Koran Tokoh, Denpasar
-----------------------
 
Percobaan Bunuh Diri lebih Banyak Dilakukan Wanita- Tetapi Pria lebih Banyak 
�Berhasil� Mati 

 HIDUP selalu tak lepas dari masalah. Sayangnya, orang kerap menganggap 
permasalahan yang dihadapinya lebih berat daripada masalah orang lain. 
Kebuntuan akan solusi sering mendorong orang mengambil keputusan yang salah. 
Pada puncaknya, bunuh diri dianggap sebagai jalan pintas menyelesaikan masalah. 
Mengapa hal itu bisa terjadi?�Mungkin ini suatu pola,� ujar dr. Made Nyandra, 
Sp.KJ. dari RSU Wangaya Denpasar. Pada era sekarang, semua dituntut serba 
cepat, serba instan. Lihatlah anak-anak. Sejak dini mereka sudah �dikarbit� 
dengan mengikuti berbagai macam les. Bahkan, waktu belajar di sekolah yang tak 
memadai untuk mengejar semua materi dalam kurikulum menyebabkan anak dituntut 
belajar ekstra dengan les tambahan. Demikian pula orang dewasa. Kuliah ingin 
cepat dapat gelar, tak peduli bagaimana caranya. Banyak juga orang yang ingin 
cepat menjadi kaya, hingga berbagai cara ditempuh. �Masyarakat mau serba cepat, 
sampai-sampai mereka lupa bahwa semuanya itu memerlukan proses,� lanjut
 Nyandra.

Kondisi yang menuntut serba cepat itu tentu tak bisa diikuti semua orang. �Jika 
tak mampu, mereka dihadapkan pada suatu beban,� kata pria kelahiran 10 Februari 
1958 itu. Jika itu terjadi, ada dua hal yang mempengaruhi seseorang mengambil 
keputusan yaitu mana yang lebih besar keinginan dalam dirinya, dorongan untuk 
hidup atau mati.

�Dalam persaingan, jika dorongan hidup lebih kuat, maka seseorang akan berusaha 
memenangkan kompetisi itu. Sebaliknya, jika dorongan mati lebih tinggi maka ia 
akan menyalahkan diri sendiri,� papar Supriyadi, Ketua Himpunan Psikolog 
Seluruh Indonesia Cabang Bali.

Tingkat keinginan seseorang terhadap sesuatu hal dapat mengakibatkan munculnya 
berbagai tekanan dalam dirinya. Awalnya, orang akan merasa frustrasi jika 
keinginannya tak bisa dipenuhi atau tertunda. Lama-lama, tumpukan frustrasi 
yang diberi tambahan beban emosi menimbulkan stres. �Jika stres itu dibiarkan 
hingga berlebihan akan memicu perilaku tak terkendali,� jelas psikolog yang 
bertugas di Laboratorium Ilmu Perilaku Unud itu.
 Gejala Depresi
Stres berlebihan bisa dialami siapa saja, mulai dari anak-anak sampai dewasa. 
Di berbagai media massa sering diberitakan anak SD yang mencoba bahkan 
melakukan bunuh diri karena permasalahan yang dialaminya. �Depresi paling 
sering menyebabkan orang melakukan upaya bunuh diri,� ujar Nyandra. Dari 50% 
orang yang mengalami depresi, 15% di antaranya cenderung melakukan bunuh diri. 
�Jika upaya bunuh diri dilakukan anak, orangtua patut dipertanyakan. Bisa saja 
karena mereka kurang menaruh perhatian pada anaknya,� sambung Supriyadi.

Pasalnya, gejala depresi pada anak sangat mudah dilihat; agresif, 
meledak-ledak, mengisap jari atau ngompol. Menurut Nyandra, dalam situasi 
seperti itu, anak yang berumur enam tahun bisa berperilaku seperti usia tiga 
tahun. �Orangtua harus cepat tahu karena perilaku mereka tak lagi terkontrol,� 
tandas Supriyadi yang telah 20 tahun menetap di Bali itu. Selain itu, tindakan 
mereka di luar kebiasaan. Mogok makan, bolak-balik ke kamar mandi, nggak mau 
keluar kamar dan tak mau bicara. �Atau bisa juga mereka menjadi lebih lengket 
sama orangtua, seperti tak mau ditinggal,� ujar Nyandra.

Pada orang dewasa, gejala yang ditunjukkan biasanya merasa sedih 
berkepanjangan, cepat lelah meski tidak kerja berat, merasa menyesal, putus asa 
dan lain-lain. �Depresi lebih memunculkan penyakit fisik seperti sakit kepala, 
sakit dada dan kembung,� tegas Nyandra. Dilihat dari populasi, wanita lebih 
rentan mengalami depresi, yaitu mencapai angka 25%. Pada populasi pria, hanya 
12% yang mengalami depresi.

Menurut Supriyadi, peluang bunuh diri di kalangan pria dan wanita secara 
statistik sama-sama 50%. Jika dilihat dari sisi prototipe, wanita lebih rentan. 
Sebaliknya, kalau dilihat dari sisi toleransi frustrasi, pria lebih rentan. 
�Kemampuan mental toleransi frustrasi wanita lebih kuat dibanding pria karena 
kecerdasan emosional wanita lebih terlatih,� papar Supriyadi.

Kedua sisi itu dipengaruhi budaya yang berlaku di masyarakat. Wanita cenderung 
lebih introvert ketimbang pria. Pasalnya, wanita �tak boleh� bersikap lebih 
terbuka dibanding pria. Jika itu dilakukan, berbagai anggapan miring ditujukan 
padanya. Selain itu, dalam budaya kita, wanita juga harus bersikap lebih sabar 
dan menerima. Sejak kecil, mereka diajari untuk mengendalikan kemauan dan 
mengekang emosi. �Hal ini membuat toleransi wanita terhadap frustrasi lebih 
besar,� jelas Supriyadi. Menurutnya, jika pria dan wanita dihadapkan pada 
masalah yang sama, pria cenderung lebih cepat bunuh diri daripada wanita. �Daya 
tahan wanita lebih tinggi sih,� tambahnya.

Yang mengeharankan, menurut Nyandra, pada kasus percobaan bunuh diri selama ini 
lebih banyak dilakukan wanita. Namun, yang �berhasil� mati adalah pria. �Ini 
juga akibat pembedaan yang terjadi di masyarakat,� ujar Nyandra. Keluarga akan 
lebih khawatir jika anak gadisnya mengurung di dalam kamar. �Jika pria 
mengurung diri dan tak mau bicara, dianggap wajar. Namanya juga pria. Kalau ada 
masalah, pasti dia bisa mengatasi, begitu menurut mereka. Padahal tidak selalu 
begitu,� jelasnya. Supriyadi mensinyalir, penyebab bunuh diri pada pria lebih 
banyak karena �kehilangan� superioritasnya dan perasaan malu karena harga 
dirinya jatuh.

Supriyadi dan Nyandra sepakat, media massa memberi andil terhadap berbagai 
kasus percobaan bunuh diri yang kini makin meningkat. Tayangan televisi dinilai 
terlalu vulgar. Tak cuma tayangan tentang kejadian kriminal yang dikupas 
tuntas, sinetron remaja pun seperti memberi contoh kepada pemirsa. �Tayangan 
tersebut seperti memberi contoh way out untuk memecahkan masalah hidup yang 
menjadi sebuah pola,� tandas Supriyadi. Aspek model itulah yang bisa jadi 
diterapkan pemirsa. �Apa yang pernah dilihat dan didengar menjadi pola 
pemecahannya,� sambungnya.
 Solusi
Supriyadi menyarankan tiap orang memiliki teman atau sahabat untuk berbagi rasa 
sebagai solusi mengatasi masalah. �Jika ada orang yang bisa dipercaya, 
uneg-uneg yang ada bisa dikeluarkan. Hal ini mengurangi tekanan dalam diri,� 
ujarnya. Pada anak-anak, Supriyadi cenderung menyarankan mereka dilatih 
mengasah kecerdasan emosionalnya. Menurutnya, anak usia SD sudah bisa diajari 
mengendalikan emosi. Contohnya, ketergantungan pada orangtua. �Anak-anak bisa 
dites dengan menitipkan mereka pada saudara atau keluarga. Berapa lama mereka 
tahan tidak tergantung pada orangtua. Hal ini dapat meningkatkan kecerdasan 
emosional mereka,� urainya. Mereka juga dapat diajari cara mengalihkan 
hambatan. �Tentunya harus sesuai dengan umur mereka,� tegasnya.

Selain itu, Supriyadi dan Nyandra setuju jika pria harus belajar untuk tidak 
merasa superior. �Itu hanya �peran� yang diberikan masyarakat,� kata Nyandra. 
Wanita juga diharapkan belajar lebih ekspresif dalam mengutarakan perasaannya. 
�Tiap orang harus menyadari semuanya memerlukan proses. Jika mengalami masalah, 
semua itu sangat normal,� ujar Nyandra. Yang paling penting adalah bagaimana 
bisa bereaksi secara positif.

Hal itu bisa dikembangkan sejak bayi dalam kandungan. Itulah sebabnya, 
kehamilan harus disiapkan. Pola asuh dalam keluarga juga menentukan. 
Menurutnya, makin baik reaksi seseorang, makin stabil keluarganya. 
Pertanyaannya, dengan makin meningkatnya kasus percobaan bunuh diri apakah 
menandakan makin meningkatnya keluarga yang tidak stabil? � rat



Untuk orang yang saya cintai, tak ada pengorbanan. Semuanya memang untuk dia, 
setulusnya.

 

 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
Peace & enlightenment be yours!

- from guys at Mayapada Prana 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke