>================Original message text===============<
Mencintai Tanpa Kehilangan Jati Diri. Bisakah? 

Banyak wanita yang merasa seperti itu pada saat pertama kali jatuh cinta.
Jujur aja, perasaan indah pasti muncul ketika bisa memberikan segalanya
untuk orang yang kita cintai. Bahkan, mungkin yang terjadi lebih dari itu.
Cinta Anda menjadi buta. Anda malah ingin mengabdi padanya tanpa
menghiraukan diri sendiri. Informasi mengenai keburukan si dia dari
teman-teman Anda abaikan. Pokoknya, di dunia ini cuma ada satu pria dan
kepadanyalah seluruh cinta Anda tertuju. Sehatkah hubungan seperti ini?
Tidak dapatkah wanita mencintai seorang pria secara total tanpa kehilangan
jati diri dan kepribadian? 

Cinta Itu Penting 

Terapis Jane Hawksley mengatakan, ''Pria cenderung menyerahkan segala
miliknya ketika mereka pertama kali jatuh cinta. Tapi, itu hanya terjadi
di saat-saat awal. Atau tepatnya ketika mereka sedang mengadakan
pendekatan dengan wanita incaran. Setelah itu, mereka cenderung terpeleset
dalam kepuasan jika Anda tidak berhati-hati. Sedangkan wanita menyerahkan
karier, rela meninggalkan keluarga, melakukan apa saja untuk menyenangkan
kekasihnya. Segalanya untuknya.'' Bagi wanita, sekali jatuh cinta, mereka
akan melakukan apa saja. Yang penting, kekasih mereka senang. Mereka
menjadi bejana kosong dan siap diisi kapan saja dengan semua kebutuhan,
pandangan dan kepribadian pria pujaan. Apa ini yang benar-benar Anda
inginkan? 

Jika Anda menyerahkan segalanya kepada seorang pria, lalu apa yang tersisa
untuk diri sendiri? Lagipula, terlalu kekanak-kanakan rasanya jika Anda
selalu membicarakan kekasih, memikirkannya setiap saat, padahal Anda
seharusnya berpikir tentang cara mendapatkan promosi yang memang pantas
untuk Anda? Wanita tidak akan mengukur pada ketinggian yang sama dengan
pria. Wanita menaruh cinta di urutan pertama. Cinta itu memang penting,
bisa membuat kita hidup, dihargai, seolah-olah memang ada yang lebih
penting dalam hidup ini daripada mencari uang dan membeli barang-barang
bagus. Tapi, apa yang salah jika kita juga mencintai diri sendiri? Apakah
Anda bisa menjamin dia mencintai Anda sebanyak yang Anda mencintainya,
jika Anda sudah menyerahkan seluruh jiwa raga Anda? 

Pencarian Cinta 

Hawksley menyalahkan cara wanita yang masih memprioritaskan prianya.
''Wanita cenderung mendahulukan pria. Sebab, cara ini kelihatannya begitu
romantis. Masyarakat, melalui film, buku dan bahkan dongeng yang kita
dengar ketika kecil, juga mendorong perilaku ini. Kisah tentang seorang
gadis yang berjodoh dengan pangeran tampan, pretty woman yang dicintai
pengusaha kaya, menghanyutkan fantasi para wanita. Tapi jika Anda ingin
hubungan yang memadai dan seimbang dengan apa yang Anda berikan padanya,
Anda juga harus berpikir tentang diri sendiri. 

Pria tidak hanya diizinkan, tapi juga diharapkan untuk mempedulikan karier
mereka, sepak bola, musik, dan mungkin wanita. Tentu saja, banyak juga
pria yang berhasrat memposisikan wanita dan cinta lebih tinggi dari agenda
mereka. Tapi, masyarakat masih berharap pria menjadi anak laki-laki,
kekasih itu cuma urusan kedua. Sedang wanita hanya mencintai, mencintai
dan mencintai, tak peduli apapun terjadi. 

Lalu, bagaimana Anda dapat mencintai seorang pria secara total, tapi masih
tetap punya sesuatu untuk diri sendiri? Mencintai seorang pria tanpa
kehilangan diri sendiri. Kedengarannya dangkal, tapi Anda harus
sungguh-sungguh mempertahankan beberapa minat Anda dan menempatkannya
sebagai prioritas. Celakanya, minat kebanyakan wanita adalah cinta. Cinta
merupakan hidup, hobi dan hasrat mereka. Namun, cinta juga sangat
melelahkan. Tanyalah pada diri sendiri (jujur aja): apakah Anda
benar-benar berpikir dia menghabiskan waktunya untuk memikirkan Anda? Jika
Anda memberi seluruh yang Anda miliki untuk mencintai seorang pria,
apalagi yang tersisa ketika hubungan itu berakhir? Hanya penantian kosong
untuk kedatangan pria lain yang akan mengisinya dengan kebutuhannya,
pandangannya, dan sebagainya, dan sebagainya.... 

Cinta Seumur Hidup 

Perhatikan ilustrasi berikut ini. Seorang wanita bernama Anna berpikir
hanya ada satu cara mencintai seorang pria: cintai secara total. Dengan
pikiran semacam itu, Anna menyerahkan segalanya ketika sedang jatuh cinta
dan pada siapa pun yang menjadi obyek cintanya. Satu ketika dia merasa ada
yang salah dalam hubungan cintanya. Semula Anna berpikir letak
permasalahannya, dia kurang banyak memberi. Dia tidak pernah sadar bahwa
selama ini yang dia lakukan cuma memberi, dan memberi. Puncak kegelisahan
Anna terjadi ketika kekasihnya memutuskan hubungan demi wanita lain. Lalu
apa yang salah dengan dirinya? 

Anna mencoba menganalisis masalahnya. Ternyata, jawaban yang didapatnya
sangat sederhana. Kekasihnya menyukai wanita yang punya pikiran sendiri,
karena itu lebih menantang. Pengalaman ini memberi pelajaran yang
berharga. Ketika menjalin hubungan baru, Anna berterus terang pada kekasih
barunya bahwa dia tidak akan menjadi orang yang selalu memberi. Dan,
pernyataannya itu disambut baik oleh kekasih barunya. 

Inilah yang disebut kegagalan awal dari kesuksesan. Menurut Hawksley,
sesekali boleh saja mengalami cinta macam Anna. ''Anda perlu mengalami
kekeliruan sebelum mengetahui yang benar,'' katanya. Ketika kesalahan itu
terjadi, Anda bisa berubah menjadi lebih matang dan mencintai pria lain
tanpa kehilangan diri sendiri. 

Menjadi Diri Sendiri Adalah Cinta yang Terbaik 

Ironinya, semakin mengembangkan diri sendiri, semakin luas dan utuh
kepribadian Anda, semakin banyak hal yang Anda harus berikan pada hubungan
cinta dan semua hubungan dengan manusia lain. Sebab, Anda menjadi pribadi
yang sangat menarik, seorang dengan pandangan sendiri, sebuah kehidupan
sendiri. Coba pikirkan: Anda ingin ditemani siapa untuk menikmati waktu
santai di sore hari? Seseorang yang mengatakan Anda sangat hebat dan
menyetujui setiap kata Anda, atau orang yang menceritakan kisah-kisah
menarik tentang dirinya sendiri atau orang yang mereka kenal? 

Pria yang ingin wanita sebagai cerminnya adalah orang yang mencintai diri
sendiri. Sekali Anda selesai memberikan seluruh yang Anda miliki, mereka
tidak punya apa-apa untuk diberikan. Anda dapat memberi semuanya pada
kekasih Anda dan mencintainya secara total. Namun, jika Anda bisa
meyakinkan diri bahwa ada yang tersisa untuk diri sendiri, maka Anda akan
meluangkan waktu untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. 

Cinta penting untuk membuat kita bahagia, tapi cinta bukan sebuah gambaran
yang lengkap. Sebuah hubungan dan perkawinan yang baik mampu meletakkan
fondasi yang kuat. Tapi, fondasi itu bisa semakin kuat jika Anda merasa
kokoh dan bahagia. Jadi, tetaplah menjaga keseimbangan dalam kehidupan
cinta. Cintai dia, tapi cintai juga sasaran hidup Anda yang lain. Cinta
bukan hal yang menentukan. Ada banyak tempat untuk dilihat. Jadi, selalu
ada sesuatu untuk diri sendiri. Masalahnya jadi mudah jika Anda selalu
ingat untuk mencintai diri sendiri. Sebab, kalau tidak, dapatkah Anda
berharap dia mencintai Anda pula? * ida/C 

>=============End of original message text===========<



To Be Or Not To Be Continued,
Yanes Rezki Abadi < [EMAIL PROTECTED] >
ICQ No. 28068517
||[ Make Life Not Just Living ]||
A simple friend just wish meet and share happiness with you. A real friend will always 
be with you although you're not in a good mood.



Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke