===========================================================================
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
http://student.unpar.ac.id/parahyangan-online/
===========================================================================

ParaHyangan Stop Press, 4 Maret 1999
===========================================================================
Seputar Wawancara FX. Budiwidodo Pangarso dengan BOM:
Di Balik Berita Itu
===========================================================================
===========================================================================
"KITA TAHU SIAPA ORANG INI. BOLEH DIKOMENTARI!" begitulah bunyi tulisan yang
ditempelkan Komite Mahasiswa (KM) Unpar di papan pengumuman dekat rektorat.
Di atas tulisan tersebut terdapat potongan artikel wawancara Pembantu Rektor
(PR) III Unpar Ir. FX. Budiwidodo Pangarso,MSP dari Mingguan Umum BOM
(Bacaaan Orang Merdeka) No:02 Tahun I/22-28 Februari 1999. Dan di
sebelahnya, terdapat selembar kertas kosong tempat mahasiswa dapat
memberikan komentar tentang isi wawancara tersebut. Di situ KM Unpar
menuliskan komentarnya, "Ternyata borjuis kapitalis yang ada di kampus ini
lebih takut bentrokan yang menghancurkan bangunan daripada bentrokan dengan
aparat yang membunuh mahasiswa."
===========================================================================

Bila dibaca sekilas isi wawancara tersebut, sulit mengetahui apa yang
sebenarnya dipermasalahkan KM Unpar. Karenanya, ParaHyangan sengaja
mewawancarai Henry Ismail, seorang aktivis mahasiswa, di posko KM Unpar.

Menurut Henry,  KM cuma ingin supaya mahasiswa  bisa berpikir kritis tentang
hal tersebut. Henry mengaku kaget dengan pernyataan PR III yang akrab
dipanggil Pak Budi dalam wawancara tersebut. "Kami cukup sedih dengan
pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh Pak Budi, terutama kata-katanya
yang berbunyi: 'silahkan mereka demo, namun hindari bentrokan-bentrokan
terhadap mahasiswa lain, dosen dan pengrusakan bangunan yang ada di
kampus'," jelasnya.

Henry berpendapat, Budiwidodo hanya berpikir bahwa yang dimaksud dengan
"bentrokan" adalah antara mahasiswa dengan mahasiswa atau mahasiswa dengan
dosen. "Kenapa dia tidak pernah memperhatikan bentrokan antara mahasiswa
dengan aparat? Seharusnya mahasiswa-lah yang harus dilindungi dari kekerasan
aparat daripada bangunan atau segala macam. Kami sedih karena punya pemimpin
yang seperti ini. Frame berpikirnya kok begini!" tegasnya.

Sementara PR III, merasa terkejut dan heran ketika dimintai tanggapannya
oleh ParaHyangan. Ia bingung dengan apa yang dipermasalahkan KM Unpar dari
isi wawancara tersebut. Budiwidodo menyanggah dirinya tidak peduli bila di
kampus terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan aparat seperti yang
diungkapkan KM Unpar.  Ia menjelaskan, "sekelompok orang yang mulai
melakukan sesuatu (demonstrasi-red) harus sudah mempertimbangkan resiko, dan
salah satu resikonya adalah bentrok dengan aparat. Walaupun saya sendiri
sudah berusaha mencegahnya."

Sedangkan yang ia maksud dengan kata "bentrokan" dalam wawancara tersebut
adalah bentrokan secara fisik, bukannya bentrokan dalam hal berpendapat.
Namun, Budiwidodo mengakui bahwa bentrokan semacam itu belum pernah terjadi
di Unpar.

Lebih Intelektual
-----------------
Henry juga mempermasalahkan komentar PR III dalam wawancara tersebut, yang
berbunyi: "Kami dari pihak Universitas Parahyangan lebih cenderung
mengarahkan mahasiswa masuk dalam kegiatan yang tetap apresiatif untuk dekat
kepada masyarakat dan merekomendasikan kepada kegiatan-kegiatan yang
sifatnya ilmiah. Lebih intelektual, dengan kajian-kajian versi Universitas.
Karena mahasiswa disini diharapkan menjadi mahasiswa intelektual dan bukan
menjadi calon-calon demonstran."

Menurutnya, itu adalah suatu kalimat yang khas birokrat. Panjang dan indah
tapi kosong (tidak bermakna-red). "Saya menyarankan kepada Pak Budi:
'janganlah terlalu sombong dengan intelektualitas yang kosong ini'. Dia
harus lebih banyak belajar dari masyarakat!"

Ketika dimintai penjelasannya mengenai pernyataannya yang secara implisit
seolah-olah menyatakan masyarakat kampus lebih intelektual daripada
masyarakat biasa, Budiwidodo menjawab bahwa secara formal memang benar
masyarakat kampus lebih intelektual. Tetapi secara aktual belum tentu
demikian. "Ada juga mahasiswa yang setelah terjun ke dalam masyarakat justru
merasa asing", tambah dosen jurusan arsitektur ini. Oleh sebab itu, Ia
mengemukakan, dulu pernah ada julukan "menara gading" bagi warga kampus,
yang maksudnya kalangan kampus hanya suka menganalisis masalah saja tetapi
tidak pernah melihat dunia nyata. Begitu mereka terjun ke masyarakat ketika
ada "actual problem", mereka malah merasa asing. Sementara di dalam kampus,
mereka berkoar-koar. Hal tersebut, menurut pengamatannya, masih terjadi
sampai sekarang.

Terlepas dari konflik pendapat di atas, tampaknya ada juga mahasiswa yang
tidak sependapat dengan KM Unpar. Di lembar untuk menuliskan pendapat yang
berada di bawah tulisan komentar KM Unpar tentang isi wawancara itu,
mahasiswa tersebut menulis (dengan mencantumkan NRP-nya): "Saya kurang
setuju dengan 'pengarahan' dari KM di atas. Ini seakan-akan mengajak kita
'menghujat' PR III. Dalam artikel, tidak disebutkan kalo PR III tidak peduli
dengan bentrokan mahasiswa-aparat, karena demo tidak sama dengan bentrok.
Demo tidak harus bentrok. Kalo demo sama dengan bentrok, kita mengubah
mahasiswa menjadi preman- preman jalanan yang berkesempatan memukul aparat
tanpa resiko ditangkap. Mudah-mudahan kita bisa menjalankan demo intelektual
sebagai mahasiswa. Sedikit tanggapan saya".  (Juandi, Samuel/sjk)

-------------------------------------------------------------------------

Berikut berita yang dimuat dalam Tabloid BOM No:02 TahunI/22-28 Februari
1999.

---------------------------
Demo di Kampus Sah-Sah Saja
---------------------------

Di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), pembauran antar mahasiswa dari
etnis tionghoa dengan mahasiswa dari etnis lain telah tercipta dan
berlangsung lama. Kenyataan itu antara lain terlihat dalam aksi demo
mahasiswa lalu, baik di dalam maupun di luar kampus. Pihak Rektorat sendiri
ternyata memberikan kebebasan asal tidak mengganggu dan merugikan pihak
lain.

Berikut petikan wawancara BOM dengan Ir. FX Budi Widodo, MSP, Pembantu
Rektor III bidang Kemahasiswaan Unpar Bandung.

Bagaimana anda melihat peran mahasiswa di kampus anda dalam aksi demo yang
lalu, dibandingkan Universitas Kristen atau Katolik di Jakarta?

Setiap Universitas kegiatannya sama, baik itu perguruan tinggi umum maupun
Kristen. Memang aksi-aksi mahasiswa Universitas Kristen di Jakarta lebih
bergaung, mungkin juga karena kasus penembakan mahasiswanya. Wajar saja bila
suaranya begitu sporadis dan universitas di Bandung pun kelihatannya kalah
gaungnya.
Kita sama-sama dalam satu asosiasi perguruan tinggi Kristen Indonesia.
Tetapi kalau kegiatan-kegiatan mahasiswa diserahkan kepada tata cara
akademik universitasnya masing-masing, tanpa ada campur tangan dari pihak
lain. Unpar dan Universitas Maranatha memang sama-sama kristen dan mempunyai
persamaan, yakni gaungnya dalam demokrasi tidak begitu tampak.

Bagaimana anda melihat demo di dalam kampus?

Demonstrasi di kampus sah-sah saja, asal tidak mengganggu kegiatan utama
Universitas atau akademik dan kegiatan kemahasiswaan yang lain. Silahkan
mereka demo, namun hindari bentrokan-bentrokan terhadap mahasiswa lain,
dosen dan pengrusakan bangunan yang ada di kampus.

Apakah ada bentrokan?

Sejauh ini kami belum menerima laporan utama tentang bentrokan yang
diakibatkan dari aksi demo. Namun silang pendapat dan bersikeras pendapat
memang selalu ada. Itu kita anggap sebagai bumbu atau pupuk untuk melihat
mana yang baik dan mana yang buruk.

Bagaimana peranan mahasiswa dari etnis Tionghoa dalam aksi demo?

Kami selama ini memperlakukan mahasiswa itu sama. Tidak ada perbedaan mana
yang dari golongan etnis Tionghoa atau mana yang bukan. Bahkan sewaktu demo
di dalam kampus lalu, tampak adanya pembauran ras. Para dosen dari etnis
Tionghoa dan etnis lain juga bersatu. Mereka juga berprilaku spontan dan emo
sional.
Keaktifan Unpar dalam demo gabungan cenderung kurang, mengapa? Kami dari
pihak Universitas Parahyangan lebih cenderung mengarahkan mahasiswa masuk
dalam kegiatan yang tetap apresiatif untuk dekat kepada masyarakat dan
merekomendasikan kepada kegiatan-kegiatan yang sifatnya ilmiah. Lebih
intelektual, dengan kajian-kajian versi Universitas. Karena mahasiswa disini
diharapkan menjadi mahasiswa intelektual dan bukan menjadi calon-calon
demonstran.

Lutfi Slam (Bandung)

-------------------------------------------------------------------------


Dari redaksi:


1. Berikut Surat Pembaca yang kami terima melalui e-mail:

- - - - - -
Viva Unpar!
Sebelumnya saya perkenalkan diri dulu. Saya Sandy Alexander Katuuk, alumni
Unpar FISIP�85. Saat ini kebetulan sedang bertugas di KBRI Kopenhagen.
Banyak juga alumni Unpar yang saat ini menjadi diplomat muda, seperti Arto
Suryo Di-puro (FISIP�85) saat ini bertugas di PTRI New York, Anita Luhulima
(FISIP 85) bertugas di PTRI Jenewa, Berlian Helmy (FISIP 86) baru saja
selesai berdinas di KJRI Osaka dan masih banyak lagi teman-teman lainnya.
Kami berharap adik-adik di Unpar dapat meneruskan karier yang lebih baik
dari kami. Saat ini untuk menjadi diplomat (karier di departemen luar
negeri) sejak 2-3 tahun lalu bukan saja didominasi oleh FISIP, Ekonomi atau
Hukum, namun departemen luar negeri sudah bisa menerima dari Teknik juga.
Persoalannya sekarang, apakah mereka berminat?
Baiklah, mumpung baru permulaan, pamit dulu dan bilamana rekan-rekan ingin
kontak denganku, tak perlu malu, silakan, semoga saya dapat melayani.
Salam hormatku kepada dosen-dosen Unpar khususnya dari FISIP (Pak Atom, Bu
Nunung, Pak Heppi Bone, Pak Andre Pareira dan lainnya.)
Viva Unpar!

Sandy Alexander Katuuk
Alumnus FISIP Unpar�85
[EMAIL PROTECTED]
- - - - - -

2. Majalah ParaHyangan edisi XIII kini secara redaksional telah rampung.
Topik-topik yang diangkat:

- Goresan Utama:
  Pers Mahasiswa Pasca Soeharto: Mau ke Mana?

- Toleh:
  Lika Liku Senat Mahasiswa Unpar

- Peristiwa:
  1. Macet... Pedulikah?
  2. Electric Acoustic Angklung: Inovasi demi Kemajuan Angklung

- Bincang-Bincang:
  1. Rektor Unpar, Prof.Dr. Benny Suprapto Brotosiswojo
  2. Dosen Fakultas Ekonomi, Wisnu Wardhono Drs., MSI

- Resensi
  "Merdeka Square" G30S di Mata Intel Australia

- Bonus Eksklusif:
  Nantikan Rusuhnya Kampanye...

Dan topik-topik menarik lainnya...

Saat ini Majalah ParaHyangan edisi XIII tengah dalam proses pembuatan film
untuk selanjutnya dicetak. Apabila tidak ada halangan, maka diharapkan pada
pertengahan bulan Maret Majalah ParaHyangan edisi XIII dapat di hadir di
tengah pembaca. Bagi yang hendak memesan Majalah ParaHyangan edisi XIII,
dapat menghubungi [EMAIL PROTECTED]

3.Redaksi menerima dengan senang hati segala sumbangan berita dan foto
mengenai segala kegiatan yang telah/akan berlangsung di Unpar. Apabila
berkenan, Anda dapat mengirimkannya ke sekretariat kami, atau melalui
[EMAIL PROTECTED] .

Apabila ada di antara Anda yang hendak menawarkan kerja sama dengan kami,
dapat menghubungi kami melalui alamat yang tertulis di bawah ini:

- Sekretariat ParaHyangan
   Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung (dekat Lapangan Parkir Hukum Unpar)
   Telepon (022)2042390.

- Melalui e-mail, ke alamat:
   [EMAIL PROTECTED]

Terima kasih
--------------------------------------------------------------------------

==========================================================
ParaHyangan Stop Press diterbitkan oleh
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
>==========================================================



Kirim email ke