Saya setuju bahwa kreativitas perlu dipupuk. Saya lebih setuju ditampung dalam setiap kuliah yang ada, oleh dosen masing-masing, selaras dengan bakat dan upayanya. Ini lebih partisipatif dan kreatif. Kalau mau ada kuliah khusus, lebih baik berupa pilihan, kalau perlu dipromosikan agak gencar, agar mhs tahu bahwa ada dan dibuat tertarik. Kalau diformalkan, di kalangan kita, terkadang cenderung menjadi formalistik dan merosot menjadi rutinitas beku. Saya sendiri mencoba memupuknya dengan berusaha mendengarkan baik-baik kalau ada mhs yang bertanya, berusaha menangkap apa yang diucapkan dan apa yang tersirat, dan berusaha menjawab sederhana tetapi memuaskannya. Dengan menunjukkan bahwa kita menghargai mhs, mereka akan mulai menghargai diri dan kreasinya sendiri juga. Di samping itu perlu diucapkan pengingatan beberapa kali akan merdekanya mhs (terutama mhs 1999), agar mereka menjadi lebih berani menolak suruhan mhs lama kalau itu mengganggu kegiatan belajar dan keadaan finansialnya. Sebaliknya di tingkat 2 dst perlu diucapkan penghargaan akan kemerdekaan mhs termasuk betapa tak-ksatrianya untuk mengintimidasi dan memaksakan (halus atau kasar) kehendak kepada mhs baru. Dengan tumbuhnya kemerdekaan di kampus ini, lalu dapat ikut ditumbuhkan rasa tanggungjawab sosial dan partisipasi sosial, di samping kreativitas itu. Salam, A Rusli 15 Mar 2000 >Delivered-To: [EMAIL PROTECTED] >Date: 14 Mar 2000 11:40:21 -0000 >X-Sender: [EMAIL PROTECTED] >X-Mailer: Windows Eudora Version 1.4.4 >To: [EMAIL PROTECTED] >From: [EMAIL PROTECTED] (wilson) >Subject: KULIAH KREATIFITAS ? ( Re: DOSEN TPB ) >Sender: [EMAIL PROTECTED] >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] > > > >>Mahasiswa senior juga perlu diberi pilihan kegiatan lain yang lebih >>produktif dan lebih menarik. Mereka perlu dipandang sebagai partner yang >>dewasa dan diajak kegiatan dosen. Diberi waktu yang cukup untuk menuangkan >>kreativitasnya, dengan kata lain kurikulum kita mesti di rancang ulang ! >> >>Salam, >>djoksar > >Saya sangat peduli dengan pengembangan kreatifitas di lingkungan ITB >dan Indonesia pada umumnya (WWW, Kompas Feb. '96, Berkala ITB' 97). >Menurut saya dosen / mahasiswa ITB banyak yang memiliki intelegensia >yang tinggi tapi sayang tidak diimbangi dengan kreativitas yang tinggi pula. >Akibatnya tidak banyak breakthrough / terobosan yang dihasilkan ITB. >Di luar negeri, pengembangan kreativitas ini dimulai dari pendidikan dasar. >Ini yang ideal. Tapi di tingkat perguruan tinggipun, kreativitas masih dapat >dikembangkan. >Saya sudah konfirmasi ini dgn Prof. Fawzia (psikolog perkembangan anak - UI). >Jadi saya pingin usulkan supaya kreativitas masuk dalam suatu kuliah di >tingkat satu, >seperti kuliah konsep teknologi. >Kreativitas selama ini sering dipicu lewat kegiatan ekstra-kurikuler yang >sifatnya >insidentil seperti lomba kreativitas dsb. Ini sifatnya sangat parsial. Saya >menginginkan ini harus "integrated" dalam kurikulum yakni dalam bentuk satu >mata kuliah, >sehingga partisipasi mahasiswa bersifat "wajib". >Jadi mahasiswa yang kreatif, tidak hanya mendapat hadiah seperti kalau dia >ikut lomba, >tapi langsung dapat nilai bagus yang dapat meningkatkan indeks prestasinya. > >Saya selalu mendiskusikan hal ini dengan Pak Wiranto A. (Mesin). Dan beliau >sudah memulainya >di Jurusan Mesin dengan sebuah kuliah berkepala lima. Saya sendiri, karena >termasuk dosen junior >nggak mungkin meng-create kuliah seperti itu di jurusan. Jadi, tingkat satu >atau TPB (kalo masih >ada) merupakan tempat yang tepat untuk memulainya di ITB. > >Silabusnya ? SAP ? bisa kita diskusikan bersama. Saya dengar di Stanford >Univ. ada kuliah >sejenis ini, bisa dipakai untuk perbandingan. Kuliah di jur. teknik yang ada >proses desain >juga merupakan sebagian kecil dari kuliah kreativitas. Di samping itu, tugas >akhir tentunya >juga akan menjadi ajang untuk berkreasi dan berinovasi. Namun, kenyataannya >semakin meningkat kualitas riset suatu perguruan tinggi, populasi mahasiswa >pasca >sarjana akan semakin meningkat dan tugas akhir (TA) mahasiswa S-1 hanya akan >menjadi pelengkap >dari mahasiswa di atasnya, sehingga TA S-1 tidak akan dapat berfungsi dengan >baik >sebagai ajang untuk berkreasi. >Well, sudah panjang, saya berhenti di sini dulu, mudah mudahan ada tanggapan. >
