maaf untuk cross posting.

PY

===
Sent: Tuesday, February 13, 2007 3:03:29 AM
Subject: KDNY: Emmanuel


Oleh: M. Syamsi Ali *) 

New York , 8 Pebruari 2007
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of
New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New
York " di majalah Hidayatullah.


Sekitar dua bulan lalu, saya didatangi oleh seorang
anak muda dengan perawakan gemuk dan berjanggut tipis
yang hampir tidak terurus. Mungkin karena kondisi
fisiknya yang gemuk, atau karena memang baru saja
masuk ke Islamic Center setelah berjalan kaki cukup
jauh, sang pemuda itu nampak berkeringat. Nampak
sedikit kaku, bimbang, tapi berusaha melempar senyum.

Sambil menyodorkan jabatan tangan, anak muda ini
memperkenalkan diri sebagai "Emanuel". Tentu dengan
ramah kusambut jabatan itu sambil memperkenalkan diri.
Dia sepertinya ingin menenangkan diri sehingga
berusaha untuk lebih "confident" dalam ekspresi
wajahnya. Tapi saya menangkap seolah ada sebuah
kekhawatiran di benaknya. Ternyata memang betul.
Ketika saya tanyakan hal itu, dia menjawab: "This is
my first time to a Mosque and I am worried how to
behave in an appropriate mannerĂ¢." 

"Emanul, feel at home! Mosque is the most public place
on earth. Every body is welcome regardless their
status, including their religious affiliation" , jawab
saya menenangkan. Saya pun memulai bertanya, kenapa
tertarik untuk datang ke mesjid? Dia menjawab: "I am a
Graduate from Cornell University , Upstate New York,
and still remember my class on Middle Eastern
Studies." 

Saya tanyakan: "What did you study?" Dia menjawab
bahwa dia sebenarnya belajar Islam. Bahkan menurutnya,
dia sendiri sejak belajar di Cornell itu diam-diam
sudah membaca Al-Quran, dan hingga saat ini masih
terus. Menurutnya lagi "the more I read the Quran, the
more I feel being attracted to read more" Bahkan,
menurut dia, Al-Quran itu memberikan "peace in mind".
"I used to read it even before sleeping, " lanjutnya.

Tanpa bertanya panjang lebar, saya mulai menjelaskan
Islam seperti biasanya. Cuma menghadapi seseorang
seperti Emanuel ini memerlukan pendekatan yang sedikit
rasional dan ilmiyah. Rupanya tanpa saya sadari dari
namanya, dalam benak saya ketika itu Emanuel adalah
seorang Kristen atau Katolik. Karena memang mayoritas
mereka yang datang belajar Islam adalah Kristen atau
Katolik. Maka penjelasan-penjelas an saya kepadanya
banyak menekankan mengenai kedudukan Isa dan ibunya
dalam Islam.

Setelah sekitar setengah jam menjelaskan Islam, baru
saya bertanya, "What is your back ground? I mean, your
religion". Dia dengan sedikit tersenyum mengatakan, "I
am a Jewish, but originally from Puerto Rico ". Saya
hampir menyesal dengan penjelasan-penjelas an panjang
lebar mengenai Isa dan ibunya, padahal kaum Yahudi
tidak percaya kepada ketuhanan Isa, bahkan tidak
mempercayai Isa sebagai Nabi.

"I am sorry", saya sampaikan. "I think you were
completely disconnected from my talk, since you dont
believe in Jesus at Allah". Dengan sopan Emanuel
menjawab: "It's fine. I love to learn and I enjoyed
your talk". 

Tiba-tiba saja Emanuel menyela: "I am actually willing
to embrace Islam. But I don't know what to do. Saya
segera menjawab: "to convert to Islam is very easy.
Probably the most difficult part of that, is to make
sure that you are really convinced that Islam is the
truth and the right way to follow. 

Dia dengan mantap menjawab: "I am very much sure about
that, but I have something to ask before doing it.
Saya tanya: "What is that?. Dia bilang: "I am an
actor. I used to perform live show in different places
here in the City. Can I still be an actor after
becoming a Muslim?"

"O yes, sure!", jawab saya tegas. "What you need to do
after becoming a Muslim is learning some Islamic
regulations concerning the arts. Islam is a practical
religion and it provides clear guidance on what to do
and not to do". Mendengar jawaban saya itu, Emanuel
sepertinya sangat puas dan senang.

Menjelang azan shalat Zhuhur saya minta seseorang
untuk mengajarkan wudhu. Setelah berwudhu kembali saya
ajarkan beberapa hal, termasuk kalimah syahadah yang
sebentar lagi akan diucapkan di hadapan jamaah shalat
Zhuhur. Saya juga mengajarkan cara shalat secara
ringkas, hingga azan berkumandang. Nampak Emanuel
khusyu' mendengarkan azan pertama kali siang itu.

Menjelang shalat dimulai saya ajak Emanuel ke depan
jamaah dan menuntungnya: "Asy-hadu al laa ilaaha illa
Allah, wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah".
Dengan khusyu' Emanuel mengikuti saya mengucapkan
Kalimah itu, disusul pekik takbir para jamaah yang
hadir. Iqamah untuk shalat dikumandangkan, dan Emanuel
melakukan shalat pertama kalinya.

Semoga Allah menguatkan iman dan Islamnya saudara
kita, Emanuael Fihmen!





 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Kirim email ke