Nama saya Anie usia 32 tahun mantan Manager di salah satu bank di
Smg. Sejak dua tahun sudah bertundangan secara resmi. Tundangan saya
masih kuliah, karena ia dari keluarga yang tidak mampu, maka saya
sebagai penunjang utama biaya kuliah maupun biaya hidupnya di Yogya.
Saya tadinya merasa bahagia sekali sebab di akhir tahun ini kami
merencanakan akan menikah, maklum saya sangat mendambakan sekali
ingin cepat-cepat dapat momongan. Tetapi rupanya Tuhan menghendaki
hal lain yang terjadi di dalam kehidupan saya.
Pada bln Nov 2005, Dr telah mendeteksi tumor ganas di payu dara saya
dan tumor ini rupanya sudah sedemikian parahnya, sehingga mau atau
tidak harus di operasi dan seluruh payu dara saya di angkat. Ketika
pertama kali saya mendengar berita tsb saya benar-benar merasa syok
dan sedih sekali, sebab dengan mana hancurlah sudah harapan idaman
saya untuk bisa mendapatkan momongan. Pada saat tsb saya hanya bisa
berdoa dan membanjiri sorga dengan air mata. Melalui operasi tsb
saya merasa kehilangan harga diri saya sebagai seorang perempuan,
saya merasa seperti juga seorang perempuan cacad.
Ketika saya menceritakan musibah tsb, tundangan saya berjanji untuk
mendampingi saya pada saat operasi, tetapi dengan alasan karena ia
sibuk dengan kuliahnya maka ia tidak bisa datang, walaupun demikian
ia menjanjikannya untuk datang pada saat liburan Natal. Ternyata di
waktu Natal pun ia tak kujung tiba yang datang hanya sekedar surat
permohonan bantuan dana lagi untuk biaya kuliah maupun biaya
hidupnya. Permohonan itu saya penuhi dengan mengirimkan uang Rp lima
juta.
Ketika dulu tundangan saya harus di operasi, karena kecelakaan lalu
lintas, saya mendampingi dia siang dan malam di rumah sakit,
disamping itu seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh saya
sepenuhnya. Jadi wajarlah kalau saya tetap mengharap sehingga kalau
Natal ia tidak bisa datang, pasti kita akan bisa merayakan Tahun
Baru bersama, tetapi rupanya ini hanya sekedar harapan saja, sebab
kenyataannya hal inipun tidak terjadi.
Akhirnya saya sadar bahwa sebenarnya ia ingin memutuskan hubungannya
dengan never say good bye. Dugaan ini di pertegas oleh sahabatnya
dimana ia pernah curhat, bahwa ia sebenarnya merasa jijik kalau
punya istri yang tidak memiliki payu dara apalagi ada kalau ada
cacad bekas jahitan operasi ditubuhnya.
Hal ini jauh lebih menyakitkan saya daripada ketika payu dara saya
harus diangkat, saya merasa ditinggal oleh orang yang sangat saya
kasihi dimana saya telah bersedia berkorban untuknya selama bertahun-
tahun, tetapi pada saat saya membutuhkan dukungan moril maupun
sedikit kasih sayang, ia memutuskan hubungannya begitu saja hanya
dengan alasan karena ia merasa jijik terhadap diri saya yang sudah
tidak memiliki payu dara lagi.
Dihianati oleh orang yang kita kasihi ada jauh lebih menyakitkan
daripada dihianati oleh orang lain. Dihianati karena ia tertarik
dengan gadis lainnya yang jauh lebih cantik bisa saya makluminya,
tetapi ditinggal pergi begitu saja karena alasan jijik terhadap
tubuh saya, ini benar-benar sangat menyakitkan sekali. Saya merasa
di perlakuan seperti juga sampah kotor yang dibuang begitu saja,
bukan hanya karena tidak bermanfaat lagi saja melainkan juga karena
menjijikkan. Hal inilah yang membuat harga diri maupun Pe-De saya
jadi menurun drastis.
Rupanya penderitaan saya tidak berakhir sampai disini saja, sebab
satu bulan kemudian saya juga mendapat surat pemutusan hubungan
kerja dari perusahaan saya, dengan alasan mereka membutuhan orang
yang sehat dan tidak sakit-sakitan seperti saya.
Rupanya pukulan hidup itu datang dengan serentak dan secara bertubi-
tubi. Sehingga akhir-akhir ini sering timbul pikiran untuk mengambil
jalan pintas saja dengan bunuh diri, sebab buat apa saya hidup juga,
dimana sudah tidak memiliki jangankan masa depan, gairah hidup pun
sudah tidak ada lagi. Hidup saya sudah hancur, boro-boro bisa
mendapatkan momongan seperti yang menjadi impian saya, tundangan pun
meninggalkan saya dengan cara begitu saja tanpa pamit. Di tempat
pekerjaan pun saya sudah tidak dibutuhkan lagi, dimata mereka saya
sudah termasuk barang rongsokan dan tidak dianggap sebagai manusia
seutuhnya lagi.
Yang menghalangi saya untuk melakukan tindakan nekad ini hanya ibu
saya, karena saya adalah anak tunggal, ibu saya usianya sudah 70 th
sedangkan ayah saya sudah lama meninggal. Jadi apabila saya sudah
tidak ada lagi siapa yang akan dan mau mengurus ibu saya. Oleh sebab
itulah setiap hari saya hanya bisa lutut berdoa dan memohon kepada-
Nya untuk dapat diberikan waktu sejenak lagi, sehingga saya bisa
mendampingi ibu untuk beberapa saat lagi. Apakah permohonan ini
terlalu berlebihan ?
Pada saat payu dara saya diangkat, hanya ibu seorang yang
mendampingi saya. Dan ketika ia melihat bahwa saya sudah tidak
memiliki payu dara lagi, tak sepatah katapun ia ucapkan. Ia hanya
memeluk dan mendekap saya sambil turun air matanya berlinang, karena
saya adalah putri kesayangan satu-satunya.
Rupanya kasus seperti saya ini, bukannya hanya sekali atau dua kali
saja terjadi, menurut pendapat beberapa Dr maupun rekan-rekan
lainnya; banyak pria yang meninggalkan atau memutuskan hubungannya
setelah pasangan hidup mereka kehilangan payu daranya. Padahal ini
bukanlah keinginan istrinya, perempuan mana di dunia ini yang rela
dan mau kehilangan payu daranya ?
Kenapa pria tidak bisa dan mau menerima perempuan yang tidak
memiliki payu dara ? Apakah diri saya sekarang ini sudah berubah
menjadi monster sehingga kaum pria merasa jijik terhadap diri saya ?
Apakah peremuan yang tidak memiliki payu dara ini harus dijauhi
seperti juga para penderita Aids atau kusta ? Apakah saya harus
melakukan operasi plastik agar tundangan saya mau balik kembali
kepada saya ?
Saya benar-benar bingung dan sedih sekali menghadapi situasi seperti
sekarang ini. Hal ini membuat saya jadi semakin menutup diri dan
tidak mau keluar rumah lagi, saya merasa malu, malu karena saya
bukanlah perempuan seutuhnya lagi, saya hanyalah seorang perempuan
cacad yang menjijikkan. Pls help me, mungkin Anda mempunyai saran
ataupun pengalaman serupa seperti saya, mohon dikirimkan per japri
melalui
Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net
Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms