===========================================================================
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
http://student.unpar.ac.id/parahyangan-online/
===========================================================================

ParaHyangan Stop Press, 20 Maret 1999
===========================================================================
Pekan Budaya 8, 10-14 Maret 1999
WAYANG SINGGAH KE UNPAR
===========================================================================
===========================================================================
Selama lima hari sejak tanggal 10 Maret 1999, kampus Unpar diwarnai dengan
nuansa wayang dalam acara Pekan Budaya yang diselenggarakan oleh Koorniator
Unit Kegiatan Mahasiswa Unpar
===========================================================================


Memasuki Gedung Serba Guna Unpar, pengunjung disambut barisan stand berisi
kerajinan kulit dan tangan terbuat dari bambu. Namun, yang paling menarik
adalah bagian ruang yang memamerkan berbagai jenis wayang seperti wayang
kulit dan bambu. Penataan wayang tidak disusun dengan display seperti
pameran pada umumnya, melainkan  pada instalasi-instalasi yang diatur dengan
rasa estetika tinggi hinga menimbulkan kesan unik. Pencahayaan yang
remang-remang dan bau dupa yang mengisi ruang pameran, membuat kesan mistik
makin mengental.

Pagelaran, pameran, dan sarasehan bernuansa wayang,  terangkum dalam Pekan
Budaya 8. Acara yang bertemakan �Pengaruh perkembangan jaman terhadap
kesenian tradisional di Indonesia� dengan sub tema �Wayang pada masa lalu,
masa kini, dan masa depan� tersebut oleh pihak pengunjung maupun panitia
terbilang sukses. Walaupun kurang gencarnya publikasi sehingga hanya
dikunjungi sebagian kecil masyarakat umum,  sasaran yang hendak dicapai dari
acara ini, yaitu membuka mata masyarakat akan kebudayaan Indonesia yang
sarat akan nilai-nilai  kehidupan, tampak terealisasi.

Wayangku Sayang, Wayangku Malang
-------------------------------
Di hari kedua Pekan Budaya 8, tampil dua orang pembicara dalam acara
saresehan yang membahas tentang wayang, yaitu H. Bambang Murtiyoso dari
Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan Arswendo Atmowiloto.  Bertindak
sebagai moderator adalah Drs. Singgih Wibisono. Dalam makalahnya yang
berjudul �Potret wayang kita�, Bambang menjelaskan bahwa wayang punya arti
yang penting bagi masyarakat Jawa. �Karena kebanyakan masyarakat Jawa
percaya bahwa tokoh-tokoh dalam dunia wayang benar-benar ada,� jelasnya.

Menanggapi kondisi wayang yang saat ini terlihat mulai ditinggalkan oleh
sebagian besar masyarakat, menurut Bambang ada empat aspek yang harus
diperhatikan agar wayang tetap survive, yaitu: aspek etika/moral, aspek
hiposional, aspek estetika, dan aspek hiburan. �Bila kurang salah satu aspek
tersebut, wayang tidak akan bisa diterima secara luas," tegasnya.

Arswendo Atmowiloto yang tampil sebagai pembicara kedua berpendapat bahwa
generasi sekarang sudah tidak biasa lagi menggunakan idiom-idiom wayang. Ia
memberi contoh, dulu apabila seorang ibu ingin menegur anaknya yang berbuat
salah, maka si ibu biasanya menggunakan idiom-idiom
wayang, misalnya dengan berkata, �Kamu jangan seperti Dursasana!�

Selain itu, media yang dipakai untuk menyampaikan wayang juga perlu
diperhatikan. Selama ini orang yang ingin menikmati wayang harus bermodalkan
bahasa Jawa, gendhing- gendhing Jawa, dan tokoh-tokoh wayang yang jumlahnya
ribuan. Hal inilah, menurut Arsendo, yang membuat wayang kurang bisa
diterima secara luas. Ia  sendiri mengaku bahwa sewaktu  kecil ia mengenal
wayang justru dari komik-komik karya R.A. Kosasih. �Media yang dipakainya
itu sangat luar biasa,� tuturnya.

Dari Si Cilik Sampai Si "Mbeling"
---------------------------------
Di hari keempat dan kelima, Pekan Budaya 8 menampilkan pagelaran wayang
golek dan wayang kulit semalam suntuk. Di hari keempat tampil dalang cilik
Yoga Awaludin, juara I festival dalang cilik tingkat nasional. Ia membawakan
lakon �Mustika Wungkal Perdana� yang berarti mustika yang diberikan kepada
Hanoman oleh  Sri Rama untuk menyelamatkan Shinta, istri Rama, dari
penculikan Rahwana. Bocah cilik yang masih duduk di kelas 1, SLTP 1 Warung
Tiara Sukabumi, ini mampu membawakan lakonnya selama 4 jam dengan baik.
Ketika ditanya tentang ilmu mendalang yang dimilikinya, Yoga menjawab �Dari
nonton kang Asep Sunandar Sunarya mendalang�, tuturnya polos. Setelah Yoga,
tampil dalang mahasiswa bernama Dadan Sunandar Sunarya, putra dalang ulung
Asep
Sunandar Sunarya.

Puncak acara Pekan Budaya 8 menampilkan pagelaran wayang kulit garingan yang
berjudul "Pembakaran Shinta" dan dialog pentas oleh sang dalang "mbeling",
Sujiwo Tedjo, dan 11 muda-mudi dari EKI production.

"Pembakaran Shinta" bercerita tentang ketidakberdayaan kaum wanita pada
jaman kerajaan. Lakon ini mengandung pesan moral bahwa wanita seharusnya
dapat duduk sejajar dcngan pria. Ternyata pagelaran yang dimulai pukul 21.20
ini  oleh Tedjo merupakan format baru dalam suatu  pagelaran wayang kulit. �
Acara dengan format semacam ini baru pertama kali saya buat sehingga saya
butuh pandangan rekan-rekan semua,� tutur Tedjo. �Tapi," sambungnya,"jangan
merasa Unpar dijadikan kelinci percobaan!�

"Pembakaran Shinta" berhasil memukau sekitar 500 penonton. Apalagi ketika
disuguhi gemulai erotis  dari penari blasteran Jepang-Jawa yang memerankan
tokoh Widowati. �Acaranya bagus, nggak nyesel saya datang sampai tengah
malam begini�, kesan Deni,  mahasiswa teknik mesin ITB. Usai acara, Sujiwo
Tedjo berdialog singkat seputar pementasannya tersebut. Mengapa lakon
"Pembakaran Shinta�?  Dalang yang mengaku senang dijuluki pria penghibur ini
ternyata punya misi ingin mengangkat kembali harkat wanita,  yang selama
orde baru tenggelam akibat ulah penguasa, lewat dunia pewayangan. (Budi,
Esther, Iman, Ira, Samuel)

-------------------------------------------------------------------------
Dari redaksi:

1. Kami meminta maaf atas keterlambatan berita diatas, diakibatkan kesibukan
kuliah dan keterbatasan sumber daya yang ada, terutama dalam hal komputer.

2. Majalah ParaHyangan edisi XIII kini secara redaksional telah rampung.
Topik-topik yang diangkat:

- Goresan Utama:
  Pers Mahasiswa Pasca Soeharto: Mau ke Mana?

- Toleh:
  Lika Liku Senat Mahasiswa Unpar

- Peristiwa:
  1. Macet... Pedulikah?
  2. Electric Acoustic Angklung: Inovasi demi Kemajuan Angklung

- Bincang-Bincang:
  1. Rektor Unpar, Prof.Dr. Benny Suprapto Brotosiswojo
  2. Dosen Fakultas Ekonomi, Wisnu Wardhono Drs., MSI

- Resensi
  "Merdeka Square" G30S di Mata Intel Australia

- Bonus Eksklusif:
  Nantikan Rusuhnya Kampanye...

Dan topik-topik menarik lainnya...

Saat ini Majalah ParaHyangan edisi XIII tengah dicetak. Apabila tidak ada
halangan, maka diharapkan pada pertengahan bulan Maret Majalah ParaHyangan
edisi XIII dapat di hadir di tengah pembaca. Bagi yang hendak memesan
Majalah ParaHyangan edisi XIII, dapat menghubungi [EMAIL PROTECTED]

3.Redaksi menerima dengan senang hati segala sumbangan berita dan foto
mengenai segala kegiatan yang telah/akan berlangsung di Unpar. Apabila
berkenan, Anda dapat mengirimkannya ke sekretariat kami, atau melalui
[EMAIL PROTECTED] .

Apabila ada di antara Anda yang hendak menawarkan kerja sama dengan kami,
dapat menghubungi kami melalui alamat yang tertulis di bawah ini:

- Sekretariat ParaHyangan
   Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung (dekat Lapangan Parkir Hukum Unpar)
   Telepon (022)2042390.

- Melalui e-mail, ke alamat:
   [EMAIL PROTECTED]

Terima kasih
--------------------------------------------------------------------------

==========================================================
ParaHyangan Stop Press diterbitkan oleh
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
==========================================================












Kirim email ke