--- In [email protected], "Bagus-Taruno Legowo" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> BTL :
> Allah itu mungkin benar adalah angan-angan BAGI 
> orang-orang seperti anda itu. Bagi saya, bagi guru-guru 
> saya, bagi sahabat-sahabat saya, Allah itu justru MAHA 
> REALITAS. BUKAN SEKEDAR REALITAS lho (seperti anda itu). 
> ALLAH ITU MAHA REALITAS. KALAU ANDA TIDAK BISA MEMBUKTIKAN 
> BAHWA ALLAH ITU ADALAH REALITAS ATAU MAHA REALITAS, YA 
> JANGAN SALAHKAN ATAU TUDUHKAN ALLAH YANG TIDAK MENUNJUKKAN 
> KEREALITASAN ALLAH PADA ANDA. YA JELAS TIDAK MUNGKIN ANDA 
> YANG MENGANGGAP ALLAH BUKAN REALITAS (BACA : ANGAN-ANGAN) 
> MENUNJUKKAN KEREALITASANNYA PAD ANDA. KENAPA? KARENA HATI 
> DAN PIKIRAN ANDA TERTUTUP SEHINGGA TIDAK BISA MENYAKSIKAN 
> KEMAHAREALITASAN ALLAH!
> 



Kalo anda berpendapat bahwa Allah itu maha realitas, maka anda
membuktikan dangkalnya pengetahuan umum anda karena pada hakekatnya
seorang yang berpendidikan cukup bisa memahami definisi "Realitas"
karena "Realitas" tidak memiliki sifat "Maha-" seperti kekuasaan Allah
yang penuh dengan sifat2 "Maha-" tanpa bisa dibuktikan satupun sifat2
ke "Maha-" annya itu.

Realitas merupakan object observasi yang bisa dipersepsi sama oleh
semua orang tanpa harus mempercayainya.  Misalnya, kalo semua orang
memandang sebuah object yang berwarna merah untuk dipersepsinya
sebagai warna merah juga, maka warna merah itu dinamakan "realitas". 
Namun ada kalanya, semua orang normal mempersepsinya sebagai warna
merah, tetapi anda mempersepsinya sebagai warna hijau, maka hal ini
harus diteliti dan diselidiki lebih mendalam siapakah atau pihak
manakah yang mengalami distorsi persepsi realitas ini.  Untuk bisa
memiliki persepsi realitas normal tentunya membutuhkan juga
pancaindera yang normal.  Kalo anda penderita buta warna, wajar saja
kalo semua orang mempersepsi warna merah sebagai warna merah sedangkan
anda mempersepsinya sebagai warna abu2.  Dalam hal ini anda mengalami
distorsi persepsi sehingga tak mungkin bisa memahami realitas yang
merupakan fakta yang ada.

Demikianlah, Allah yang bisa anda persepsi karena percaya, tidak bisa
dipersepsi sama dari orang yang tidak percaya meskipun sama2 memiliki
pancaindera yang normal.  Perbedaan2 persepsi akibat pengaruh
kepercayaan tidak pernah dinamakan sebagai REALITAS ATAUPUN MAHA
REALITAS.  Perbedaan itu se-mata2 disebabkan persepsi anda telah
dirusak atau dipengaruhi oleh adanya kepercayaan.

Oleh karena itu, persyaratan utama untuk setiap individu untuk mampu
mempersepsi realitas adalah bebas dari pengaruh "kepercayaan" yang
fungsinya memang merusak daya persepsi setiap individu dalam
menghadapi realitas.  Tentunya hal ini juga mencakup kesempurnaan
pancaindera setiap individu.

Demikianlah, atas dasar pemahaman2 "realitas" yang saya kemukakan
diatas, tidak mengherankan bahwa setiap mahasiswa kedokteran selalu
diseleksi kesehatan pancainderanya sehingga mampu mempersepsi realitas
yang dihadapinya dalam penegakkan diagnosa penyakit2 dari pasien yang
dihadapinya.

Saya cukup secara singkat menjelaskan bahwa semua "Realitas" harus
bisa dipersepsi sama tanpa harus mempercayainya, karena kalo sampai
terjadi distorsi atau persepsi2 yang tidak sama dari setiap orang yang
mengobservasi object yang sama, maka persepsi itu bukan atau tidak
dinamakan sebagai "Realitas"

Kesimpulannya, tak ada kepercayaan manapun juga yang bisa dinamakan
"realitas" ataupun "maha-realitas" karena tidak pernah seorangpun bisa
mempersepsi agama kepercayaannya secara sama meskipun dalam satu
agama.  Distorsi persepsi inilah yang menghasilkan perpecahan sesama
umat beragama yang dikenal sebagai sekte2 ataupun aliran2 agama yang
banyak terjadi baik dalam Islam maupun dalam agama lainnya.  Misalnya
saja, terciptanya aliran Syiah dan aliran Sunny dalam Islam disebabkan
ada distorsi masing2 umatnya dalam sebuah object kepercayaan yang sama
yang dipersepsi secara ber-beda2, sehingga tak mungkin distorsi
persepsi ini bisa dianggap sebagai "realitas" karena distorsi persepsi
memang merupakan akibat pengaruh kepercayaan atau angan2 yang berbeda
yang merusak kemampuan persepsi setiap umat agama manapun juga.

Tak pernah ada buku2 di Indonesia yang diperkenankan pemerintah untuk
rakyatnya memahami perbedaan antara "realitas" dan "kepercayaan"
sehingga dengan mudah pemerintah melanggar hak2 setiap rakyatnya dalam
memutar balik "realitas" dengan memanipulasi "kepercayaan2"nya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.














Quotes : 
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no 
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this 
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though 
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna - 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke