Jakarta 28 Februari 2005
Kompas hari ini (head line)memberitakan tentang bagaimana hebohnya
serbuan produk China terutama tekstil ke pasar dalam negeri. Kemudian timbul
upaya-upaya untuk menghambat barang-barang impor tersebut melalui pengenaan
tarif dsbnya. Dalam hati saya berkomentar kecil: It's too late. Dalam halaman
muka, Kompas juga memberitakan dua pabrik Maspion yang terancam tutup dan
analisis dari Faisal Basri mengenai kegagalan Pemerintah dari waktu kewaktu
untuk mendorong dinamika sektor rill. Pertanyaan yang mendasar yang timbul dari
sanubari kita ialah kesalahan apa yang telah terjadi di negeri ini?
Banyak orang dengan serta merta menyalahkan Tuhan, dengan mengatakan
bahwa negeri ini telah dikutuk oleh Tuhan karena berlumuran dengan dosa-dosa
korupsi,berbagai macam maksiat seperti sex bebas, surga miras dan narkoba
dsbnya. Idiom seperti ini kemudian dijadikan makanan empuk oleh ustad,pendeta
dan para alim ulama untuk dijadikan santapan empuk sebagai bahan garapan untuk
dakwah dan kadang digunakan untuk tujuan-tujuan politik. Padahal belum tentu
keterpurukan ini hasil kutukan Tuhan. China yang komunis mestinya terlebih
dahulu dikutuk Tuhan karena mereka sama sekali tidak menghendaki orang
memuliakan Tuhan. Tapi mengapa kemajuan ekonomi mereka semakin kuat dari hari
kehari?
Apa yang telah terjadi di China dan tidak terjadi di Indonesia? China
telah menyadari kesalahannya yang paling fundamental sebelum Deng Hsiao Ping
(DHP)mengambil-alih tampuk kekuasaan. Masa-masa sebelum DHP adalah masa-masa
dimana ide, kreativitas dan incentif dimatikan sama sekali. DHP menyadari bahwa
tindakan tersebut telah mematikan tidak saja ekonomi China tapi juga dinamika
orang-orang China yang kreatif dan innovatif. Secara bertahap
peraturan-peraturan yang bernafaskan disincentif dihapuskan. Orang-Orang China
boleh melakukan kreatifitas dan inisiatif apapun, asalkan bukan di bidang
politik. Ini bukan tanpa dasar. Bukan para elit China benci demokrasi, namun
perlu persiapan moral, mental dan kapasitas intelektual yang cukup agar
demokrasi tidak hanya sekedar topeng belaka. Penguatan ekonomi perlu dilakukan
secara seimbang antara perkotaan dan pedesaan agar tidak timbul kecemburuan
sosial yang letupan-letupannya mulai kelihatan seiring dengan tingginya
pertumbuhan ekonomi
China.
Di Indonesia, seperti yang dikemukakan oleh Faisal Basri semua
kebijakan bersifat disincentif. Mulai dari pajak, cukai sampai
keperaturan-peraturan dibidang investasi. Peraturan-peraturan tersebut
dilatar-belakangi oleh keinginan untuk menaikkan penerimaan APBN dengan alasan
untuk keperluan pembangunan. Kalau penerimaan dari pajak,bea dan cukai tidak
memadai maka dimanfaatkanlah pinjaman luar negeri dengan cara yang sangat
boros. Kebocoran penggunaan anggaran pemerintah yang bersumber dari pajak dan
pinjaman luar negeri dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja walaupun
angkanya sudah mencapai 60%. Akal sehat kita menjadi hilang sama sekali.
Padahal kalau memang kita tidak mampu mengontrol penggunaan anggaran untuk
pembangunan yang bocornya luar biasa, kenapa kita repot2 menaikkan anggaran
Pemerintah untuk keperlusan yang mubazir?
Sebagai contoh, pemerintah bernafsu untuk meningkatkan penggunaan
listrik sehingga dicarilah berbagai sumber-sumber pinjaman luar negeri untuk
meningkatkan kemampuan PLN. Kemudian dibuat skim kerjasama dengan
perusahaan-perusahaan swasta. Apa yang terjadi? Bukan effisiensi yang terjadi
seperti di Amerika dan Eropa dimana tarif listrik menjadi murah namun tarif
listrik semakin menggila dan PLN harus menanggung risiko sebagai akibat harus
membeli listrik dari swasta yang tarifnya sangat tidak ekonomis. Kalau
investasi disektor listrik memang menarik mengapa tidak diserahkan ke sektor
swasta saja? Pemerintah cukup menerima hasil melalui pajak perusahaan, tidak
perlulah mengejar penghasilan dividen yang tidak begitu pasti. Kita lihat
bagaimana pendekatan pemerintah dibidang telpon seluler. Dengan dibukanya
kompetisi dibidang telpon seluler maka konsumen dapat menggunakan berbagai
pilihan yang ada, dan perusahaan2 tersebut berkompetisi memberikan service yang
baik. Kalau saja
bisnis ini di monopoli Pemerintah, tentu kita tidak akan melihat kemajuan
bisnis telpon seluler seperti sekarang ini.
Kita dapat memberikan insentif dengan menggunakan berbagai instrumen yang
ada. Instrumen seperti pajak, bea dan cukai dapat digunakan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi. Kita dapat membuat peraturan-peraturan yang menghilangkan
berbagai hambatan-hambatan dibidang investasi dan bukan sebaliknya. Sebagai
contoh. Kita sekarang dalam keadaan krisis energi. Produksi minyak kita dari
hari ke hari semakin kurang. Bagaimana mengatasi hal ini? Pajak dapat berperan
untuk menggalakkan konservasi energi. Untuk mobil-mobil boros dikenakan pajak
berlipat-ganda. Contoh, mobil yang memakai bensin 1 liter untuk 5 km, dikenakan
pajak 500% dari harga mobil, 1 liter untuk 10 km dikenakan pajak 400%, 1 liter
untuk 15km dikenakan pajak 300%, 1 liter untuk 20km dikenakan pajak 200%, 1
liter untuk 25km dikenakan pajak 100%, 1 liter untuk 30 km dikenakan pajak 50%,
1 liter untuk 35km dikenakan pajak 25%, 1 liter untuk 40 km dikenakan pajak
15%, 1 liter untuk 45km dikenakan pajak 10%, 1 liter untuk 50
km dikenakan pajak 5%, diatas 55km per liter dikenakan pajak 0%. Ini juga
berlaku untuk pemakaian BBM jenis lain untuk keprluan industri. Pajak ini akan
mendorong industri otomotif dan industri lainnya untuk mengadopsi mesin2 atau
equipment yang sangat hemat energi. Pajak ini juga dapat diterapkan pada
barang2 elektronik yang menggunakan konsumsi listrik yang tinggi. Ini akan
menekan penggunaan barang eletronik yang boros energi sehingga akan menekan
penggunaan listrik oleh perusahaan maupun rumah tangga. Kemana hasil pajak
tersebut digunakan? Pajak (Oil tax)yang bersumber dari pajak otomotif ini akan
disalurkan ke proyek-proyek transportasi massal seperti busway, light railway,
subway dan trem. Ini adalah bentuk subsidi silang dari si kaya kepada si miskin
yang tidak mampu beli mobil. Ini adalah salah satu cara dan banyak cara-cara
lain yang kreatif untuk memajukan negeri ini.
Dalam tarif pajak, pajak progressif tidak akan mendorong orang membayar
pajak lebih baik. Untuk menghindari pembayaran pajak, orang2 kaya dapat
memanfaatkan berbagai cara baik dengan cara menyogok petugas pajak atau
melakukan investasi internasional melalui berbagai perusahaan "vechile" seperti
SPV2 ( Special Purpose Vechile). Pada ujung2nya yang keperas oleh sistim pajak
adalah orang menengah kebawah yang sebenarnya kalau kelewat diperes akan
mencret, alias keluar kotorannya. Ini akan menimbulkan disinsentif yang luar
biasa. Kalangan menegah sebenarnya berkeinginan untuk melakukan investasi
kecil2an dengan tenaga kerja antara 5 sampai 10 orang. Namun pengalaman teman
saya yang babak belur karena harus membayar berbagai izin, astek dan ketentuan
upah minimum, telah menjadi contoh bagi teman saya yang lainnya menjadi kecut
untuk memulai suatu usaha. Orang akhirnya lebih senang menjadi petani bunga
(bank) alias menyimpan deposito dari pada harus memutar uangnya untuk
menggerakkan sektor rill. Orang-orang yang sekarang bergerak dibidang usaha
lebih banyak mengandalkan kemampuan premanismenya dari pada kemampuan melihat
celah2 bisnis. Karena hanya pengusaha premanlah yang mampu bertahan menghadapi
berbagai serbuan pungli dari berbagai arah.
Kalau kita lihat Malaysia bertumbuh pesat perekonomiannya karena para
pengusaha Malaysia tidak perlu membayar pungli untuk camat, bupati, gubernur,
koramil, korem,kodim,kodam,kapolsek,kapolda, kapolri, jaksa, hakim,dpr dan
preman jalanan.Dengan demikian mereka dapat membayar upah buruh lebih tinggi,
sementara persen keuntungan yang diperoleh cukup menarik. Kalau berusaha di
Indonesia, dengan tingkat keuntungan yang diperoleh setara dengan Malaysia,
dengan kondisi pungli merajalela, maka tidak ada jalan lain kecuali upah buruh
ditekan seminimal mungkin. Kalau inipun tidak berhasil maka seperti kasus
Mspion, pabrik sebaiknya ditutup saja......gitu kok repot (kata Gus Dur).
Sampai kapan kita begini. Sampai kita semua menjadi kuli, kata Faisal Basri.
Tentu saja banyak yang berupaya untuk "excuse" dengan berbagai alasan.
Silahkan saja, mari kita saksikan apakah kita masih bisa bertahan untuk 20
tahun lagi. Mudah2an saya diberikan umur panjang untuk menyaksikan kebangkrutan
negara ini. Bukan saya tidak cinta pada bangsa dan negara ini, tapi saya tidak
mampu mengatasi tindak-tanduk para elit yang menguasai negeri ini yang dari
hari kehari tidak menyadari bahwa kapal perekonmian bangsa ini mulai tenggelam.
Sementara kita masih seperti kodok direbut, yang mati secara pelan-pelan.
Wass,
Jacky
---------------------------------
Yahoo! Mail
Bring photos to life! New PhotoMail makes sharing a breeze.
[Non-text portions of this message have been removed]
Quotes :
***sekeping hati dibawa berlari, jauh melalui jalanan sunyi***
- Ninik <[EMAIL PROTECTED]> -
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms