ya ya ya..... cuman amles aja ngeliatinya sama aja...buat yang kawin ama arab juga males ngeliatinya hehehehehhe...itu cuma anggapan pribadi saya aja kok.... seolah olah di negara kita ini kekurangan orang lalu mencari cari di luar seolah dengan kawin ama bule,arab atau apapun orang luar maka imagenya jadi terangkat wah pola pikir ini yang ada di bawah sadar bangsa ini jadi yah...saya prihatin aja... tapi bener sampeyan biarkan saja lah...la yo kok melu mumet...
salam dewabrata jakarta --- In [email protected], Surya Narendra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > He..he..he... kenapa dewa brata harus eneg melihat para artis kawin ama bule...? > > Mungkin saja yang terlihat / ekspose hanya para artis, tapi masih ada yang lainnya. > Ada tkw yang kawin ama bule........ > Ada prostitusi / pelacur yang kawin ama bule........ > Ada karyawan atau karyawati yang kawin ama bule....... > Ada pengusaha yang kawin ama bule............ > Dan pertanyaan lagi adalah apakah eneg kalau ada yang kawin hanya ama bule......?? Bagaimana kalau kawin ama warga jepang, korea, arab, pakistan......dll........? Apakah juga eneg...????, Kalau eneg melihat orang kawin ama bule saja, maka itu tidak seimbang donk...!!!,...betul...!???? > > Mungkin saja bisa eneg karena mungkin anggapan dewabrata bahwa mereka kawin karena materi semata...., seandainya benar demikian.....ya..biarkan saja........ > Kalau kita tidak mau munafik dan mengakui bahwa perkawinan tidak hanya melulu 100% karena cinta. > Karena membentuk keluarga / perkawinan tanpa materi yang tidak akan awet. > Emangnya kita sehari hari mau makan cinta,.......menghidupi anak dengan cinta......., > apakah dengan cinta melulu kita bisa menyekolahkan anak, menghidupi anak.....????? > Cinta........,tentu saja harus !!!!!......tapi faktor materi juga ikut melengkapi, bukan yang terpenting tapi penting dan perlu diperhitungkan...........!!!!! > > Biarkan saja mereka kawin dengan bule....., banyak alasannya......, dan alasan itu tidak selalu membuat eneg.......!!! > Bisa saja karena bule dianggap lebih romantis........ > Bisa saja karena bule dianggap lebih mampu dalam materi....... > Bisa saja karena bule itu dianggap lebih setia........ > Bisa saja kawin ama bule, karena dianggap dari segi materi udah mampu, jadi cintanya bukan karena berdasar materi.....tapi benar benar cinta dan sayang...... > > Jadi banyak kemungkinan kemungkinan, dan adalah hak setiap manusia untuk menentukan > masa depan perkawinan masing masing....... > Seperti dewa brata boleh saja eneg....tidak apa apa juga........, toh dewa brata juga punya pendapat dan pola pikir sendiri...... > Tapi kalau kita sadar bahwa manusia bisa mempunya pola pikir dan pola pandang yang berbeda maka kita tidak akan eneg.....paling paling kita hanya bingung tidak habis pikir......!!! > > Seperti di Irak , mereka rela melakukan bom bunuh diri, apalagi kalau matinya mati jihad pasti masuk surga.........., ya biarkan saja ...., memang demikianlah pola pikir mereka. > > Seperti ada suku yang memasang gelang leher, sampai banyak, sehingga lehernya jadi panjang, pola pikir mereka utk kecantikan,....ya biarkan saja....... > > Ada banyak wanita menyuntik / operasi bibir, dagu, payudara, demi kecantikan....itu pola pikir mereka......ya biarkan saja........toh itu pola pikir mereka......, nanti kalau ada laki laki yang memiliki pola pikir yang sama dan menurut mereka cantik, sehingga mereka kawin .....itulah jodoh..... > Kalau ada laki laki muak dengan segala operasi yang dilakukan .....ya...tidak usah didekati wanita wanita itu, cari wanita wanita yang biasa saja, memang itulah jodoh mereka....... > > dewa brata <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > tergantung dari mana anda memandang masalah ini..... > dari rasa segi kebangsaan atau dari segi rasa kemanusiaan > dari segi kemanusiaan memangs eperti tulisan dibawah > tapi dari segi rasa kebangsaan....terus terang saya eneg...apalagi > melihat artis artis yang pada kawin ama bule.... > sepertinya bangsa ini sudah murahan banget > ada bule langsung mlotot matanya.... > memang kadang orang fuul melihat dari satu segi saja.... > seharusnya seimbang dong dalam melihat suatu kasus > > salam > dewa > jakarta > > --- In [email protected], silvana mangano > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Salam > > > > > > > > Renungan buat anda yang mengaku berbangsa > Indonesia........................................ > > > > Renungan pula bagi anda - anda yang berkeinginan menikah dengan > pasangan non > Indonesia............................................................................................................ > > > > > > > > Bisakah kita membantunya dengan apapun kekuatan manusia > sejati?Berdoakah kita melihat manifestasi seorang manusia seperti > ini?Bagaimanakah kekuatan Bangsa yang menyebut dirinya seorang > Indonesia dan mempunyai Pandangan Bahwa kita adalah bangsa yang > bermartabat dan mempunyai Wawasan Spiritual/Beragama yang Tinggi > berbanding terbalik ataupun setara dengan kulminasi Hukum Indonesia > yang mempunyai pandangan hukum terbalik dengan kasus yang ada? > > > > > > > > Dimanakah letak hukum bangsa kita pada waktu melihat kenyataan > seperti ini?Salahkah Bangsa Ini atau salahkah Dia yang menikah orang > diluar Indonesia? > > > > > > > > Dibuat analisa ngak yah???? > > > > > > > > Salam > > > > Silvana > > > > > > > > > > > > Pergulatan Batin Seorang Perempuan WNI > > > > > > > > Oleh Siti M.Adam > > > > Sebetulnya sumber pergulatan batin saya ini bermuara dari kenyataan > bahwa saya menikahi seorang WNA. Sebelum memutuskan "I do" untuk > menikahinya, saya terlebih dahulu mempelajari aspek hukum yang akan > timbul sebagai konsekuensi dari pernikahan tersebut. Saat itu rasanya > saya sanggup menjalaninya, maklum namanya orang yang sedang jatuh > cinta. Meskipun saya lihat banyak hal yang mengganjal dalam peraturan > perundangan Indonesia, baik yang mengangkut hokum perkawinan (UU No. 1 > tahun 1974), hokum kewarganegaraan( Nomor 62 Tahun 1958 ), hukum > agrarian ( UUPA No 5 Tahun 1960) dan hak berpolitik. Tulisan ini hanya > terbatas menyoroti soal hukum perkawinan dan hukum kewarganegaraan. > > > > Baiklah, bila Anda tidak punya waktu yang cukup untuk membaca > perundang-udangan di atas, saya mencoba meringkaskannya disini > sehingga akan membantu Anda lebih memahami pergulatan batin saya > sebagai pelaku pernikahan campuran (istilah ini dipakai dalam UU > perkawinan diatas untuk menyebut pasangan suami istri yang berbeda > kewarganegaraan ). Konsekuensi pertama yang terasa langsung adalah > sulit bagi kami untuk bisa tinggal di Indonesia setelah menikah. Lho? > Kenapa? Pertama, karena pada kenyataannya berdasarkan hukum Indonesia > diatas, saya sebagai istri tidak bisa menjadi sponsor suami untuk > memperoleh ijin tinggal di Indonesia. Ijin tinggal yang dimaksud > adalah memperoleh KITAS yaitu Kartu Ijin Tinggal Terbatas, sehingga > suami saya mempunyai hak untuk bisa tinggal dan bekerja di Indonesia > secara legal. KITAS berlaku selama masa satu tahun dan dapat > diperpanjang setiap tahunnya. Memang tanpa KITAS suami saya masih bisa > tinggal di Indonesia bila memegang visa turis atau visa sosial > > budaya. Tapi, kedua visa itu sama saja, tidak memberikan hak apapun > kepada suami, selain hak menjadi seorang turis yang artinya tidak bisa > bekerja atau sekolah dan hanya boleh tinggal di Indonesia dalam jangka > waktu sangat pendek yaitu antara 1-6 bulan saja. > > > > Jalan satu-satunya agar suami bisa memperoleh KITAS hanyalah bila > dia memperoleh pekerjaan di Indonesia dan perusahaan inilah yang > nantinya akan menjadi sponsornya. Tentu saja Anda tahu kan, betapa > susahnya mencari pekerjaan di Indonesia sekarang ini? Jangankan untuk > orang asing, untuk bangsa sendiri saja susah sekali. Sebetulnya suami > saya sangat ingin bisa tinggal di Indonesia untuk belajar bahasa, > mengenal kebudayaan dan menyumbangkan pengetahuannya buat masyarakat > Indonesia. Tetapi jika dia hanya bisa jadi turis bagaimana kami bisa > mengasapi dapur keluarga ? > > > > Akhirnya pilihan yang ada hanyalah kami harus tinggal di Luar > Indonesia. Tentu saja konsekuensinya saya harus meninggalkan semua > kehidupan saya di Indonesia dan memulai semuanya dari awal lagi di > negeri yang baru. Baiklah, saya berusaha berpikir bahwa saya > meninggalkan Indonesia `for good'. Tapi sulit rasanya menutupi > kekecewaan bahwa pada kenyataannya hukum di Indonesia telah mematikan > hak seorang perempuan WNI yang menikahi WNA, dalam hal tidak > diperbolehkannya istri menjadi sponsor suaminya untuk tinggal di > Indonesia. > > > > > > > > Saya merasa `diusir' dari negeri sendiri. > > > > Padahal apa salahnya bila saya ternyata berjodoh dengan seorang WNA? > > > > Persoalan hukum keimigrasian dalam keluarga saya semakin menjadi > kompleks lagi setelah kehadiran seorang anak. Kebetulan bayi kami > lahir di luar negara kami ( bukan di negara suami saya, juga bukan di > Indonesia ). Secara hukum baik menurut hukum US atau Kanada anak saya > berhak mengklaim berkewarganegaraan ganda yaitu sebagai WN negeri di > tempat kelahiran dan secara otomatis juga berhak menuruni > kewarganegaraan ayahnya. > > > > > > > > Bagaimana dengan hukum Indonesia? > > > > > > > > Andaikan anak saya lahir di wilayah Indonesia sekalipun, dia tidak > berhak mengklaim kewarganegaraan Indonesia, meskipun ibu kandungnya > adalah orang asli Indonesia yang juga lahir dan besar di Indonesia! > > > > > > > > Memang anak saya bisa saja mengajukan kewarganegaraan Indonesia, > tapi dia harus menunggu sampai berumur 18 tahun dan sudah tinggal > menetap sekurang-kurangnya lima tahun di Indonesia. > > > > > > > > Sungguh, sebuah proses yang menghabiskan banyak waktu, tenaga, > pikiran dan dana. Dan yang terpenting adalah lagi-lagi hukum Indonesia > telah mematikan hak seorang warganya untuk menurunkan > kewarganegaraannya kepada anak kandungnya. > > > > > > > > Apa salahnya saya terlahir sebagai perempuan WNI sehingga hak-hak > saya dimatikan? > > > > Syukurlah pernikahan kami tidak ada masalah sampai saat ini, tapi > bagaimana bila misalnya suami meninggal atau kami bercerai ( do'akan > ya semoga saja tidak terjadi)? Terbayanglah kerepotan yang akan timbul > bila suami saya meninggal tiba-tiba, untuk pulang ke Indonesia rasanya > sudah `trauma' dengan masalah pengurusan ijin tinggal buat anak-anak > yang ruwet, berbelit-belit dan menyedot dana tidak sedikit. Belum lagi > persoalan bagaimana untuk menopang ekonomi keluarga? Saya bukan orang > kaya yang bisa hidup tanpa bekerja. Tapi, siapa sih yang mau > memperkerjakan seorang perempuan yang sudah tidak muda lagi, janda dan > beranak pula di Indonesia?. Bukankah dalam hampir semua iklan lowongan > kerja selalu disebutkan batasan umur dan status perkawinan bila ingin > melamarnya? Jelas ini semakin mempersempit kesempatan mendapatkan > pekerjaan. Jikapun beruntung ada yang bersedia menerima pegawai > semacam saya, apakah saya akan mendapatkan upah yang cukup untuk > menutupi biaya hidup kami? > > > > Sebagai seorang ibu saya sangat takut jika tidak sanggup membiayai > sekolah anak saya yang terpaksa harus bersekolah di sekolah swasta > karena tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah negeri. > > > > > > > > Anda tahu sendirilah bagaimana tingginya biaya sekolah swasta > sekarang ini, bukan? Satu lagi ketakutan saya adalah bila tidak > sanggup memperpanjang ijin tinggal anak, bagaimana bila dia dideportasi? > > > > Kemana dia harus pergi? > > > > > > > > Ah, masih banyak sekali deretan ketakutan yang akan panjang sekali > bila saya tuliskan semuanya disini. Tapi satu hal yang pasti semua > ketakutan tersebut bersumberkan pada masih berlakunya proses > perundangan yang samasekali tidak mengakomodasi pelaku pernikahan > campuran khususnya antar perempuan WNI dan laki-laki WNA. Belum lagi > ditambah dengan segudang pekerjaan rumah untuk menjawab pertanyaan > apakah anak(-anak) saya siap beradaptasi untuk hidup di Indonesia? > Bukankah biasanya benturan budaya yang dialami anak-anak yang datang > dari negeri `maju' ke Indonesia rasanya akan jauh lebih dahsyat > daripada sebaliknya?. > > > > Bagaimana bila terjadi perceraian diantara kami? Anak saya kalaupun > pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa hak asuhnya jatuh ke tangan > saya, tapi seandainya kami memutuskan tinggal di Indonesia dalam > pengurusan untuk memperoleh ijin tinggalnya tetaplah harus menyertakan > surat ijin dari ayahnya. Bagaimana bila ayahnya tidak bersedia membuat > surat ijin tersebut? Hal yang paling saya takutkan dari sebuah > perceraian, yaitu kehilangan anak bila saya ngotot ingin tinggal di > Indonesia. > > > > Hal-hal diatas itulah yang akhirnya mendorong saya berpikir untuk > berganti kewarganegaraan mengingat Indonesia tidak mengenal dwi > kewarganegaraan. > > > > > > > > Buat apa mempertahankan paspor hijau ( baca Indonesia) jika hak-hak > saya dimatikan dan kami tidak punya masa depan disana? > > > > > > > > Selain untuk mengantisipasi sejak dini keadaan diatas, dengan > memiliki paspor negara baru juga memberi beberapa peluang baru pula > buat saya. Misalnya semakin luasnya pilihan tempat untuk bekerja. Bila > saya memiliki paspor negara baru itu maka sesuai perjanjian NAFTA ( > North American Free Trade Agreement) memberi peluang saya untuk > bekerja di tiga negara ( Mexico, US dan Kanada) dengan proses > pengurusan ijin kerja yang sangat mudah. Peluang lainnya, saya bisa > menjadi sponsor saudara kandung/keponakan untuk memperoleh ijin > tinggal tetap di negara baru tersebut. Selain berbagai peluang diatas > masih ada tambahan bonus lagi yaitu bila saya berkesempatan > jalan-jalan ke negara lain, banyak sekali negara yang bisa saya > kunjungi tanpa perlu mengurus visa yang kadang-kadang bikin stress juga. > > > > Pada awalnya, saya sangat antusias mengurus persiapan berganti > kewarganegaraan ini. Tapi anehnya semakin hari semakin pudar > antusiasme saya itu. > > > > > > > > Saya > gamang................................................................................................................. > > > > > > > > Saya sering bertanya-tanya lagi : "Tepatkah saya bila berganti > kewarganegaraan?". Karena sebetulnya saya selalu bercita-cita satu > hari nanti kembali ke Indonesia dan menularkan pengetahuan baik yang > saya dapatkan dan rasakan selama tinggal di Luar Indonesia.. > > > > > > > > Bukankah untuk mewujudkan cita-cita tersebut akan lebih mudah bila > saya tetap mempertahankan ke-WNI-an saya? > > > > Selain itu, disisi lain saya juga semakin menyadari bahwa setelah > beberapa tahun tinggal di negeri asal suami rasanya seperti ada gap > yang membuat saya tidak bisa 100% merasa pas didalamnya. Gap ini lebih > dikarenakan romantisme yang kuat tentang kehidupan di Indonesia yang > sudah saya jalani lebih dari dua dekade. Sekarang, saya merasa satu > kaki berpijak di Indonesia dan kaki lainnya dinegeri baru. Saya sangat > mencintai Indonesia tetapi saya juga harus berpikir panjang dengan > keadaan saya sekarang ini. > > > > Ketika hal ini saya bicarakan dengan teman-teman senasib, yaitu para > perempuan WNI yang menikahi WNA, mereka pun banyak yang merasakan hal > yang saya alami. Sebagian dari mereka akhirnya berketetapan hati tetap > menjadi WNI, sebagian yang lain memutuskan berganti kewarganegaraan > dan yang terakhir adalah kelompok yang berada dalam kebingungan > seperti saya. Jangan heran dari kelompok bingung ini ada yang merasa > perlu menjalani konseling psikologi untuk menentukan keputusan. Saya > sendiri sampai sekarang belum bisa memutuskan untuk tetap berpaspor > hijau atau segera menggantinya dengan paspor warna lain. > > > > Toronto, 5 Oktober 2005 > > > > *Siti M.Adam adalah Ibu Rumah Tangga yang menikah campuran, Tinggal > di Toronto - Kanada > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts. > Peace & enlightenment be yours! > > - from guys at Mayapada Prana > > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > --------------------------------- > Yahoo! Messenger NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail > > [Non-text portions of this message have been removed] =============================================== Watch your thoughts, they become your words Watch your words, they become your actions Watch your actions, they become your habits Watch your habits, they become your character Watch your character, it become your destiny ! ** Bhagavan Sri Sathya Sai Baba ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://asia.docs.yahoo.com/info/terms

