=========================================================================== ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa =========================================================================== =========================================================================== TELAH TERBIT! MAJALAH ParaHyangan EDISI 13/Th. IX, April 1999 =========================================================================== =========================================================================== Goresan Utama: PERS MAHASISWA PASCA SOEHARTO: MAU KE MANA? =========================================================================== Kala reformasi mulai bergulir, pers mahasiswa (persma) justru mendapat tantangan yang lebih besar Bila pada jaman orde baru persma lebih leluasa bergerak, kini mereka harus bersaing dengan pers umum yang telah menghirup angin kebebasan pers. Sejauh mana persma menanggapi keadaan yang tak terduga ini? Usaha-usaha apa yang telah dan akan dilakukan untuk tetap mempertahankan eksistensi persma? =========================================================================== =========================================================================== Bonus Eksklusif: NANTIKAN RUSUHNYA KAMPANYE... =========================================================================== Moga-moga saja kampanye pemilu nanti tidak rusuh. Rusuh? Lha wong seorang sopir taksi saja jauh-jauh hari berani menyatakan ketakutannya akan kampanye nanti. Bahkan seorang pengamat politik pun berani bilang sangat utopis bila kampanye nanti akan penuh damai. Bukannya pesimis, wajar saja karena logikanya memang begitu. Tengok kampanye pemilu �97. Cuma dilakoni tiga peserta saja sudah menghilangkan 234 nyawa dan memporak-porandakan Banjarmasin, Jakarta, dan kota-kota lain di Jawa. Sekali lagi, itu baru tiga partai. Sekarang, sejak orde Soeharto dianggap sudah lengser, kebebasan berpolitik termasuk membentuk partai pun bukan ide haram lagi. Tapi Masya Allah, jumlahnya malah kebablasan melewati dua digit. Walau yang akan ikut pemilu "hanya" 48, toh mungkin sekali bila diantara ke-48 partai yang berkampanye nanti bakal memunculkan pernik-pernik kerusuhan. Akan lebih dahsyat? Bisa jadi, kalau memperhatikan maraknya kekerasan dan kerusuhan massal akhir-akhir ini. Tapi, bukan berarti cuma menunggu sambil bersikap pesimis saja. Agar kerusuhan yang ditimbulkan saat kampanye nanti tidak sebrutal saat Tragedi Mei �98 dan kerusuhan-kerusuhan lainnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama oleh partai-partai yang akan berhajatan-ria nanti. Mengapa kerusuhan akan tetap terjadi? Apa tindakan yang harus dilakukan untuk menekannya sekecil mungkin? Jawabannya ada pada sederet pengamat dan praktisi politik (Eep Saeffuloh Fatah, KH. Habib Syarif Muhammad, Muhammad A.S. Hikam, Mulyana Kusumah, Sri Bintang Pamungkas, dll) dalam laporan ini. =========================================================================== Toleh: LIKA LIKU SENAT MAHASISWA UNPAR =========================================================================== Salah satu kebijakan politik Orde Baru yang ditentang mahasiswa adalah NKK/BKK yang dikeluarkan pada 1978, dan kemudian diganti dengan SK Mendikbud 0457/1990 yang mengekang kebebasan aktivitas mahasiswa. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah melarang lembaga Dewan Mahasiswa dan sebagai gantinya dibentuk Senat Mahasiswa Universitas (SMU). Bagaimana tanggapan mahasiswa dan dosen Unpar akan keberadaaan lembaga SMU saat ini? Mengapa Wenix, Ketua SMU Unpar 1998-1999 mengatakan bahwa SMU lembaga yang tak jelas? =========================================================================== =========================================================================== Bincang-Bincang: BENNY SUPRAPTO (Rektor Unpar): LAMA TAPI BARU =========================================================================== Ungkapan itu muncul begitu berjumpa dengan sosok pria setengah baya berkaca mata yang berpenampilan sederhana itu. Banyak mahasiswa dan warga Unpar lainnya yang masih asing mendengar nama Benedictus "Benny" Suprapto Brotosiswojo ini. =========================================================================== =========================================================================== Bincang-Bincang: WISNU WARDHONO (Dosen Fakultas Ekonomi Unpar): "MAHASISWA SEBAGAI TEMAN" =========================================================================== Ketika itu aula Fakultas Ekonomi (FE) Unpar terisi penuh. Seminar Etika Bisnis, dengan pembicara Marie Muhammad, menyedot perhatian seluruh kampus pada ruangan itu. Saat pejabat fakultas dan para dosen telah duduk manis siap mendengarkan seminar tersebut, masih banyak mahasiswa yang tak kebagian tempat duduk dan rela mencari tempat di lantai. Tapi terselip seorang dosen yang cuek bergabung dengan mahasiswa duduk di lantai mendengarkan mantan menteri keuangan bicara. Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Pak Wisnu. Di rumah kediamannya, dua reporter ParaHyangan mewawancarainya, "ditemani" makanan ringan dan secangkir teh hangat. =========================================================================== =========================================================================== Peristiwa: MACET... PEDULIKAH? =========================================================================== Ketika kapasitas kampus di Jalan Merdeka sudah tidak mencukupi lagi untuk kegiatan Fakultas Ekonomi, sebuah gedung baru dibangun di Jalan Ciumbuleuit. "Menurut masterplan kampus, memang ada satu bangunan lagi yang bisa dibangun," ungkap Ir. F.X. Budiwidodo Pangarso, MSP yang ikut serta dalam proyek pembangunan ini baik dalam tim perencana maupun tim manajemen konstruksi. Namun, mengapa pembangunan gedung baru ini mengundang kritikan? =========================================================================== =========================================================================== Peristiwa: ELECTRIC ACOUSTIC ANGKLUNG: INOVASI DEMI KEMAJUAN ANGKLUNG =========================================================================== "Unik!" Itulah kesan yang pertama kali muncul ketika melihat electric acoustic angklung, instrumen inovasi dari Julius "Abi" Abyasa, Alumnus Sipil Unpar Angkatan'87. Seberapa unikkah kreasinya, hingga Angklung listrik ini sempat masuk dalam nominasi Asian Innovations Awards Majalah Far Eastern Economic Review? =========================================================================== =========================================================================== Mimbar: 1. PERS DENGAN HATI NURANI Oleh: Paulus Winarto, Mahasiswa Teknik Kimia Unpar 2. PRBLEMA TAHUN 2000 Oleh: Rosa de Lima Endang Padmowati, Dosen Ilmu Komputer Unpar 3. KEHIDUPAN BERKESENIAN DALAM KAMPUS Oleh: H. Ekik Barkiah, Pegiat Seni =========================================================================== =========================================================================== Celoteh: 1. KEBENARAN Oleh: Ruri Arianto, Mahasiswa Hubungan Internasional Unpar 2. RIASAN TEBAL EYANG SERAT Oleh: Erwin, Mahasiswa Teknik Industri Unpar =========================================================================== Dan artikel-artikel menarik lainnya, seperti: - Perbincangan dengan Julia (Radio Oz), Oom Komara, Dyah A. Ekarini dan Project Pop dalam rubrik Sosok - Resensi buku "Yesus Sang Anak Manusia" dan "Merdeka Square" =========================================================================== MENANGKAN UNDIAN BERHADIAH 5 BUKU "MERDEKA SQUARE" KERRY B. COLLISON! =========================================================================== "Tense, intelligent and gripping, Merdeka Square presents a rich potrayal of the terrifying crisis which brought President Soeharto to power. Murray Stephenson, an official at the Australian Embassy in Jakarta in 1965, is drawn into the turmoil of the last days of the Soekarno Government. Is he merely an observer, or is he working underground for ASIS, the Australian Secret Service, or for the CIA? Was 'the coup' the work of the communists, Soekarno's own symphatisers, or the Diponegoro Regiment? What was the role of the Gerwani women, and how significant is Murray's entanglement with the beautiful Ade? Merdeka Square explores an exotic, shadowy world, mixing undoubted fact and exciting fiction in an intoxicating form that will fascinate readers both Asian and European." "Merdeka Square" merupakan novel sejarah yang mengambil latar belakang situasi politik Indonesia sekitar tahun 1965, saat terjadinya Gerakan 30 September (G30S). Tokoh utamanya Murray Stephenson, anggota ASIS (Australian Security Intelligence Service) yang ditugaskan di Jakarta dengan penyamaran sebagai petugas kedubes Australia. Ia ditugaskan mengamati kegiatan PKI sehubungan dengan kekhawatiran Australia, Amerika Serikat, dan negara Barat lainnya karena makin kuatnya posisi PKI dalam peta politik di Indonesia, serta agresivitas Indonesia terhadap negara tetangganya. Pertikaian dalam tubuh ABRI antara mereka yang mendukung dan menentang PKI, menjadi pemicu pembentukan Dewan Jendral untuk menyingkirkan PKI dan mengkudeta Presiden Soekarno pada tanggal 5 Oktober. Namun rencana ini bocor ke pihak PKI. Akhirnya, PKI berusaha untuk mendahului gerakan Dewan Jendral dengan melakukan G30S. Keterlibatan dinas intelijen negara-negara lain seperti AS dan Uni Soviet ikut meramaikan suasana, sebagai pendukung gerakan Dewan Jendral maupun gerakan PKI. Intelijen Australia sendiri mendapat �bocoran� mengenai rencana kudeta ini, namun tidak berdaya mencegahnya. Murray menjadi saksi adanya pembantaian besar-besaran antara sesama rakyat Indonesia terhadap mereka yang dicurigai sebagai komunis pada pasca G30S. Kekuatan dari novel ini adalah kecermatan Kerry B. Collison mengupas berbagai konflik internal yang terjadi di Indonesia pada masa itu, mulai dari persaingan dan perpecahan di tubuh ABRI, keterlibatan Bung Karno, serta situasi di masyarakat, dengan menyertakan detil-detil yang rinci. Hal ini bisa dimaklumi karena Kerry B. Collison pernah bekerja di Indonesia sebagai Atase Angkatan Udara Kedutaan Besar Australia. Secara keseluruhan novel ini cukup menarik dan mampu menggambarkan situasi politik Indonesia sekitar 1965. Melalui novel ini, tampaknya Kerry B. Collison ikut menyumbangkan pemikirannya sendiri, dari sudut pandang intelijen Australia, mengenai G30S yang sampai sekarang masih menjadi misteri dan perdebatan di kalangan ahli sejarah dan politik Indonesia. Dan bila beruntung, Anda bisa mendapatkan novel terbitan Sid Harta Publishers, Australia seharga US$19.95 ini secara GRATIS! Caranya? Cukup buka Majalah ParaHyangan edisi 13 halaman 45, dan gunting tulisan "ParaHyangan XIII, April 1999 45" yang ada di bawah halaman. Masukkan guntingan tersebut (harus asli) ke dalam amplop, disertai fotokopi kartu identitas (KTP/SIM/dll), langsung ke kotak surat yang ada di depan sekretariat Majalah ParaHyangan, atau melalui pos dialamatkan ke: "Majalah ParaHyangan" Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung 40141. Kirimkan selambat-lambatnya 30 April 1999. Surat yang masuk ke redaksi akan diundi dan 5 pemenang yang beruntung akan diumumkan 7 Mei 1999 melalui poster di papan pengumuman, dan mailing list. Jadi tunggu apa lagi? Dapatkan Majalah ParaHyangan dan kirimkan guntingan tersebut segera! =========================================================================== =========================================================================== Dapatkan Majalah ParaHyangan sekarang juga! Khusus untuk Mahasiswa Unpar Angkatan'98, dipersilahkan untuk mengambil Majalah ParaHyangan Edisi 13 di stand-stand ParaHyangan di tiap fakultas, atau langsung ke sekretariat ParaHyangan ( paling lambat 16 April 1999, dengan menunjukkan KTM yang masih berlaku. Bagi pembaca di luar kota Bandung yang ingin mendapatkan Majalah ParaHyangan, dapat menghubungi redaksi melalui: 1. Sekretariat ParaHyangan Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung (dekat Lapangan Parkir Hukum Unpar) Telepon (022)2042390. 2. Melalui e-mail, ke alamat: [EMAIL PROTECTED] =========================================================================== =========================================================================== Majalah ParaHyangan diterbitkan oleh: ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa ===========================================================================
