Tes penerimaan calon istri/suami
Semua orang pasti ingin punya pasangan yang terbaik bagi dirinya. Di negeri
dongeng para putri raja memilih suami dengan mengadakan sayembara. Siapa
yang bisa lari paling cepat 100 meter itulah yang akan aku pilih jadi suami
kata putri Atun. Dan pemenangnya adalah Maurice Green. Tapi belum tentu dia
mau jadi suami si Atun.
Sang pangeran dengan yakin memilih Cinderella jadi istrinya karena ukuran
kakinya cocok dengan sepatu yang dibawa pangeran. Unik lagi karena tak ada
gadis lain yang ukuran kakinya sama he..he...
Tapi tak usah dikomentari lagi karena menurut dongeng pula mereka, para
putri dan pangeran itu hidup bahagia sampai akhir hayat.
Ini tentu juga logis-logis saja apalagi bagi para pengarang dongeng itu.
Tentu saja mereka bahagia karena kriteria mereka dalam memilih pasangan
terpenuhi. Ada putri yang kepingin punya suami yang bisa main sulap, yang
juara main catur dsb.dsb. maka mereka puas dengan suami yang mereka dapatkan
karena telah sesuai dengan harapan mereka.
Dan seperti para putri dan pangeran dari negeri dongeng tadi, orang biasa
seperti kita pun melakukan berbagai macam pengamatan, percobaan dan tes pada
bakal calon pasangan kita. Jenis pengamatan dan tes seperti apa yang perlu
kita lakukan pada calon pasangan kita?
Yang perlu disadari sedari awal adalah tidak ada manusia yang sempurna. Jadi
sebelum melakukan pengamatan dan tes perlu kita pikirkan apa sih kriteria
yang kita utamakan?
Orang yang tidak bahagia adalah yang mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai
dengan pengharapan. Bisa saja pengharapan itulah yang disesuaikan dengan apa
yang didapat, namun bila kesenjangannya terlalu jauh antara harapan dan
kenyataan maka kebahagiaan akan sulit diraih. Seiring dengan bertambahnya
usia, bisa saja harapan menjadi berubah. Kalau harapan baru ini bisa ditemui
pada pasangan kita maka langgenglah perkawinan namun bila tidak maka cekcok
dan piring terbang bisa-bisa menjadi kegiatan rutin sehari-harinya. Demikian
juga walaupun harapan tetap sama namun banyak kriteria yang bisa berubah
karena waktu. Hampir semua kriteria bisa berubah di masa depan, namun
seberapa besar kemungkinan berubahnya tentu berbeda-beda. Kriteria fisik
misalnya adalah suatu hal yang pasti, suka atau tidak suka akan berubah. Tak
seorangpun yang bisa tetap kelihatan muda selama-lamanya. Bertambah tua
pasti kecantikan fisik akan berkurang, yang pria bisa jadi bertambah luas
areal dahinya dan tak lagi ganteng di mata sang istri. Harta pun bisa saja
melayang dalam sekejap bila terkena musibah. Menggunakan kriteria yang mudah
berubah seperti contoh ini, tentu boleh-boleh saja. Namun harus dipikir
panjang lagi apa yang akan dilakukan bila kriteria tadi seiring dengan
berubahnya waktu menjadi tak lagi terpenuhi.
Seperti putri dan pangeran tadipun jenis ujian yang perlu kita lakukan
adalah yang sesuai dengan harapan kita. Kalau kriteria utamanya adalah
ukuran fisik maka foto close-up 10 R ditambah foto-foto lain berbagai pose
dan melihat sendiri kecantikan atau kegantengan calon pasangan kita tentu
menjadi syarat utama dalam proses pemilihan kita. Kalau perlu ukuran
bagian-bagian tubuh perlu pula dilampirkan. Kalau yang kita utamakan adalah
tingkat pendidikan tentu foto kopi ijazah plus transkrip nilainya sekalian
perlu dilampirkan dalam surat lamaran he..he......persis melamar lowongan
pekerjaan. Kalau yang kita perlukan adalah kekayaan maka kita perlu tahu
berapa banyak simpanan uang di bank, berapa pendapatan setiap
tahun/bulannya, berapa luas simpanan tanahnya dsb. Kalau yang kita utamakan
adalah bau tubuh nan harum ya perlu juga dites bau badan dulu.
Kalau yang kita utamakan adalah romantisme dengan ciuman yang maut, maka
tentu perlu dites juga soal cium mencium ini. Kalau yang kita utamakan
adalah kualitas hubungan seksual, maka tentu saja sebelum menikah ya perlu
juga dicoba biar nggak ada keluhan masalah seksual di waktu sudah menikah
nantinya. Kalau yang diutamakan adalah masalah bisa punya anak atau tidak,
maka perlu dilampirkan hasil tes kesuburan misalnya berapa jumlah spermanya
bagi para calon suami. Mencukupi nggak buat membuahi sel telur istri? Atau
kalau perlu ya dicoba sekalian sampai hamil baru dinikahi. Jadi nggak ada
masalah lagi setelah menikah.
Dalam rangka tes ini pulalah banyak orang melakukan hidup bersama sebelum
menikah. Kalau setelah hidup bersama dan rukun-rukun saja maka baru
melanjutkan ke jenjang perkawinan. Orang pun membuat berbagai macam survei
untuk melihat kegunaan hidup bersama sebelum menikah ini. Hasilnya
perceraian yang dialami pasangan yang hidup bersama sebelum menikah lebih
kecil persentasenya dibanding perceraian pasangan yang tidak melalui fase
hidup bersama dulu. Jadi mereka menyimpulkan bahwa hidup bersama sangat baik
untuk melanggengkan perkawinan supaya tidak banyak terjadi perceraian.
Tentu ini juga logis saja. Kalau sudah hidup bersama dan cocok terus nikah
itu kan cuma melanjutkan pernikahan saja. Bedanya hanya terletak pada
surat-suratnya saja.
Yang tidak pernah diteliti pada survei semacam itu adalah banyaknya jumlah
pasangan yang sudah hidup bersama namun tidak jadi menikah. Itu kan juga
perceraian tak resmi namanya. Apalagi kalau dilihat juga jumlah orang yang
sudah berhubungan seksual dan tak menikah. Maka jumlah mereka pasti lebih
banyak dari pada jumlah perceraian yang dialami suami istri yang tidak
pernah berhubungan seks sebelum menikah.
Tapi ya itu tadi...kalau kepuasan hubungan seksual kita jadikan kriteria
utama, tentu sah-sah saja kalau sebelum menikah dicoba terlebih dahulu
sehingga tak ada keluhan lagi nantinya. Kalau cara mencium menjadi kriteria
utama maka memang betul bahwa sebelum menikah harus dites dulu bagaimana
cara menciumnya. Kalau nggak asyik ya nggak jadi kawin saja dsb. dsb.
Itu kalau kita mengesampingkan agama. Dan kalau kita mengesampingkan agama
jadilah kita orang yang tidak beragama. Dan memilih beragama atau tidak
beragama itu hak asasi setiap manusia.
Namun kalau kita sudah memilih menjadi orang yang beragama maka tentulah
agama tidak dapat kita kesampingkan begitu saja, bahkan justru harus kita
jadikan kriteria utama kita. Pilihlah istri atau suami karena agamanya.
Jodoh memang di tangan Tuhan, namun Tuhan pun tak akan memberi apapun pada
kita bila kita tidak berusaha mendapatkannya. Maka kita harus berusaha
mencari pasangan yang sesuai kriteria utama kita sebagai orang beragama
yaitu yang baik akhlak budi dan agamanya.
Nah setelah menetapkan kriteria utama maka bagaimana caranya mengetahui
apakah kriteria kita ada pada calon pasangan kita atau tidaknya.
Ada 2 cara tentu. Cara langsung dan cara tak langsung.
Yang langsung misalnya bagi yang kriterianya adalah kecantikan wajah maka
dia harus melihat sendiri wajah calon pasangannya sedang yang tidak langsung
misalnya melalui laporan orang yang bisa dipercaya atau lewat foto saja.
Bagi yang kriteria utamanya bau badan misalnya cara langsung tentu saja
dengan membaui sendiri bau badan calon pasangan kita sedang cara tidak
langsung adalah melalui pembauan orang lain yang kita percaya, bisa sahabat
dekatnya atau bahkan saudara kandung kita sendiri yang khusus datang pada
calon pasangan kita untuk membaui bau badannya. Saling gandeng tangan,
berdua-duaan, cium-ciuman dan hidup bersama itu juga merupakan cara tes
langsung yang logis dilakukan kalau memang itu kriteria utamanya. Kalau
bukan itu kriteria utama kita, buat apa dilakukan? Misalnya bila kriteria
utama kita intelektualitasnya, untuk apa kita coba raba kehalusan tangannya?
Nggak cocok kan? Karena meskipun tangannya sehalus pualam namun bila
intelektualitasnya di bawah standar, kita tentu nggak jadi menikahinya.
Lain halnya kalau kehalusan tangan menjadi kriteria utama kita. Justru harus
kita pegang dan kita tes sendiri kehalusan tangannya.
Cara pengamatan tidak langsung tentu yang melalui "detektif jempolan" yang
kita sewa untuk menyelidiki segala hal terutama yang menyangkut kriteria
utama kita tadi. Misalnya untuk mengetahui intelektualitasnya maka laporan
dari berbagai sumber di dekat si dia bisa memberi gambaran seberapa
inteleknya si dia.
Mana cara yang lebih baik? Yang langsung atau yang tidak langsung?
Itu tergantung lagi pada apa kriteria yang kita tetapkan dan apakah kita
menganut nilai agama atau tidak. Misalnya kalau kriteria utama kita kualitas
hubungan seksual tentu tak mungkin kita memakai cara diwakilkan pada orang
lain. Gila apa! Walaupun katanya ada suatu suku pada jaman dulu yang
melakukan tradisi ini. Tapi bila kriteria kita adalah budi pekerti dan agama
cara langsung malah kadang bisa kurang efektif karena bisa saja si dia
bersandiwara di depan kita atau bahkan juga di depan orang-orang dekat kita.
Bukan hal yang jarang terjadi bila ada orang yang mengeluh bahwa setelah
menikah si dia berubah perangainya. Dulu halus dan sopan tapi setelah
menikah kok jadi pemarah dsb. Namun kalau kita mengumpulkan data dari semua
orang di sekitarnya bahkan juga dari orang yang tidak menyukainya bahkan
dari orang yang memusuhinya bila ada maka penilaian kita bisa lebih akurat
dan obyektif dibandingkan penilaian langsung karena tak mungkin rasanya
seseorang bersandiwara begitu rupa di depan semua orang. Pasti sisi-sisi
buruk dan baiknya akan muncul pada hubungannya dengan lingkungannya.
Cara langsung kelihatannya memang baik. Namun untuk tes tertentu efek
sampingnya tentu ada pula dan hal ini perlu juga dipikirkan baik-baik.
Contoh yang ekstrim tentu saja kalau kriterianya hubungan seksual, setelah
dites sendiri ternyata mengecewakan.......Nggak jadi nikah ah.......Boleh
saja...tapi kan tidak mungkin mengembalikan semuanya seperti semula belum
lagi kalau hamil siapa yang tanggung anaknya? Cara tidak langsung juga ada
kelemahannya terutama bila kita tidak bisa memilih detektif yang jempolan
atau salah pilih detektif yang tukang kibul belaka.
Maka selain penetapan kriteria yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan kita maka cara menguji adanya kriteria itu juga merupakan hal yang
penting untuk dikaji.
Berapa lama tes dan pengamatan harus dilakukan? Tentu tergantung lagi pada
kriteria dan cara penelitian kita tadi. Kalau sekedar halusnya kulit yang
menjadi kriteria maka sekali raba saja kita sudah harus bisa memutuskan
apakah kita jadi menikah atau tidak. Bila kita memakai cara tak langsung
tentu kita harus bisa mendapat detektif jempolan tadi dan menugaskannya
untuk menyelidiki kehalusan kulitnya. Waktunya bisa lebih lama. Namun yang
penting untuk diingat adalah usahakan semuanya selesai sesegera mungkin.
Akan lebih baik bagi kedua belah pihak bila keputusan segera diambil bergitu
semua tes dan pengamatan selesai dilakukan. Bila terlalu lama masih
ragu-ragu dan tak yakin lebih baik diputuskan nggak jadi aja lah....Sehingga
kedua belah pihak terbuka kemungkinan untuk mempertimbangkan pihak lain.
Kalau toh suatu hari tiba-tiba merasa yakin, misalnya setelah dapat info
akurat maka bila keadaan masih memungkinkan kan bisa saja langsung sambung
dan nikah. Untuk itu perlulah juga dikaji cara pengamatan yang seefektif dan
seoptimal mungkin. Sedari awal penetapan kriteria utama tadi justru sangat
penting karena bila kita tak punya kriteria utama maka kita pasti selalu
merasa bingung dan tak merasa yakin dengan pilihan kita.
Ringkasnya untuk memilih pasangan kita harus,
pertama, dengan sadar menetapkan sendiri kriteria utama yang ingin kita
dapat pada pasangan kita dengan mengingat bahwa tidak ada manusia yang
sempurna.
kedua, memilih cara yang efektif dan optimal untuk mendapatkan data yang
akurat tentang ada atau tidaknya kriteria utama tadi pada calon pasangan
kita
ketiga, sesegera mungkin dengan pertimbangan yang bijaksana menetapkan
keputusan nikah atau tidak sehingga waktu dan tenaga serta pikiran kita
tidak terbuang percuma.
Perjodohan harus dihapuskan dari muka bumi teriak DES lantang. Betul itu!
Tentu banyak yang akan setuju kalau yang dimaksud adalah perjodohan ala Siti
Nurbaya dan Datuk Maringgih atau seperti adat Batak yang menjodohkan dengan
boru tulang-nya atau juga perjodohan bayi baru lahir dengan bayi lainnya,
karena itu juga tidak sesuai dengan anjuran agama. Perjodohan semacam itu
kriteria utamanya adalah keturunan, martabat, pangkat dan kekayaan, bukan
agama. Maka teman DES merana karena dia tidaklah menetapkan kriteria dalam
memilih jodohnya. Sekedar pasrah pada orang tua yang ternyata juga tidak
jeli memilihkan jodoh bagi anaknya. Mungkin juga karena mereka memakai
kriteria yang salah dan tak sesuai dengan kriteria yang sebenarnya ada dalam
hati si anak. Dan juga karena yang dipakai sebagai kriteria semula bukanlah
akhlak dan budinya. Perjodohan semacam itu memang harus dihapuskan. Tapi
perjodohan seperti guru Biologi Atrinov lain lagi karena ibu guru itu sudah
punya kriteria utama dalam hatinya yaitu agama. Dan beruntung pula
orangtuanya pun punya kriteria yang sama dalam memilih calon menantunya dan
mereka berhasil menyewa detektif jempolan yang melaporkan hasil
penyelidikannya yang cukup akurat. Maka si ibu guru berbahagia karena
mendapatkan suami yang sesuai dengan kriterianya yaitu yang baik agamanya.
Hal itu nggak cuma terjadi jaman dulu saja kok. Banyak teman saya bahkan
yang lebih muda dari saya menjalaninya dan mereka bahagia karena itu tadi
kriteria idamannya cocok dengan yang didapatkannya. Mereka mantap dengan
kriteria yang ditetapkannya dan berhasil memperoleh data dari detektif yang
melaporkan keadaan sebenarnya.
Maka penetapan kriteria utama yang jelas dan mengumpulkan data dari berbagai
sumber yang tak harus dilakukan sendiri adalah hal yang wajib dilakukan
dalam mempertimbangkan pilihan.
Sekali lagi kalau kita sudah memilih menjadi orang beragama maka
konsekwenlah dengan pilihan kita tadi dengan menggunakan ajaran agama dalam
bertindak termasuk dalam rangka menguji calon pasangan kita tadi. Kalau
tidak beragama tentu lain lagi bahasannya. Maka sebelum melangkah
tanyakanlah dulu pada hati nurani anda apakah anda orang beragama atau
tidak.
From: "D.E.S." <[EMAIL PROTECTED]>
apakah diagama dianjurkan untuk jodoh? atau agama melarang pacaran?
Lebih jelasnya tentu kamu harus belajar sendiri lagi ya DES. Bukalah dan
bacalah kitab sucimu. Setahuku dalam memilih pasangan hidup maka anjuran
agama adalah pilihlah karena agamanya baik, bukan karena fisiknya bukan
karena hartanya. Perjodohan akan sesuai dengan anjuran agama ini bila agama
dan akhlaknya diletakkan pada kriteria utamanya, namun bila perjodohan
dilakukan dengan kriteria lain selain agama, bahkan melupakan agama,
misalnya karena harta dan pangkat atau keturunan tadi, maka perjodohan itu
juga tidak sesuai dengan anjuran agama. Yang seperti ini kan yang harus
dihapuskan?
Penelitian calon pasangan kita justru sangat dianjurkan dalam ajaran agama.
Kita tak boleh menerima begitu saja, pokoknya asal laki-laki atau pokoknya
asal perempuan. Namun cara penelitian, pengamatan dan ujian dalam memilih
pasangan tadi haruslah pula tidak melanggar ajaran agama dalam hubungan
laki-laki dan perempuan.
Jadi DES, kalau kamu menyebut bahwa kamu berusaha menghindari hal yang
dibenci Tuhan berarti kamu mengaku sebagai orang yang takut pada Tuhan. Maka
bila demikian mengapa tak menggunakan ajaran Tuhan alias agama dalam setiap
langkah kita termasuk dalam memilih pasangan hidup? Kamu benar sekali kalau
mengatakan bahwa kita harus bisa menghindarkan dari perceraian karena
perceraian itu sesuatu yang dibenci Tuhan. Namun hati-hatilah bahwa ketika
kita mengusahakan untuk menghindari hal yang diperbolehkan namun dibenci itu
justru kita melakukannya dengan cara mendekati hal yang lebih buruk yaitu
hal yang dimurkaiNya.
Bila bau badan pasangan kita kurang sedap, banyak toko yang menjual deodoran
dan obat penghilang bau badan lainnya. Namun bila yang tidak sedap agama,
akhlak dan budi pekertinya maka tak ada yang dapat menjual obatnya.
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com