Hallo Bu Muskitawati,

Saya rasa sah2 aja orang punya kepercayaan apapun, entah percaya keberadaan
Tuhan, ataupun enggak.
Tentunya setiap orang punya keyakinan masing2 yg berbeda2 yg mereka pelajari
dari perjalanan hidupnya masing2.
Terlepas dari keyakinan itu benar sesuai kenyataannya, ataupun enggak, saya
rasa itu gak penting. Yg penting adalah semua orang yg hidup itu harus punya
keyakinan tertentu sebagai pegangan, supaya tidak terombang-ambing lautan
kehidupan. Lagipula, siapa yang tau kenyataan yg sebenarnya itu seperti apa?
Tapi tentu aja cuma orang keras kepala yg tetap pertahankan keyakinannya
walaupun dia sendiri tau itu sudah ga valid.

Saya tau bu Muskitawati ga percaya Tuhan. Mungkin anda sudah punya keyakinan
sendiri tentang misalnya, bagaimana alam semesta ini tercipta. Ada apa
diluar alam semesta ini. Apakah alam semesta ini terbatas atau
tidak. Bagaimana kita bisa membayangkan alam semesta yg terbatas, atau yg
tidak terbatas. Selalu ada pertanyaan ada apa diluar sesuatu yg terbatas
itu, atau sampai dimana ujung sesuatu yg tidak terbatas itu. Saya rasa gak
semua pertanyaan2 mendasar itu bisa dijawab dgn sains. Paling gak dgn
kumpulan teori yg ada skrg. Semua teori fisika yg ada berbicara bahasa
matematis, sedangkan matematika sendiri punya kelemahan ketika menjelaskan
bilangan tak terhingga. Inilah kenapa ga semua hal bisa dijawab dgn sains,
kadang kita perlu milih keyakinan.
Terus terang saya pengen tau apa mungkin pertanyaan2 seperti itu bisa
dijawab, mgkn saya bisa dapat teori2 baru dari anda.

Saya pernah mempertimbangkan kemungkinan alam ini seperti dalam film The
Matrix, semuanya ga ada yg nyata, semua cuma status keadaan di memori
komputer. Semuanya matematika deterministik. Atau malah komputer nya sendiri
adalah virtual. Selalu ada kemungkinan apapun.

Tapi apalah artinya kehidupan seperti itu, booring. Ga ada tujuan, ga ada yg
nyata. Takdir selalu pasti krn semua matematis.
Ini adalah masalah pilihan, saya lebih milih keyakinan saya skrg.


Salam,
Putu


On 2/27/06, muskitawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> Saya kira kuliah anda lebih cocok dikhotbahkan di pesantren bukan
> disini karena pada kenyataannya, dizaman sekarang kita tidak
> membutuhkan ajaran Islam ataupun ilmu2 yang anda anggap dari ajaran Islam.
>
> Dunia kita dimajukan bukan dengan ilmu2 yang anda kemukakan diatas,
> bahkan pembagian tingkat2an yang anda ungkapkan diatas sekalipun
> bukanlah dari ajaran Islam melainkan akal2an rekayasa kaum ulama yang
> menjiplak cara2 modern sekarang untuk mempertahankan umatnya.  Dizaman
> Muhammad belum dikenal sekolah sekalipun, bahkan membaca dan menulis
> sekalipun belum ada yang bisa, mana mungkin ada sekolah yang mem-bagi2
> tahapan untuk yang IQ nya tinggi dan rendah????  Anda tahu enggak sih
> cara mengukur IQ seseorang ???  bagaimana mungkin Muhammad bisa
> mengukur IQ orang bahkan dia sendiri membaca dan menulis sekalipun
> enggak bisa.
>
> Cukup ya, jangan mem-buang2 waktu untuk mempertahankan segala yang
> engga benar agar se-olah2 dianggap benar.  Kalo anda percaya silahkan,
> namun ilmu pengetahuan bukanlah kepercayaan dan untuk hal ini tak
> perlu diperdebatkan lagi.
>
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



Quotes : 
***sekeping hati dibawa berlari, jauh melalui jalanan sunyi***
 - Ninik <[EMAIL PROTECTED]> - 


 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke