/   |  _     \ |        | |
                    _o_\_,_;_(_  ,o _\;__,_,_,_; :
                   (    ..      (

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dari sekian banyak milis yang saya ikuti dan baru saja sempat terbaca... ;-)
Semoga berguna.
Wassalam.


-----Original Message-----
From: Indonesia-2001 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, September 04, 2001 8:16 PM
Subject: [Indonesia-2001] Jalan Menuju Mekkah, Menelusuri Cahaya Keimanan


From: "alkattani" <[EMAIL PROTECTED]>
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/message/15841


                           Jalan Menuju Mekkah
                      Menelusuri Cahaya Keimanan
                        Murad Wilfred Hoffman


Ketika, pada 1992, penerbit Ditrich di Jerman menerbitkan buku-ku
� Der Islam Als Alternative�, terjadi polemik besar-besaran di
media massa, partai-partai, dan parlemen Jerman. Membiarkan
isu-isu yang dilontarkan dalam polemik itu adalah sesuatu yang
sulit diterima, karena isu-isu itu telah jauh melewati sisi
individualku. Dan kampanye fitnah, serta pemutarbalikkan fakta
yang terorganisir rapi itu bertujuan mencapai tujuan yang lebih
jauh dan lebih besar dari sekadar diriku sendiri.

Dalam buku yang telah aku sebutkan tadi, aku berusaha, dengan
metode rasional, mengkounter dan menolak seluruh ketidak adilan
dan pemikiran-pemikiran yang keliru dan tidak rasional tentang
Islam,  yang telah diamini dan tertanam kuat dalam kesadaran
masyarakat Jerman. Terutama ketika aku dapati sikap reflek
masyarakat Jerman yang buruk terhadap segala sesuatu yang
berlabel Islam, sebelum mereka mengkajinya atau mengetahui
perkara yang sebenarnya terlebih dahulu.

Jika buku yang aku sebutkan tadi itu mengkaji Islam dari kaca
mata Islam sendiri, dan dalam bentuk yang diinginkan oleh Islam,
serta yang seharusnya terwujudkan, maka buku ini meneropong Islam
dari kaca yang lain, yaitu menatap hakikat keimanan sebagaimana
aku jalani dan rasakan.

Sedangkan realita bahwa agama-agama besar selururuhnya tidak
dijalankan secara intens dan lengkap oleh para pemeluknya adalah
sesuatu  yang normal, dan malah manusiawi. Jika kita merujuk
kepada tuntutan akhlak dan pemikiran yang demikian tinggi yang
diinginkan oleh Islam.  Dari dasar ini:

Aku berharap bukuku ini dapat membantu untuk mengungkapkan
kekuatan pendorong yang diserap oleh para kaum Muslimin dari
agamanya, dan bagaimana kaum  Muslimin dapat meningkat dan maju
bersama kekuatan Islam itu. Serta diharapkan buku ini juga dapat
membantu memperjelas pandangan kita akan kondisi yang dapat
dicapai oleh dunia Islam jika dunia Islam berpegang dan
menjalankan seluruh ajaran Islam dengan lengkap dalam kehidupan
sehari-hari mereka.


Murad Wilfred Hoffman.


.............................
Al Quran al Karim menyerukan orang yang akan menunaikan ibadah
hajji agar memperhatikan etika-etika ibadah hajji. Di antaranya,
orang yang sudah memakai pakaian ihram dilarang untuk bersetubuh,
mencela, memaki, bertengkar dengan teman seperjalanannya, dan
berusaha sedapat mungkin melakukan kebaikan:

�(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa
yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji,
maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di
dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa
kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah
kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.�. Al Baqarah: 197.

Aku telah membaca deskripsi historis tentang ibadah hajji pada
abad ke sembilan belas. Aku telah membaca buku karya Richard
Burton yang terdiri dari dua jilid, dan diterbitkan pada 1853,
yang mendeskripsikan perjalanan ibadah hajji ke Mekkah dan
Madinah. Aku juga telah membaca buku �Perjalanan Hajji ke Mekkah�
yang ditulis oleh Von Maltzan (1860), yang menceritakan
perjalanan seorang Muslim Swiss dari kota Bazel kuno, yaitu
Johann Ludwig Burkler (1814), yang dikenal dengan nama Syeikh
Ibrahim bin Abdullah, setelah ia menyatakan masuk Islam. Di
samping itu, aku juga telah membaca tulisan-tulisan kontemporer
seperti buku �Petunjuk Pelaksanaan Ibadah Hajji dan Umrah� yang
diterbitkan dalam seri penerbitan Jerman: �Perjalanan Hari Ini�.

Persiapan ruhani yang terpenting adalah mempelajari beberapa ayat
Al Qur`an yang bercerita tentang ibadah hajji, terutama yang
terdapat dalam surah Al Baqarah dan surah Al Hajj. Demikian juga
menghapal beberapa hadits Rasulullah Saw yang banyak, yang
berbicara tentang ibadah hajji. Buku yang ditulis oleh Ahmad von
Denver �yang mengkompilasikan banyak ayat Al Quran dan hadits
Nabi tentang ibadah hajji--  membantu diriku untuk mengaitkan
manasik-manasik ibadah hajji antara yang zhahir dan bathin,
materi dan ruhani. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh bagi kaum
Muslimin, yang aqidah mereka menyatukan ruhani dan materi
sekaligus. Karena bertawajjuh kepada Allah SWT, dalam Islam,
tidak semata dengan ruhani saja, atau pisik semata.  Seorang
individu Muslim dalam shalatnya, puasanya, kurbannya dan ibadah
hajjinya,  tidak semata hadir dengan ruh, akal dan hatinya
semata, namun juga dengan daging dan darahnya; alternatif yang
ada adalah: ia menghadirkan semua kesadaran itu, atau tidak sama
sekali. Ini merupakan hasil dari konsep �tauhid� yang mengaitkan
segala hal dalam pandangan Islam.

Sambil menunggu-nunggu datangnya hari Arafah, aku duduk di
kamarku, di sebuah hotel di Jeddah, membaca beberapa referensi
tentang ibadah hajji yang aku bawa.  Di antaranya adalah
redaksi-redaksi yang ditulis oleh rekan Ahmad von Denver sebagai
berikut: �tidakkah kita dapat mengatakan bahwa ihram merupakan
perlambang kematian, thawaf merupakan suatu bentuk penyerahan
diri seseorang kepada Allah? Sa`i, bukankah ia melambangkan
kecapaian dan keluh kesuh [dunia]? Bukankah Zam-zam lambang
kehidupan? Hari Arafah, bukankah ia melambangkan penungguan kita
akan hari Kiamat? Muzdalifah, bukankah ia melambangkan kegelapan
yang mendahului datangnya hari yang baru? Mina, bukankah ia
melambangkan kesetiaan dengan cara memberikan kurban? Melepaskan
kain ihram di Mina, bukankah ia melambangkan kehidupan baru?
Melempar Jumrah, bukankah ia melambangkan perjuangan sepanjang
hidup melawan segala keburukan? Namun Allah�lah Poros
kehidupan�.�.

Suara muazzin berkumandang dari pengeras suara, memanggil untuk
menunaikan shalat Ashar. Kemudian datang tugasku untuk
mengumandangkan iqamah di masjid hotel yang sedikit demi sedikit
dipenuhi oleh jama`ah shalat. Aku mengumandangkan iqamat dengan
bahasa Arab seperti yang dikumandangkan oleh Bilal, seorang
muazzin pertama, pada 1413 tahun (qamariah) yang lalu. Namun
dengan suara yang lebih lemah dari suaranya. Kemudian kami
meminta seorang jama`ah yang berasal dari Maldive, yang berkulit
hitam legam untuk menjadi imam shalat, dan ia pun segera memenuhi
permintaan kami itu.

Aku perhatikan, saat kami berkumpul di meja makan malam, tidak
ada  di antara kami yang memiliki nafsu makan. Sebabnya adalah
karena kami semua menunggu perpindahan kami, di esok harinya,
dari Mekkah ke Mina, ke tempat tinggal kami di hari-hari
berikutnya. Pada malam harinya kami tidak dapat tidur nyenyak.
Dan pada pagi berikutnya, sebagian besar dari kami telah
berkumpul dengan berpakain ihram di lobby hotel, semenjak jam
lima pagi.

Kami berhenti sebentar di Mekkah untuk melaksanakan thawaf qudum
sekali lagi di sekeliling Ka`bah. Pada saat ini, kami thawaf di
bawah terik matahari yang amat menyengat, sehingga mendorong
banyak jama`ah hajji, seperti diriku,  untuk berlindung di bawah
payung. Namun dalam kondisi penuh sesak seperti itu, memakai
payung dapat membuat celaka orang lain. Dalam gelombang thawaf
yang sedemikian sesaknya, para jama`ah hampir tidak dapat
melangkah maju di tempat thawaf yang luas. Oleh karena itu, aku
kemudian berpindah ke tingkat terakhir, yang memiliki lingkaran
thawaf lebih besar yang harus dilewati. Namun aku tidak mempunyai
pilihan lain. Dengan berthawaf di sini, berarti seorang jama`ah
harus menempuh jarak 5,6 kilo meter di bawah terik panas yang
mencapai 44 derajat celcius. Namun demikian, tidak ada jama`ah
yang mengeluh; semua itu terasa ringan bagi seorang jama`ah
hajji. Bahkan di sebelahku ada jama`ah yang berthawaf sambil
menggendong anaknya di pundaknya , sepanjang pelaksanaan thawaf.

Melihat dari atas sini, menuju ke bawah, ke arah jama`ah yang
sedang berthawaf di pelataran Ka`bah, membuat kita seperti
terhipnotis. Pemandangan itu amat indah. Ka`bah tampak seperti
poros yang diam dan kokoh, yang dikitari oleh jarum yang berputar
dengan lambat dan tenang, ke arah yang berlawanan dengan arah
perputaran jam.  Pemandangan ini hanya berubah saat masuk waktu
shalat; saat Ka`bah menjadi poros bagi  lingakarang-lingkaran
yang beragam, yang berpusat pada satu titik, yang terdiri dari
ratusan ribu tubuh manusia yang tampak putih berseri, yang ingin,
mencari dan mengerjakan perbuatan yang sama, sebagai perlambang
penyerahan diri kepada Tuhan-nya.  Saat ini, pelataran yang
memutari Ka`bah dikelilingi oleh bangunan bertingkat-tingkat yang
terbuat dari keramik berwarna hijau. Dan Ka`bah juga dikelilingi
oleh tujuh menara yang dibangun dengan model India-Islam.

Aku harus meninggalkan pemandangan yang indah itu untuk
melanjutkan perjalananku menuju Mina, dengan mengendarai mobil.
Dalam perjalanan yang membutuhkan waktu 45 menit untuk menempuh
jarak sejauh lima kilo meter. Mina adalah �starting point� untuk
menuju hari Arafah. Apakah Arafah itu? Rasulullah Saw bersabda:
�hajji adalah Arafah�.
Pada hari kesembilan Dzul Hijjah, sekitar 50 ribu kendaraan
mengantarkan lebih dari dua juta jama`ah hajji ke Arafah,
melewati jalan-jalan yang berada di sekitar Mina dan Mekkah,
dalam jarak antara 10 dan 15 kilo meter. Kendaraan yang demikian
banyak itu, yang bergerak secara bersamaan dan menuju ke arah
yang sama, menyebabkan kemacetan yang tiada tara, yang layak
untuk dicatat dalam buku-buku pencatat rekor.

Ada orang yang berusaha menuju ke Arafah dengan berjalan kaki.
Namun hal ini tampaknya tidak bisa jadi alternatif. Karena hawa
panas telah demikian menyengat semenjak jam delapan pagi. Aku
melihat seorang lelaki yang berjalan bersama orang tuanya yang
sudah berusia lanjut menuju Arafah, yang kemudian pingsan karena
mengalami penurunan metabolisme aliran darah.

Saat kami sampai ke kemah-kemah yang didirikan di sekitar gunung
Arafat, udara panas yang melebihi lima puluh derajat celcius di
bawah naungan, dan lebih dari enam puluh derajat celcius di bawah
terik matahari langsung, terasa menampar-nampar wajah kami. Tidak
ada hawa sejuk yang mengalir dan menghilangkan hawa panas ini.
Mata hari demikian teriknya, dan orang mengalami kesulitan
bernafas. Setiap gerakan  yang dilakukan menyebabkan perasaan
capai. Aku memperhatikan, saat aku menunggu giliran di depan  MCK
umum, ternyata kaki �made in� Jerman-ku langsung melepuh dalam
beberapa detik saja berada di bawah hawa panas seperti ini. Oleh
karena itu, saat aku merasakan panas yang demikian sangat, aku
terpaksa berlindung ke dalam kemah kecil yang aku tempati bersama
seorang jama`ah hajji yang sehari-harinya bersatus sebagai
professor di Universitas Georgetown di Washington. Sementara
Syeikh Na`na` yang berasal dari Aljazair, ia berada di kemah yang
terletak di samping kemah kami.

Hari itu demikian panjang dan agungnya. Hari untuk merenung,
berdamai, shalat, dan mendengarkan pembicaraan-pembicaraan yang
bernilai.

Semenjak aku mengikuti latihan-latihan rohani di usia mudaku, aku
belum pernah merasakan penyerahan total kepada Allah SWT dengan
kebersihan jiwa yang mengagumkan seperti ini.  Pada hari Arafah
hanya ada satu hal: yaitu bermunajat kepada Allah SWT. Di sini,
talbiah kami terejawantahkan: �Labbaik Allahumma labaik �ya
Allah, aku penuhi panggilan-Mu��.  Dengan demikian, inilah makna
berwukuf di hadapan Allah pada hari Arafat. Pada hari itu, jutaan
manusia membungkus dirinya dengan kain kafan, dan mereka
meninggalkan segala hal demi menghadap Allah SWT. Keberadaan
mereka di sini semata hanya untuk Allah SWT. Mereka menunggu
kematian mereka. Mereka shalat dan berdo`a dengan kekhusyuan dan
keyaqinan  yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan biasanya
tidak akan terjadi lagi.

Di tempat ini, pada tahun 632 H, beberapa mingu sebelum wafatnya
Rasulullah, beliau menyampaikan khutbah; sebuah khutbah yang
kembali dibaca pada hari yang sama dan di tempat yang sama,
setiap tahun.  Pada hari itu Rasulullah Saw bersabda kepada kaum
Muslimin seperti ini: �aku mewasiatkan agar kalian memperlakukan
kaum wanita dengan baik��.�

Dan beliau mengakhiri khutbahnya sebagai berikut: �aku
meninggalkan pegangan yang jika kalian pegang teguh niscaya
kalian tidak akan pernah tersesat: yaitu Kitab Allah dan
sunnahku. Aku akan mempertanyakan kalian pada hari kiamat nanti
apa yang kalian lakukan [terhadap wasiatku ini]�.  Berdasarkan
penuturan periwayat, orang-orang yang hadir dan mendengar khutbah
beliau kemudian menjawab: �Kami bersaksi bahwa engkau telah
menunaikan amanah, menyampaikan risalah dan memberikan nasihat
kepada umat�. Hal ini pula yang aku persaksikan bersama dua juta
dua ratus ribu laki-laki dan perempuan yang datang dari seluruh
penjuru dunia.

Sesuai dengan  aturan manasik hajji, selepas matahari tenggelam,
para jama`ah hajji bergerak dari Arafah ke Muzdalifah yang
berjarak 7 kilo meter dari Arafah.  Saat seluruh jama`ah yang
demikian banyak secara serentak bergerak, terjadi sedikit
kesimpang siuran, sehingga membuat aku dan temanku yang professor
itu ketinggalan rombongan.  Selanjutnya kami berdua ke sana ke
mari mencari tempat kosong di ratusan bus yang mengangkut jama`ah
hajji. Namun kami tidak mendapatkan tempat. Tiba-tiba aku melihat
menteri perindustrian Maroko, `Azmaani, salah seorang sahabat
lamaku. Ia melambaikan tangannya memanggilku di tengah-tengah
manusia yang berjumlah lebih dari dua juta orang. Kejadian ini
meyakinku bahwa sebenarnya tidak ada �ketidak sengajaan� yang
hakiki dalam dunia milik Allah ini.  Akhirnya aku menjadi anggota
sementara tidak resmi dalam rombongan jama`ah hajji resmi Maroko
itu. Sebelumnya, semua orang ingin  bergerak secepatnya, namun
karena lalu lintas yang demikian macetnya, kami harus menunggu
dengan meneteskan peluh dalam kendaraan selama tiga jam, sebelum
akhirnya kendaraan kami dapat bergerak di tengah kemacetan itu.

Berikutnya,  seluruh jama`ah hajji kembali bergerak secara
bersamaan menuju satu tujuan. Polisi lalu lintas sudah berusaha
untuk mengaturkan lalu lintas, namun malah membuat kemacetan
makin menjadi-jadi. Ada sebagian jama`ah hajji yang berusaha
menempuh jalan pintas dengan berjalan kaki melewati pegunungan
hitam yang tampak kontras dengan pakaian mereka yang berwarna
putih.

Karena macet dan banyak berhenti di jalan, kami baru sampai di
Muzdalifah sekitar jama sebelas malam, sambil merasakan ngilu di
lutut dan persendian kami. Di Muzdalifah kami melaksanakan shalat
Maghrib dan Isya secara jamak ta`khir, di atas bebatuan tempat
kami akan mengambil 49 kerikil untuk persiapan jumrah keesokan
harinya,  dengan diimami oleh seorang imam shalat yang berasal
dari Rabbath. Kami telah disediakan makanan, namun kami harus
mendatanginya terlebih dahulu untuk mendapatkannya. Aku tidak
banyak mengeluh dengan pelayanan itu, karena selama musim hajji
aku telah terbiasa hanya mengkonsumsi sedikit daging ayam, bubur
kacang hijau, apel dan buah pisang. Yang terpenting adalah minum
air. Untungnya, kami sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam
masalah air minum, karena petugas hajji pemerintah Saudi  terus
membagi-bagikan 80 juta  kantong plastik ukuran satu liter selama
musim hajji. Mereka juga membagi-bagikan kotak juice buah kepada
seluruh jama`ah hajji di setiap perempatan jalan besar. Oleh
karena itu, aku merasa tidak butuh membawa persiapan Coca Cola
untuk kebutuhan minumku.

Rombongan kami sampai ke Mina pada jam dua pagi, dekat dengan
tempat pelemparan jumrah;  sebuah ritus yang melambangkan
penolakan manusia secara tegas atas kejahatan yang berada dalam
dirinya dan dunia di sekelilingnya. Aku mendekat ke tiang tempat
pelemparan jumrah itu, sehingga aku dapat menjamin dapat
membidiknya dengan tepat dengan menggunakan dua jari saja, sambil
menjaga jarak tertentu agar aku tidak terkena hujan batu yang
melayang dari belakangku. Kondisinya benar-benar sulit; karena
sebagian orang awam ada yang merasa bahwa baru kali inilah,
selama hidupnya, mereka dapat menimpuk Iblis, sehingga mereka pun
melempari tempat pelemparan jumrah itu dengan batu-batu besar,
sepatu dan payung mereka.

Berikutnya, rombongan kami dikelilingi oleh beberapa anak kecil
yang membawa �seperti aku duga sebelumnya� gunting untuk memotong
beberapa helai rambut kami, dengan imbalan tiga real Saudi,
selama kami tidak ingin mencukur habis rambut kami. Karena kami
ingin segera melepaskan pakaian  ihram, maka kami segera
berangkat ke Mekkah sebelum matahari tenggelam. Kami tidak perlu
membujuk supir bus kami, yang  tidak tidur semalaman,  untuk
membawa kami ke Mekkah, karena ia sendiri mengenakan pakaian
ihram. Setelah sampai ke Mekkah, kami segera melaksanakan thawaf
untuk ketiga kalinya ke sekeliling Ka`bah:  yakni thawaf Ifadhah.
Saat ini, jumlah jama`ah yang melaksanakan thawaf jauh lebih
banyak dari sebelumnya, karena jumlah jama`ah yang berthawaf
tidak kurang dari dua ratus ribu orang. Oleh karena, aku
membutuhkan waktu selama dua jam, dengan penuh capai, untuk
menunaikan thawaf ke sekeliling Ka`bah dan untuk ber-Sai antara
Shafa dan Marwa.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat setengah pagi. Berarti
sudah masuk waktu shalat subuh di pagi hari Idul Adha, tanggal
sepuluh Dzul Hijjah, di Haram Makkah. Aku akan melaksanakan
shalat shubuh berjama`ah dengan sisa-sisa energiku, bersama 800
ribu kaum Mukminin yang lain di Masjidil Haram itu. Dengan suara
nyaring dan merdu, muazzin Masjidil Haram dan imamnya memberikan
komando kepada jama`ah untuk merapatkan dan merapikan barisan.
Adzan yan dikumAndangkan demikian merdu dan artistiknya. Bacaan
Al Qur`an mereka juga amat indah terdengar. Untungnya, kalangan
penganut madzhab Hanbali di Saudi membolehkan dimensi keindahan
ini dalam shalat, berbeda dengan yang dilakukan oleh para
penganut madzhab Maliki di Afrika Utara. Keindahan ini membawa
jama`ah hajji, yang belum tidur malam dan sedang capai, seperti
diriku, ke alam yang sama sekali kosong dari kecapaian.

Akhirnya, kami kembali pada jam enam pagi ke rumah penginapan
kami di Mina, setelah kami menghabiskan waktu 26 enam di atas
kaki kami dengan segenap kesadaran nurani dan jasmani kami. Kami,
yaitu aku dan teman-teman sesama jama`ah hajji, saling berpelukan
dan mengucapkan: semoga mendapatkan hajji mabrur, dan diterima di
sisi Allah, insya Allah. Syeikh Na`na memberikan selamat kepadaku
atas status baruku sebagai seorang �Bapak Haji�.  Aku kembali ke
kamarku, dan di sana aku akhirnya dapat melepaskan pakaian ihram.
Selanjutnya aku berbaring di pembaringanku sambil masih berpeluh
keringat. Aku bersyukur kepada Allah SWT karena aku dianugerahkan
kemampuan untuk menunaikan ibadah hajji, sambil berdoa semoga
ibadah hajjiku diterima di sisi-Nya. Selanjutnya aku tertidur
dengan pulas, tanpa merasa terganggu oleh suara bising yang cukup
keras yang bersumber dari alat pendingin ruangan.

Saat orang-orang yang kecapaian seperti diriku berusaha
mengembalikan energi mereka pada hari Idul Adha ini, sebagian
jama`ah hajji yang lain �yang mempunyai stamina lebih kuat�
menyembelih hewan kurban mereka di tempat yang mereka kehendaki.
Seorang jama`ah hajji boleh memakan sebagian kecil dari daging
hewan kurbannya. Sedangkang bagian terbesarnya ia bagi-bagikan
kepada jama`ah hajji yang membutuhkan. Tulang-belulang
hewan-hewan kurban itu kemudian dijemur hingga kering, dan
kadang-kadang di kota-kota kayu. Bisa dibayangkan baunya. Oh
tidak, hanya orang yang mengalaminya sendiri-lah yang mengetahui
betapa baunya.

Aku mengetuk beberapa kali pintu kamar tetangga kamarku yang
datang dari Wasington, untuk mengecek keadaannya. Karena aku tahu
ia telah memforsis pisiknya lebih dari kemampuannya. Bahkan ia
telah memintaku untuk menggantikan sisa kewajiban melontar
jumrah. Hal ini boleh, bahkan untuk pelaksanaan seluruh ritus
hajji juga boleh. Yaitu orang yang tidak mampu melaksanakan hajji
sendiri, ia boleh dihajjikan oleh orang lain.

Pada hari kedua Idul Adha aku diundang �bersama 150 jama`ah hajji
yang berasal dari seluruh dunia, termasuk Sultan Brunai dan salah
seorang anak Rafsanjani, presiden Iran� untuk hadir ke istana
raja Fahd bin Abdul Aziz, di Mina. Raja Saudi pada tahun itu
telah memberikan undangan untuk melaksanakan ibadah hajji --tidak
sekadar undangan jamuan makan saja-- kepada 1300 muslim dari
penduduk bekas Uni Soviet. Dalam jamuan makan itu aku duduk di
samping kolumnis Mesir Anis Manshur dan qadhi agung Pakistan
Muhammad Hifzhullah; yang mengatakan kepadaku bahwa ia sama
sekali belum pernah memutuskan hukum potong tangan kepada
pencuri. Karena raja-raja biasanya senang ditunggu oleh orang
lain, maka kami mempunyai kesempatan untuk berbicara ke sana ke
mari tentang Islam; yang memperkuat kenyataan bahwa ibadah hajji
adalah perhelatan besar bagi berkumpulnya seluruh kaum Muslimin.

Raja Fahd dijaga oleh tiga orang pengawal pribadi yang sangat
tegas, yang mengenakan pakaian nasional kerajaan Saudi. Besar
dugaanku para pengawal itu sebelumnya juga telah bertugas menjadi
pengawal raja Abdul Aziz Al Saud (w. 1953) yang legendaris. Namun
saat ini mereka telah dilengkapi dengan persenjataan modern;
tidak sekadar belati dan pistol saja, namun juga dilengkapi
dengan senjata otomatis.

Saat aku berbicara dengan raja, tampak jelas ia telah mengetahui
banyak tentang diriku. Undangan yang ia berikan kepadaku dapat
dipahami sebagai counter atas provokasi-provokasi yang
menyerangku di Jerman.

Sesuai dengan etika jamuan makan Arab, seluruh makanan
dihidangkan sekaligus, agar dapat dicicipi oleh semua yang hadir,
sehingga membuat meja-meja makan hampir tidak cukup untuk
menampung semua hidangan yang disajikan. Di antara etika jamuan
makan itu adalah agar seseorang makan dengan cepat dan sedikit
berbicara, selanjutnya ia segera pulang saat kenyang. Sementara
raja tetap berada di tempat hingga seluruh undangan pulang.

Pada sore harinya, aku dan menteri Azmani berusaha melewati
jalan, yang dipenuhi bau menyengat dan kerumunan manusia,  menuju
tempat pelemparan jumrah untuk melontar kembali, sambil dibantu
oleh polisi. Selama itu kami menutup hidung  dan mulut kami
dengan sapu tangan yang  telah kami percikan minyak wangi.
Sampah-sampah bekas jama`ah hajji yang tidur di aspal jalan, dan
mesin-mesin mobil yang terus dihidupkan untuk menghidupkan AC
mobil, membuat jalan itu bisa menjadi bahan kritikan keras para
aktivitas lingkungan hidup.

Para jama`ah hajji yang tidur di aspal jalan itu merupakan
jama`ah hajji asing, yang pergi hajji tanpa melalui prosedur
resmi. Kehadiran mereka  tidak resmi, namun amat mencolok. Pada
hari itu ada seorang wanita yang meletakkan anak bayinya di atas
alas dari karton.

Pada hari ketiga (13 Juni), yang merupakan akhir hari Idul Adha,
aku berangkat sendiri selepas shalat shubuh untuk melontar jumrah
bagi diriku dan temanku. Para jama`ah yang selama ini tidur di
jalan, pada hari itu sudah mulai meninggalkan tempat mereka.
Mereka menggunakan persediaan air mereka yang sedikit terutama
untuk wudhu (lihat fasal: �Lima Kali Sehari, seperti yang
Diperintahkan kepada Kami). Para pedagang asongan juga mulai
menjalankan kerja mereka. Pencampuran ibadah hajji dengan
kegiatan perdagangan adalah sesuatu yang dibolehkan oleh Islam.
Ada sebagian jama`ah hajji yang memodali ongkos kepulangan mereka
ke tanah air mereka dari hasil penjualan komoditas negara mereka
yang mereka bawa, seperti perhiasan dari gading, perak dan
pakaian. Ada seorang jama`ah hajji dari Turki yang berpapasan
denganku dan bertanya dengan lugas: �di mana syetan berada�?
Pertanyaannya menyiratkan bahwa ia menyangka semua orang harus
mengetahui di mana syetan berada, bahkan syetan itu harus
berbahasa Turki juga! Aku menunjuk dengan amat sopan, dan dengan
bahasa Turki pula, ke arah tiang ketiga (Jamrah Tsalitsah) yang
akan kami lempari kerikil pada hari ini. Sebelum kejadian itu,
aku tidak mampu menunjukkan tempat syetan dengan demikian
tepatnya!

Pada hari berikutnya, dalam perjalanan pulang kami dari Mina ke
Jeddah, kami melaksanakan thawaf wada` di sekeliling Ka`bah. Pada
saat itu masjid telah penuh sesak di segala penjuru, karena kami
sampai pada saat datang waktu shalat ashar. Pada kali ini, aku
thawaf keliling Ka`bah di bagian atap Masjidil Haram, meskipun
kedua  telapak kakiku hanya mampu menahan panasnya atap yang
tersengat matahari itu selama beberapa detik saja. Aku
membayangkan diriku seperti beruang yang berusaha diajarkan
menari di atas lantai yang panas oleh pawangnya. Namun demikian,
setelah itu aku duduk cukup lama di emper masjid untuk
mengabadikan bentuk masjid yang indah ini dalam ingatanku!

Aku memperhatikan, pada tanggal 16 juni, saat aku mengambil
passpor hajjiku, untuk bersiap-siap kembali dengan pesawat menuju
Daar Baidha (Casablanca), para petugas hajji tampak bergembira
melihat jama`ah kembali ke negara masing-masing dengan puas.
Kapal jumbo jet yang aku naiki terbang langsung dengan lurus
menuju Tunis. Dengan begitu, arah kiblat di dalam pesawat itu
tetap dan tidak berubah arah selama penerbangan, sehingga
memungkinkan para pramugari dan pramugara untuk menunaikan shalat
di lantai pesawat. Untuk mengisi kekosongan, aku memilih majalah
Time edisi 15 Juni untuk aku baca selama penerbangan. Cover edisi
ini menampilkan poto sebuah masjid, sementara Head Covernya
tertulis: �Islam�Apakah Ia Harus Ditakuti Oleh Dunia?�.


* * *
dari buku    : Jalan Menuju Mekkah, Menelusuri Cahaya Keimanan
Penulis      : Dr. Murad Wilfred Hoffman
Penerjemah   :   Abdul Hayyie al Kattani
               Rahmat Tohir
               Nurcholish Hamzen
Penerbit     : Gema Insani Press,
Tahun Terbit : Jakarta, 2000





Silakan kunjungi website 'moderator' :-)
di http://abuharits.cjb.net

Kirim email ke