ON THE DANGERS OF SAMADHI
(TENTANG BERBAGAI BAHAYA SAMADHI)

Samadhi dapat membawa banyak kerugian atau banyak manfaat bagi
pemeditasi; Anda tidak bisa bilang samadhi hanya membawa salah satu saja.
Bagi orang yang tidak memiliki kearifan samadhi merugikan,
tetapi bagi orang yang memiliki kearifan samadhi bisa membawa manfaat
nyata, samadhi bisa menuntun kepada Pencerahan.

Yang bisa paling merugikan bagi pemeditasi adalah Samadhi Absorpsi
(Jhana), yakni samadhi dengan ketenangan yang mendalam dan menetap.
Samadhi ini membawa kedamaian besar. Di mana ada kedamaian, di situ ada
kebahagiaan. Di mana ada kebahagiaan, keterikatan dan kelekatan kepada
kebahagiaan itu muncul. Pemeditasi tidak mau
mengkontemplasikan apa-apa lagi, ia hanya mau berada di dalam
perasaan yang nikmat itu. Bila kita telah berlatih untuk waktu lama, kita
mungkin mahir memasuki samadhi ini dengan cepat sekali. Begitu kita mulai
mencatat obyek meditasi kita, batin memasuki ketenangan, dan kita tidak
mau keluar lagi untuk meneliti apa pun. Kita menjadi terpaku dalam
kebahagiaan itu. Ini adalah bahaya bagi orang yang
berlatih meditasi.

Kita harus menggunakan Upacara Samadhi. Di sini, kita memasuki
ketenangan, dan kemudian, ketika batin sudah cukup tenang, kita
keluar lagi dan mengamati kegiatan di-luar.[5] Mengamati apa yang di luar
dengan batin tenang menghasilkan kearifan. Ini sukar dipahami, oleh karena
hal itu hampir mirip seperti berpikir dan membayangkan yang biasa. Ketika
ada pikiran, kita mungkin berpikir batin tidak
hening, tetapi sesungguhnya berpikir itu terjadi di dalam ketenangan. Kita
dapat menampilkan pikiran untuk mengkontemplasikannya. Di sini kita
mengambil pikiran untuk menyelidikinya; ini bukan berarti kita berpikir
tanpa tujuan untuk menyelidikinya, bukan berarti kita
berpikir atau menduga-duga tanpa arah; itu muncul dari batin yang
hening. Ini dinamakan "sadar di dalam ketenangan dan tenang di dalam
keadaan sadar." Jika itu sekadar berpikir atau berkhayal biasa, batin
tidak akan hening, batin akan terganggu. Tetapi saya tidak bicara
tentang berpikir biasa, ini suatu perasaan yang muncul dari batin
yang hening. Itu dinamakan "kontemplasi". Kearifan lahir di sini. --

[***[5] 'Kegiatan di-luar' mengacu pada segala macam kesan-kesan
indriawi. Istilah itu digunakan sebagai kontras dari 'kegiatan
di-dalam', yakni samadhi absorpsi (jhana), di mana batin tidak pergi
"keluar" kepada kesan-kesan indriawi di luar.]

Jadi, ada samadhi benar dan samadhi salah. Samadhi salah ialah di
mana batin memasuki ketenangan dan tidak disadari sama sekali. Orang bisa
duduk dua jam atau bahkan sepanjang hari, tetapi batin tidak
tahu di mana ia berada atau apa yang terjadi. Ia tidak tahu apa-apa. Ada
ketenangan, tetapi hanya itu. Itu seperti pisau yang tajam, yang kita
tidak peduli dipakai untuk apa. Ini ketenangan yang tertutup
ketidaktahuan, karena tidak ada banyak kesadaran-diri. Pemeditasi
mungkin mengira ia telah mencapai yang tertinggi, jadi ia tidak
peduli untuk mengamati apa-apa lagi. Samadhi bisa menjadi musuh pada
tingkat ini. Kearifan tidak bisa muncul oleh karena tidak ada keadaan
sadar tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Tentang samadhi benar, tidak peduli tingkat ketenangan apa pun yang
tercapai, ada keadaan sadar. Ada perhatian penuh dan pemahaman
jernih. Inilah samadhi yang dapat menghasilkan kearifan; orang tidak bisa
tersesat di situ. Para pemeditasi harus memahami ini dengan
baik. Anda tidak bisa berjalan tanpa keadaan sadar ini, itu harus ada dari
awal sampai akhir. Samadhi seperti ini tidak mengandung bahaya.

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana manfaat muncul, bagaimana
kearifan muncul dari samadhi? Bila samadhi benar telah berkembang,
kearifan bisa muncul sepanjang waktu. Ketika mata melihat wujud,
telinga mendengar suara, hidung mencium bau, lidah mengecap rasa,
tubuh mengalami sentuhan atau batin mengalami kesan batin--di dalam posisi
mana pun--batin tetap memiliki pengetahuan penuh tentang
hakekat sejati dari kesan-kesan indriawi itu, ia tidak "memilah dan
memilih". Di dalam posisi tubuh apa pun, kita sadar sepenuhnya akan
lahirnya kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Kita melepaskan kedua hal ini,
kita tidak melekat. Ini dinamakan Latihan Benar, yang terdapat dalam semua
posisi. Ungkapan "semua posisi" tidak hanya mengacu pada posisi tubuh,
tetapi juga mengacu pada batin, yang memiliki perhatian penuh dan
pemahaman jernih akan kebenaran sepanjang waktu. Bila
samadhi telah berkembang dengan benar, kearifan muncul seperti ini. Ini
dinamakan "pencerahan", pengetahuan akan kebenaran.

Ada dua jenis kedamaian -- yang kasar dan yang halus. Kedamaian yang
datang dari samadhi adalah jenis yang kasar. Bila batin damai, ada
kebahagiaan. Batin menganggap kebahagiaan sebagai kedamaian.
Tetapi kebahagiaan dan ketidakbahagiaan adalah proses menjadi dan
kelahiran. Tidak ada kebebasan dari 'samsara'[6], oleh karena kita masih
melekat kepada itu. Jadi kebahagiaan bukanlah kedamaian,
kedamaian bukanlah kebahagiaan.

[***[6] 'Samsara', roda Kelahiran dan Kematian, alam semua fenomena
terkondisi, batiniah maupun jasmaniah, yang mempunyai tiga sifat:
Tidak Kekal, Tidak Memuaskan, dan Bukan-Diri.]

Jenis kedamaian yang lain adalah yang datang dari kearifan. Di sini kita
tidak mencampuradukkan kedamaian dengan kebahagiaan; kita tahu batin yang
mengkontemplasikan dan mengetahui kebahagiaan dan
ketidakbahagiaan sebagai kedamaian. Kedamaian yang muncul dari
kearifan bukanlah kebahagiaan, melainkan adalah yang melihat
kebenaran dari kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan. Di situ tidak
muncul kelekatan kepada keadaan-keadaan itu, batin keluar mengatasi
mereka. Inilah tujuan sesungguhnya dari semua praktek Buddhis.

"... Buddha meletakkan Moralitas, Konsentrasi dan Kearifan sebagai Jalan
menuju kedamaian, jalan menuju Pencerahan. Tetapi sesungguhnya semua itu
bukanlah esensi dari Buddhisme. Itu sekadar Jalan ...
Esensi Buddhisme adalah kedamaian, dan kedamaian itu muncul dari
pemahaman yang sesungguhnya terhadap hakekat segala sesuatu. ..."

Ajahn Chah, dalam "A Taste of Freedom"

*****
TANYA: Anda mengatakan 'samatha' dan 'vipassana' , atau konsentrasi dan
pencerahan, itu sama. Dapatkah Anda menjelaskan lebih lanjut?

JAWAB: Itu sederhana sekali. Konsentrasi (samatha) dan kearifan
(vipassana) bekerja bersama-sama. Mula-mula batin menjadi hening
dengan berpegang pada suatu obyek meditasi. Ia hening hanya selama Anda
duduk dengan mata Anda tertutup. Inilah 'samatha'; dan kelak
dasar samadhi ini merupakan penyebab dari munculnya kearifan atau
'vipassana'. Di situ batin hening, entah Anda duduk dengan mata
tertutup, entah berjalan-jalan di kota yang ramai. Seperti ini: Dulu Anda
anak kecil. Sekarang Anda dewasa. Apakah anak kecil dan orang dewasa itu
sama? Anda bisa bilang, keduanya sama; atau melihatnya
dari sudut lain, Anda bisa bilang keduanya berbeda. Secara ini
'samatha' dan 'vipassana' juga dapat dilihat sebagai berbeda. Atau seperti
makanan dan kotoran. Makanan dan kotoran dapat dikatakan sama dan dapat
dikatakan berbeda. Jangan hanya percaya apa yang saya
katakan, berlatihlah dan lihatlah sendiri. Tidak dibutuhkan apa-apa yang
istimewa. Jika Anda memeriksa bagaimana konsentrasi dan kearifan muncul,
Anda akan mengetahui sendiri kebenarannya. Pada dewasa ini banyak orang
melekat pada kata-kata. Mereka namakan latihan mereka 'vipassana';
'samatha' diremehkan. Atau mereka namakan latihan mereka 'samatha'; adalah
esensial untuk berlatih 'samatha' sebelum
'vipassana', kata mereka. Semua itu bodoh. Jangan repot-repot
berpikir seperti itu. Lakukan saja latihan Anda, dan Anda akan melihat
sendiri.

TANYA: Apakah perlu untuk mampu masuk ke dalam absorpsi [jhana] dalam
latihan kita?

JAWAB: Tidak, absorpsi [jhana] tidak perlu. Anda harus menegakkan
ketenangan dan pemusatan batin sampai taraf tertentu. Lalu Anda
gunakan itu untuk menyelidiki diri Anda sendiri. Tidak dibutuhkan
apa-apa yang istimewa. Jika absorpsi [jhana] muncul dalam praktek
Anda, itu juga OK. Tapi jangan melekat kepadanya. Sementara orang
memikirkan terlalu banyak tentang absorpsi [jhana]. Kita bisa
bermain-main dengan itu secara sangat menyenangkan. Anda harus tahu
batas-batas yang semestinya. Jika Anda arif, maka Anda akan tahu
kegunaan dan keterbatasan absorpsi [jhana], persis seperti Anda tahu
keterbatasan anak-anak dibandingkan orang dewasa.

Ajahn Chah, dalam "Bodhinyana"

Salam,
Hudoyo
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com

Kirim email ke