Assalamualaikum Wr.wb
 ini nih mo' menanggapi tentang satu kata dari uraian, yang bunyinya al:
"Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih"
kalau yang dimaksud kepuasan disini bisa menyenangkan dalam arti yang
positif, lalu mengapa bukan disebut cinta kalau kita bersedia mengalah
demi kekasih.
Saya kira justru kesediaan mengalah itulah salah satu indikasi orang yang
mencintai, ya.... tentunya tak selamanya mengalah khan...
malah kalau dia tak mau mengalah, berarti egois khan... 

Wassalamualaikum wr.wb
                                        **********
                                           TATIK
                                          MAGETAN
                                        **********

On Thu, 12 Oct 2000, Ayu Apriani wrote:

> hopE thiS thIngs caN cheErs yOu uP........
> 
> 
> Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat
> > > Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta
> > > dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan
> > > hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita
> > > diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat. Bohong besar kalau kita
> > > bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak. Yang
> > > sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi,
> > > kebiasaan, standar, gagasan, dan ideal kelompok dari mana kita
> > > berasal. Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja
> > > saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan jawab bila
> > > perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti.
> > > Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan
> > > sinyal kebodohan.
> > > 
> > > Cinta membutuhkan proses.
> > > Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan
> > > pertama. "Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang
> > > kompleks,"katanya. Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan
> > > waktu. Jadi memang tidak
> > > mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya
> > > dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga
> > > jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah
> > > berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk
> > > memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi
> > > dalam fenomena "cinta pada pandangan pertama" adalah pasangan
> > > terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat bahkan sampai
> > > tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta
> > > tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus "cinta pada
> > > pandangan pertama", banyak orang tidak benar-benar mencintai
> > > pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri.
> > > Sebaliknya, dengan orang yang benar-benar mencinta. Mereka mencintai
> > > pasangan sebagai persolinatas yang utuh.
> > > 
> > > Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi,
> > > Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga
> > > bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang
> > > yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan,
> > > tapi sebagai pasangan
> > > untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita
> > > berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya
> > > beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu
> > > mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan
> > > dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.
> > > 
> > > Cinta itu konstruktif,
> > > Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri
> > > sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi
> > > konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh
> > > cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia
> > > kehilangan ambisi,nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari.
> > > Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannyapun tak mungkin
> > > tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.
> > > 
> > > Cinta tidak melenyapkan semua masalah,
> > > Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah.
> > > Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit ( panacea ).
> > > Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan
> > > berbekal cinta belaka. Faktanya cinta tidaklah seajaib itu. Cinta
> > > hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah.
> > > Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa
> > > dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang berarti tidak
> > > benar-benar mencintai, cenderung membutakan mata saat tercegat
> > > masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan
> > > problem.
> > > 
> > > Cinta cenderung konstan,
> > > Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik
> > > perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh
> > > kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda
> > > kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas
> > > saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan
> > > hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila
> > > kita merasa kekasih hebat saat kita berdekatan dengannya dan tidak
> > > lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan
> > > kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat
> > > dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
> > > 
> > > Cinta tidak bertumpu pada daya tarik fisik,
> > > Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita
> > > menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak
> > > faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna
> > > penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya
> > > terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai
> > > personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu,
> > > bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan
> > > tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat
> > > hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari
> > > permulaan.
> > > 
> > > Cinta tidak buta, tapi menerima,
> > > Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan
> > > menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha
> > > menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu
> > > membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud
> > > baik. Tidak boleh ada kritik kasar,penolakan, kegeraman, atau rasa
> > > jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang
> > > menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan
> > > memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan,
> > > hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin
> > > diperbaiki.
> > > 
> > > Cinta memperhatikan kelanjutan hubungan,
> > > Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan
> > > dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak
> > > hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat,
> > > mempertahankan dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila
> > > mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu
> > > semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah
> > > kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk
> > > memperkuat hubungan.
> > > 
> > > Cinta berani melakukan hal menyakitkan,
> > > Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh
> > > mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian
> > > untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti
> > > seorang ibu yang berkata "tidak" saat anaknya minta es krim, padahal
> > > sedang flu. Begitulah kita semua seharusnya bersikap pada pasangan.
> 
> 
> ## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
> To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
> Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
> 
> 


>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke