Saya kutip satu paragraf dari selebaran yang saya dapat, sewaktu ribut2 soal kenaikan biaya kuliah, " Memperlakukan mahasiswa sebagai anak kecil yang tidak perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya adalah jelas suatu kesalahan !!! Kita ( mahasiswa ) tidak bisa mempercayai sebuah keputusan yang menyangkut diri kita tanpa terlibat juga dalam proses dan pengambilan keputusan tersebut. Sikap mereka sudah usang bagi kita, kita menuntut dilibatkan dalam setiap keputusan yang menyangkut diri kita !!! " Harapannya sih, kalau mahasiswa lama menjadi panitia-pengambil keputusan, sebaiknya mencoba saja menerapkan prinsip-pinsip di atas ( yang tampaknya dibuat juga oleh mahasiswa )..................... Dan,... ah....... kapankah kita akan ( dan berani ) memberitahu mahasiswa baru, bahwa mereka punya HAK untuk MEMPERTANYAKAN setiap keputusan yang diambil oleh orang lain yang menyangkut diri mereka sendiri ??????? Lionov - 7397020 ----- Original Message ----- From: Hasan Mustafa <[EMAIL PROTECTED]> > Pagi ini saya tiba di kampus pukul 7.15. Biasanya saya bisa sampai > pada pukul 7.05. Mulai dari simpang Hegarmanah sampai dengan Unpar, > jalan padat. Mahasiswa Unpar pada tahun ini rupanya punya seragam > putih-hitam. Mereka yang gagal naik angkot terpaksa jalan kaki. Di > depan pintu gerbang unpar (yang tidak heboh), mahasiswa lama sudah > menunggu dengan jaket unpar. Berdiri tegak, sambil sedikit berteriak > meminta agar mahasiswa baru cepat-cepat memasuki kampus. > Kondisi ini persis seperti ketika saya baru masuk unpar tahun 1964. > Tidak berubah. Yang berubah di Unpar hanyalah gedung, gedung, dan > gedung, kuantitas, kuantitas dan kuantitas. Mungkin inilah makna > mordenitas bagi Unpar. Tidak lebih > Besok tanggal 17 Agustus. Hari kemerdekaan. Kasihan mahasiswa baru. > Mereka tak menikmatinya. Tetap "dijajah", seperti ketika saya masuk > Unpar tahun 1964. >
