Kerokan Dalam Perspektif Kesehatan
Author: dr. Prasanthi
-----------
Source: http://www.pikiran-
rakyat.com/cetak/2007/012007/14/geulis/lainnya.htm

"JADI, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan 
peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori 
kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai 
cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah 
keluar lewat pori-pori, melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat 
organ pernapasan dan pencernaan."

MASUK angin? Kerok saja! Anjuran "tradisional" semacam itu cukup 
sering mampir di telinga kita. Secara faktual, memang banyak orang 
merasa ketergantungan pada kerokan. Jadi, ketika pening menyerang 
dan meriang datang, penderita lebih memilih kerokan ketimbang pergi 
ke dokter atau puskesmas, misalnya. Lebih murah, praktis, dan 
lumayan cespleng.

Meskipun istilah masuk angin tidak terdaftar dalam kamus medis, 
namun ia merupakan penyakit umum. Gejalanya, antara lain meriang, 
kepala pening, leher dan persendian pegal-pegal.

Sementara, kerokan yang menggunakan minyak kelapa plus balsam dengan 
perangkat sekeping uang logam, merupakan salah satu cara untuk 
menghangatkan bagian tubuh yang dikerok. Ketika orang masuk angin, 
atau istilah kedokterannya commond cold suhu tubuh bagian belakang 
turun. Gejala ini terjadi akibat kekurangan energi panas. Kerokan 
dipercaya bisa menetralisasi suhu tubuh di bagian itu.

Tapi, dari sisi kesehatan, amankah cara ini?

**

ISTILAH masuk angin, sebenarnya tidak berarti bahwa angin benar-
benar masuk ke dalam tubuh. Sesungguhnya, tiupan angin menyebabkan 
suhu tubuh menurun. Karena bagian belakang terkena angin, temperatur 
tubuh turun. Lalu, muncul gejala masuk angin seperti pusing, 
meriang, atau pegal-pegal tadi.

Peristiwa ini berbeda dengan pengaruh hawa dingin yang mengenai 
seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Jadi, saat suhu 
udara turun, temperatur seluruh badan ikut turun. Sementara, paparan 
angin umumnya cuma mengenai salah satu sisi badan sehingga bagian 
itu saja yang turun suhunya. Wajar kalau orang lantas menyebutnya 
masuk angin.

Masuk angin akut lebih mudah dikenali karena biasanya berujung pada 
gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk angin tidak 
disadari dan berlangsung terus-menerus, bisa menimbulkan rasa sakit 
kronis. Paling sering terjadi adalah nyeri leher dan pundak gara-
gara AC.

Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung karena di bagian 
belakang tubuh terdapat titik-titik syaraf yang berhubungan dengan 
organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organ 
dalam ikut kena.

Kerokan merupakan salah satu usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh. 
Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep dasar pengobatan 
Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut yang) dan 
bagian tubuh dingin (yin).

Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian belakang. Sementara 
yin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep yin yang, orang 
terbilang sehat bila yin dan yang-nya dalam keadaan seimbang. Kalau 
tidak seimbang, akibatnya ya sakit. Yang terlalu tinggi, yin rendah, 
ya sakit juga.

Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh menyebabkan pembuluh 
darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan 
(konstriksi). Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi 
reaksi dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu 
tubuh bagian belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit 
berkonstriksi agar seluruh tubuh tidak dingin.

Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh 
(terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur badan 
terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan 
kerokan bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali.

**

DASAR pengobatan tradisional bersumber pada penyeimbangan empat pola 
penyakit yakni kuat, lemah, panas, dan dingin. Prinsip 
penyembuhannya adalah mengembalikan energi tubuh ke posisi seimbang. 
Kalau terlalu kuat dilemahan, yang lemah dikuatkan, kelewat panas 
didinginkan, terlalu dingin dipanaskan. Sehat itu adalah kondisi 
energi yang seimbang.

Demikian pula yang terjadi pada masuk angin. Guna menyembuhkannya, 
tubuh harus mengembalikan keseimbangan yang dan yin, salah satu 
caranya dengan menaikkan suhu lewat kerokan. Mengurangi yin, memang 
bisa jadi seimbang, namun tidak berada pada posisi normal.

Upaya peningkatan suhu di bagian belakang tubuh bisa berpedoman pada 
hukum Einstein (E=mC2). Energi atau panas dihasilkan dari gesekan 
dua benda. Kalau permukaan kulit dikerok, suhu tubuh pun akan 
meningkat. Panas yang cukup tinggi berefek melebarkan pembuluh darah 
dalam kulit. Otomatis, peredaran darah jadi lancar dan oksigenasi 
lebih baik sehingga rasa sakit di tubuh berkurang. Ujung-ujungnya, 
timbul pula reaksi otonomik (sistem parasimpatik). Saraf otonom pada 
bagian belakang tubuh jadi seimbang.

Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan 
peningkatan panas, dan bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori 
kulit. Bagi masyarakat awam, memang kerokan sering dipahami sebagai 
cara "mengeluarkan angin". Padahal, angin atau udara tak pernah 
keluar lewat pori-pori melainkan hanya bisa masuk atau keluar lewat 
organ pernapasan dan pencernaan.

Masuk angin gara-gara gempuran angin dingin AC tak perlu diobati. 
Cukup berpindah posisi atau mematikan AC, pegalnya akan sembuh. 
Sedangkan masuk angin kronis tidak sekadar di bawah kulit, tapi 
sudah sampai ke dalam otot. Jadi, perlu pemanasan dalam sampai 
kedalaman 3-4 cm di bawah kulit, dan itu tak mungkin dicapai dengan 
kerokan.

Cara kerokan paling efektif adalah "menggarap" daerah belakang 
tubuh, kepala atau leher. Pola umum kerokan biasanya membentuk garis-
garis lurus dari atas ke bawah dan miring di sisi kiri kanan ruas-
ruang tulang belakang ataupun pada leher bagian belakang. Itu 
bukannya tanpa alasan. Pada tubuh kita terdapat sekira 360 titik 
akupunktur utama yang berhubungan dengan organ penting. Begitu pun 
pada tubuh bagian belakang, terdapat titik-titik yang berhubungan 
dengan organ dalam tubuh (organ viscera).

Dengan pola kerokan yang benar, yakni ditarik lurus ke bawah di sisi 
kiri kanan ruas tulang belakang, kemudian digeser condong ke arah 
kiri dan kanan, reaksi optimal dapat dicapai. Gosokan-gosokan itu 
mungkin secara tidak sengaja menekan titik-titik akupunktur tertentu 
di tubuh bagian belakang.

Namun, perlu dipertimbangkan bahwa tiap orang memiliki kepekaan 
kulit dan daya tahan terhadap rasa sakit yang berbeda-beda, ada yang 
terbiasa dikerok sedikit, tapi tak jarang ada yang suka dikerok 
dalam-dalam sampai merah padam. Sebenarnya, tak ada aturan hasil 
kerokan harus sampai merah darah.

**

SAMPAI saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, 
cara ini bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, 
akan timbul reaksi jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat 
neural (saraf). Reaksi lokal terlihat langsung, misalnya warna 
merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah 
mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga 
organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan 
enkepalin).

B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan 
rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita 
merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, 
terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas 
lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik.

Kemungkinan, penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin 
(endorfin). Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya 
untuk reaksi lokal. Karena kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan. 
Nah, masih ingin bertahan dengan cara tradisional ini? Kalau begitu, 
kerok saja! (dr. Prasanthi)***


Kirim email ke