> Baca artikel menarik ini :
> 'Cinta dalam Sekaleng Kerupuk', episode terakhir Desy Ratnasari
> http://www.satunet.com/artikel/isi/00/03/27/10749.html
>
> Patut direnungkan ... mungkin bisa didiskusikan pula.

Buat yang nggak bisa browsing ini saya cut-kan, semoga berkenan ^_^
----------------------------------------------------------------------------
Senin, 27/3/2000
'Cinta dalam Sekaleng Kerupuk', episode terakhir Desy Ratnasari
Oleh Abdullah Maskharah




Seharusnya sih kaum feminis senang dengan kasus perceraian bintang sinetron
Desy Ratnasari dan Trenadi Pramudya, yang sinetron hidupnya sebanyak 52
episode lebih sedikit sejak menikah 20 Februari 1999 akan ditutup
pekan-pekan ini.

Salah satu teori favorit masyarakat feminis adalah bahwa perkawinan
sesungguhnya merupakan sebuah kontrak sosial atas seks atau sekedar
legitimasi sosial atas seks, di mana umumnya wanita menjadi korban dengan
menyerahkan tubuh seutuhnya sebagai balasan jaminan sosial yang diberikan
suaminya dari cercaan masyarakat yang memang tidak bisa menerima wanita
hidup sendirian dan menjadi mandiri, secara ekonomi dan kemudian
berturut-turut secara sosial dan politik.

Lepas dari kontroversi teori semacam itu, untuk sementara ini anggaplah
teori itu benar.

Maka dengan merujuk pada teori itu, gugatan cerai Desy atas suaminya --bukan
sebaliknya-- sebenarnya meneguhkan suatu kenyataan baru bahwa lelaki bisa
saja menjadi korban dalam relasi dua manusia berlainan jenis kelamin di
dalam lembaga yang diluhur-luhurkan seperti perkawinan. Dalam kasus ini,
Pram adalah figur yang dikorbankan. Ia adalah obyek seksual (mestinya sih
mereka melakukan kontak seksual) dari Desy, menyerahkan dirinya sebagai alat
tukar atas jaminan sosial atau social security.

Pram boleh saja membantah habis-habisan, tapi dalam kesetaraan ekonomi
antara keduanya, ia kalah. Penghasilannya sebagai karyawan sebuah perusahaan
distributor kalah jauh dengan Desy, sebagaimana diakuinya sendiri. Ia pun
tinggal di rumah Desy yang besar di Bintaro Sektor IX. Dalam keadaan seperti
itu maka posisi Pram mewakili kebanyakan wanita dalam kasus ketidaksetaraan
hubungan gender lelaki-wanita, setidaknya dari perspektif ekonomi.

Perlawanan Pram bukannya tidak ada. Ketika ketegangan hubungan keduanya
memuncak, sekitar September-Oktober 1999, Pram memilih pergi dari rumah itu
dan tinggal di sebuah lokasi lain. Ada yang menyebutkan rumah tantenya, ada
pula yang bilang ia kost sendirian. Begitu pula salah satu keluhan Desy
ketika pada suatu kesempatan menjemput Pram sepulang dari dinas luar kota,
ternyata Pram menolak menaiki mobil yang digunakan Desy untuk menjemputnya
dan memilih naik taksi. Itu merupakan sesuatu yang pastilah menyinggung hati
Desy, tapi tindakan Pram naik taksi mestinya juga berangkat dari pengalaman
lain yang tak kalah menyakitkannya.

Dalam sebuah kesempatan lain, Pram mengakui Desy pernah menyarankan agar
dirinya mengganti mobil miliknya, yang rupanya sudah agak tua dan menjadi
sumber ledekan teman-teman Desy. "Kekurangannya biar saya tambahin, Kang,"
begitulah kurang lebih pernyataan bintang kelahiran 12 Desember 1973
tersebut.

Entah karena tak punya uang atau karena memegang prinsip bahwa mobil
hanyalah alat transportasi, bukan make up, bukan pemantas atau topeng, Pram
tidak menuruti nasehat itu. Kasus tersebut, ditambah dengan kebiasaan Pram
makan sembarangan di warung mana saja --yang rupanya sampai pula ke telinga
Desy yang memuja citra diri itu-- menyebabkannya menyemprot si Akang dengan
kata-kata yang kurang lebih berbunyi, "Akang tahu-tidak kawin dengan siapa?"

Tentu saja Pram tahu persis ia kawin dengan bintang film merangkap model dan
penyanyi (profesi yang terakhir ini diejek tabloid Wanita Indonesia edisi
terkini karena kemampuan Desy menangkap nada-nada tinggi tidaklah cakap).
Justru karena itu pula mungkin Pram tersinggung dengan polah tingkah Desy
yang memintanya menyesuaikan kebiasaan makan dan merek mobilnya seolah-olah
ia juga seorang selebritis dengan ratusan juta manusia menatapnya di bawah
rumah kaca serba transparan.

Jadi ada ego masing-masing di sini. Tapi terlebih penting dari itu, ada
aspek materialistik di sini, sesuatu yang sebenarnya sejak awal sudah
menjadi tema utama perkawinan mereka, yakni perjanjian pra nikah perihal
harta bawaan masing-masing. Desy tidak akan mengklaim apa pun dari harta
milik Pram, dan demikian sebaliknya.

Sampai di sini teori kaum feminis perihal perkawinan tidak lebih dari sebuah
kontrak sosial atas seks, tidak bisa dikatakan salah. Pram memang tidak
dibayar dengan harta Desy untuk melakoni profesi seorang suami secara
seksual dan sosial. Tapi meniadakan aspek material adalah bersifat
materialistik pula. Dengan kata lain, justru karena perjanjian pra
perkawinan keduanya menyinggung soal perlunya menaga harta masing-masing,
perkawinan Pram-Desy menjadi sebuah contoh paling sederhana perihal
perkawinan sebagai sebuah kontrak sosial.

Itu yang pertama.

Yang kedua. Kasus yang diberitakan secara panjang lebar itu dan menyebabkan
tabloid-tabloid laris manis bisa berpotensi memberikan pendidikan kesetaraan
gender kepada kaum ibu yang berkeringat di dapur dan selama bertahun-tahun
menghabiskan hidupnya sekedar sebagai pabrik anak dan makanan.

Inilah pikiran yang membebaskan itu, konsientiasi, suatu penyadaran. Mengapa
mesti lelaki selalu yang mempunyai kuasa atas wanita, yang menentukan
hidupnya, yang menetapkan uang belanja harian yang bisa dikangkanginya, yang
kalau pun sudah diabdinya dengan kesetiaan seksual dan fisik (seperti
kegiatan rumah tangga itu), masih pula menghadapi resiko diceraikan dengan
berbagai alasan yang bisa diciptakan.

Yakni bahwa wanita bisa juga seperti Desy, mengejutkan. Wanita mengajukan
gugatan cerai suaminya. Boleh dong sekali-kali wanita berinisiatif
menceraikan pria, meski sebenarnya secara hukum itu dimungkinan sejak awal,
tapi tertutup oleh ebab-sebab ekonomis dan sosial.

Tapi eitt, itu hanya bisa terjadi pada Desy Ratnasari, yang pada usia 15
tahun sudah menjadi Gadis Sampul, lalu tidak sampai lima tahun kemudian
sudah dikenal sebagai selebritis, meski albumnya yang meledak dan memberinya
keuntungan finansial baru bisa muncul beberapa tahun kemudian. Kekayaannya
tersebar di mana-mana dan ia memiliki akses luar biasa pada sejumlah besar
alat produksi, konsumsi dan transaksi yang dinamakan uang itu.

Apa artinya?

Artinya, kalau wanita mau mandiri. Hendak berdiri sejajar dengan lelaki
serta memiliki hak-hak yang sama dengan pasangannya itu maka tidak bisa
lain, tidak bisa bukan, ia harus bekerja dan memiliki penghasilan yang
setara (kalau tak mau disebut lebih besar dari suaminya). Tidak akan pernah
bisa terjadi, lelaki berteriak-teriak dirinya telah memenuhi prinsip
kesetaraan gender sementara istrinya dijeratnya di rumah, berdaster, lusuh
dengan seribu tangan untuk mengendalikan rutinitas anak-anak, masakan,
cucian dan seribu masalah-menyakitkan-kepala lainnya.

Saya hendak menegaskan di sini, kesetaraan gender tak akan berhasil tanpa
kesetaraan akses yang sama terhadap alat-alat produksi dalam dunia yang
materialistik ini. Hanya dengan cara itu seorang istri atau ibu di rumah
memiliki posisi tawar yang sama dengan lelaki pasangan seksualnya.

Jikalau lelaki diizinkan untuk menikahi empat wanita lain sejauh ia bisa
memenuhi kebutuhan seksual dan finansial, mengapa tak berani kita mencoba
itu dibalik sehingga seorang wanita bisa pula punya empat suami sepanjang ia
mampu menafkahinya secara seksual dan finansial. Logis, bukan?

Jadi sekalipun kisah kasih Desy dan Pram bak kaleng kerupuk yang besar,
namun ringan dan melompong karena angin, kisah sedih itu masih memberi
pelajaran-pelajaran penting mengenai pentingnya kesetaraan relasi sosial.
***




----------------------------------------------------------------------------
----

Abdullah Maskharah adalah sebuah nama alias untuk seorang pengamat
sosial-politik-ekonomi-budaya kaliber nasional yang pikiran-pikirannya
dikenal liar, kontroversial dan mendahului zamannya. Ia sendiri enggan
diungkap identitasnya di depan publik dan memilih tenggelam di antara
buku-buku di kamar kerjanya. Meski begitu, ia akan dengan senang hati
menanggapi pikiran-pikiran anda yang sama liar dan kontroversialnya.



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke