MENJADI PENGANTEN BARU TAK KENAL WAKTU Banyak yang mengira, diusia setengan baya, berlagak harmonis denga suami atau istri sudah bukan masanya lagi. Padahal, itu kebutuhan wajar setiap orang. Amat sayang, jika manis dan hangatnya cinta antara suami dan istri hanya bisa dinikmati pada saat menjadi pengantin baru saja. Masih untung jika sampai berlanjut hingga pada kelahiran bayi pertama. Bukannya sedikit pasangan yang kemudian larut dalam rutinitas kesibukan kerja yang berat dan menghabiskan banyak pikiran, tenaga serta waktu, sehingga tak pernah terpikirkan oleh mereka bagaimana hak-hak mereka pribadi sebagai suami dan istri. Ketika anak-anak telah mencapai usia dewasa maka kemudian orang tua berfikir bahwa mereka sudah mulai tua, dan kemudian mereka mereka merasa tidak pantas lagi untuk bersikap dan bertindak selayaknya pengantin baru. Apa yang terjadi dalam keluarga-keluarga seperti ini? Setelah bebeapa bahwakan belasan tahun hidup dalam rutinitas hidup berumah tangga yang tak pernah berhenti dari masalah, hari demi hari akan terasa semakin menegangkan. Suasana menjadi panas dan kering, karena setiap anggota keluarga selalu berbicara tentang sesuatu masalah, yang boleh jadi berkaitan dengan anggota keluarga lainnya. Jarang sekali membicarakan hal-hal yang bisa mendatngkan kebahagiaan bersama. Dalam suasana panas seperti ini, sedikit saja ada senggolan saja ada yang tersinggung akan mudah menyulut api pertengkaran. Suami melihat istrinya tak ubahnya melihat sosok wanita yang sangat menyebalkan, sementara sang istri menganggap suami telah tergiur dengan kecantikan wanita lain sehingga ia melupakan dirinya. Banyak sekali suami dan istri yang memulai kehidupan rumah tangganya dengan niat yang benar-benar ikhlas, ingin membentuk keturunan yang mampu menajdi pejuang, penerus bagi tegaknya agama islam dimuka bumi ini. Begitu besar cinta dan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Sebagai seorang suami bekerja keras seharian penuh guna mencari nafkah diluar rumah, sementara istrinya membanting tulang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sambil mengasuh anak-anak yang tiada berhenti merepotkan orang tua sampai mereka dewasa bsekalipun. Mereka membiarkan dirinya esndiri kelelahan, tegang, dan epnuh dengan pikiran terhadap hal-hal semacam itu. Mereka lupa bahwa sebagai manusia biasa sebenarnya mereka masih tetap memiliki hak untuk bebahagia, mempunyai hak untuk dapat bersantai dan bergembira, sama juga dengan anak-anaknya, serta juga masih memiliki hak untuk memperbaiki dirinya sendiri. Sudah jelas, bahwa hak untuk memperbaiki diri sendiri ini tidak boleh bertentangan dnegan hak anak-anaknya. Waktu yang digunakan utnuk memperbaiki diri sendiri ini harus dicari setepat mungkin agar nantinya tidak mengganggu jadwal rutinitas keluarga yang lain. Tidak perlu terlalu sering, disesuikan dengan tingkat kebuthannya masing-masing. Yang penting, waktu untuk diri sendiri ini akan membuat perasaan menjadi lebih tenang, menumbuhkan kembali perasaan cinta dan kasih antara suami dan istri, serta memupuk keharmonisan dan keakraban diantara keduanya. Gairah cinta yang kembali bersemi didalam hati, membuat pikiran menjadi lebih jernih dalam menghadapi berbagi masalah. Ada keluarga yang memilih bulan masu secara mingguan. Maksudnya, suasana pengantin baru diciptakan berkala setiap pekan sekali. Caranya, dengan menerapkan frekwensi kerja 4-3, atau 5-2. Empat hari bekerja diluar rumah dan 3 hari didalam rumah, atau lima hari diluar dan dua hari dirumah sehingga tak bisa pulang setiap hari. Dengan tenggang waktu perpisahan empat atau lima hari, dalam diri masing-masing pihak akan timbul rasa kerinduan yang amat dalam, sehingga menjelang hari keempat atau kelima, berubah menjadi hari-hari penantian yang penuh harap, berharap semoga kerinduan akan segera terobati. Dan manakal telah terdengar bunyi detak sepatu sang suami memasuki halaman rumah, aduhai betapa bergetarnya dada istri ketika menyambutnya. Pertemuan keduanya bagaikan pengantin baru yang sedang dirundung asmara. Setelah dua sampai tiga hari pertemuan, segalanya jadi menyenagkan. Beban berat yang sebelumnya menghimpitpun tak lagi terasa menyesakkan dada. Tingkah laku anak biasanya menjengkelkan hati pun bisa berubah menjadi sejuk dipandang mata. Keluarga lain menggunakan aturan frekwensi " bulan madu " bulanan untuk mempersegar suasana rumah tangganya. Setelah dari hari ke hari terjebak rutinitas kerja yang melelahkan, dengan sisa waktu istirahat dihari Ahad yang hanya cukup untuk menghilangkan rasa lelah setelah kerja keras selama sepekan, mereka memilih untuk meluangkan waktu sebulan sekali untuk mengadakan " bulan madu ". Bukan satu kesalahan jika pasangan suami dan istri sesekali melepaskan diri dari ketegangan mengurus anak dengan menitipkan anak-anak mereka, sehingga keduanya punya waktu luang untuk diri sendiri. Pergi berdua sebulan sekali, sekedar menikmati pemandangan alam yang bisa menyejukkan hati, mendekatkan kembali hati keduanya, merajut kembali benag-benag cinta dan kasih sayang lewat pembicaraan dari hati kehati, akan sangat bermanfaat untuk membangun kembali suasana harmonis dan mesra yang selama satu bulan telah terkubur. Ada seribu satu macam cara untuk menciptakan suasana pengantin baru seperti ini. Sekedar berlama-lama di kafetaria yang temaram sambil menikmati es teler dan berbincang-bincang pun sudah cukup. Atau juga bermobil berdua berkeliling kota. Sekedar duduk berdua ditepi pantai menikmati debur omabk dikejauhan, atau bercengkrama disore hari ditemani secangkir dan makanan ringan. Insya Allah, semuanya akan kembali segar setelah usai berbulan madu. Komunikasi akan menjadi lebih mesra, akrab dan harmonis, memungkinkan kedua belah pihak untuk bisa lebih memahami pasangannya masing-masing. Alangkah indahnya pula bila kebiasaan berbulan madu secara berkala dapat kita lakukakn terus menerus (rutinitas) sampai kapanpun. Sehingga nantinya memungkinkan suasana akrab dan harminis tetap dapat terjaga selamanya. Apakah " bulan Madu " itu harus selalu disertai dengan gairah seksual yang menggebu-gebu seperti layaknya pengantin baru ? Tidak selamanya harus begitu, karena keharmonisan dalam hidup berumah tangga tidak selalu dinilai dengan standard kehidupan seksualnya. Walaupun juga tidak diabaikan sebagai bahan pertimbangan. Frekwensi tiap pasangan dalam melakukan hubungan biologis, misalnya, tidak begitu saja dapat dibuat sebagai standard penilaian. Karena frekwensi ini, dalam peneilaian kadar keharmonisan yang sama, akan berbeda antara satu pasangan yang satu dengan pasangan yang lain, tergantung dari berbagai faktor. Faktor usia, karakter masing-masing individu serta lingkungan sosialnya pun sangat berpengaruh. Jika pengantin baru yang memang benar-benar mendpatkan pengalaman baru dalam kehidupan suami dan istri begitu bergairah dalam berhubungan biologis, itu sangat wajar. Katakanlah keharmonisan keduanya mendapatkan nilai 10, Ternyata pasangan suami dan istri yang sudah berputa lima orang, yang mengadakan cara bulan madu secara bulanan dan frekwensi hubungan biologisnya tidak sebanyak pasangan pertama. Jadi nilai keharmonisan tidak melulu ditentukan oleh peningkatan hubungan seksual secara drastis ketika berbulan madu. Yang lebih penting adalah penilaian yang berdasarkan suasana hati masing-masing. Manakala gairah cinta, kemesraan dan kerinduan memenuhi hati mereka, semuanya akan bisa menyirnakan segala tekanan jiwa yang sebelumnya membebani. Adalah Rasulullah saw yang telah memberi contoh untuk ketentuan yang berbeda terhadap istri-istri yang baru saja dinikahi. Kepada seorang istri yang semula seorang gadis, beliau menentukan bahwa seorang suami punya hak untuk dirumah istri tersebut selama tujuh hari pertama, untuk kemudian baru menggilir kepada istri lainnya kembali seperti semula. Pendeknya bulan madu istri untuk yang semula gadis adalah tujuh hari. Tetapi bagi mereka yang ketika dinikahi sudah berstatus janda, maka hak untuk berbulan madu hanya tiga hari. Sedang hari keempat sang suami sudah wajib menggilir kepada istri-istri yang lainnya, jika memang yakin dapat berbuat adil kepada istri-istri yang lain. Pembagian ini mengisyaratkan bahwa memang kebutuhan biologis untuk mereka yang sudah pernah memperolehnya dengan kebutuhan biologis bagi mereka yang belum pernah memperolehnya itu berbeda. Apalagi setelah pasangan suami dan istri tersebut telah dikarunia putra dan putri, maka cinta kasih keduanya sudah berbagi kepada putra dan putrinya sehingga kebutuhan biologis mereka sudah cukup terpuasakan dengan adanya cinta kasih tersebut. Sekali lagi yang terpenting adalah bagaimana menciptakan suasana hati dalam berbulan madu itu. Sehingga pasangan kakek-nenekpun, yang sudah tidak lagi berhasrat dalam kebutuhan biologisnya, masih tetap memungkinkan mendapat nilai keharmonisan 10 seperti yang dicapai oleh pasangan pengantin baru. Alangkah indahnya hidup ini, bila kita bisa mempertahankan nilai keharmonisan yang 10 tadi dalam setiap pertambahan usia pernikahan kita, sampai kapanpun nanti. ---- To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
