Guantanamo, Sudahlah
Kematian tiga tawanan Guantanamo—yang diklaim sebagai bunuh diri 
oleh Pentagon—menjelma martir. Badai hujatan menerpa Washington. 
Bush mengumumkan akan menutup penjara militer itu. Benarkah? Dan, 
kapan? 
Kezaliman tak pernah abadi. Ia boleh bercokol lama, tapi tak mungkin 
selamanya. Sejak difungsikan sebagai tahanan militer Amerika Serikat 
2002 lalu, lebih empat tahun kamp Guantanamo yang terletak di 
tenggara Kuba, merampai cerita keji tentang penyiksaan dan 
penindasan Hak Asasi Manusia. Segala nasihat dari dunia 
internasional tak mempan. Semua kritik dari lembaga HAM tumpul, 
ibarat masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Lalu, terjadilah tragedi itu. Tiga tawanan Guantanamo gugur, Sabtu, 
10 Juni lalu. Dua di antaranya berkebangsaan Arab Saudi: Mani' bin 
Syaman al-Utaibi dan Yasir Thalal al-Zaharani. Seorang lainnya 
berkewarganegaraan Yaman, bernama Ahmad Abdullah. Menurut Departemen 
Pertahanan AS (Pentagon), mereka bunuh diri dengan cara gantung 
diri. 
Klaim itu dibantah mentah-mentah oleh keluarga korban, meski 
pemerintah Yaman menyatakan bahwa ada bekas luka di leher, kepala 
dan jari-jari almarhum. Ali Abdullah, ayah Ahmad Abdullah, menolak 
keras tuduhan bahwa anaknya bunuh diri. "Saya tak percaya dengan 
tuduhan bunuh diri. Anakku tidak bunuh diri. Tidak dia, ataupun 
Muslim lainnya. Anakku hapal al-Qur'an. Ia taat pada agamanya dan 
akidahnya. Tak mungkin ia bunuh diri," ujar Ali. Ia bahkan menuduh 
militer AS-lah yang membunuh anaknya. Untuk itu, ia meminta agar 
dilakukan investigasi internasional terhadap kasus ini, termasuk 
otopsi terhadap jenazah anaknya.
Keluarga korban asal Arab Saudi juga menolak tuduhan bunuh diri. 
Nahiz Gazi al-Utaibi, sepupu Mani' al-Utaibi, menyatakan, pemerintah 
Saudi telah menerima jasad kedua tahanan itu dan menginstruksikan 
otopsi untuk mengetahui sebab kematian sebenarnya. 
Utaibi juga menyampaikan penolakan keluarganya terhadap klaim 
Pentagon bahwa mereka bunuh diri. "Yang kami ketahui dari para bekas 
tahanan, teman-teman sepupuku yang dulu bersamanya di penjara 
(Guantanamo), bahwa ia sosok Muslim taat," ujar Utaibi, sembari 
mengingatkan bahwa bunuh diri diharamkan dalam Islam.
Mantan tahanan Guantanamo juga menyangsikan klaim bunuh diri yang 
dikatakan Washington. Abdul Aziz asy-Syimri, warga Kuwait yang empat 
tahun mendekam di Guantanamo, menyebut bahwa ketiga tahanan itu 
orang yang taat agama.
Kematian ketiga tawanan itu menjelma martir. Badai penolakan dan 
kecaman terhadap kezaliman Guantanamo datang menghempas Washington. 
Meski Pentagon menolak dilakukannya investigasi independen, Palang 
Merah Internasional (ICRC) telah mengirim utusannya untuk melakukan 
investigasi atas peristiwa bunuh diri ketiga tawanan itu. Hasilnya, 
tentu saja masih perlu ditunggu.
Tak ketinggalan juga, Pusat Hak-hak Konstitusional menuntut 
diadakannya investigasi independen atas kasus tersebut. Lembaga AS 
yang concern membela hak tahanan itu mengritik perlakuan sipir 
Guantanamo terhadap para tahanan. Sekumpulan pengacara itu menilai 
langkah bunuh diri sebagai sesuatu yang sudah diperkirakan 
sebelumnya, menilik situasi yang dialami para tahanan. 
Lembaga Amnesti Internasional juga meminta Uni Eropa untuk menekan 
AS agar menutup Guantanamo dan semua kamp tahanan dan penjara di 
bawah kendalinya dan menerapkan di berbagai kamp ini seluruh nilai 
dan UU internasional.
Sementara itu, Parlemen Eropa juga meneken resolusi yang isinya 
mendesak Uni Eropa (UE) untuk membahas masalah Guantanamo dengan 
Presiden AS George W Bush. Sebagaimana dinyatakan Menlu Austria 
Ursula Plassnik, sebelum pertemuan dengan Presiden Bush di 
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) UE pada 21-22 Juni lalu, masalah 
penjara Guantanamo telah menjadi perhatian UE sejak 
lama. "Pemerintah harus secepatnya menutup penjara tersebut!" 
katanya, tegas. Ia menambahkan, Washington harus menjaga nilai-nilai 
HAM dalam misi "perang melawan terorisme".
Kanselir Austria yang kena giliran menjabat Presiden Uni Eropa 
Wolfgang Schuessel turut menyatakan kegusarannya. Sesaat sebelum 
kedatangan Bush di Viena, ibu kota Austria, Schuessel 
berkomentar, "Kita tidak bisa memiliki wilayah dimana hukum tidak 
berlaku."
Dan hujatan terus mengalir. Sebagai bentuk kepedulian atas peristiwa 
dugaan bunuh diri tahanan Guantanamo itu, Persatuan Dokter Amerika 
memutuskan, lewat pemungutan suara, untuk melarang semua dokter ikut 
serta dalam penyiksaan atau interogasi terhadap tahanan. Langkah ini 
ditempuh setelah santer terdengar bahwa para dokter dan psikolog 
memainkan peran penting dalam upaya interogasi yang kejam di 
Guantanamo. Dewan Perwakilan lembaga itu—yang terdiri dari 544 
anggota—memutuskan tak akan ikut serta dalam interogasi tahanan 
dalam bentuk apa pun. Diputuskan pula untuk memberikan pelayanan 
kesehatan kepada para tahanan, seperti pasien lainnya, dengan amanah 
yang sempurna. 
Seakan semua itu belum cukup. Perwakilan keluarga para tahanan Arab 
Saudi di Guantanamo Katib Fahd Syamri menyatakan, "Klaim AS yang 
terus-menerus dinyatakan bahwa pemerintah AS berupaya melindungi 
kehidupan para tahanan telah terbongkar jelas, juga sejauh mana 
penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi." Pemerintah Riyadh juga 
telah meminta penutupan Guantanamo. 
Koran terkemuka Inggris The Guardian mengritik keras kekejian yang 
terjadi di Guantanamo dalam editorialnya. Di bawah "Guantanamo Keji 
dan tidak Konstitusional", koran itu menyatakan bahwa pemicu 
kegundahan di Guantanamo bukanlah cara perlakuan terhadap tawanan 
secara fisik. Tapi ketakpedulian hukum dari negara yang telah 
membangun identitasnya di atas hak-hak konstitusional. 
Koran yang terkenal dengan analisis tajamnya itu, menegaskan lagi, 
akhlak mulia dan keadilan itu meminta untuk menjelaskan apa yang 
terjadi di Guantanamo. Meski hal itu, kata Guardian lagi, tak 
menghalangi orang lain untuk memperbincangkan pengkhianatan terhadap 
prinsip demokrasi di AS. 
Korang terkemuka Inggris lainnya, Times menyerukan agar Presiden 
Bush memperjelas tekadnya untuk menutup penjara Guantanamo. 
Di sisi lain, dokumen internal Pentagon yang disebarkan oleh Lembaga 
Pembelaaan Kebebasan Sipil, menjelaskan tentang tawanan yang putus 
asa akibat situasi tak manusiawi di kamp militer itu. Dalam laporan 
yang terdiri dari 1000 halaman itu, disebutkan contoh upaya bunuh 
diri dengan menggunakan sapu tangan. Yang bersangkutan tak bisa 
bergerak karena luka di otak. Selanjutnya, tim dokter 
merekomendasikan untuk "dikembalikan segera ke negerinya", akibat 
kondisi stres, dimana waktu penanganannya sangat lama. Sayangnya, 
dokumen itu tidak menyebutkan apakah otoritas Guantanamo mematuhi 
perintah dokter atau tidak. Dokumen lainnya juga menyebutkan, 
tahanan lain meminta untuk dituliskan wasiatnya bahwa ia tidak ingin 
bunuh diri. Tapi belakangan, ide bunuh diri menguasainya.
Berbagai desakan ini membuat Bush harus berpikir ulang untuk 
memperpanjang "masa berlaku" Guantanamo. Dalam jumpa pers usai 
bertemu dengan para pemimpin Eropa, Rabu (21/6), Bush menyatakan 
akan menutup Guantanamo. "Saya ingin menutup Guantanamo. Saya akan 
mengakhirinya."
Schuessel yang kala itu hadir dalam jumpa pers bersama menyambut 
baik keputusan Bush itu. "Tak ada hukum di Guantanamo untuk individu 
yang semestinya dijamin hak dan kemerdekaannya," ujarnya. 
Kabar baik memang. Sayangnya, Bush mengaku tak akan melepaskan semua 
tahanan itu, yang sebagian besarnya berasal dari Arab Saudi, 
Afghanistan dan Yaman. Untuk kategori "pembunuh berdarah dingin" 
yang dikhawatirkan dapat "membunuh di jalanan" tetap akan berada 
dalam tahanan AS. Untuk itu, Bush mengaku masih menunggu keputusan 
Mahkamah Agung (Supreme Court) untuk menangani pengadilan para 
tahanan itu. 
Tapi, Bush belum merinci tanggal pasti penutupan Guantanamo itu. 
Persis seperti kebijakan Bush di Irak. Berniat hengkang dan menarik 
pasukannya sejak lama, namun hingga kini masih bercokol. Dalihnya, 
tentara sekutu "masih dibutuhkan" di bumi 1001 Malam itu. 
Guantanamo adalah markas militer terakhir AS di Amerika Latin, yang 
terletak di teluk tenggara Kuba, sekitar 1000 km dari ibu kota 
Havana. Terdapat sekitar 460 tawanan di penjara militer yang 
terkenal dengan pasukan Deltanya itu, termasuk juru kamera Aljazeera 
di Afghanistan Sami al-Hajj. Hanya 10 dari tahanan yang telah 
dituntut secara hukum, meski hingga kini belum pernah diadili di 
depan komisi militer khusus. Kebanyakan mereka yang ditahan 
dicurigai sebagai anggota al-Qaidah atau Thaliban dan ditangkap pada 
pengujung 2001. 
Kalau jadi ditutup, bagaimana selanjutnya? PBB melalui pejabat 
komisi kasus penyiksaan tahanan, Manvred Novak, telah meminta Uni 
Eropa untuk menerima sebagian tahanan eks Guantanamo, ketika penjara 
itu ditutup. Dalam wawancaranya dengan radio Jerman, ia menyatakan 
bahwa jika Bush setuju menutup Guantanamo, maka Eropa akan menarik 
beberapa tuntutannya. "Adalah masuk akal selanjutnya, agar negara-
negara Eropa yang meragukan konstitusionalnya tahanan Guantanamo—dan 
sikap itu benar—untuk memberikan bantuan." 
Jadi tidaknya, Guantanamo ditutup, masih perlu ditunggu. Jangan 
sampai, rencana penutupan itu hanya siasat mencairkan suasana, 
akibat tak tahan terhadap desakan Uni Eropa. Pasalnya, banyak sekutu 
AS dalam invasi ke Irak yang telah berganti pemerintahan. Mulai dari 
Spanyol yang telah digantikan oleh Perdana Menteri (PM) Jose Luis 
Zapatero, pemerintah Italia yang telah digantikan oleh PM Romano 
Prodi, lalu citra PM Tony Blair yang terus merosot di Inggris akibat 
invasi ke Irak. 
Tak jelas alasan Washington untuk mempertahankan keberadaan 
Guantanamo, kecuali sekadar bukti tentang arogansi sebuah negara 
yang kebal hukum. Sesuatu yang takkan bertahan lama. Sudahlah. 

M. Nurkholis Ridwan
Aljazeera, AFP, BBC






Quotes : 
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no 
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this 
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though 
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna - 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 


Kirim email ke