Sampai saat ini tidak ada aliran psikologi yg berdasarkan Alkitab, 
maklum Mr. Sigmund Freud pendiri aliran psikonalisis dlm psikologi 
sendiri adalah seorang atheist tulen, walaupun orang tuanya penganut 
agama Yahudi. Konseling Sekuler berorientasi pada manusia 
(anthropocentris) dan sumber pengetahuan adalah berasal dari akal 
budi dan pengalaman manusia (humanisme). Tentu saja, pengetahuan ini 
belum sempurna, bahkan masih disangsikan kebenarannya; namun ini 
tidak lah berarti kita tidak bisa memakai Ilmu Jiwa. 

O.H. Mowrer seorang pakar psikologi menulis dlm bukunya "Learning 
Theory and Personality Dynamics": orang2 yg neurotic atau yg 
menderita gangguan syaraf, tanpa perkecualian adalah orang2 yg 
pernah melakukan kesalahan, tetapi dilain pihak mereka menyangkal, 
bahkan tidak mau mengakuinya, perasaan malu dan perasaan berasalah 
yg mereka pendam inilah yg akhirnya membuat mereka menjadi neurotic. 
Perasaan2 bersalah inilah yg merupakan  inti dari persoalan masalah 
mereka. 

Seorang psikologi mungkin bisa menolong seseorang mengurangi 
perasaan bersalahnya, sehingga dgn demikian membuat dia dapat 
berfungsi lebih baik dan berpendapat lebih baik mengenai dirinya 
sendiri, namun psikologi tidak akan dapat "menghilangkan" perasaan 
bersalah tsb, sebab psikologi hanya dapat menanggulangi perasaan2 
bersalah. Dan mereka menilai bahwa kesalahan itu sendiri bersifat 
kultural dan relatif  - tidak obyketif dan tidak nyata!

Kitab Suci menamakan hal2 yg membuat kita merasa bersalah itu 
adalah "dosa". Alkitab tidak hanya sekedar menyatakan  bahwa kita 
ini hanya "merasa bersalah" melainkan tulen benar2 bersalah alias 
berdosa 100%! Oleh sebab itulah para psikolog hanya bisa 
mengobati "gejalanya", tetapi bukan "penyakitnya"!

Seorang ahli psikologi mungkin bisa menambal kehidupannya dan 
mengurangi perasaan ketergangguan jiwanya, sehingga mengurangi 
tekanan2 depresinya, tetapi mereka tidak akan 
dapat "memperbaharuinya".

Salah satu cara yg digunakan oleh para ahli psikonalisa untuk 
menghadapi masalah2 seperti ini; mereka mendorong si pasien untuk 
menemukan, mengingat dan membicarakannya mengenai perasaan2 yg 
dipendamnya tsb. Mereka berusaha untuk menarik keluar persaan 
bersalah tsb, dgn cara demikian mereka mengharapkan bisa mengobati 
sang pasien.

Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yg baru, di dlm Alkitab pun 
tercantum, apabila kita ingin disembuhkan kita harus mengakui bahwa 
kita ini orang berdosa, itulah syarat mutlak untuk bisa mendapatkan 
penyembuhan dan kita datang kepada Allah untuk memohon dan menerima 
pengampunan-Nya, sehingga dgn mana dapat menghilangkan semua 
perasaan dan sebab2 dari kesalahan serta kekhawatiran tsb, dgn 
demikian kita bisa merasakan seperti juga manusia baru yg benar2 
gres tulen, tanpa dosa maupun perasaan bersalah lagi!

Pengampunanlah merupakan obat yg paling utama dan yg paling tokcer 
cespleng, bagi semua kesalahan/dosa. Melalui pengampunan, Allah akan 
menghilangkan dan membebaskan kita dari semua perasaan2 bersalah 
maupun kekhawatiran2 kita, sebab jika Allah mengampuni dosa2 kita, 
maka Ia tidak akan mengingatnya lagi, sehingga dgn mana kita pun 
berhak untuk melupakannya juga, tetapi bukannya karena kita mencoba 
untuk "memendamnya", atau pun juga melupakannya dgn bantuan 
psikolog, melainkan karena dosa itu sudah benar2 ora ono lagi alias 
hilang tulen! 

Psikologi dapat memberikan kepada kita pengeritan2 baru, tetapi 
hanya Allahlah yg dapat memberikan pembaharuan secara total kepada 
kita.

Oleh sebab itulah juga saya yakin haqul yakin, bahwa psikologi 
aliran Allah itu ada jauh lebih canggih dan jauh lebih tokcer 
daripada psikologi aliran manapun juga hasil karya manusia.

Banyak aliran psikologi yg tidak mempercayai bahwa manusia itu di 
ciptakan oleh Allah, jadi bukannya hanya sekedar binatang intelek 
ato mesin yg rumit begitu.

Para psikolog itu adalah pakar ilmu jiwa, tetapi kalau disuru 
mendefinisikan jiwa itu apa, letaknya dimana dan bagaimana cara 
mengukurnya, saya kira mereka tidak akan dapat memberikan jawaban yg 
memuaskan, sebab hanya Allah sajalah yg benar2 mengetahui tentang 
jiwa kita, karena Ia yg menciptakan tubuh, jiwa dan roh kita.

Boro2 untuk menjawab pertanyaan yg sedemikian sulitnya, untuk 
menjawab pertannyaan yg mudah saja: "Kenapa saya lebih senang 
memilih warna merah daripada warna biru? Untuk hal yg mudah ini saja 
mereka masih belum dapat menemukan kesepakatan untuk jawabannya!"

Dgn ini saya akhiri oret2an saya mengenai psikologi dgn permohonan 
maaf kepada rekan2 psikolog apabila melalui oret2an mang Ucup ini 
secara langsung atau tidak langsung saya telah melecehkan psikologi 
maupun para psikolog di milis ini.

Maranatha
Mang Ucup – The drunken priest
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net






Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
Peace & enlightenment be yours!

- from guys at Mayapada Prana 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke