Bagoes
From: mas bei <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, May 24, 2010 4:09:35 PM
Subject: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
Dari: M J Sanusi <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sen, 24 Mei, 2010 16:08:07
Judul: RE: Bls: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
Jadi……………….gw bayar 2 kali lipat penawaran
From:
mancing_ikan@ yahoogroups. com [mailto:mancing_ i...@yahoogroups .com] On Behalf
Of mas bei
Sent: Monday, May 24, 2010 3:35 PM
To: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Subject: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa,
menghemat bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
wah
elu mah ngledex goes, lu minta di sumpahin apa?
woi, ada tackle di jual, tas joran bulux warna item, joran shakespeare
contender 5,6", reel ryobi ecusima item dan beberapa mata kail busuk. yg
mau cukup 200k saja! ambil di Blok Wareng sekarang juga.
Dari: Bagoes <must_bagoes2003@ yahoo.com>
Kepada: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Terkirim: Sen, 24 Mei, 2010 15:13:40
Judul: Re: Bls: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa,
menghemat bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
kalo air asin ada ... tapi bukan sebagai bahan bakar tapi sebagai penghemat bahan bakar .... dah pernah tuh di tipi ... kalo patin juga dah ada .. ente makan patin terus ke kantor naik sepeda ... bisa kan .... gua jamin tuh tas pinggang kebuang dah ....
Best
Regrads
Bagoes
From: mas bei <masbei...@yahoo. co.id>
To: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Sent: Mon, May 24, 2010 2:49:57 PM
Subject: Bls: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa,
menghemat bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
kenapa gak dikembangkan dari air asin, arus, atau kalo perlu berbahan ikan patin, karena ikan ini mudah budidayanya dan cepat besarnya. coba goes bikin studi ya!
Dari: Bagoes <must_bagoes2003@ yahoo.com>
Kepada: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Terkirim: Sen, 24 Mei, 2010 14:35:19
Judul: Re: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat
bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
ehheehhehhheh dulu waktu gua masih di konsultan pernah buat studi kelayakan proyek beginian ... tenaga ahli gua pake temen temen dari LIPI .... untuk produksi masal lebih besar dari investasi BBM sekarang dan biaya produksi juga belum bisa ekonomis ... kalo masalah lahan belunm begitu menjadi masalah ... masih ada 1 juta hektar yg dulu jaman suharto sudah di bersihkan tetapi belum dimanfaatkan ... dan lahan lain yg masih banyak ...
Best
Regrads
Bagoes
From: mas bei <masbei...@yahoo. co.id>
To: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Sent: Mon, May 24, 2010 2:13:17 PM
Subject: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat
bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
logika
saya, jika biaya produksi per kilo 1000 perak, maka jika di produksi masal
harusnya akan lebih efisien. untuk menghasilkan 1 juta liter biopremium, maka
di butuhkan 4 juta kilogram singkong basah atau setara dengan 4000 ton, nah
untuk kebutuhan kontinyu maka harus membuka lahan lagi, kalo membuka lahan
tetep ada yg di korbankan, bisa produksi pertanian bisa juga hutan.
sami mawon ya mas? dah naik kuda aja!
Dari: Bagoes <must_bagoes2003@ yahoo.com>
Kepada: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Terkirim: Sen, 24 Mei, 2010 13:55:01
Judul: Re: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat bahan
bakar fosil (Ke Khawatiran)
Masalahnya untuk produksi masal bagaimana ???? sepertinya teknologi ini dah lama gua denger ... tapi pabriknya ngga pernah ada ada ... jangan jangan untuk produksi masal biayanya nutup.
Best
Regrads
Bagoes
From: M J Sanusi
<san...@amamesin. com>
To: mancing_ikan@ yahoogroups. com
Sent: Mon, May 24, 2010 1:52:01 PM
Subject: RE: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat
bahan bakar fosil (Ke Khawatiran)
Bilamana hal ini sudah berjalan secara umum, maka perusahaan seperti yang saya tempatkan sekarang akan melorot
Karya anak bangsa ini, suatu trobosan bagi dunia industry otomotif dimana kekhawatiran akan bahan bakar fosil yang cenderung mulai habis dapat tergantikan
“SALUT dengan yang menciptakan/ mengembangkan hal ini”
Melaju, Mobil Berbahan Bakar Singkong
JAKARTA, KOMPAS.com —
Komisi Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT
Energy Karya Madani berhasil menciptakan bioetanol yang kemudian disebut
Biopremium ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut
diolah dari tanaman singkong.
"Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan
tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja," ujar sang penemu yang juga
Dirut PT Energy Karya Madani S Adibrata, Senin (24/5/2010) di Jakarta.
Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan dari etanol
berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa
mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. "Bisa
dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada
sekarang, yang hanya sekitar 70 persen," ungkapnya kepada para wartawan.
Meski dinamakan Biopremium, kualitas bioetanol ini setaraf dengan pertamax
keluaran Pertamina. Hal ini sudah diuji pada mobil-mobil mewah yang memiliki cc
besar. "Kemarin sudah juga dilakukan test drive dari Jakarta ke
Subang dengan jarak sekitar 200 km, dan tidak ada masalah," ujar Endy.
Selain kualitas yang tak kalah baik dengan yang dihasilkan bensin dari bahan
bakar fosil, biopremium ini juga dinilai ekonomis. Menurut Endy, untuk
menghasilkan satu liter etanol diperlukan enam kilogram singkong.
Harga singkong Rp 400 per kilogram. Itu berarti, satu liter etanol hanya
menghabiskan Rp 2.400 ditambah ongkos produksi Rp 1.000. Total harga satu liter
etanol singkong menjadi Rp 3.400. Harga ini jauh lebih murah dengan yang ada di
pasaran.
Adapun siang ini sekitar pukul 11.00, tujuh mobil berbendera KNMI dilepas dari
Sekretariat KNMI di Jalan Tebet Utara III menuju Surabaya. Ketujuh mobil
tersebut sudah berbahan bakar singkong dengan persentase kandungan etanol dari
25 hingga 100 persen.
Perjalanan ini selain ditujukan untuk mengetes kemampuan Biopremium tersebut
pada perjalanan jarak jauh, juga untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat
tentang sumber daya alternatif ini.

