Postulat bahwa universitas merupakan suatu lembaga, yang kewajiban utamanya
ialah penggalian dan pengajaran kebenaran-kebenaran ilmiah yang serius
tidak melarang para dosen untuk menyatakan keyakinan etis dan politisnya di
depan para mahasiswa. Namun hal ini memang berarti bahwa para dosen harus
menghindarkan kesan bahwa pernyataan-pernyataan etis atau politis mereka
merupakan pernyataan-pernyataan ilmiah, ini juga berarti bahwa mereka tidak
boleh membiarkan apa yang mereka kemukakan sebagai kebenaran yang
ditentukan oleh cita-cita dan simpati etis serta politis mereka. Para dosen
juga harus menghindarkan diri dari diskriminasi atas para mahasiswa
berdasarkan cita-cita dan simpati etis serta politis para mahasiswa
sendiri. (Tidak perlu dikatakan lagi bahwa, bagi para dosen, diskriminasi
dalam menilai mahasiswa berdasarkan seks, agama, warna kulit, suku atau
kelas sosial, sama sekali bertentangan dengan etika akademis).
Satu-satunya jaminan langsung bagi dosen agar mereka memenuhi kewajiban
untuk mengajarkan apa yang benar dan penting kepada para mahasiswa ialah
kesungguhan mereka dalam menjalankan tugas, keyakinannya pada nilai
pengetahuan yang diajarkannya dan keyakinan bahwa kebenaran tentang bidang
keilmuannya memang layak diketahui dan diajarkan. Ketaatan terhadap
kewajiban ini hanya dapat tumbuh dari keteguhan nurani dan keyakinan atas
manfaat aktivitas intelektual yang digelutinya. Keyakinan sang dosen
terlihat jelas dalam kesungguh-sungguhan dan kegairahannya terhadap bidang
keilmuannya sendiri. Komitmennya terhadap pengetahuan tampak jelas dalam
nada bicaranya. Persepsi atas ciri-ciri inilah, di samping pengetahuan yang
diketengahkan dalam pengajaran, yang menggugah dan memberi dorongan kepada
mahasiswa. 
Dosen harus berhati-hati agar dalam mempaparkan bidang keilmuannya ia tidak
jatuh ke dalam dogmatisme atau secara tidak wajar berusaha menanamkan
pengaruh kepada para mahsiswanya dengan menuntut mereka agar menjadi
pendukung pandangan metodologis dan substantif tertentu. Dosen harus
membuat para mahasiwa mengerti bahwa sudut pandang sang dosen bukan
satu-satunya sudut pandang yang masuk akal dan bahwa para ilmuwan atau
cendekiawan lain mempunyai interpretasi dan pendekatan yang berbeda, yang
harus disadari oleh para mahasiswa. Menyerah pada godaan dogmatisme berarti
tidak setia pada kewajiban untuk mengkomunikasikan kebenaran.
-----------------------------------------------------------

Kirim email ke