--- In [email protected], "bulebuuk" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > DI BALIK PERANG IRAK > Rencana perang Irak, yang dilancarkan meski mendapat tentangan dari > seluruh dunia, telah dipersiapkan setidaknya puluhan tahun lalu oleh > para ahli strategi Israel. Dalam upayanya mewujudkan strategi > pelemahan atau pemecahbelahan negara-negara Arab Timur Tengah, > Israel memasukkan Mesir, Syiria, Iran dan Saudi Arabia dalam daftar > sasaran berikutnya.
Yang menentang perang Irak itu siapa??? Tidak banyak, masih lebih banyak yang mendukungnya. Menentang atau mendukung perang Irak ditentukan oleh negara2 tetangga negara ybs. Enggak ada urusan negara yang diseberang lautan jauhnya mau menentang perang Irak kalo tetangga2nya saja bersorak. Tengoklah tetangga2 negara Irak itu sendiri, negara tetangga mana yang menentang perang Irak ini ??? Lagipula yang menantang perang itu khan Irak sendiri, sudah tahu lawannya lebih kuat, koq masih menantang??? Irak mengharapkan dukungan PBB, namun kenyataannya PBB juga tak punya argument apapun untuk melindungi berbagai kesalahan2 dan pelanggaran2 yang dilakukan Irak. Dunia ini ada aturannya yang kalo aturannya itu dilanggar pasti akan menghadapi resiko, dan resiko itupun kalo sudah berani ditanggungnya tak ada lagi yang bisa ditarik ulur lagi. Yang harus terjadi terjadilah. Amerika menyerbu VietNam, juga penuh resiko dan resikonya terpukul hancur sehingga harus mundur tak ada yang perlu disesalkan. Tak beda dengan Irak, cuma bedanya kita sama2 tahu, kalo Amerika kalah di VietNam, maka di Irak Amerika bisa menang, dalam hal ini memang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan moral prajurit yang pernah kalah itu. Tak berbeda dengan umat Islam yang sudah tak punya kebanggaaan2 apapun dalam sejarahnya, untuk meningkatkan keyakinan umat dunia Islam menyebar kebohongan2 dan fitnah agar umat dan agamanya terlihat besar dan kuat untuk dijadikan kebanggaan umat sehingga keimanannya meningkat meskipun dilandasi berita2 bohong tentang kebesaran agamanya yang tidak pernah dianggap besar didunia kita sekarang ini. Lihat saja dari 5 pemegang hak veto di PBB tak ada satupun negara yang mayoritas Islam, bahkan tidak satupun negara yang memiliki umat Islam melebihi 5% dari populasi penduduknya. Masalah biadab, sudah jelas semua perang adalah biadab tak melakukan kebiadaban juga musuhnya akan melakukan kebiadaban. Wartawan dan ulama Amerika diculik untuk dibantai pasti dibalas dengan bomb2 yang mematikan lebih banyak lawan2 yang melakukannya. Dalam hal ini tak perlu diperdebatkan, kalo mau mencegah bukan dengan cara mengancam ataupun menteror melainkan berunding dengan cara2 damai. Namun memang ajaran Islam pantang damai, namun Amerika selalu dan setiap saat membukan pintu damai sementara kejahatan akan dibalas, dan kekejaman akan juga dibalas, kalo anda mau berpihak menjadi lawan Amerika silahkan saja tak usah banyak macem2 karena kita sudah tahu bahwa RI adalah pendukung Amerika yang paling terpercaya seperti juga Arab Saudia. Lawanlah negaramu yang korup itu lebih dulu sebelum bisa maju berhadapan melawan Amerika !!!! Menegakkan kekuasaan didunia tentu harus mampu menundukkan negara2 lain didunia. Menundukkan negara2 lain didunia ini yang terbaik adalah memecah belah kekuatan mereka. Untuk memecah belah kekuatan mereka memang membutuhkan dana yang tidak kecil yang bisa merusak ekonomi Amerika. Namun agama Islam memberi jalan gratis, semua aliran Islam saling berperang saling membomb mesjid lawannya, bahkan di Indonesia bukanlah tidak mungkin MUI merupakan antek Amerika untuk sengaja membakari mesjid2 Ahmadiah. Demikianlah untuk memecah belah kekuatan Islam tak perlu menggunakan kekuatan, cukup lindungilah semua sekte Islam yang saling berlawanan sehingga mereka bisa dengan aman untuk menghancurkan lawannya. Ajaran Islam sendiri itulah yang mengajarkan untuk saling mencurigai agar mereka bisa terpecah belah. Seharusnya kita berpikir kemungkinan bahwa AlQuran ini memang diciptakan oleh Inggris dimasa lalu untuk memecah belah kekuatan Islam. Kenyataannya, Islam itu pernah jaya sewaktu belum ada AlQuran, kehancuran Islam itu justru setelah semua umat Islam membaca dan memiliki AlQuran yang dicetak oleh mesin2 cetak lawannya. Tak ada yang bisa menyangkal kalo AlQuran merupakan buku yang berisi ajaran yang paling mujarab untuk menimbulkan perang sesama umat untuk saling memusnahkan. Semua ayat alQuran cuma berisi ajaran untuk waspada kepada musuh, mencurigai siapapun juga sebagai musuh, murtad, dsb. Enggak heran kalo Ahamadiah dihancurkan karena dicurigai murtad, Sunny dituduh murtad, Syiah dituduh murtad, sehigga cuma lawannya saja yang tidak perlu dimurtadkan meskipun dikafirkan tak mampu untuk dihancurkan. Israel negeri yang sekecil timor itu mampu menundukkan Arab yang seluas Cina. Harusnya umat Islam prihatin, tetapi malah yang dipikirkan adalah umat lain katimbang memperkuat umat sendiri. Belum kuat sudah menyerang umat lainnya, apa yang diharapkan bisa berhasil ???? Semua itu akibat kebohongan2 dalam dunia Islam yang selalu berbual se-olah2 merupakan umat terkuat didunia, ditakuti dunia, dsb, dsb. Kebohongan2 dunia Islam ini tentu dibantu oleh Konspirasi Amerika seperti buku2 Huntington yang sangat membanggakan dunia Islam atas tulisannya yang menyatakan se-olah2 setelah runtuhnya komunis maka Islam merupakan ancaman yang lebih kuat dari komunis. Dengan berpedoman tulisn Huntington inilah umat Islam berani sombong menantang Amerika, dan hasilnya sama2 kita tahu seperti laler menyerbu api lilin, dimana apinya tetap menyala dan lalernya juga menyala untuk kemudian mati selamanya. Memang mengadu domba itu penting, dan Islam juga punya strategi adu domba yang tak lagi populer karena lawannya juga bisa baca strategi busuk itu dalam AlQuran yang bebas dibaca semua orang. Kalo dulu, ulama Islam merahasiakan ajaran2 Islam, hanya kepada pemimpin2 Islam saja yang bisa memahami ajaran2 Islam sedangkan anak buah cukup mempercayakan kehidupannya kepada sang pemimpin sehingga lawan tak bisa mempelajari taktik dan strategi Islam dalam perang menghadapi lawan2nya. Tapi dizaman sekarang dimana AlQuran justru lebih banyak dimiliki lawannya, apa lagi yang bisa jadi modal untuk berperang ??? Amerika tak perlu mengadu domba negara2 di Timur Tengah, karena mereka sudah saling beradu tanpa harus diadu. Amerika cukup membantu kedua belah pihak, yang kalah diperkuat, setelah yang lemah mendapat kekuatan menjadi lebih menang, gantian lawan yang sekarang kalah juga dibantu sehingga perangnya tak pernah selesai berlangsung sepanjang masa. Can cara2 ini tidak bisa dinamakan adu domba melainkan mengatur "keseimbangan kekuatan". Demikianlah Amerika cukup menciptakan apa yang dinamakan "balance of power" yang artinya tidak boleh siapapun yang memiliki kekuatan yang lebih dominan satu dari lainnya sehingga kehadiran kekuatan Amerika dibutuhkan oleh semua pihak untuk perdamaian di regional ybs. Amerika bukanlah menciptakan kondisinya, melainkan memanfaatkan kondisi yang ada yaitu ajaran islam yang mengadu domba umatnya yang sangat bermanfaat untuk Amerika. KALO ANDA MAU TANYA SIAPA YANG BIADAB, TAK BISA DISANGKAL AJARAN ISLAM ITU SENDIRI YANG BIADAB YANG MENGADU DOMBA UMATNYA SENDIRI UNTUK KEMUDIAN BISA DIMANFAATKAN AMERIKA. AMERIKA TAK BISA DITUDUH BIADAB KARENA MEMANG CUMA MEMANFAATKAN APA YANG ADA DALAM ALQURAN UNTUK KEPENTINGAN BANGSA DAN RAKYATNYA. Kalo Islam benci kepada Yahudi / Israel, maka kebencian itu bisa dimanfaatkan Amerika untuk membatasi dominasi Israel di teluk, sedangkan dilain pihak kekuatan Israel bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan kekuatan Islam diteluk. Situasi saling benci dan bermusuhan ini sudah ada dalam AlQuran, dan Amerika cukup memelihara kebencian dan ajaran AlQuran ini demi kesuksesan politiknya. Apakah memang AlQuran itu diciptakan oleh Amerika? Atau kebetulan saja Amerika menemukan AlQuran yang bisa dimanfaatkan ??? Untuk hal ini harus anda tanyakan langsung kepada Allah yang katanya menurunkan AlQuran itu sendiri. Ny. Muslim binti Muskitawati. Ny. Muslim binti Muskitawati. > Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah memulai > penggempuran terhadap Irak. Meskipun kenyataannya kebanyakan negara > di seluruh dunia, bahkan sebagian besar sekutu AS sendiri, > menentangnya, pemerintahan AS bersikukuh untuk meneruskan rencana > serangannya. Ketika kita melihat apa yang ada di balik sikap keras > kepala AS ini, maka Israel-lah satu-satunya yang bertanggung jawab > atas pertumpahan darah dan penderitaan di Timur Tengah sejak awal > abad kedua puluh. Kebijakan pemerintah Israel yang ditujukan untuk > memecah-belah Irak memiliki akar sejarah yang panjang" > RENCANA ISRAEL MEMBAGI IRAK > Laporan berjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties" > (Strategi Israel di Tahun 1980-an), oleh majalah berbahasa Ibrani > terbitan Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan menjadikan seluruh > kawasan Timur Tengah sebagai wilayah pemukiman Israel. Laporan > tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon - seorang wartawan Israel > yang pernah dekat dengan kementrian luar negeri Israel - memaparkan > skenario "pembagian Irak" sebagaimana berikut: > Irak, negeri kaya minyak yang menghadapi masalah perpecahan dalam > negeri, dijamin bakal menjadi sasaran Israel. Mengakhiri riwayat > Irak jauh lebih penting bagi kita ketimbang Syria" Sekali lagi, Irak > pada intinya tidaklah berbeda dengan para tetangganya, meskipun > sebagian besar penduduknya adalah penganut Syi'ah dan sebagian kecil > Sunni yang menguasai pemerintahan. Enam puluh lima persen > penduduknya tidak memiliki andil dalam politik di negara di mana > sekelompok elit berjumlah 20 persen memegang kekuasaan. Selain itu > terdapat minoritas Kurdi berjumlah besar di wilayah utara, dan jika > bukan karena kekuatan rezim yang memerintah, angkatan bersenjatanya, > dan pemasukannya dari minyak, masa depan Irak akan takkan berbeda > dengan nasib Libanon di masa lalu" Dalam kasus Irak, pembagiannya > menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis suku atau agama > sebagaimana yang terjadi pada Syiria di masa kekhalifahan > Utsmaniyyah adalah sesuatu yang mungkin. Jadi, tiga (atau lebih) > negara kecil akan terbentuk di sekitar tiga kota utama: Basrah, > Baghdad, dan Mosul; dan wilayah kaum Syi'ah di selatan akan terpisah > dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara. > Kita hanya perlu sedikit mengingat kembali bagaimana skenario ini > sebagiannya telah dilakukan pasca Perang Teluk 1991, di mana Irak > secara efektif, kalau tidak secara resmi, dibagi menjadi tiga > wilayah. Fakta bahwa rencana AS menduduki Irak, yang sedang > dilakukan saat tulisan ini dibuat, dapat kembali mendorong > terbaginya wilayah tersebut, merupakan sebuah ancaman nyata. > PERAN ISRAEL DALAM PERANG TELUK > Penerapan strategi Israel telah dilakukan sejak tahun 1990. Saddam > Hussein menyerbu Kuwait dalam serangan mendadak pada tanggal 1 > Agustus 1990, sehingga memunculkan krisis internasional. Israel > menjadi pemimpin bagi kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya > krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap yang dianut AS > menyusul serangan terhadap Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap > AS bersikap moderat, dan menginginkan adanya kebijakan yang lebih > keras. Sedemikian jauhnya sehingga Presiden Israel, Chaim Herzog, > menganjurkan agar AS menggunakan bom nuklir. Di sisi lain, lobi > Israel di AS tengah berupaya untuk mendorong terjadinya serangan > berskala luas atas Irak. > Seluruh keadaan ini mendorong terbentuknya pandangan di AS bahwa > serangan terhadap Irak yang sedang dipertimbangkan, sesungguhnya > dirancang demi kepentingan Israel. Komentator terkenal, Pat > Buchanan, merangkum pandangan ini dalam kalimat " Hanya ada dua > kelompok yang menabuh genderang perang di Timur Tengah - Kementrian > Pertahanan Israel dan kelompok pendukungnya di Amerika Serikat." > (http://www.infoplease.com/spot/patbuchanan1.html) > Israel juga telah memulai kampanye propaganda serius dalam masalah > ini. Karena kampanye ini sebagian besar dilancarkan secara rahasia, > maka Mossad pun terlibat pula. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, > memberikan informasi penting mengenai hal ini. Menurutnya, Israel > telah berkeinginan melancarkan peperangan bersama AS melawan Saddam > jauh sebelum krisis Teluk. Bahkan Israel telah memulai melaksanakan > rencana tersebut segera setelah berakhirnya perang Iran-Irak. > Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP - > LohAma Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik > disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam > sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia. > (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 252-254). > AGEN MOSSAD BERBICARA TENTANG PERANG TELUK > Ostrovsky menjelaskan bagaimana Mossad menggunakan para agen atau > simpatisan di berbagai belahan dunia dalam kampanye ini dan > bagaimana, misalnya, Amnesty International atau "para penolong > Yahudi sukarelawan (sayanim)" di konggres AS dikerahkan. Di antara > cara yang digunakan dalam kampanye tersebut adalah rudal yang > diluncurkan ke sasaran-sasaran penduduk sipil di Iran selama perang > Iran-Irak. Sebagaimana dijelaskan Ostrovsky, penggunaan rudal-rudal > ini oleh Mossad di kemudian hari sebagai sarana propaganda sungguh > janggal, sebab rudal-rudal tersebut ternyata telah diarahkan ke > sasarannya oleh Mossad, dengan bantuan informasi dari satelit AS. > Setelah mendukung Saddam selama perangnya melawan Iran, Israel kini > tengah berupaya menampilkannya sebagai seorang monster. Ostrovsky > menulis: > Para petinggi Mossad mengetahui bahwa jika mereka dapat menjadikan > Saddam terlihat sebagai sosok sangat jahat dan sebagai ancaman bagi > pasokan minyak Teluk, yang hingga saat itu ia telah menjadi > pelindung pasokan tersebut, maka Amerika Serikat dan sekutu- > sekutunya takkan membiarkan Saddam begitu saja, tapi akan membuat > perhitungan yang akan menghancurkan angkatan bersenjata dan kekuatan > persenjataanya, khususnya jika mereka sampai yakin bahwa ini > hanyalah kesempatan terakhir mereka sebelum Saddam menggunakan > senjata nuklir. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. > 254) > Israel sangat bersikukuh dalam masalah ini, dan dalam kaitannya > dengan Amerika Serikat, pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar > Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa > diplomatis kepada William Brown, duta besar AS untuk Israel, dengan > mengatakan bahwa Israel "menginginkan AS akan memenuhi semua tujuan- > tujuan yang ditetapkan Israel untuk mereka sendiri di awal krisis > teluk," dengan kata lain AS hendaknya menyerang Irak. Menurut Levy, > jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri. > (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous Liaison, hlm. 356.) > Akan sangat menguntungkan bagi Israel jika AS terlibat perang tanpa > keterlibatan apa pun di pihak Israel: dan inilah yang benar-benar > terjadi. > ISRAEL MEMAKSA AS BERPERANG > Akan tetapi, kalangan Israel terlibat secara aktif dalam perencanaan > perang oleh AS. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancang > Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis > jitu dari kalangan Israel bahwa "cara terbaik melukai Saddam adalah > dengan melancarkan serangan terhadap keluarganya." > Kampanye propaganda yang diilhami Mossad sebagaimana dilaporkan > Ostrovsky membentuk dukungan publik yang diperlukan dalam Perang > Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah yang berperan > menyulut api peperangan. Lembaga pelobi Hill and Knowlton, yang > dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel, mempersiapkan > rancangan yang dramatis guna meyakinkan para anggota Konggres > perihal perang melawan Saddam. Turan Yavuz, wartawan Turki terkenal, > memaparkan kejadian tersebut: > 9 Oktober 1990. Lembaga pelobi Hill and Knowlton mengadakan > pertemuan di Konggress yang bertemakan "Kebiadaban Irak." > Sejumlah "saksi mata" yang dihadirkan dalam acara itu oleh lembaga > pelobi tersebut menyatakan bahwa tentara Irak membunuh bayi-bayi > baru lahir di bangsal-bangsal rumah sakit. Seorang "saksi mata" > memaparkan kekejaman itu dengan sangat rinci, dan mengatakan bahwa > para prajurit Irak telah membunuh 300 bayi baru lahir di satu rumah > sakit saja. Berita ini sungguh mengguncang para anggota Konggress > tersebut. Ini menguntungkan bagi pihak Presiden Bush. Namun, > belakangan diketahui bahwa saksi mata yang dihadirkan oleh lembaga > pelobi Hill and Knowlton di hadapan Konggres ternyata adalah anak > perempuan duta besar Kuwait untuk Washington. Kendatipun demikian, > kisah yang dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup bagi para > anggota Konggress untuk menjuluki Saddam sebagai "Hitler". (Turan > Yavuz, ABD'nin Kürt Karti (The US' Kurdish Card), hlm. 307) > Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan saja: Israel berperan > penting dalam kebijakan Amerika Serikat untuk melancarkan perang > pertamanya terhadap Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak berbeda. > ALIH-ALIH "PERANG TERHADAP TERORISME" > Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana untuk menyerang > Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata > telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak > lama sebelum dilancarkannya "perang mewalan terror," yang mengemuka > pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama adanya rencana ini > mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di > Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan > memanfaatkan lembaga think-tank "konservatif baru", yang dinamakan > PNAC, Project for The New American Century (Proyek bagi Abad Amerika > Baru). > Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New Idea for Bush > Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set" (Penyerangan atas Irak > Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch > dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta > berikut: > Namun kenyataannya, Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan > sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana > penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 hampir empat tahun > sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush > memegang pemerintahan. > Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar > mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi > Abad Amerika Baru, atau PNAC yang berhubungan erat dengan Cheney, > Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara > lelaki Bush, Jeb bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, > untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998. (William Bunch, > Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003) > MINYAKKAH YANG MENJADI TUJUAN SEBENARNYA? > Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh untuk menggulingkan > Saddam? Artikel yang sama melanjutkan: > Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan kebijakan PNAC terhadap > Irak, namun tampaknya ini bukanlah pendorong utama. [Ian] Lustick, > [seorang profesor ilmu politik Universitas Pennsylvania dan ahli > Timur Tengah,] yang juga pengecam kebijakan Bush, mengatakan bahwa > minyak dipandang oleh para pendukung perang terutama sebagai cara > untuk membayar operasi militer yang sangat mahal. > "Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan yang saya kenal > menentang tindakan militer terhadap Irak," kata Schmitt dari > PNAC. "Pasar minyak tidak perlu diganggu." > Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang sangat berpengaruh kuat > kemungkinan adalah Israel. Ia mengatakan para pendukung perang dalam > pemerintahan Bush yakin bahwa parade pasukan di Irak akan memaksa > Palestina menerima rancangan perdamaian yang menguntungkan > Israel"(William Bunch, "Invading Iraq not a new idea for Bush > clique" Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003) > Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk menyerang Irak: > membantu strategi Israel di Timur Tengah. > Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur Tengah lainnya. > Misalnya Cengiz Çandar, ahli Timur Tengah asal Turki, memaparkan > kekuatan sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas Irak > sebagaimana berikut: > "Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak? Wakil Presiden Dick > Cheney, Menteri Pertahanan Rumsfeld, Penasehat Keamanan Dalam Negeri > Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung "tingkat tinggi" > terhadap penyerbuan tersebut. Akan tetapi, selebihnya dari gunung es > tersebut sungguh lebih besar dan lebih menarik. Terdapat > sejumlah "lobi." > Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish Institute for > Security Affairs (Lembaga Yahudi untuk Masalah Keamanan) JINSA, yang > merupakan kelompok kanan Israel pro-Likud yang dikenal memiliki > hubungan dekat dengan industri-industri senjata AS" Mereka memiliki > hubungan erat dengan "lobi persenjataan," Lockheed, Northrop, > General Dynamics dan industri militer Israel" Prinsip mendasar JINSA > adalah bahwa keamanan AS dan Israel adalah tak terpisahkan. Dengan > kata lalin, keduanya adalah sama. > Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan rezim Saddam di Irak, > tetapi juga mendukung penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir > dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti > dengan "penegakan" demokrasi. Dengan kata lalin, sejumlah Yahudi > Amerika yang seirama dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di > Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang mendukung perang di > Washington. (Cengiz Çandar, "Iraq and the 'Friends of Turkey' > American Hawks", Yeni Safak, 3 September 2002.) > PROYEK ISRAEL "PENGUASAAN DUNIA SECARA DIAM-DIAM" > Singkatnya, terdapat kalangan di Washington yang mendorong > terjadinya perang yang awalnya dilancarkan terhadap Irak, dan > setelah itu terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri > mereka paling kentara adalah mereka berbaris di samping, dan bahkan > sama dengan, "lobi Israel." > Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara tentang "kepentingan > Amerika," orang-orang ini sebenarnya mendukung kepentingan Israel. > Strategi melancarkan peperangan terhadap seluruh Timur Tengah > sehingga menjadikan seluruh rakyat di kawasan tersebut bangkit > melawan AS tak mungkin akan menguntungkan pihak AS. Penggunaan > strategi seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk > pada Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa berpengaruhnya > terhadap kebijakan luar negeri negara tersebut. > Dengan alasan ini, maka di belakang strategi yang mulai dijalankan > pasca 11 September dan yang ditujukan untuk merubah peta seluruh > dunia Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk "menguasai > dunia." Sejak pendiriannya, Israel telah bercita-cita merubah peta > Timur Tengah, menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi menjadi > ancaman baginya. Israel telah menggunakan pengaruhnya di AS untuk > tujuan ini di tahun-tahun belakangan, dan memiliki andil besar dalam > mengarahkan kebijakan Washington di Timur Tengah. Keadaan pasca 11 > September memberi Israel kesempatan yang selama ini telah dicari- > carinya. Para ideolog pro-Israel yang selama bertahun-tahun secara > tidak benar telah menyatakan bahwa Islam sendirilah yang dan bukan > sejumlah kelompok radikal militan yang berbaju Islam memunculkan > ancaman terhadap Barat dan AS. Merekalah yang berusaha meyakinkan > kebenaran gagasan keliru tentang "benturan antar peradaban," dan > telah berupaya mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam setelah > peristiwa 11 September. Sudah sejak tahun 1995, Israel Shahak dari > Universitas Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan Perdana Menteri > Rabin sebagai "gagasan perang melawan Islam yang dipimpin Israel." > Nahum Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel, Yediot Ahronot, > menyatakan di tahun yang sama bahwa Israel tengah mengalami > kemajuan "[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang melawan musuh, > yakni Islam." (Israel Shahak, "Downturn in Rabin's Popularity Has > Several Causes", Washington Report on Middle East Affairs, Maret > 1995.) > Semua yang telah terjadi di tahun-tahun berikutnya adalah bahwa > Israel menjadikan niatannya semakin kentara. Iklim politik pasca 11 > September memberikan peluang untuk mewujudkan niatan ini menjadi > kenyataan. Dunia kini tengah menyaksikan tahap demi tahap menerapan > kebijakan Israel dalam memecah-belah Irak, yang telah dirancang di > Konggres Zionis Dunia pada tahun 1982. > SATU-SATUNYA JALAN MENUJU PERDAMAIAN DUNIA: PERSATUAN ISLAM > Keadaan di atas dapat dirangkum sebagai berikut: Tujuan Israel > adalah untuk menata ulang kawasan Timur Tengah menurut kepentingan > strategisnya sendiri. Untuk mencapai hal ini, untuk menguasai Timur > Tengah, wilayah paling mudah bergejolak di dunia, Israel memerlukan > sebuah "kekuatan dunia." Kekuatan ini adalah Amerika Serikat; dan > Israel, dengan kekuatan pengaruhnya terhadap AS, tengah berupaya > menggadaikan kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. > Meskipun Israel adalah sebuah negara kecil berpenduduk 4,5 juta > jiwa, rencana yang disusun Israel dan para pendukungnya di Barat > mengendalikan keseluruhan dunia. > Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan ini? > 1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka menandingi pengaruh > lobi Israel di Amerika Serikat guna membangun dialog antara AS dan > dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari cara damai dalam > memecahkan permasalahan Irak dan permasalahan serupa lainnya. Banyak > kalangan AS menginginkan negeri mereka mengambil kebijakan Timur > Tengah yang lebih adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan > dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini, dan gerakan "perdamaian > antar peradaban" harus digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan > tersebut. > 2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS kepada pemecahan masalah > secara damai haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan masyarakat > sipil. > Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling mendasar terletak > pada sebuah proyek yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan > antara dunia Islam dan Barat, dan dapat mengatasi perpecahan, > penderitaan dan kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali > merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam. > Perkembangan terakhir telah menunjukkan bahwa seluruh dunia, tidak > hanya wilayah-wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan Islam." > Persatuan ini haruslah mampu meredam unsur-unsur radikal di Dunia > Islam, dan membangun hubungan baik antar negara-negara Islam dan > Barat, khususnya Amerika Serikat. Persatuan ini juga hendaknya > membantu menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh permasalahan > yang ada: perseteruan Arab-Israel. Hanya dengan penarikan diri > Israel hingga batas wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan > bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada perdamaian sesungguhnya di > Timur Tengah. Dan umat Yahudi dan Muslim yang keduanya keturunan > Nabi Ibrahim dan beriman pada satu Tuhan saja dapat hidup > berdampingan di Tanah Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan > di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel takkan lagi > memerlukan strategi untuk mengganggu keamanan atau memecah-belah > negara-negara Arab. Dan Israel takkan menghadapi balasan atas > pendudukannya dalam bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus > terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu, keduanya, anak-anak > Israel dan Irak (juga Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang > damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah yang seharusnya > didambakan dan berusaha diwujudkan oleh setiap orang yang bijak. > > HARUNYAHYA > Quotes : " Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though the practice of meditative way of life." - Anand Krishna - Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://asia.docs.yahoo.com/info/terms

