Rasanya kemarin saya kirim pesan ke love deh....(Pacaran vs kesepian). Saya
sendiri belum terima pesan itu. Tapi kok sudah ada yang kirim tanggapan ke
alamat saya ya? Berarti kan sudah tersebar ke milis. Ada yang bisa
menerangkan mengapa?
Ini saya coba lagi kirim yang lain........
At 11:01 PM 8/11/99 -0700, ayu putri wrote: Via, apa itu ada bedanya dengan
orang jaman dulu, kawin dijodohkan? Soalnya kan gak ada feeling. Trus jadi.
Menurutmu, ini jaman reformasi,masih sah-kah hal itu? Bukankah cukup
religius? Apakah itu kehilangan kemerdekaan menentukan nasib sendiri? (kayak
Komas HAM ajah).
'Menikah Tanpa Pacaran itu Baik, Kok'
Penyanyi dan artis film Muchsin Alatas setuju dengan konsep menikah tanpa
pacaran. Langkah seperti ini, menurutnya, bisa untuk menghindari hal-hal
yang menjurus pada zina dan maksiat.
Ia lalu memberi contoh orang tua zaman dulu, di mana mereka menikah tanpa
pacaran terlebih dulu, atau dengan kata lain 'dijodohkan'. ''Toh, mereka
kemudian rukun-rukun saja, kasih sayang, dan ... anaknya banyak,'' katanya
kepada Republika.
Menurut artis serba bisa ini, pacaran [sebelum menikah] sangat riskan.
Sebab, katanya, dalam ajaran Islam tidak ada pacaran itu. ''Pacaran
sebenarnya adalah tradisi non muslim yang berkembang di Indonesia. Pengaruh
Barat itulah yang membuat pergaulan remaja kita sangat permisif.''
Pacaran dalam konsep Islam adalah hanya untuk saling mengenal saja. ''Bukan
seperti sekarang: pacaran seolah membolehkan segalanya, termasuk melakukan
hal-hal yang diluar kepatutan,'' lanjutnya.
Kalau yang dijodohkan tak cocok? Dalam menjodohkan, orangtua tentu sangat
bijak dalam mengambil keputusan. ''Kita tak boleh sembrono hanya melihat
dari segi materi, atau penampilan saja,'' katanya.
Bagaimana dia mendidik putra-putrinya? Muchsin lalu mengatakan sangat
hati-hati urusan pernikahan. Ia bercerita, Sophia Muchsin Alatas (anak
ke-2), ketika ada pria yang meminangnya, ia menerima dan segera menikahkan
putrinya yang saat itu masih kuliah di Australia. ''Menurut saya, alangkah
baiknya untuk hindari fitnah, kalau sudah saling suka, segera dinikahkan.''
Pernikahan 'instan', kata Muchsin, dilakukan untuk menghindari hal-hal yang
tidak baik menurut agama. ''Saya lihat, pasangan anak kami sudah matang,''
katanya.
Pasangan Muchsin-Titik Sandora dikaruniai tiga orang anak: Muhammad (Bobby)
Muchsin Alatas, Sophia Muchsin Alatas, dan Nabila Muchsin Alatas. Sophia
berusia 19 tahun ketika dinikahi oleh Lutfi Alatas (28) pada awal 1998, dan
kini sudah beranak satu. Dan Muhammad, juga sudah menikah sebulan silam.
Menurut Muchsin, syarat pasangan yang menikah terhadap anaknya adalah muslim
dan dewasa (secara agama dan bisa menghidupi anaknya). ''Banyak orang yang
keliru yang hanya melihat secara ekonomi. Materi bukanlah jaminan ...''
Dalam soal berteman, Muchsin mengaku tak pernah melarang putra-putrinya
untuk bergaul. Tapi, katanya, semua ada batasnya. Ia lalu memberi contoh,
soal anak mau keluar rumah. ''Saya mendidik dan memberi contoh, bahwa setiap
kali keluar rumah harus izin,'' katanya.
Pasangan yang tak pernah tergosipkan ini mengaku bahwa untuk mendidik anak,
keluarga harus benar-benar bahagia, ceria. Ia sendiri tak suka suasana
tegang. ''Meski tak mungkin dihindarkan seluruhnya, tapi kami berusaha rumah
tangga ini menjadi surga di dunia,'' katanya.
Ada beberapa hal yang menurutnya sangat penting untuk mendidik anak. Sebagai
orang tua, katanya, harus bisa memberikan teladan yang baik kepada
anak-anaknya. ''Orang tua harus bisa menjadi orang yang sangat
dibanggakan.'' Orangtua, kata dia, harus memberi contoh dalam taat beragama,
memberi rizqi yang halal, mendidik anak harus dengan penuh kasih sayang.
Mereka Berkata 'Yang Penting Tak Bersebadan!'
Pacaran, bagi anak muda, sudah menjadi trend. Di tempat keramaian --seperti
di mall, kampus, bioskop dan taman kota-- bisa ditemui pasangan yang
nongkrong berduaan ataupun berjalan bergandengan tangan menikmati indahnya
suasana.
Tak sedikit di antara mereka yang kebablasan dalam berpacaran. Free sex dan
'kumpul kebo' seakan menjadi modis kelompok tertentu. Aturan-aturan agama
dan norma kesusilaan yang seharusnya dijadikan acuan terabaikan karena
derasnya arus informasi yang 'membenarkan' adanya pergaulan bebas.
Untungnya masih ada sebagian muslimah yang menolak berpacaran sebelum
menikah. Seperti terungkap dalam diskusi bertajuk Menikah Tanpa Pacaran Gaya
Hidup Keluarga Masa Depan yang diselenggarakan majalah Ummi beberapa waktu
lalu. ''Lamanya masa pacaran belum menjamin bahwa keluarga yang akan
dibangun menjadi kebahagiaan,'' kata Ery Soekresno, psikolog yang menjadi
narasumber.
Tetapi, apa kata sebagian kawula muda? Anton [25], seorang mahasiswa,
mengakui selama kuliah pernah beberapa kali ganti pacar. Itu dilakukannya
karena semata belum siap berkomitmen. ''Selagi masih muda, saya masih ingin
bebas tanpa ikatan.''
Apa kriteria memilih pacar? Ia mengatakan yang pertama-tama adalah
kecantikan dan penampilan fisiknya. Kriteria agama justru belakangan. ''Itu
dulu. Sekarang pertimbangan agama adalah yang paling penting.''
Apa yang dilakukan ketika pacaran? ''Menonton bioskop dan jalan berdua
adalah hal yang masih wajar. Yang penting 'kan tidak bersebadan.''
Senada dengan Anton, menurut Taufiq, 27, sekadar jalan dan nonton bareng itu
masih dalam taraf wajar saja dalam berpacaran. ''Yang penting, jangan sampai
mengambil kesempatan dalam kesempitan dan melakukan zina.''
Sedangkan mengenai menikah tanpa pacaran, ia menuturkan hal itu perlu
dipertimbangkan dari berbagai segi. Terutama adalah kesiapan finansial.
''Kalau kita belum punya pekerjaan tetap, 'kan terpaksa harus menunggu
dulu.'' Dengan pertimbangan itulah, Taufiq belum berani menikahi pacarnya
sejak masih kuliah dulu.
Ani, mahasisiwi semester akhir sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta,
mengatakan, berpacaran sebelum menikah adalah sesuatu yang tidak bisa
dihindarkan. ''Kaitannya erat sekali yakni dalam upaya untuk lebih mengenal
pribadi sang pacar.'' Ia menambahkan, masing-masing pihak harus tahu dulu
sisi jelek ataupun sisi baiknya hingga bila sudah berumah tangga nanti ada
sifat jeleknya timbul, sudah tidak heran lagi dan tahu bagaimana
menghadapinya.
Lebih lanjut, ia mengaku pertamakali berpacaran ketika masih ABG. Tujuannya
adalah sekadar mencari pengalaman dan merasakan bagaimana indahnya
berpacaran. Tapi seiring bertambahnya usia, kedewasaan berpikir mendorongnya
untuk lebih serius dalam memilih pacar karena mau tidak mau sudah mesti
memikirkan masa depan. ''Dan ini membutuhkan waktu.''
Republika Online edisi:
08 Aug 1999
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com