Saya melangkah keluar dari perpustakaan F Psikologi UI. Di luar, 
dekat selasar, saya melihat bendera palestina terpampang lebar dengan 
tulisan arab lailahaillallah. Saya mendekati bendera itu. Di 
sampingnya ada poster yang bergambar wajah warga palestina yang 
terjajah. Entah kenapa saya menjadi gemetar, padahal ini bukanlah hal 
baru. Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya. Berjuta tanya 
berkecamuk dikepala saya. Kenapa ? kenapa ????!! ketika teman2 saya, 
saudara-saudara saya sedang memikirkan nasib saudara-saudaraku nun 
jauh di palsetina sana, apakah mereka juga memberi porsi yang sama 
untuk memikirkan penderitaan saudaranya di Indonesia, tetangga 
terdekat mereka sendiri. Penderitaan tetangga kita mungkin sama 
besarnya dengan penderitaan saudara kita di palestina. Bahkan, bisa 
jadi lebih buruk. Hanya saja di palestina terlihat jelas karena ada 
korban dan aliran darah. Tapi saudara kita di Indonesia, mereka 
justru lebih parah karena derita mereka tidak terlihat dan tidak 
terblow-up. 
  
   Saya bertanya di dalam hati, apa yang teman-temanku di psikologi, 
temanku-temanku di ui, apa yang mereka pikirkan ketika melihat 
tangisan anak-anak karena mengalami gizi buruk, tangisan orang-orang 
yang anak/istri/suami/orang tua yang harus mati setelah mengalami 
pengeboman, kelangkaan minyak tanah, penanganan bencana yang begitu 
lambat bahkan dananya di sunat, perang antar suku, orang-orang yang 
menderita penyakit parah tapi tidak mampu ke rumah sakit karena tidak 
punya uang, ibu yang terpaksa bunuh diri bersama anaknya karena tidak 
sanggup lagi menghidupi keluarganya, pengangguran yang semakin 
meluas, korupsi yang belum tertangani, TKW yang diperkosa dan tidak 
dibayar gajinya di luar negeri, anak-anak yang harus putus sekolah 
karena biaya pendidikan semakin mahal, dan jutaan problematika bangsa 
lainnya. Apakah kita memikirkan penderitaan mereka ? apakah kita 
trenyuh ketika mendengarkan setiap tangisan anak bangsa seperti kita 
trenyuh ketika mendengar tangisan saudara kita di palestina. ?
  
   Mungkin kita lebih peka terhadap penderitaan saudara kita di 
palestina karena menurut kita,mereka adalah saudara seiman. Lalu di 
mana letak rahmatan lil alamin kita ? HhhÂ…mungkin kalau itu memang 
alasan utamanya, alangkah baiknya kalau teman2 tahu bahwa di 
palestina sana, tidak hanya di huni warga islam, tapi juga kristian, 
dan agama lain. Lalu siapa yang sedang kita bela ? apa yang sedang 
kita bela ? sengketa tanah antar yahudi dan palestina yang kebetulan 
satu beragama yahudi dan satu beragama islam ? tapi sudahlah..bukan 
itu yang ingin saya sampaikan. Saya tidak meminta teman2 untuk 
berhenti memikirkan permasalahan saudara kita di sana. Tapi coba beri 
proporsi yang sama atau mungkin lebih terhadap kondisi bangsa kita 
karena bagaimanapun kita hidup dari tanahnya. Kita makan dan minum 
dari sumber yang dikeluarkan dari perut ibu pertiwi. Bukan membuat 
sekat geografis seperti kata hasan al banna, saya pun setuju dengan 
beliau bahwa tidak ada sekat lagi bagi sebuah persaudaraan. Tapi 
dengan satu catatan khusus, ketika kita memang tidak membuat sekat 
geografis, jangan hanya berlaku untuk orang muslim saja tapi bagi 
persaudaraan seluruh umat manusia apapun agama, suku, warna kulit, 
dan jenis kelaminnya, jika memang kita mengaku sebagai rahmatan lil 
alamin. Dan tentu saja, orang yang paling pertama kita selamatkan 
adalah tetangga terdekat kita. Jika tetangga kita memang sudah benar2 
selamat sejahtera, baru setelah itu kita menolong saudara kita nun 
jauh di sana.  Percayalah, jika tetangga kita tidak sejahtera, kita 
pun tidak akan sejahtera. Coba bayangkan, karena tetangga kita 
kelaparan, terpaksa dia mencuri di rumah kita, lalu terjadi 
pemerkosaan, pembunuhan di rumah kita. Setelah itu, masihkah kita 
bisa memikirkan nasib orang lain nun jauh di sana ? wallahu alam bis-
showab

salam kasih

ninik

Kirim email ke