Rekan Robin Hood yang Baik,

Terima kasih atas tanggapan Anda. Dari bermacam-macam
tanggapan yang saya terima, ternyata saya makin
menjadi yakin bahwa masyarakat kelas menengah kita
dalam artian SSE (Status Sosial Ekonomi; kalau
mengikuti pengertian sosiologis)telah menjadi semakin
Universal. Ternyata kalau mau, kita orang Indonesia
bisa juga menjadi orang-orang Universal yang tidak
perlu dikuliahi piagam HAM PBB agar bisa mengerti
tentang nilai-nilai kemanusiaan, termasuk nilai-nilai
relijius atau rohaniah-keagamaan.

Ternyata yang jihad sabilullah hanyalah minoritas
semata tetapi bisa bikin rusak segalanya seperti kata
pepatah: Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga.

Tapi kita gak mau susu sebelanga satu-satunya milik
kita menjadi rusak kan? Mendingan kita kasih
pengertian kepada si Nila untuk menjadi Susu, daripada
Susu itu menjadi Nila dan gak bisa diminum.

Terima kasih sekali lagi and, please don't write that
it was me who brought the enlightenment. Pencerahan
itu cuma bisa datang dari hati nurani kita
masing-masing. Tak ada orang lain yang bisa membawanya
untuk diri kita, kecuali diri kita sendiri yang
memutuskan bahwa saatnya telah tiba untuk menggunakan
pengertian yang lebih manusiawi saat ini, yang lebih
Universal.

Damai di Bumi,
Leo
HP: 0818-183-615


--- Robin Hood <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> To: [EMAIL PROTECTED]
> From: Robin Hood <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Sun, 18 Jun 2006 09:57:14 -0700 (PDT)
> Subject: Re: [psikologi_transformatif] Re: Apakah
> Doa Itu?
> 
> Bung Leo Yth,
>    
>   Sangat menarik. 
>    
>   Makasi atas pencerahannya !
>    
>   Kalau dapat saya tarik kesimpulannya, kalo tidak
> salah, doa itu adalah meditasi, refleksi dan juga
> sekaligus dialog dengan Tuhan, yang kalau kita
> expand lebih jauh, dapatkah diterima bahwa kehidupan
> itu sendiri bisa juga menjadi sebuah doa yang
> panjang karena proses dialog dan meditasi itu
> sifatnya progresip dan berkesinambungan, baik sadar
> maupun  dibawah sadar (didalam mimpi misalnya),
> proses itu bisa berjalan terus ?
>    
>   Sehingga dengan demikian, seseorang yang sudah
> mencapai tingkat kesadaran ini, akan lebih alert
> didalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu
> didalam hidupnya, karena dirinya sudah berada
> didalam proses doa tsb.
>   Dan karena itu sikap tubuh (berlutut atau berdiri)
> dan arah/kiblat dan waktu, tidak berpengaruh lagi
> didalam proses tsb ?
>    
>   Misalnya, proses tsb (doa) bisa saja sambil nyetir
> dalam perjalanan kekantor atau pulang kerumah atau
> sedang berbaring ketika mau tidur, dsbnya, tetapi
> bisa juga secara khusuk seperti didalam sembahyang
> tahajut (islam) atau doa syafaat (kristen) misalnya
> ?
>    
>   Mohon pencerahan lebih lanjut. 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


Quotes : 
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no 
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this 
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though 
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna - 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke