KRISTIN CHAN, Medan:

Saya rasa ajaran Sang Buddha itu sangat flexibel. Bahkan berdasarkan yg
saya ketahui, Sang Buddha sendiri sering menyesuaikan cara penyampaian
dhamma-nya sesuai dengan orang-orang yg mendengarkan. Jadi saya rasa tidak
ada salahnya apabila Ajahn Brahm menyesuaikan isi dhamma berdasarkan minat
dari pendengar (kata Ajahn Brahm kemarin bisa disebut juga "teknik
marketing").

Kebahagiaan atau penderitaan merupakan sebuah dualitas. Kebahagiaan bisa
menjadi penderitaan dan penderitaan itu sendiri juga bisa menjadi
kebahagiaan. Tergantung bagaimana kita menyingkapi kondisi batin tersebut.

Inti ajaran Buddha juga bukan semata-mata mengenai dukkha atau
kebahagiaan, tapi menurut saya lebih ke jalan berakhirnya dukkha (term yg
digunakan Ajahn Brahm adalah mencapai kebahagiaan). Perbedaan cara dan
term yg digunakan, tapi masih dengan satu tujuan Nibanna.

Hanya pandangan saya sebagai umat awam yang belum lama mempelajari Buddhism.

_/\_
Kristin

========================================

HUDOYO:

'Lenyapnya dukkha' hanya bisa tercapai kalau orang memahami 'dukkha'
sedalam-dalamnya, bukan dengan membelokkan orang "mencari kebahagiaan",
sebagaimana diajarkan di banyak agama lain.

'Lenyapnya dukkha' secara psikologis tidak sama dengan 'tercapainya
kebahagiaan':
- 'Dukkha' adalah FAKTA pengalaman hidup manusia.
- 'Kebahagiaan' adalah ILUSI pengalaman hidup manusia.

Hanya mereka yang memahami ajaran Buddha melalui meditasi vipassana bisa
melihat perbedaan ini.

Tidak percuma Buddha menempatkan 'dukkha' pada urutan pertama Empat
Kebenaran Mulia. Kebenaran ini berlaku universal, tidak bisa
dijungkirbalikkan tanpa mengingkari kebenarannya.

Kalau ada yang mulai mengutik-ngutik ini, saya mempertanyakan pemahamannya
akan ajaran Buddha.

Salam,
Hudoyo
Situs Web MMD: http://meditasi-mengenal-diri.org
Forum Diskusi MMD: http://meditasi-mengenal-diri.ning.com

Kirim email ke