Apakah ada kaitannya antara cakra dasar yang tidak berkembang dengan baik dengan kemampuan / ketahanan dalam mengatasi kesulitan hidup ?
Salam, AMS ----- Original Message ----- From: "ratna hidayati" <[EMAIL PROTECTED]> To: "perempuan" <[EMAIL PROTECTED]>; "teman india" <[email protected]>; "teman vincent" <[EMAIL PROTECTED]>; "Wanita Muslimah" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; "club tarot" <[EMAIL PROTECTED]>; "teman prana" <[email protected]>; "teman jurnalis" <[EMAIL PROTECTED]>; "teman tv" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, May 16, 2005 3:18 PM Subject: [Mayapada Prana] Dengan Adversity Quotient tak Ada Alasan untuk mudah Menyerah Koran Tokoh, Denpasar Bali ----------------------------- Dengan Adversity Quotient tak Ada Alasan untuk mudah Menyerah HAMIL Tiga Bulan, Ibu Muda Gantung Diri. Begitu berita dimuat Denpost. Dugaan penyebab kenekadan wanita muda itu karena kesulitan ekonomi yang membelenggunya. Tak cuma Ni Wayan Diah, begitu namanya, yang melakukan aksi nekad. Belakangan, makin banyak berita yang mengabarkan, pria dan wanita dari seluruh golongan usia memilih untuk mengakhiri hidup karena tak tahan terhadap berbagai tekanan. Tak hanya di Bali. Di beberapa daerah di Indonesia, masalah ini merebak. Beberapa siswa SD juga dikabarkan melakukan aksi serupa karena malu sekolah akibat orangtua tak bisa membayar SPP. Hidup pada zaman yang serbamudah dan canggih ternyata memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Beberapa di antara kita malah tak sanggup menyelesaikannya dan memilih jalan pintas; bunuh diri. Hidup seakan tak punya harapan. Dalam dunia yang sama, sebagian orang sangat mudah menyerah. Sebagian lagi, sebaliknya, mirip perjuangan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma saat mengawinkan medali emas dalam Olimpiade Barcelona; melelahkan namun sampai juga ke puncak. Kehidupan ini ibarat pohon. Makin tinggi, makin kencang angin meniupnya. Sama halnya persoalan hidup. Berada dalam sekolah kehidupan, sama halnya ketika kita harus menyelesaikan jenjang pendidikan satu per satu, mulai TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Tiap naik kelas atau tingkat, kita wajib menyelesaikan ujian dengan baik. Nilai standar kelulusan minimal 4 harus berhasil kita lewati. Jika tidak, kita tak akan pernah naik tingkat. Demikian halnya hidup. Namun, apa yang telah membedakan kita? Mengapa ada orang yang mudah menyerah dan sebagian lagi tidak? Pendidikan kita yang lebih mementingkan intelligent quotient (IQ) perlahan mulai tergeser. Sebagian kalangan pendidikan mulai merasakan pentingnya mengembangkan emotional quotient (EQ) yang sampai sekarang masih dijadikan tolok ukur kemampuan berempati dengan orang lain. Pemikiran Daniel Goleman itu pun kini ditambah lagi dengan pentingnya mempertinggi spiritual quotient (SQ). Namun rupanya, itu belum cukup. Masih ada yang ketinggalan, adversity quotient (AQ). Kecerdasan yang dipopulerkan Paul G. Stoltz, Ph.D ini penting saat hidup serasa tak indah lagi. AQ mengukur kemampuan kita dalam mengatasi kesulitan. Hidup tentu tak akan pernah lepas dari masalah dan karena masalah itulah kita menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup. Dalam kesulitan, selalu ada kesempatan, begitu kata orang. Saat bergelut dengan masalah, sesungguhnya kita sedang menyempurnakan hidup. Kadang, sesuatu yang tak nyaman dalam kehidupan ini, sesungguhnya merupakan penyempurnaan sisi spiritual bagi diri kita. Contohnya, pengalaman Anand Khrisna saat ia sekarat karena kanker darah. Sayang, tak semua orang menyadarinya. Perjuangan Andrie Wongso, pria yang tak lulus SD namun berhasil dengan pabrik kata-kata mutiaranya, Harvest, bisa kita jadikan contoh. Ketika bertemu beberapa waktu silam, ia berkata, "Jika lebih baik itu bisa, baik saja tak cukup." Ia membuktikannya. Tak ada alasan untuk menyerah. Musuh yang paling berbahaya sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Siapa orang pertama yang mengatakan kita tidak pintar? Siapa pula yang pertama berkata, kita tak bisa berhasil? Diri kita sendiri. Kita bahkan tidak mempercayai diri kita bahwa kecerdasan yang kita miliki lebih dari apa yang ada sekarang. Kemampuan otak yang kita gunakan seperti fenomena gunung es. Hanya puncaknya yang kelihatan. Sesedikit itulah kemampuan yang baru kita manfaatkan. Menjadi anak zaman sekarang sebenarnya lebih banyak yang harus dipelajari. Selain bertumpuknya kurikulum yang harus dikejar, anak didik sudah selayaknya mendapat pelajaran mengenal hidup sejak dini. Tekanan atas berbagai persoalan yang mereka rasakan harus bisa mereka kenali sebagai suatu respons. Mengajarkan kepada mereka dalam bahasa yang paling sederhana, tentu memberi pengertian agar mereka tak mudah putus asa. Ibarat terhalang tembok tinggi padahal mereka harus berada di seberangnya, anak-anak harus diajari mencari jalan keluar. Jangan bertindak bodoh dengan membenturkan diri ke tembok yang keras karena itu sangat menyakitkan. Ajak mereka berpikir, kita bisa melompati tembok itu dengan bantuan sebuah tangga. Tak berhasil? Hmm.pasti ada seutas tali untuk memanjat. Tak ada juga? Kita harus yakin, ada jalan lain untuk memutar; bukannya berkutat di depan tembok yang keras. � ratna hidayati Untuk orang yang saya cintai, tak ada pengorbanan. Semuanya memang untuk dia, setulusnya. --------------------------------- Yahoo! Mail Mobile Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone. [Non-text portions of this message have been removed] Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts. Peace & enlightenment be yours! - from guys at Mayapada Prana Yahoo! Groups Links Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts. Peace & enlightenment be yours! - from guys at Mayapada Prana Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://asia.docs.yahoo.com/info/terms

