>From: "Paulus Vincentius" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: "Kampus Unpar" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Bendera Setengah Tiang untuk Mahasiswa Baru 
>Date: Wed, 25 Aug 1999 18:57:51 +0700
>X-MSMail-Priority: Normal
>X-Mailer: Microsoft Outlook Express 4.72.3110.1
>X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V4.72.3110.3
>
>Kompas, Kamis, 26 Agustus 1999
>
>Bendera Setengah Tiang untuk Mahasiswa Baru
>
>BEGITU kegiatan tahun ajaran baru dimulai, "perpeloncoan" (disebut dengan
>kedok apa pun) dilaksanakan, bendera setengah tiang agaknya langsung harus
>dikibarkan. Buletin Warta Ospek 1999 dari Institut Sains dan Teknologi
>Nasional (ISTN) Jakarta, Rabu (25/8) kemarin menulis dalam tulisan utama:
>"Mahasiswa ISTN berduka atas meninggalnya seorang mahasiswa baru. Ada pihak
>yang memancing di air keruh?"
>
>Sampai saat tulisan ini dibikin, belum ada penjelasan resmi apakah
>meninggalnya mahasiswa baru bernama Suryowati Hagus hari Selasa pukul 17.30
>berkaitan langsung dengan kegiatan Ospek (Orientasi Studi Pengenalan Kampus)
>yang diikutinya. Namun, dari tahun ke tahun, ekses yang ditimbulkan dari
>kegiatan "perpeloncoan" yang dilakukan dengan berbagai sebutan itu sudah
>sangat sering menghiasi pemberitaan media massa, memprihatinkan kalau
>dilihat dari perspektif melembaganya kesemena-menaan, dan menteror sampai ke
>pihak orangtua mahasiswa/murid.
>
>Peraturan demi peraturan terus dikeluarkan, untuk menukas ekses penggojlokan
>yang lebih banyak mubazirnya daripada mudaratnya itu. Tahun ini, Direktorat
>Jenderal Pendidikan Tinggi mengeluarkan seruan menyangkut Ospek, yang pada
>pokoknya "melarang diadakannya perpeloncoan dalam segala bentuknya" (seruan
>dikeluarkan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri Brodjonegoro,
>tanggal 17 Juni 1999).
>
>Hanya saja, "perpeloncoan", yang di baliknya terdapat impuls untuk menindas
>yang lemah, sindroma senioritas, sampai jangan-jangan merupakan fenomen
>budaya feodal dan fasis ini terus berjalan-meski kadang secara
>sembunyi-sembunyi. Lihat cerita-cerita di bawah ini.
>
>***
>
>DI ISTN, para peserta Ospek-yang laki-laki kepalanya harus digundul dan yang
>perempuan rambutnya dikepang 99 kepangan-disuruh merayap, push up, scot
>jump, nyanyi-nyanyi, teriak-teriak. "Ya, standar Ospek-lah," kata seorang
>senior. Ospek ISTN yang menurut rencana berlangsung 23-26 Agustus 1999,
>sejak Rabu kemarin dihentikan karena meninggalnya Suryowati Hagus.
>
>Di Universitas Pancasila, Jakarta, kegiatan serupa bertajuk Prospek
>berlangsung 23-28 Agustus 1999. Sesuai "tradisi", para mahasiswa baru
>dibotaki asal-asalan oleh seniornya pada hari Senin lalu. Pada hari kedua,
>mereka harus mengikuti latihan kedisiplinan yang dipegang oleh Resimen
>Mahasiswa (Menwa), antara lain baris-berbaris. Untuk menguji ketahanan
>fisik, mahasiswa baru disuruh berguling-guling setengah lapangan bola,
>bolak-balik. Hasilnya: tiga mahasiswi langsung pingsan!
>
>Di Universitas Indonesia (UI), Depok, Orientasi Perguruan Tinggi (OPT)
>berlangsung selama tiga hari, 24-26 Agustus 1999. Dua hari pertama
>dilaksanakan di fakultas masing-masing dan hari terakhir dipusatkan di
>Balairung untuk tingkat universitas.
>
>Di Fakultas Ekonomi UI, Anda bisa melihat kelompok-kelompok mahasiswa baru
>berlari-lari sambil memegang pundak kawan di depannya. Mereka berseragam
>hitam putih dengan pita kuning di lengan kiri dan pita abu-abu di lengan
>kanan, bersepatu kets, berkaus kaki abu-abu (tak lupa klenengan di
>pergelangan kaki) dan beransel karung tepung yang dicelup warna abu-abu.
>Rambut mahasiswinya dikuncir dua dengan pita kuning dan abu-abu.
>
>Ketika mereka melintas di depan sang senior, ada teriakan: "Mana
>permisinya?" Kontan mereka menjawab: "Permisi bos...permisi bos." Mobilisasi
>makan tiba. Ketika menunggu giliran mengambil makanan, mereka tetap berbaris
>sambil menaruh piring dan sendok yang mereka bawa di atas kepala. Seksi
>kedisiplinan kemudian melancarkan berbagai bentakan, hardikan dan
>memukul-mukul gulungan koran ke pilar atau lantai kampus. Usai makan,
>panitia memilah peserta yang sakit dengan bertanya keras: "Ada yang mau
>mampus nggak? Kalau mau mampus, minggir sini!"
>
>Di Fakultas Hukum UI, sebutan untuk seniornya adalah "tuan dan nyonya".
>Peserta masih pakai seragam SMU, berompi karung goni yang sekaligus
>berfungsi sebagai tas, berkaus kaki kuning dan merah. Di Auditorium
>Djokosoetono ada acara pemilihan "jenderal", "jatuh-jatuhan", dan
>"tiarap-tiarapan".
>
>Di Fakultas Sastra UI, usai makan siang mahasiswa yang bertopi koran dan
>berkalung permen itu harus berjemur di tengah terik Matahari. Setelah itu
>mereka menandatangani daftar hadir, sebagian berjalan jongkok bak "abdi
>dalem kraton" menuju seniornya untuk membubuhkan tanda tangannya. Peserta
>yang berani menatap panitia sudah dibilang melakukan pelanggaran ringan.
>Beradu argumentasi dengan panitia ketika melakukan kesalahan, termasuk
>pelanggaran sedang.
>
>Bagaimana dengan Universitas Atma Jaya, Jakarta? Ospek digelar 2-7 Agustus
>lalu. Khusus satu hari, 4 Agustus lalu, acara gojlokan di fakultas. Di
>Fakultas Ekonomi, yang laki-laki ada yang disuruh pakai make up tebal, yang
>mahasiswi rambutnya dikepang 10 dan diikat bawang. Mereka harus pakai kalung
>dengan "bandul" tiga cakar ayam di kiri dan tiga lagi di kanan. Sementara di
>tengah-tengahnya, kepala ayam.
>
>Acaranya: merayap di lahan kosong belakang kampus yang sudah disiram air
>sampai becek, makan jengkol, makan pete yang sebelumnya sudah masuk mulut
>teman-teman satu divisi, lalu minum air yang sudah dicampur minyak ikan dari
>toples yang berisi ikan hidup. Acara Fakultas Teknik, merayap di lantai
>gedung K1 yang sudah disiram oli sepanjang 10-15 meter.
>
>***
>
>DARI berbagai segi, apa yang tampak memang sekadar upaya "pelembagaan
>kesewenangan-wenangan", penindasan pada yang lemah. Gagasan semacam "melatih
>mental", "mendisiplinkan sebuah pribadi", mustahil dicapai oleh aksi
>dua-tiga hari dengan kegiatan semacam itu. Rekayasa pertumbuhan mental dan
>kepribadian adalah soal kebudayaan, dan membicarakan itu harus berbicara
>soal strategi kebudayaan seluas-luasnya.
>
>Bukan hanya orangtua yang bisa cemas atau khawatir dengan "sindroma
>senioritas" seperti itu. Peradaban juga bisa meneteskan airmata, bahwa
>kalangan yang tergolong terpelajar mendasarkan merits pada senioritas, bukan
>pada kualitas otak dan kepribadian. Tiran besar, dimulai pertumbuhannya dari
>yang kecil-kecil seperti ini. (elok dyah messwati)
>
>------------------------------------------------------------------
>
>[Bagaimana dengan Unpar? Seorang mahasiswa baru mukanya berlumuran darah
>akibat pelipisnya pecah dihajar oleh "senior"-nya pada tanggal 17 Agustus
>1999 di ruang persidangan. Begitu seriusnya, hingga anak tersebut pun
>dilarikan ke RS Borromeus untuk dijahit pelipisnya. Namun, tidak ada
>pertanggungjawaban. Hingga sekarang, anak tersebut masih diperban pelipis
>kanannya, dan mata kirinya lebam. - (Paulus Vincentius)]
>
>
>

Kirim email ke