Setuju. Saya ingin memberi contoh kasus, yang kiranya menunjukkan bahwa sikap mahasiswa, maka juga dosennya, perlu segera diperbaiki : Sabtu kemarin pk 14.30 saya kembali ke kampus dan Gedung 9, dan mencatat adanya keriuhan tak-biasa di depan gedung. Lalu dari kantor saya di lantai 1, saya melihat pemandangan serupa dengan yang saya lihat beberapa bulan yl. Ketika itu saya melihat keriuhan yang serupa, berkaitan dengan seorang mahasiswa lelaki bertelanjang dada sedang diupayakan dimasukkan ke keranjang bambu oleh sejumlah mahasiswa lelaki lain. Sabtu kemarin saya melihat seorang lelaki bertelanjang dada, terikat pada tiang pagar dekat pintu utama Gedung 9, dikelilingi belasan mahasiswa lelaki yang bergembira (karena) dapat mengganggu dan mempermainkan lelaki terikat itu. Kemudian keramaian pindah ke lokasi di timur pintu utama, dan saya hanya mendengar keriuhannya saja. Pk 15.30 keriuhan itu bubar. Kalau itu menyangkut mahasiswa FMIPA, saya akan langsung berupaya membubarkan kegiatan seperti itu. Berdasarkan penjelasan yang saya terima beberapa bulan yl, itu adalah 'upacara' tradisional yang disajikan kepada satu dua aktivis mahasiswa FE setelah dinyatakan lulus sidang sarjana; dilakukan oleh mahasiswa yang lebih muda, a.l. 'sebagai balasan atas pemeloncoan olehnya ketika yang terakhir itu masih angkatan terbaru'. Saya senang saja bahwa mahasiswa membuat acara yang menggembirakan hatinya; akan tetapi yang saya pandang keliru adalah bahwa kegembiraan itu memerlukan 'penderitaan' orang lain. Kiranya kasusnya serupa dengan yang ditunjukkan dalam foto di KOMPAS Jumat 9 Maret 2001 hlm 17, yang menunjukkan bahwa seorang 'gila' di depan MPR/DPR Jakarta dipermainkan/diejek oleh demonstran (mahasiswakah?). Apakah memang seorang 'gila' patut dijadikan bahan tertawaan? Memang si orang 'gila' mungkin tidak merasakan penderitaan ketika itu; tetapi apakah sikap demonstran seperti itu sikap terpuji, sikap berperikemanusiaan, sikap yang selaras dengan seorang manusia bermartabat? Menurut saya : memalukan, dan menunjukkan perilaku tidak cukup beradab. Serupa dengan pemeloncoan, dan serupa dengan pembalasan dendam. Mengapa mahasiswa Unpar tega melakukan itu? Kiranya teladan dosennya (rekan nondosen juga dapat melakukannya, walau mungkin sedikit lebih sulit) dapat mengubah sikap itu, dengan cara : a] mengungkapkan dan menyatakan peristiwa Sabtu kemarin, dan pemeloncoan pada umumnya, sebagai 'tidak selaras dengan martabat manusia', 'tidak sesuai dengan jiwa reformasi total' (kalau mau berslogan sedikit), dsb. b] mengintrospeksi diri, dan mengubah sikap-diri sekiranya 'angkuh' terhadap mahasiswa yang memerlukan bantuannya (jangan 'usir saja mahasiswa, kalau mengganggu kita'). Mari kita memperlakukan mahasiswa sebagai mitra-sejajar dalam bersama menggali ilmu yang sudah begitu pesat berkembang, misalnya yang tersedia di Internet. Kalau mahasiswa merasa diperlakukan sebagai mitra-sejajar, kiranya mereka lebih mudah memperlakukan adik angkatannya juga sebagai mitra-sejajar. c] merapikan tujuan hidup kita masing-masing dengan harkat seorang dosen/penunjang dosen, yang hendak mencari kebenaran dalam alam/masyarakat ini, secara intelektual; bukannya menjadi orang bayaran yang kelakuannya terutama ditentukan oleh jumlah gaji yang diterima. d] memberi teladan hidup dalam hal-hal harian yang kecil, terutama di kelas dan di kampus, agar masyarakat mahasiswa lambat laun bukannya takut kepada (atau menertawakan diam-diam) dosen, melainkan rela memandangnya sebagai pendamping dalam mencari ilmu. Semoga Presiden Mahasiswa membaca ini juga, dan rela mencoba mengubah pula rekan semahasiswanya. Salam, A Rusli 11 Mar 2001 At 11:52 AM 3/10/01 +0700, you wrote: >saya sambut pemikiran bung pius, sudah sewajarnya kita mulai mampu >mengevaluasi tentang program pendidikan di Unpar, karena pendidikan >dilingkungan kita tidak memungkinkan adanya pengembangan pola berfikir yang >transdisiplin yang multidisipliner. pendidikan dalam trend worldclass bukan >pada skill tapi pada knowledge creation, serta pembentukan watak >kepemimpinan yang handal. Ini sebuah renungan yang panjang , dan kita harus >memelopori perubahan inin dengan action plan, dan jangan biarkan mahasiswa >menjadi kelas pedagang kaki lima , yang hanya tahu dirinya sendiri tapi >perubahan cakrawala mahasiswa harus dibentuk melalui perubahan sistem >pendidikan dengan paradigma baru. untuk itu perlu ada forum yang mengarah >ke sana. dan kita harus pelopori bukan asal mengkritik > >salam untuk semua > > > >
