Bukan 2007, Seharusnya Tahun Baru 2012
Oleh IRFAN ANSHORY (*) DENGAN tidak terasa kita memasuki tahun 2007 Masehi,
meskipun tidaklah salah jika ada yang mengatakan bahwa sekarang adalah tahun
1385 (Persia), 1427 (Hijriah), 1928 (Saka), 1939 (Jawa), 1943 (Sunda), 2550
(Buddha), 2557 (Imlek), 2667 (Jepang), atau 5767 (Yahudi).
Bulan mengelilingi bumi dalam 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik atau 29,5306
hari (satu bulan). Jika dikalikan dua belas, hasilnya 354 hari 8 jam 48 menit
34 detik atau 354,3672 hari, waktu satu tahun bagi kalender berdasarkan bulan
(lunar atau qamariyah). Bagi kalender berdasarkan matahari (solar atau
syamsiyah), waktu satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari,
yaitu 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari. Oleh karena jumlah
hari dalam setahun tidak bulat, harus ada tahun-tahun tertentu yang dibuat
sehari lebih panjang (tahun kabisat, leap year). Kalender lunar memiliki tahun
biasa 354 hari dan tahun kabisat 355 hari, sedangkan bagi kalender solar 365
dan 366 hari.
Kalender Romawi
Kalender Masehi pada hakikatnya adalah kalender Romawi yang bermula sejak
tujuh setengah abad sebelum Nabi Isa al-Masih a.s. lahir. Ketika Romulus dan
Remus mendirikan kota Roma tahun 753 SM menurut hitungan sekarang, mereka
membuat kalender lunar. Awal tahun adalah awal musim semi, dan tahun
pembangunan Roma ditetapkan sebagai tahun 1 AUC (ab urbi condita = "sejak kota
dibangun").
Nama-nama bulan adalah Martius (Mars, dewa perang), Aprilis (Aprilia, dewi
cinta), Maius (Maya, dewi kesuburan), Junis (Juno, istri dewa Jupiter),
Quintilis (bulan ke-5), Sextilis (bulan ke-6), September (bulan ke-7), October
(bulan ke-8), November (bulan ke-9), December (bulan ke-10), Januari (Janus,
dewa penjaga gerbang langit), dan Februari (Februalia, dewi kesucian). Setiap
bulan 30 hari, kecuali Februari sebagai bulan terakhir hanya 24 atau 25 hari,
sehingga jumlah setahun 354 atau 355 hari. Agar tahun baru tanggal 1 Martius
tetap jatuh pada awal musim semi, setiap tiga tahun disisipkan bulan ke-13,
Mercedonius, setelah Februari.
Pada tahun 709 AUC (tahun 46 SM menurut kita sekarang), kalender lunar Romawi
berubah menjadi kalender solar yang ditiru dari bangsa Mesir. Kehidupan
masyarakat Mesir sangat tergantung pada pasang dan surut Sungai Nil, sehingga
mereka sejak tahun 4236 SM menggunakan kalender solar untuk menandai musim
banjir, musim tanam dan musim panen. Penguasa Romawi saat itu, Julius Caesar,
bobogohan dengan Cleopatra Ratu Mesir. Untuk mengambil hati kekasihnya, Julius
Caesar mengubah kalendernya menjadi kalender solar. Aneh tapi nyata: kalender
berubah gara-gara cinta!
Dengan bantuan Sosigenes, seorang ahli astronomi Yunani di Iskandariah, awal
tahun Romawi serta jumlah hari dalam setiap bulan disesuaikan dengan kalender
Mesir. Tahun baru digeser dari Martius (Maret) menjadi Januari. Akibatnya,
September yang artinya "bulan ke-7" (septem = tujuh) menjadi bulan ke-9. Nama
bulan Quintilis diganti bulan Julius, diambil dari namanya sendiri. Banyaknya
hari dalam sebulan: Januari 31, Februari 28 atau 29, Martius 31, Aprilis 30,
Maius 31, Junis 30, Julius 31, Sextilis 31, September 30, October 31, November
30, dan December 31. Tahun 709 AUC itu ditetapkan oleh Julius Caesar sebagai
tahun 1 Julian.
Kaisar Romawi berikutnya, Octavianus Augustus, ingin juga mengabadikan
namanya dalam kalender. Namanya, Augustus, dipakai mengganti nama bulan
Sextilis. Untunglah kaisar-kaisar sesudahnya tidak memiliki keinginan serupa,
sehingga nama-nama bulan tidak lagi mengalami perubahan.
Tahun Masehi
Setelah bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, kalender Julian tetap digunakan,
bahkan makin meluas pemakaiannya di kalangan bangsa-bangsa Eropa. Pada tahun
572 Julian, seorang pejabat tinggi kepausan di Roma, Dionisius Exiguus,
menetapkan perhitungan tahun Anno Domini ("Tahun Tuhan"). Berdasarkan perkiraan
Dionisius bahwa Nabi Isa al-Masih a.s. lahir tahun 47 Julian, maka tahun 47
Julian ditetapkan sebagai tahun 1 Anno Domini (AD), dan angka tahun 572 Julian
diganti menjadi 526 AD. Sejak tahun 526 mulailah berlaku hitungan tahun Anno
Domini (AD) yang berlangsung sampai sekarang. Kita di Indonesia menyebutnya
tahun Masehi (M).
Kalender Julian memakai patokan 365,25 hari setahun dengan kabisat empat
tahun sekali, yaitu yang angka tahunnya habis dibagi empat. Patokan ini
berlebih 0,0078 hari dari yang seharusnya. Akibatnya terjadi kesalahan satu
hari dalam setiap 128 tahun. Pada tahun 1582 kesalahan kalender mencapai
sepuluh hari. Awal musim semi (vernal equinox) jatuh pada 11 Maret, padahal
seharusnya 21 Maret.
Maka pada tahun 1582 Paus Gregorius XIII membuat keputusan yang berjudul
Calendarium Gregorianum. Angka tanggal harus dilompatkan sepuluh. Hari Kamis
tanggal 4 Oktober 1582 harus diikuti oleh Jumat 15 Oktober 1582. Untuk
memperkecil kesalahan pada masa mendatang, tiga dari empat sentesimal (tahun
peralihan abad) yang seharusnya kabisat dibuat sebagai tahun biasa. Jadi, tahun
1600 kabisat; 1700, 1800 dan 1900 tahun biasa; 2000 kabisat lagi, dan
seterusnya. Sistem Gregorian ini hanya berlebih 0,0003 hari per tahun. Untuk
mencapai kesalahan satu hari diperlukan waktu 3333 tahun. Jadi, kalender
Gregorian baru perlu dikoreksi nanti pada awal abad ke-50!
Pada mulanya yang mengikuti keputusan Paus untuk mengubah kalender hanyalah
negara-negara Eropa yang mayoritas Katolik. Hal ini pun menimbulkan kegemparan
di kalangan masyarakat awam. Banyak orang yang ketakutan kalau-kalau usianya
berkurang sepuluh hari, dan para pekerja menuntut upah bagi sepuluh hari yang
dianggap hilang. Adapun negara-negara Protestan, Anglikan dan Ortodoks tetap
memakai kalender Julian. Mereka mencurigai keputusan Paus itu hanya taktik
untuk mengembalikan otoritas Roma di bidang agama.
Menjelang akhir abad ke-17, tahun 1698, seorang ilmuwan Jerman yang berwibawa
saat itu, Prof. Dr. Erhard Weigel, berkirim surat kepada raja-raja Eropa yang
beragama Protestan agar menerima kalender Gregorian. Weigel menegaskan bahwa
pemakaian kalender itu tidaklah berarti tunduk kepada Paus. Ini masalah
ketepatan peredaran benda langit, kata Weigel, bukan masalah agama.
Maka pada awal abad ke-18 negara-negara Protestan menerima kalender
Gregorian. Inggris negara Anglikan baru mengikuti tahun 1752, dengan menyatakan
bahwa tanggal 2 September 1752 langsung disusul oleh 14 September 1752. Hal ini
juga berlaku untuk seluruh jajahan Inggris, termasuk Amerika Utara (Amerika
Serikat dan Kanada sekarang) yang saat itu belum merdeka. Akibatnya, George
Washington, yang nantinya menjadi presiden pertama Amerika Serikat, terpaksa
mengubah tanggal lahirnya dari 11 Februari 1732 menjadi 22 Februari 1732.
Negara-negara Eropa Timur yang menganut Kristen Ortodoks baru menerima
kalender Gregorian sesudah Perang Dunia Kesatu berakhir. Rusia memberlakukannya
tahun 1918 dengan menyatakan bahwa 31 Januari langsung disusul 13 Februari.
Hari penghapusan kekaisaran Rusia yang berlangsung tanggal 7 November 1917
sampai sekarang tetap disebut "Revolusi Oktober", sebab hari itu di Rusia masih
berlaku kalender Julian tanggal 25 Oktober. Negara Eropa terakhir yang menerima
kalender Gregorian adalah Yunani tahun 1923.
Akan tetapi kalender Julian tetap digunakan oleh Gereja Ortodoks khusus untuk
menentukan Hari Natal. Sampai sekarang mereka merayakan Natal tanggal 7 Januari
(25 Desember menurut kalender Julian), dua minggu lebih lambat daripada umat
Kristen lainnya.
Di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, penyebaran kalender
Gregorian dilakukan oleh negara-negara Eropa yang menjajahnya. Di Indonesia
sampai awal abad ke-20 kalender Hijriah masih dipakai oleh raja-raja Nusantara.
Bahkan Raja Karangasem yang beragama Hindu, Ratu Agung Ngurah, dalam
surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang beragama Nasrani,
Otto van Rees, pada tahun 1894 masih menggunakan tarikh 1313 Hijriah.
Kalender Gregorian secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910
dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang
menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda. Maka tercapailah niat Octavianus
Augustus yang ingin namanya abadi. Nama Kaisar Romawi ini senantiasa diucapkan
oleh jutaan orang Indonesia setiap tahun tatkala merayakan hari proklamasi
kemerdekaan.
Tahun 2007?
Dionisius Exiguus pada abad ke-6 membuat perhitungan tahun Masehi (Anno
Domini) berdasarkan data Injil Lukas bahwa Nabi Isa al-Masih a.s. memulai tugas
kerasulan pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius. Dia bertakhta dari
tahun 60 sampai 83 Julian (14-37 Masehi), sehingga kejadian yang diceritakan
Lukas itu berlangsung tahun 75 Julian (29 Masehi). Oleh karena Lukas pun
ternyata main tebak dengan mengatakan usia Nabi Isa al-Masih saat itu
"kira-kira 30 tahun" (quasi annorum triginta), maka Dionisius memperkirakan
utusan Allah yang mulia itu lahir pada tahun 47 Julian, yang ditetapkannya
sebagai Tahun 1 Masehi.
Ternyata perkiraan Dionisius itu tidak tepat! Baik Injil Lukas maupun Injil
Matius mencatat kelahiran Isa al-Masih pada masa Raja Herodes di Palestina,
yang berarti antara tahun 10 dan 43 Julian (37 SM sampai 4 SM). Lukas juga
mengatakan bahwa Isa al-Masih lahir ketika Gubernur Suriah Quirinius, atas
perintah Kaisar Augustus (bertahta 27 SM sampai 14 Masehi), mengadakan sensus
penduduk di Palestina. Sensus ini tentu berlangsung sesudah pengangkatan
Quirinius tahun 41 Julian (6 SM). Dengan demikian putra suci Siti Maryam r.a.
itu sangat mungkin lahir pada tahun 42 Julian (5 SM). Jadi, kalau kita ingin
konsekuen menghitung tahun sejak lahirnya Nabi Isa al-Masih a.s., seharusnya
sekarang kita memasuki tahun 2012.***
(*) Penulis, seorang pemerhati kalender.
Source: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/122006/30/0902.htm
"Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing there is a field. I'll meet you
there.'"
~ Rumi
Eduard de Grave is a member of : The Mayapada Prana mailing list
Forum nge-Junkz dan OoT-nya si brewok!
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com