/ | _ \ | | |
_o_\_,_;_(_ ,o _\;__,_,_,_; :
( .. (
Ass.wr.wb.
Reference tentang kualitas syahadat kita.
Fathahillah
-----Original Message-----
From: BDI BP Indonesia [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, August 30, 2001 11:51 AM
Subject: Generasi Insyirah
>From :Armilla, Madiana
Sent :Thursday, August 30, 2001 11:14 AM
Subject:Generasi Insyirah
GENERASI INSYIRAH
=================
Untuk lebih memudahkan penggambaran wujud seseorang atau sekelompok orang
atau satu generasi yang telah sukses melewati masa uji, alangkah baiknya
kalau langsung memilih pengakuan Allah SWT terhadap Rasulullah SAW sebagai
pribadi dan para sahabat sebagai satu generasi.
Kita pilih beliau dan para sahabatnya sebagai standar kasus untuk menjadi
cermin sekaligus pembanding. Dengan begitu kita akan mudah mengidentifikasi
masing-masing diri kita sendiri, adakah sudah masuk nominasi orang-orang
yang diunggulkan mendapatkan sertifikat lulus bersyahadat atau masih dalam
proses uji.
Pengakuan itu dituangkan Allah SWT dengan bahasa yang cukup sederhana,
sehingga menjadi begitu jelas dan enak untuk dipahami dan dimengerti dalam
sebuah firman-Nya :
"Bukankah Kami telah melapangkan untukmu akan dadamu (lega perasaanmu), dan
Kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu. Dan
Kami tinggikan bagimu sebutan namamu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan
itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka
apabila kamu telah selesai (dari satu urusan) segeralah kerjakan dengan
sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap." (Q.S. Alam Nasyrah: 1-8).
Ada empat hasil minimal yang bisa diperoleh sebagaimana ayat di atas,
sebagai wujud peningkatan kualitas syahadat sesudah melalui uji coba dalam
bentuk liku-liku perjalanan panjang. Keempat hal tersebut sekaligus menandai
keberadaan syahadatnya dalam kondisi yang sudah mapan, dalam posisi yang
sudah tidak terancam, sudah lulus uji coba.
Dengan jaminan tersebut, berarti potensi yang dimiliki sudah luar biasa.
Sedikitpun tidak meragukan lagi untuk diperhadapkan dengan kondisi yang
paling jelek sekalipun. Siap diadu mutunya, sudah tahan banting. Mereka yang
sudah memiliki bobot syahadat yang mapan seperti ini terus ditantang untuk
bekerja dan berkarya. Baginya satu detik saja waktu berlalu tanpa kerja dan
karya sudah merupakan suatu kerugian yang amat besar, baik untuk dirinya
maupun orang lain.
Karenanya Allah tekankan kepada mereka yang sudah mencapai kualitas syahadat
seperti ini, tidak dibenarkan istirahat. Mereka dituntut untuk terus aktif
menggerakkan seluruh instrumen yang ada pada dirinya untuk menghasilkan apa
saja. Tak boleh berhenti berkreasi. Apabila sudah selesai satu pekerjaan,
supaya segera mengangkat kerja baru yang lebih besar dan lebih berat lagi.
Asal saja orientasi dan sasarannya hanyalah untuk dan karena Allah SWT
semata.
Dengan penekanan ini, maka mereka yang sudah sampai pada kualitas syahadat
yang lulus uji dijamin memiliki kemampuan untuk menjadi kelompok yang
memiliki kepeloporan, untuk selalu tampil mengangkat karya yang baru, selalu
tampil memprakarsai hal-hal yang diperlukan. Mereka adalah para pionir yang
tak pernah terlambat dalam mereaksi satu kondisi. Mereka adalah kelompok
Assabiqunal-awwalun. Yang selalu berada di barisan terdepan pada setiap
medan perjuangan. Mereka adalah pelopor-pelopor pembangunan.
Mereka yang sudah lulus dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, dalam
perjalanan syahadatnya akan selalu tampil dengan kepeloporannya, selalu ada
pada barisan terdepan, bukan menjadi ummat buntut yang terus saja mengekor
pada kemajuan orang lain.
Sangat sulit dimengerti kalau ummat Islam dengan syahadatnya masih selalu
saja memiliki perasaan serba takut, serba cemas dan penuh kekhawatiran untuk
mengangkat karya-karya strategis yang justru sangat diperlukan. Akibatnya
kita sering kehilangan momentum, saat yang paling mahal, paling berharga,
paling strategis dalam menentukan kalah dan menang.
Masih banyak di antara ummat Islam mundur dari arena dan tidak mau memulai
kerja nyata hanya karena menghindari resiko serta takut dengan beban yang
mereka khawatirkan nantinya tidak akan terpikulkan. Seolah-olah janji dan
jaminan Tuhan seperti yang telah dibuktikan pada diri Nabi sebagai contoh
kasus kurang meyakinkan. Terkesan informasi itu sekedar dongeng semata.
Mestinya dengan syahadat itu saja sudah lebih dari cukup untuk dijadikan
modal dasar mengangkat kerja besar. Bukankah dengan syahadat berarti mereka
telah mengakui dengan penuh keyakinan kalau yang berkuasa itu Allah SWT?
Dialah yang menawarkan bantuan setiap saat kepada yang memperjuangkan
agama-Nya. "Intansurullaha yansurkum wayutsabbit aqdaamakum", Jika kamu
menolong agama Allah, pasti Dia akan menolongmu dan meneguhkan kakimu.
Kenapa masih khawatir? Bukankah Allah sudah berfirman dalam ayat yang lain:
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian
mereka istiqamah, niscaya turunlah kepada mereka malaikat, (mereka berkata)
Janganlah kamu takut, dan janganlah berduka cita dan bergembiralah kamu
dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu." (Q.S. Haamiim As-Sajdah: 30).
Dengan ayat ini, apakah ummat Islam masih saja dihantui oleh berbagai
ketakutan? Nyatanya masih demikian, karena mereka belum istiqamah dengan
syahadatnya. Lain yang diucapkan lain pula perbuatan. Lain di bibir lain di
hati.
Kedua, dengan syahadat semestinya mereka sudah jual diri kepada Allah SWT.
Tak perlu jual mahal menerima titah dan perintah Allah. Bukankah kita tidak
punya lagi apa-apa di sisi-Nya? Untuk apa lagi khawatir terhadap resiko yang
masih berupa dugaan dan prakiraan saja.
Sangat mengherankan bila seseorang yang sudah bersyahadat mundur teratur
dari arena perjuangan hanya karena takut bayangan resiko yang diperkirakan
oleh analisa otak dan nafsunya. Aneh! Diakui atau tidak semuanya ini
menyangkut kualitas syahadat. Mereka yang mundur dari arena ini berarti
masih didominasi oleh nafsu. Sedangkan imannya tergusur kehilangan posisi.
Memang tugas akal memberi pertimbangan, mencari jalan dan cara keluar dari
kesulitan yang melilit. Akan tetapi bukan lantas dengan pertimbangan itu
akhirnya malah tidak ada yang dikerjakan. Semua peluang dan kesempatan empuk
yang tersedia, berlalu dengan begitu saja.
Kesalahan kita selama ini adalah kekurangberanian kita memulai sesuatu yang
punya resiko. Akibatnya kita pasif saja menerima kenyataan pahit ini. Perut
sudah keroncongan tetap tidak mau cari makan, karena takut di tengah jalan
dilanggar kendaraan. Kehormatan sudah dirobek-robek masih tetap diam, karena
takut dibantai orang.
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:
'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah
zakat!' Setelah diwajibkan mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka
(golongan munafiq) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada
Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: 'Ya Tuhan
kami, mengapa Engkau wajibkan berperang pada kami? Mengapa tidak Engkau
tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu
lagi?' Katakanlah: 'Kesenangan di dunia ini hanyalah sebentar dan akhirat
itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya
sedikitpun." (Q.S. An-Nisa': 77).
Hidup ini adalah resiko. Jangan hidup kalau takut menghadapi resiko.
Jangankan untuk ber-Islam yang jaminannya surga, orang yang makan saja ada
resikonya. Sering kita dengar gara-gara makan orang meninggal dunia. Entah
karena racun, atau bahkan ada yang terkena isi staples. Bisa jadi orang mati
hanya karena menggaruk-garuk jerawatnya. Orang kejatuhan nasi bisa juga
mati.
"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di
dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (Q.S. An-Nisa': 78).
Tiada kata takut dalam kamus Islam, kecuali mereka yang munafiq. Resiko
tetap menghadang, tidak boleh menghindar. Peras otak untuk terus maju,
mengambil prakarsa setiap pergerakan dan pembaharuan.
Sesungguhnya dengan memulai saja segera bekerja, itu sudah mengundang
kekuatan. Ada jaminan pasti akan segera mendatangkan hasil. Dengan kekuatan
itulah mulai terjadi perubahan yang secara tidak langsung menjinakkan resiko
yang sangat ditakuti.
Seterusnya makin banyak yang kita kerjakan berarti kekuatan juga terus
meningkat, sementara keajaiban setiap saat bisa terjadi. Musuh yang benci
berubah jatuh simpati, menjadi cinta dan akhirnya menjadi pendukung utama.
Ajaib memang, tetapi begitulah bentuknya wahyu sistem, bahwa semua yang
mustahil bisa saja terjadi setiap saat dengan izin Allah SWT.
suara hidayatullah
Note :
1) Untuk mengirim pesan ke Mailing List BDI BP harap dikirim ke alamat
[EMAIL PROTECTED] atau mereply surat dari BDI BP Indonesia
2) Untuk mengikuti Mailing List harap mengisi form Join Mailing List di
website http://www.bdibp.homestead.com atau mengirim ke [EMAIL PROTECTED]
3) Untuk berhenti mengikuti Mailing List / unsubscribe (Kalau bisa
jangan)
harap mengirim ke [EMAIL PROTECTED]
_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp
Silakan kunjungi website 'moderator' :-)
di http://abuharits.cjb.net