Lho ....kok sepi ya sekarang.....

Dari pada sepi lebih baik pacaran yuk....eh salah ...lebih baik mikirin soal 
pacaran yuk ......

Mohon maaf ya ......agak panjang nih lagi pula bukan karangan saya 
sendiri......saya bagi dalam beberapa bagian. Sebetulnya sudah ingin saya 
kirim beberapa minggu lalu. Namun lalu-lintasnya saat itu sedang ramai.Jadi 
nggak enak kalau kirim tulisan panjang-panjang. Sekarang ini kelihatannya 
kok sepi-sepi aja .....jadi ya mumpung lagi sepi ....saya kirim sajalah 
untuk sedikit meramaikan. Siapa tahu bisa dipakai sebagai bahan bakar untuk 
bikin diskusi jadi ramai sehingga seperti kata siapa ya kemarin itu 
......"kita bisa dapat sesuatu dari milis ini" ....Gitu kan? Percuma ikutan 
milis kalau sepi-sepi aja....

Ini bahasan tentang konsep pacaran menurut agama Islam yang ditulis di 
Republika edisi 8 Agustus. Mohon maaf sekali lagi bagi yang sudah baca. 
Tentu untuk rekan yang beragama lain bisa juga mengirim bahasan konsep 
pacaran menurut agamanya sehingga kita bisa punya wawasan tentang konsep 
pacaran menurut berbagai agama dan bisa untuk bahan peringatan bagi pemeluk 
agamanya. Iya nggak?


Pacaran : Persepsi yang Perlu Diluruskan


Siang itu, KRL (Kereta Rel Listrik) Jabotabek jurusan Bogor - Jakarta Kota 
melaju kencang. Di dalamnya, ratusan penumpang berdesak-desakan. Di tengah 
kepenuhsesakan itu sepasang remaja tampak cuek dengan keadaan sekeliling.

Tanpa sungkan keduanya berangkulan. Gaya mereka mesra sekali. Kepala si 
gadis bergayut di pundak si pria. Sesekali tangan si pria membelai rambut si 
gadis. Melihat kemesraan itu, sebagian orang seolah iri. Tapi, tak sedikit 
juga yang tampak malu dan risih menyaksikan keduanya.

Endang Hermining, ibu tiga orang anak, adalah contohnya. Tak cuma risih, ia 
juga menilai cara bergaul remaja sekarang sudah sangat mengkhawatirkan. 
''Terutama di kota-kota besar,'' kata Endang yang sehari-hari juga menjadi 
guru di sebuah SMP Negeri di Depok, Jawa Barat.

Sebagai ibu dari tiga anak [semuanya perempuan], Endang menerapkan aturan 
yang cukup ketat pada mereka. Maklum, ketiganya sudah dewasa. Si sulung, 
seorang sarjana hukum dan sudah menikah. Putri keduanya, yang berprofesi 
sebagai konsultan, akan menikah bulan depan. Sementara si bungsu masih 
kuliah di akademi sekretaris ASMI.

Menurut wanita kelahiran tahun 1945 ini, setiap kali melihat anaknya punya 
teman dekat pria, ia akan segera pasang kuda-kuda. Pertama, ia akan tanya 
agamanya. Soal agama, menurutnya, harus seiman. Kedua, ia akan mengingatkan 
pada anaknya juga pacarnya mengenai etika pergaulan sebelum menikah. Dalam 
hal ini, ia selalu menekankan bahwa soal kehormatan tidak boleh dilanggar.

''Yang satu itu hanya boleh setelah menikah,'' tegasnya. Bagaimana kalau 
pegang-pegangan? Untuk yang satu ini, ia tampaknya masih mentolerir. ''Kalau 
menyeberang jalan, lalu digandeng tangannya, saya kira nggak apa-apa.'' 
Dalam kaidah pergaulan, menurut tokoh pendidik [kepribadian] Mien Uno, 
pacaran merupakan sarana untuk saling kenal, bertukar informasi, bertukar 
pikiran, dan perkenalan sifat di antara dua orang berlainan jenis. Idealnya 
pacaran hanya pengenalan secara mental dengan baik, ditambah dengan 
mendekatkan keluarga kedua belah pihak.

Sayangnya, jelas Mien, ada kecenderungan di kawula muda bahwa makna pacaran 
diperluas dengan interpretasi masing-masing. ''Pergaulan yang membolehkan 
pergi berduaan sudah tidak sesuai dengan istilah pacaran. Itu bukan budaya 
kita, dan Islam pun melarangnya. Bahkan termasuk pertunangan yang sering 
dianggap sebagai bagian dari proses pertunangan.''

Karena itu, sejumlah tokoh wanita dan mubalighah memandang perlu adanya 
pelurusan persepsi. Pacaran yang dipersepsikan banyak orang sekarang, kata 
Ketua Departemen Kewanitaan Partai Keadilan Nursanita Nasution SE ME, 
merupakan hal yang tidak diperbolehkan. ''Itu telah mendekati zina''.

Tujuan pacaran, kalau pun boleh, adalah untuk saling kenal. Interaksi yang 
dilakukan mestinya biasa saja. Pertama, jangan melakukan sentuhan. Kedua, 
kalau sudah tidak terbendung lagi perasaannya, lebih baik menempuh jalan 
pernikahan.

Informasi calon pasangan dapat diperoleh dari orang yang dapat dipercaya 
[orangtua, guru, teman atau saudara]. Contohlah seperti yang dilakukan oleh 
Siti Khadijah waktu Rasulullah bekerja di tempatnya. Ia mengutus seseorang 
untuk mengetahui informasi mengenai Muhammad saat itu.

Hal senada disampaikan mubalighah Hj Nibras OR Salin, Hj Lenny Oemar, dan Ny 
Irena Handono [Ketua Bidang Dakwah Yayasan Persaudaraan Jamaah Haji 
Indonensia (YPJHI) Jatim dan Ketua Pengurus Wilayah Muslimat Partai Bulan 
Bintang (PBB) Jatim], Pacaran yang berlaku sekarang, kata Nibras OR Salim, 
sudah menjurus pergaulan bebas antara dua insan, seperti berangkul-rangkul, 
peluk, cium, dan sebagainya. ''Itu jelas sekali takrabuzzina [mendekati zina 
-Red] dan tidak diperbolehkan oleh Islam.''

Dia menjelaskan, kalau sekadar berkenalan, pandangan pertama, dan bergaul 
dengan menggunakan aturan dan batas-batas tertentu memang diperbolehkan. 
''Jatuh cinta atau merasa tertarik kepada lawan jenis itu manusiawi. Tapi, 
janganlah berdua-duaan, karena, menurut Hadits Nabi, yang ketiganya adalah 
setan.''

Saat ini, kata Irene Handoko, banyak orang Islam tidak memahami ajaran 
agamanya. Jika ada orang yang menerapkan ajaran Islam dalam etika pergaulan 
justru sering dianggap ketinggalan zaman. ''Ada yang bilang, bukan pacaran 
namanya kalau tak melakukan ciuman.'' Berkembang pula pemikiran bahwa 
pernikahan lewat perjodohan itu kuno. Pengertian semacam ini harus 
diluruskan.

Pacaran mestinya hanya upaya untuk melakukan pengenalan dan penjajagan atas 
calon pasangannya. Melihat foto sang calon, kemudian mengetahui latar 
belakang keluarganya, akhlaknya, agamanya, budi pekerti dan parasnya adalah 
bagian dari usaha mengenal pasangan.

''Pacaran seperti anak sekarang banyak berbenturan dengan konsep dan 
nilai-nilai Islam. Kalau definisinya begitu Islam hanya mengenal pacaran 
setelah menikah,'' kata Hj Lenny Oemar, pengasuh acara Cakrawala Islam di 
Radio Mara Bandung kepada Republika.

Lenny merujuk surat An-nur ayat 30-31 yang menyatakan pria dan wanita harus 
menundukkan sebagian pandangan. Kemudian hadis pun menegaskan bahwa 
terlarang bagi pria dan wanita yang bukan muhrim berdua-duaan di tempat 
sepi. ''Bahkan Nabi pung menyatakan lebih baik kepala ditusuk jarum besi 
ketimbang memegang tubuh wanita yang bukan mahrom,'' ujarnya.

Dalam hal mengenal calon pasangan hidup, Leny mengutip Imam Syafii yang 
menyatakan apabila ingin mengetahui kebaikan seseorang tanyakan pada 
sahabatnya dan kalau ingin tahu kelemahannya tanyakan pada musuhnya. 
''Pendekatan dalam Islam tidak berarti kontak fisik,'' tegasnya.

Informasi mengenai pasangan memang sangat perlu. Informasi yang lengkap 
dibutuhkan agar 'tidak membeli kucing dalam karung'. Jadi, pacaran, menurut 
Nursanita, bisa saja dilakukan, asal dengan aturan yang jelas, tidak 
melanggar ajaran Islam.

Perkenalan sebaiknya dilakukan singkat saja. Kalau tidak bisa menjaga batas, 
Nibras berpendapat perjodohan lebih baik. Tokoh pendidik Dr Arief Rahman 
sepakat dengan pandangan itu. ''Menikah tanpa didahului proses pacaran lebih 
baik karena akan lebih terjaga kesuciannya.''

Hanya saja, jelas Arief, banyak orang khawatir bahwa ketidak-kenalan 
masing-masing pasangan bisa menimbulkan kekecewaan di kemudian hari. Dalam 
perjodohan, kata Nursanita, bagaimana pun pihak perempuan memiliki hak untuk 
memilih. Contohnya Asma, adik Siti Aisyah. Ketika Aisyah menerima lamaran 
Umar Bin Khatab untuk Asma, tetapi ia menolak, maka Aisyah mengirimkan 
utusan untuk membatalkan lamaran tersebut.

Kalau niatnya adalah untuk menjalin cinta, menurut Arief Rahman, soal nikah 
karena perjodohan atau mencari sendiri tidak terlalu menjadi masalah. 
Menurutnya, cinta tak perlu ditunjukkan dalam pacaran. Cinta dan kasih 
sayang justru tumbuh lebih subur dalam pernikahan yang berkah: yang penuh 
sakinah, mawaddah dan rahmah.

Republika Online edisi:
08 Aug 1999


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com

Kirim email ke