kita akan seenaknya saja
terhadap orang lain yang menjadi pasangan kita. Kita akan melalaikan tugas
kita dalam pacaran untuk belajar 'bertanggung jawab' terhadap pasangan kita,
kita akan 'cari enak' saja terus... bayangkan betapa rapuhnya pernikahan
yang dilandasi dengan pikiran bahwa 'setiap saat ada yang lebih baik saya
akan pindah ke lain hati'... belum lagi kalau masalah subyektifitas sudah
bicara... saya kira 50 % (nggak ada data nih, asal tembak aja) pasangan yang
menikah, setelah 10 tahun akan bercerai kalau prinsipnya seperti ini...
begitu pernikahan sudah monoton, membosankan, ada teman kantor yang lebih
oke... kalau nggak punya rasa tanggung jawab, pasti akan tergoda...
> (faktor lain sebagai sebab yang dapat ditolerir adalah tampang dan body
> yang
> lebih bagus, otak yang lebih cerdas. Tetapi faktor keuangan yang lebih
> baik tak dapat ditolerir, karena itu berarti matre)
Faktor apapun tidak bisa mentolerir perselingkuhan, seperti yang sudah saya
sebutkan, seandainya ada yang lebih baik, bagus, cerdas, dll.. kenapa tidak
diputus saja dulu ?
> Lain halnya dengan kesetiaan dalam pernikahan itu harus, soalnya kita
> harus
> setia sama pasangan yang sudah kita yakini he/she is the one.
Kalau kita sudah biasa selingkuh, bagaimana caranya kita bisa setia ? Ingat
lho, pacaran itu adalah sarana untuk belajar berpikir menghadapi suatu
masalah dengan ada seseorang di sisi kita, yang ikut terpengaruh dengan apa
keputusan yang kita ambil. Belajar hidup dengan tidak 'selfish' dan hanya
memikirkan diri sendiri. Jadi apapun perilaku yang biasa kita lakukan pada
saat pacaran akan terbawa hingga menikah secara otomatis... Nggak bisa kita
berharap bahwa "gue pas pacaran aja nih kayak gini, nanti kalau menikah sih
lain..."
> Itu mungkin pendapat dari sisi orang yang punya pengalaman pacarnya
> direbut.
> Hak seorang untuk mengejar orang yang udah punya pacar, malah ada juga lho
> cowok yang berani mengejar cewek yang sudah menikah.
Heheh.. :-) mungkin begitu, walaupun saya rasa lebih ke arah 'etika' ,
'harga diri' , dan 'saling menghargai sesama pria'... Gue sih malu kalau
nyodok2 punya orang... :-) lagian gue menghargai cowok tsb, dan juga
hubungan yang mereka punyai. I respect the guy, and their relationship.
Seandainya kita benar2 beranggapan bahwa hubungan tersebut 'salah' dan
'lebih baik sama gue' (ini secara obyektif lho), kenapa nggak kita tunggu
sampai putus aja ? Kalau kita nggak sabar sampai mereka putus sendiri, kita
bisa kasih masukan ke cewek itu bahwa hubungannya nggak bener dan sebaiknya
diakhiri aja, tapi kita nggak perlu 'mencuri' punya orang lain, apalagi
dengan sadar mengajak 'selingkuh' dan sembunyi2....
> Sekarang sebagai pihak cowok yang diserang cowok lain, yang harus
> dilakukan
> adalah bagaimana tindakan anda untuk memperbaiki kepribadian, kedewasaan,
> kualitas mental, perilaku anda agar lebih baik, serta lebih memperhatikan,
> menyayangi, memanjakan dan mebahagiakan cewek anda.
Kalau ini sih udah jelas, tanpa adanya kondisi 'diserang' juga semua orang
wajib untuk memperbaiki kepribadian, kedewasaan dll tsb... Tapi kalau
seandainya ada 'doubt' dari pasangan kita, terhadap kejujuran kita, terhadap
niat kita, terhadap perasaan kita... saya sih lebih baik putus aja... "One
little doubt is more than enough..."
Oh iya, tentunya prinsip di atas adalah karena saya berpendapat bahwa "I'm
trustworthy, I never lied to you, so don't ever doubt me.."
> (perbandingan/ memilih yang lebih baik ini berlaku di semua sektor kecuali
> di sektor keuangan)
He-he-he... lucu juga, padahal saya justru pikir ini sebagai sebagai faktor
yang harus *sangat* dipikirkan untuk memasuki jenjang pernikahan. Kenapa
seseorang tidak berhak memilih yang lebih baik berdasarkan materi ? Boleh2
saja, tapi yang lama diputus dulu dong... nggak ada masalah dengan memilih
yang terbaik, semua orang mempunyai hak yang sama.... junjung tinggi
fairness dalam sebuah hubungan... itu penting.. percaya lah....
emilr
Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com