Menurut saya, yang menarik adalah kasusnya, yaitu 'sulit berhasil dalam wawancara', dan 'menjadi kacung di rumah sakit yang didominasi orang konvensional-tradisional'. Menurut saya, salah satu (bukan satu-satunya) penyebab adalah karena mhs kita kurang dilatih untuk mengemukakan opini dan pendapat secara rasional-teratur-bebas, melainkan masih dibebani tradisi 'hormat kepada senior' dan 'yunior diangggap harus dikerasi agar menjadi dewasa'. Menurut saya, pola yang perlu dikembangkan adalah 'hormat akan harkat seseorang', dalam arti 'seseorang itu pada dasarnya beritikad baik, maka perlu dari awalnya diperlakukan dengan baik, dan dibimbing dengan ramah kalau melakukan kesalahan'. Juga, bukannya 'senior perlu dihormati' melainkan 'pemikiran yang baik perlu dihargai, walaupun itu muncul dari orang kecil sekalipun'. Salam, A Rusli 6 Nov 99 At 07:42 PM 11/04/1999 +0700, you wrote: >Buat 93-ers, ada yg tau gak sapa yg dimaksud ama Nurhasan?? He he he...]B^) >*evil grin* >--- >Wassalam, >Demi Tuhan, Bangsa dan Bicycle Girl anu geulis >- fahmi - >http://bdg.centrin.net.id/~hamimr/koleksi.htm > >From: Nurhasan <[EMAIL PROTECTED]> >Sent: Thursday, November 04, 1999 5:48 AM >Subject: [maifi102] [FI-93]: HALOOOOOOOOOOOO... (fwd) >> Assalamu'alaikum Wr. Wb. >> >> Untuk saudara - saudara saya, ini ada cerita dari temen saya fi'93. Semoga >> bermanfaat bagi kita. >> >> Wassalam >> >> >> Kalo masalah lowongan kerja di koran banyak memang banyak, gue juga udah >> masukin yang memenuhi persyaratan gue (banyak juga...) tapi sampai >> sekarang blum ada panggilan, gue juga pernah ngobrol dengan Edwin 95 (dia >> sering banget lolos seleksi kerjaan, tapi sampai sekarang tetap blum >> kerja, dia udah mulai ngelamar kerja satu semester sebelum lulus) dan >> ternyata hal yang sama juga dialaminya.... Gue udah ikut tes kerja 5 >> kali hanya satu yang berhasil sampai tahap wawancara (di AMT, Batam), itu >> juga udah wawancara terakhir kalo sukses langsung "ramah-tamah" di hotel, >> tapi sayangnya gue nggak lolos abis wawancara, melelahkan memang cari >> kerja seperti itu. Gue sebenarnya lebih suka bikin usaha sendiri, meskipun >> itu harus memulai dari awal sekali...karena fight yang seperti itu yang >> gue lebih suka...bukan fight tapi lebih banyak ditentukan oleh orang lain >> (pewawancara atau hrd) yang nota bene kita nggak bakal pernah bisa tau >> dengan pasti kenapa kita nggak lolos suatu tahapan seleksi (Koko kecewa >> berat karena dia nggak lolos seleksi tahap pertama di AMT), tapi toh >> memang begitu adanya kalo kita mo kerja di perusahaan punya orang lain. >> >> Gue mo cerita dikit tentang parahnya iklim penghargaan atas hasil karya >> dan jerih payah orang di Indonesia (dalam hal ini fisikawan), cerita ini >> merupakan wejangan dari Pak Marsongkohadi waktu gue minta rekomendasi >> beasiswa ke beliau (gue dikuliahi selama 2 jam bo'), dulu salah satu rumah >> sakit swasta di Jakarta bekerja sama dengan BATAN Serpong dalam hal >> kedokteran nuklir, anggarannya gila2an, sampai beli alat2 mutakhir dan >> menyekolahkan banyak pegawai dari kedua pihak ke luar negri...trus ada >> temen Pak Marsongko yang expert banget di bidang Fisika Radiasi yang >> sangat dibutuhkan oleh RS tersebut, tapi apa yang terjadi??? >> Fisikawan ini merasa dirinya dijadikan kacung dan nggak pernah mendapatkan >> posisi yang baik di RS tersebut padahal kontribusinya terhadap kedokteran >> nuklir besar sekali, tapi tetap aja yang menikmati hasilnya dokter2 di RS >> tersebut...itu sudah sangat menyakitkan... tapi ada lagi yang lebih >> menyakitkan...teknologi mutakhir ini sedikit sekali yang memanfaatkan >> (karena memang ongkosnya bukan buat orang menengah ke bawah...), tapi yang >> paling menjijikkan ternyata dokter2 senior (pengambil keputusan) di RS >> tersebut berpikiran kolot dan bersekongkol mengajak pasien2nya untuk tidak >> mau di treatment dengan kedokteran nuklir karena alasan yang dibuat-buat >> dan ingin tetap mempertahankan cara konvensional jadi deh nggak ada tuh >> pasien2 di kedokteran nuklir, kan ini namanya nggak adil dan >> diskriminatif, yang paling menyedihkan lagi akhirnya kedokteran nuklir di >> RS tersebut sampai sekarang nggak pernah berkembang lagi dan jarang sekali >> dipakai...sungguh suatu perbuatan yang mubazir. >> Akhirnya si fisikawan tadi pindah bidang ke teknologi telekomunikasi dan >> sekarang udah menjadi pejabat eselon. >> >> >> ------------------------------------------------------------------------ >> -- Easily schedule meetings and events using the group calendar! >> -- http://www.egroups.com/cal?listname=maifi102&m=1 >> >> > > Salam, A Rusli.-
