Pola serupa dapat diterapkan kepada mahasiswa baru FI; tanpa memaksa, tanpa intimidasi, sepenuhnya menghormati kemerdekaan pribadi. Sesuai dengan HAM dan reformasi. Lebih sulit, tetapi lebih layak bagi manusia dewasa. Salam, A Rusli 15 Jan 99 At 09:19 PM 1/15/99 +0700, you wrote: >saya udah baca proposal beasiswa anak sd-nya. terus saya udah ikutan juga dalam kegiatan tersebut. >sekarang saya punya beberapa bahan masukan buat kawan-kawan. >persoalan pendidikan tidak bisa hanya diselesaikan dengan program beasiswa ala kadarnya saja (tapi buat permulaan sudah sangat bagus). kalau temen-temen ingin lebih serius berbuat sesuatu bagi pendidikan adik-adik kita, agar ketika dewasa nanti menjadi lebih mandiri saya harap program yang sudah dibuat bisa ditingkatkan lagi. >persoalannya, bukan cuma nggak boleh sekolah karena nggak bisa bayar spp, tapi budaya belajar sebagian besar anak-anak itu memang masih memprihatinkan. kesadaran orangtua mereka seringkali kurang memberikan motivasi buat anak-anak itu untuk giat belajar. nah gimana, bisa nggak kalau peran pemberi semangat agar adik-adik kita itu tekun belajar, kita yang ambil. kalau adik-adik kita itu punya motivasi yang kuat untuk belajar, tentunya akan memberikan kontribusi yang lebih besar dari sekedar beasiswa karena toh ilmu tidak hanya ada di sekolah saja. >caranya kita memberikan contoh-contoh maanfaat dari ilmu yang dipelajari. bisa dipakai contoh-contoh do bidang fisika misalnya. >misal, setiap hari minggu, anak-anak itu kita kumpulkan dan diberi sekolah minggu. isi sekolah minggunya, ya iptek yang menyenangkan dan mudah. programnya bisa kaya pramuka-nya tasa (kok isinya orang kaya mulu sih sa?) atau pas-nya salman. >itu-pun baru persoalan anak miskin. >kalo kita mau bicara soal anak jalanan, persoalan lain lagi, dan jauh lebih rumit. lebih panjang untuk didiskusikan dan dilakukan survey. >ya itu saja. sekedar usul. >dan ingat usul saya tidak pernah memaksa karena tidak mengandung unsur uang didalamnya. he he he > > >lemet >[EMAIL PROTECTED] >
