Rencana 2007?

Rasanya setahun cepat sekali berlalu. Kini sudah 2007. Kira-kira
seperti apa tahun yang baru ini ya? Lebih baik dari tahun lalu? Atau
lebih jelek? Penjualan meningkat atau menurun? Gaji naik atau tidak
ya? Kalau naik, berapa persen kenaikannya? Bisnis lebih baik atau
tidak? Nasib saya lebih baik atau tidak?
Demikianlah kira-kira yang dipikirkan oleh Heni. Heni sudah bekerja
tiga tahun. Apa yang akan terjadi tahun ini? Ada perubahan yang lebih
baikkah? Atau biasa-biasa saja?

Baru kemarin pagi, ketika rapat awal tahun, Heni mempelajari satu
hal. Selama ini dia paling tidak bisa membuat rencana. Karena disuruh
atasan, yah, dia sih membuat rencana juga. Tapi rencana itu akhirnya
hanya tersimpan di laci mejanya dan tidak pernah dilihat lagi.
Kecuali kalau atasannya menanyakannya. Barulah dia tergesa-gesa
mencari-cari di antara tumpukan berkas yang semakin menumpuk di
lacinya.

Kadang-kadang kalau atasannya masih berdiri di depan mejanya, Heni
akan berkata: " Nanti saya cari dulu, Pak. Lalu saya antar ke ruangan
Bapak." Baru dia mengeluarkan semua berkasnya yang berantakan dan
bertumpuk tak beraturan. Satu per satu disusun ulang sambil mencari
berkas 'perencanaan'. Kadang-kadang mudah menemukan berkas itu, tapi
kadang-kadang butuh waktu setengah hari untuk mencarinya.

Dalam rapat kemarin, hadir Bu Merri. Beliau dari cabang terbaik di
luar kota yang selalu mencapai target penjualan. Karena itu awal
tahun ini beliau dipanggil ke kantor pusat untuk membagikan rahasia
kesuksesan cabang yang dipimpinnya. Orangnya sederhana. Baik dan
rendah hati. Tidak banyak bicara. Tidak menyombongkan diri. Tidak
pernah menjelek-jelekkan orang lain. Tapi, setiap tahun cabang yang
dipimpinnya selalu berhasil dengan baik. Bahkan yang terbaik.

Setelah pembukaan disampaikan oleh direktur, maka mulailah Ibu Merri
dipersilakan untuk menceritakan rahasia suksesnya selama ini. Bu
Merri bercerita bahwa beliau dulu memulai kariernya dari bawah.
Beliau mulai bekerja sebagai staf administrasi penjualan. Saat itu
beliau harus mencatat seluruh hasil penjualan setiap salesman. Dia
mengikuti perkembangan penjualan setiap orang di kantor cabang
tempatnya bekerja. Mula-mula dia hanya mencatat dan menyusun laporan
penjualan harian, mingguan, dan bulanan.

Lama kelamaan, dia mulai lebih mengenal para salesman. Siapa salesman
yang rajin, siapa yang berprestasi, siapa yang malas-malasan, siapa
yang bekerja keras, siapa yang hanya pura-pura rajin, siapa yang
motivasi kerjanya tinggi, dan sebagainya. Bu Merri mulai penasaran,
mengapa ada salesman yang berprestasi dan ada yang tidak. Dia mulai
mencari penyebab keberhasilan atau kegagalan seseorang. Berbulan-
bulan dia melakukan hal itu tanpa mengenal lelah.

Tanpa terasa, setelah tiga tahun bekerja, dia seolah-olah mulai bisa
meramal. Dengan melihat sikap para salesman sehari-hari, dia bisa
menebak siapa yang penjualannya akan berhasil melampaui target bulan
ini. Siapa saja yang akan berhasil mencapai target, yang berhasil
melampaui target, atau yang gagal.

Setelah berbulan-bulan, ramalannya semakin tepat, sehingga oleh
kepala cabang, dia mulai sering diajak mengikuti meeting yang
dihadiri para salesman. Dia tahu janji mana yang benar, dan mana yang
sekadar janji kosong belaka. Dia juga tahu siapa yang benar-benar
rajin atau pura-pura rajin.

Kemudian dia mulai mempelajari, hal-hal apa saja yang membuat
salesman tertentu selalu berhasil. Rupanya, mereka yang memiliki
rencana dan target pribadi yang jelas, cenderung lebih berhasil.
Akhirnya, Bu Merri meminta agar boleh ikut menjual. Setelah
diizinkan, maka selain mencatat administrasi penjualan, Bu Merri juga
mulai menjual.

Beberapa minggu pertama digunakan olehnya untuk mengenal para
pelanggan dan membina hubungan dengan mereka. Kemudian dia membuat
target pribadi dan membuat perencanaan. Berapa orang yang akan di
telepon per hari, berapa penjualan yang ingin dicapai. Minggu
keempat, Bu Merri langsung bisa menjual.

Dalam waktu 10 bulan kemudian, dia mampu mencapai target penjualan
setiap bulan. Setelah itu, dia selalu melampaui target penjualan.
Bagi Bu Merri, berapa pun targetnya, yang penting dia selalu membuat
target pribadi yang lebih tinggi daripada target dari perusahaan.
Selain itu, dia tidak pernah menyerah, tidak pernah menunda
pekerjaan, tidak pernah malas menghubungi atau mendatangi klien
meskipun jauh. Dia tahu berapa yang harus dihubungi dan dikunjungi
setiap hari.

Hingga kini, cabang yang dipimpinnya selalu paling baik. Para
salesman yang bekerja dengannya juga selalu berprestasi dengan baik.
Semua memiliki target pribadi yang melampaui target perusahaan,
sehingga setiap orang bisa dipastikan akan mencapai target perusahaan
yang relatif lebih rendah. Semua orang tahu apa dan berapa yang harus
dicapai secara pribadi setiap bulan. Semua orang tahu harus berbuat
apa setiap hari. Semua orang ingin melakukan yang terbaik. Set your
own target! Set your own plan! Be successful!

Sumber: Rencana 2007? oleh Lisa Nuryanti
Motivator & Director of Expands Consulting In House Training for
Motivation, Soft Skill & Leadership

--

Best Regards,


Syamsi Kusyanti,

Consumer Loan Group
PT. Bank Mandiri, tbk
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 36-38
Jakarta 12190

my profile :
http://syamsikusyanti.multiply.com/journal
http://www.friendster.com/syamsiku

Kirim email ke