Rupanya sudah wajar apabila orang pinter menerima hadiah Nobel 
seperti yg diterima oleh  Mr. Harold Pinter (nama keluarganya adalah 
Pinter) dari Inggris telah dipilih sebagai pemenang hadiah Nobel 
Sastra untuk th 2005, walaupun demikian Indonesia juga turut 
dinominasikan melalui Pramoedya Ananta Toer. Orang Asia yg pernah 
mendapatkan hadiah Nobel Sastra adalah Gao Xing Jian – Perancis (th 
2000), Yasunari Kawabata – Jepang (1968) dan Kenyaburo Oe – Jepang 
(th 1994). 

Perlu diketahui juga bahwa kata pinter ini berasal dan diserap dari 
bahasa Belanda yg mempunyai arti yg sama ialah "pienter".

Ada anekdot menarik tentang filsuf-cum-novelis-cum-dramawan 
Eksistensialis Perancis Jean-Paul Sartre dan Pablo Neruda. Akademi 
Swedia yang tiap tahun memilih seorang sastrawan bangsa apa saja – 
yang karya-karyanya dianggap memajukan kemanusiaan manusia-manusia 
penghuni planet manusia ini – untuk jadi "pemenang" hadiah sastra 
paling mahal di galaksi ini, Hadiah Nobel, pada th 1964 memutuskan 
untuk memilih Jean-Paul Sartre dari Perancis. 

Bisa dibayangkan betapa hebatnya peruntungan yang jatuh ke kepala 
sastrawan-filsuf yang suka menulis karyanya di café ini! Bukan hanya 
jumlah duitnya yang bisa untuk beli sebuah pulau di sebuah kepulauan 
tropis itu, tapi terutama keabadian namanya dalam konstelasi para 
pujangga besar yang pernah dikenal peradaban manusia! Tapi apa yang 
terjadi? 

Sartre menolaknya! Jean-Paul Sartre menolak "anugerah" Hadiah Nobel 
untuk Sastra tahun itu! Apa Sartre sudah gila? Apa mungkin cacat 
matanya membuat saraf otaknya tidak mampu lagi bekerja normal, 
seperti para sastrawan-Nobel lain yang normal itu? Entahlah, tapi 
yang pasti Sartre tetap menolak Hadiah Nobelnya sampai dia meninggal 
dunia. Kita tentu bertanya-tanya: kenapa Sartre menolak Hadiah 
Nobelnya? Apa sebabnya? 

Menurut yang empunya cerita, konon hanya ada dua alasan yang 
diberikan Jean-Paul Sartre untuk menolak menerima Hadiah Nobel 
Sastra untuk tahun 1964 itu: pertama, menurut Sartre seharusnya 
penyair Komunis dari Chile bernama Pablo Neruda yang lebih pantas 
untuk mendapat Hadiah Nobel Sastra tahun itu, dan kedua, Sartre 
tidak mau karyanya dibaca hanya karena dia menang Hadiah Nobel yang 
nota bene, menurutnya, merupakan produk/simbol dari masyarakat 
borjuis-kapitalis yang direpresentasikan oleh Akademi Swedia itu 
sendiri. Sartre berargumentasi, dari Uni Soviet hanya para pengarang 
yang melawan rejim komunis saja yang mendapat Hadiah Nobel Sastra. 
Nah, kan.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net





Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
Peace & enlightenment be yours!

- from guys at Mayapada Prana 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 




Kirim email ke