===========================================================================
Majalah ParaHyangan - Komunikasi Intelektualitas Mahasiswa
http://student.unpar.ac.id/parahyangan-online/
===========================================================================

ParaHyangan Stop Press, 20 April 1999
===========================================================================
Pernikahan Pius Lustrilanang dan Aurelia Dheasy Suzanti, 16 April 1999
SATU CIUMAN TAK CUKUP
===========================================================================
===========================================================================
Pernikahan merupakan salah satu peristiwa bahagia. Tanpa senyum dan tawa
maka peristiwa ini akan menjadi aneh. Namun, bila para tamu tergelak
tergelak dalam upacara pernikahan yang sakral di gereja, tentu ada yang
menarik. Demikianlah yang terjadi, ketika Pius Lustrilanang (Alumnus
Hubungan Internasional Unpar'87) dan Aurelia Dheasy Suzanti (Alumnus Hukum
Unpar'93) melangsungkan sakramen pernikahan di Gereja Katedral Jakarta, 16
April 1999 pukul 15.00 WIB.
===========================================================================

Entah Dheasy terlalu bersemangat, atau memang para fotografer yang meminta,
saat adegan "you may kiss the bride", pastor pemimpin upacara pernikahan
sampai menghentikannya. Pasalnya, sementara Pius hanya memberi satu kali
ciuman di pipi Dheasy, Dheasy justru memberikan dua kali ciuman di pipi
Pius. Akhirnya, dengan suara berwibawa dan tenang, sang pastor pun berseru,
"Sudah...". Kontan saja, +/- 100 hadirin yang menyaksikan pernikahan,
termasuk Franz Magnis Suseno dan Muji Sutrisno, tertawa. Sementara Pius dan
Dheasy pun tersenyum manis malu.

Setelah upacara pernikahan, kedua pengantin menjamu rekan-rekannya di Gedung
Balai Pustaka Jakarta pada pukul 19.00 WIB. Sambil mengenakan busana adat
Jawa, kedua pengantin disambut oleh sejumlah penari berpakaian adat dari
berbagai propinsi. Undangan yang hadir pun beragam profesi dan
penampilannya. Dari yang memakai gaun dan batik, hingga yang memakai jeans
dan kaos dilengkapi ransel pun ada.

Bagi mahasiswa dan alumni Unpar sendiri, resepsi pernikahan ini pun bisa
dianggap sebagai ajang reuni. Terutama, bagi anak-anak Unit Studi Ilmu
Kemasyarakatan (unit kegiatan tempat Pius pernah aktif), dan Majalah
ParaHyangan (unit kegiatan mahasiswa tempat Dheasy pernah aktif sebagai
Pemimpin Umum/Redaksi). Maklum, kedua sejoli ini memang telah berpacaran
sedari kuliah di Unpar. Tak heran, pada akhir acara kedua unit ini
menyempatkan diri berfoto dengan kedua pengantin.

Ngomong-ngomong, mengapa sih pernikahan mereka berdua dilangsungkan tanggal
16 April 1999? Ternyata, tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan
hari jadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elite yang tahun lalu
menculik Pius. Dengan kata lain, pemilihan tanggal tersebut adalah salah
satu bentuk ucapan terima kasih Pius kepada Kopassus, yang menjadikannya
beken.

Semoga, momen paling membahagiakan dalam hidup Pius, perkawinan, bisa
menjadi penawar dari momen paling buruk dalam kehidupannya, penculikan.
Selamat berbahagia, Pius dan Dheasy... (Ully, Erwin/or,e)

-------------------------------------------------------------------------

Dari redaksi:

1. Kami meminta maaf atas keterlambatan berita diatas, diakibatkan kesibukan
kuliah dan keterbatasan sumber daya yang ada, terutama dalam hal komputer.

2. Segenap Anggota Majalah ParaHyangan mengucapkan selamat dan turut
berbahagia atas pernikahan Pius Lustrilanang (Alumnus Hubungan Internasional
Unpar Angkatan '87) dengan Dheasy Suzanti (Alumnus Hukum Unpar Angkatan'93,
Mantan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah ParaHyangan periode
1995/1996).

3. Majalah ParaHyangan edisi XIII kini telah terbit
Topik-topik yang diangkat:

- Goresan Utama:
  Pers Mahasiswa Pasca Soeharto: Mau ke Mana?

- Toleh:
  Lika Liku Senat Mahasiswa Unpar

- Peristiwa:
  1. Macet... Pedulikah?
  2. Electric Acoustic Angklung: Inovasi demi Kemajuan Angklung

- Bincang-Bincang:
  1. Rektor Unpar, Prof.Dr. Benny Suprapto Brotosiswojo
  2. Dosen Fakultas Ekonomi, Wisnu Wardhono Drs., MSI

- Resensi
  "Merdeka Square" G30S di Mata Intel Australia

- Bonus Eksklusif:
  Nantikan Rusuhnya Kampanye...

Dan topik-topik menarik lainnya...

Bagi yang hendak memesan Majalah ParaHyangan edisi XIII, dapat menghubungi
[EMAIL PROTECTED]

4.Anda bisa mendapatkan novel "Merdeka Square" karangan Kerry Collison
terbitan Sid Harta Publishers, Australia seharga US$19.95 ini secara GRATIS!

Caranya?

Cukup buka Majalah ParaHyangan edisi 13 halaman 45, dan gunting tulisan
"ParaHyangan XIII, April 1999 45" yang ada di bawah halaman. Masukkan
guntingan tersebut (harus asli) ke dalam amplop, disertai fotokopi kartu
identitas (KTP/SIM/dll), langsung ke kotak surat yang ada di depan
sekretariat Majalah ParaHyangan, atau melalui pos dialamatkan ke:

"Majalah ParaHyangan"
Jl. Ciumbuleuit 94
Bandung 40141.

Kirimkan selambat-lambatnya 30 April 1999. Surat yang masuk ke redaksi akan
diundi dan 5 pemenang yang beruntung  akan diumumkan 7 Mei 1999 melalui
poster di papan pengumuman, dan mailing list.

Jadi tunggu apa lagi? Dapatkan Majalah ParaHyangan dan kirimkan guntingan
tersebut segera!

5.Redaksi menerima dengan senang hati segala sumbangan berita dan foto
mengenai segala kegiatan yang telah/akan berlangsung di Unpar. Apabila
berkenan, Anda dapat mengirimkannya ke sekretariat kami, atau melalui
[EMAIL PROTECTED] .

Apabila ada di antara Anda yang hendak menawarkan kerja sama dengan kami,
dapat menghubungi kami melalui alamat yang tertulis di bawah ini:

- Sekretariat ParaHyangan
   Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung (dekat Lapangan Parkir Hukum Unpar)
   Telepon (022)2042390.

- Melalui e-mail, ke alamat:
   [EMAIL PROTECTED]

Terima kasih
--------------------------------------------------------------------------






Kirim email ke