RUHANI-1
Ruhani itu apa ?
Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi jasmani dan ruhani,
jiwa dan raga. Meski tubuh manusia juga memiliki kerumitan, tetapi
ilmu yang berbicara tentang kesehatan tubuh sudah sangat maju,
jumlah dokter sudah sangat banyak, industri obat juga sudah
berkembang pesat. Sedang ilmu yang berbicara tentang dimensi ruhani
manusia, masih jauh tertinggal, konsep keruhanian juga masih belum
final perumusannya, ahli kesehatan ruhaninya bukan saja kurang
tetapi juga tidak ada standarisasi. Ketika kita dipaksa harus
menjawab pertanyaan; hakikat manusia sesungguhnya jasmaninya atau
ruhaninya ? maka hampir pasti kita menjawab yang kedua. Sehari-
haripun orang awam berkata, manusia itu yang penting kan hatinya,
yang penting jiwanya.
Ruhani itu apa ?
Kata ruhani berasal dari kata ruh. Dalam bahasa Arab kalimat ruh
mempunyai banyak arti. Disamping kata ruh ada kata (rih) yang
berarti angin dan rauh - yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa
Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu,
perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia
digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam
bahasa Arab, kalimat (ruhaniyyun- ruhaniy) digunakan untuk menyebut
semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan
jin, Dalam Al-Qur'an, ruh juga digunakan bukan hanya satu arti. Term-
term yang digunakan Al-Qur'an dalam menyebut ruh, bermacam-macam.
Pertama ruh disebut sebagai sesuatu :
ويسئلونك عن
الرّوح قل
الرّوح من امر
ربّى وما
أوتيتم من
العلم الاّ
قليلا
artinya : Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, jawablah
bahwa ruh itu urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberitahu tentang
ruh itu kecuali hanya sedikit (Q/17:85)
Melihat dari latar belakang turunnya ayat tersebut , yaitu
pertanyaan orang tentang ruh yang belum bisa dijawab secara
memuaskan oleh manusia ketika itu adalah ruh manusia yang menjadikan
seseorang masih tetap hidup .Jawaban singkat Al-Qur'an atas
pertanyaan itu menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi rahasia yang
hanya diketahui oleh Tuhan. Kebanyakan penyebutan ruh dalam Al-
Qur'an seperti dalam surat al Anbiyā/21:91), dan surat as
Sajdah/32:9) juga Q/66:12, Q/15:29, Q/38:72) adalah menunjuk pada
ruh dimaksud diatas.
Selanjutnya Al-Qur'an juga banyak menggunakan kalimat ruh untuk
menyebut hal lain, seperti :
1. malaikat Jibril, atau jenis malaikat lain,
الرّوح
الأمين arruh
al amin seperti yang tersebut dalam surat Q/26:193, Q/2:87,
Q/16:102, Q/70:4, Q/7838, Q/97:4),
2. rahmat Allah kepada kaum mu'minin
(وأيّدهم بروح
منه) seperti
yang tersebut dalam surat al Mujādilah/58:22)
3. kitab suci Al-Qur'an (وكذلك
أوحينا اليك
روحا من
أمرنا)
seperti dalam surat as Syūra/42:52).
Penyebutan ruh untuk Al-Qur'an menurut para mufassir dinisbatkan
kepada ruh kebenaran yakni bahwa al Qur'an merupakan penyebab
adanya kehidupan akhirat seperti yang disifatkan dalam surat
al `Ankabūt/29:64 bahwa akhirat itu adalah kehidupan yang
sebenarnya (وانّ
الدّار
الآخرة لهى
الحيوان). Sedangkan ruh dalam
hubungannya dengan Nabi Isa, seperti yang tersebut dalam surat an
Nisā/4: 171 (انّما
المسيح عيسى
ابن مريم رسول
الله وكلمته
القاها الى
مريم
وروح منه) sebagian mufassir
menyebut bahwa kalimat وروح منه bukan
dalam arti ditiupkan ruh dari Allah tetapi Isa itu sendiri adalah
wujud rahmat dan cinta Nya.
Aspek-Aspek Ruhani Manusia
Berbeda dengan aspek-aspek jasmani manusia yang dapat dilihat dan
dikonfirmasi dengan alat, aspek-aspek ruhani manusia hanya bisa
diakses melalui fikiran dan perasaan. Instrumen keruhanian manusia
seperti yang disebut dalam al Qur'an adalah `aql, qalb, nafs,
syahwat, hawa, dan bashirah, yang kesemuanya berada dalam sistem
nafsani.
1.`Aql (akal) lebih merupakan aspek intelektual manusia yang
kerjanya berfikir dan problem solving capasity, mampu menemukan
kebenaran tetapi bukan menentukannya. Istilah akal yang sehat (al
`aql as salim) sering digunakan untuk menyebut kesehatan seluruh
aspek ruhani.
2.Qalb (hati) merupakan pusat kendali sistem ruhani, alat untuk
memahami realita dan pemutus tindakan, berkesadaran.Hati hanya
memutus apa yang disadari, sedang apa yang sudah dilupakan tidak
lagi berada dalam hati, tetapi di dalam file alam bawah sadar di
dalam nafs, yang terkadang muncul dalam mimpi. Tabiat hati itu
inkonsisten, berubah-ubah. Istilah hati yang sehat (qalbun salim)
juga digunakan untuk menyebut kesehatan seluruh sistem nafsani.
3.Bashirah (hati nurani) merupakan titik Tuhan (God Spot), atau
menurut ilmu tasauf sebagai cahaya ketuhanan yang ada dalam hati
(nurun yaqdzifuhullah fi al qalb). Berbeda dengan hati yang
bertabiat inkonsisten, nurani kejujuranya sangat konsisten dan tidak
mau diajak kompromi. Jika anda merasa iba, empati, menangis di
Ka`bah, itu semua bersumber dari kejujuran nurani.
4.Syahwat, merupakan penggerak tingkah laku (motiv). Menurut al
Qur'an manusia dihiasi dengan syahwat kepada lain jenis (seksual)
anak-anak (kebanggan), perhiasan atau benda berharga (kebanggaan ),
kendaraan yang bagus (kebanggan dan manfaat), ternak dan kebun
(manfaat dan kebanggan). Syahwat sifatnya netral, dan halal
sepanjang prosedurnya benar.
5.Hawa (dalam bahasa Indonesia menjadi hawa nafsu), adalah syahwat
kepada kepada sesuatu yang rendah, yang haram, yang merusak, yang
berdosa. Menyalurkan syahwat seksual degan menikah bernilai ibadah,
berpahala, menyalurkannya melalui zina adalah wujud hawa nafsu,
berdosa. Ingin kaya dengan kerja keras adalah ibadah , jika dengan
korupsi adalah wujud dari hawa. Tabiat hawa adalah ingin mereguk
kenikmatan sesegera mungkin dan tak peduli kepada akibat. Jika hati
dan akal senang merenung ulang, mempertimbang untung rugi, maka hawa
nafsu mengedepankan aji mumpung, sikat duluan mikir belakangan.
Begitu kuatnya pengaruh hawa sehinga menurut al Qur'an ada orang
yang mempertuhankan hawa (ittakhaza ilahahu hawahu), maksudnya dalam
hidupnya ia tunduk patuh kepada tuntutan hawa nafsu, membelakangkan
akal sehat dan hati nurani.
Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com