BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
151. Manunggal Ing Kawula Gusti

Dalam Seri 019 dikemukakan cerita tiga orang tokoh di negeri Makassar, yang 
diambil dari sebuah Lontara tentang hikayat Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka. 
Ketiga tokoh itu adalah Lu'muka ri Antang, Datoka ri Pa'gentungang dan Tuanta 
Salamaka. Sebenarnya di situlah letak kejeniusan nenek moyang kita. Menyelipkan 
cerita yang berbau mistik dalam suatu cerita, yang sebenarnya mengandung sebuah 
pesan berupa ilmu yang tersirat, yang perlu disimak, dicerna dengan 
mempergunakan akal budi. 

Marilah kita simak yang berikut ini. Al Qissah, tersebutlah konon Wali Songo 
risau karena terkabar Syaikh Sidi Jenar menyiarkan ajaran sesat kepada 
orang-orang awwam. Sunan Kalijaga turun ke lapangan menyelidik, dan hasilnya:  
Syaikh Sidi Jenar menyebarkan ajaran Manunggal Ing Kawula Gusti, Al'Abidu wa 
lMa'budu Wahidun, penyembah dan Yang Disembah menyatu. (Dalam realitas sejarah 
Wali Songo tidak mungkin dapat bertemu, karena tidak hidup dalam satu zaman, 
sehingga qissah ini tidak berbeda dengan hikayat Syaikh Yusuf, yang perlu 
disimak karena mengandung pesan berupa ilmu yang tersirat).

Wali Songo memutuskan mengirim utusan khusus membawa surat undangan. "Ini 
undangan untuk sampeyan dari Wali Songo", kata utusan. "Sampeyan siapa?" tanya 
Syaikh Sidi Jenar, dengan tekanan pada kata sampeyan. "Saya utusan Wali Songo", 
jawab sang utusan. "Bukan sampeyan itu yang saya maksudkan", ujar Syaikh Sidi 
Jenar sambil menunjuk sang utusan, "melainkan sampeyan yang ini", sambil 
menunjuk dirinya sendiri", menegaskan Syaikh Sidi Jenar sambil tersenyum. 
Dengan agak gugup utusan menjawab: "Ya, sampeyan, Syaikh Sidi Jenar". Maka 
Syaikh Sidi Jenar menulis surat jawaban, ringkas saja. Isinya mengatakan bahwa 
surat itu salah alamat, karena yang menerima surat undangan itu adalah Allah. 

Menerima jawaban sedemikian itu, gusarlah para Wali Songo kecuali Sunan Kudus. 
Beliau manggut-manggut lalu berkata: "Bukan main, Syaikh Sidi Jenar menyatakan 
ajarannya kepada siapa saja, kepada utusan, dan kepada kita. Tulis surat 
undangan lagi, undang Allah dan Syaikh Sidi Jenar". Barulah Syaikh Sidi Jenar 
berkenan memenuhi undangan Wali Songo untuk bermusyawarah.
Kesimpulan musyawarah: Syaikh Sidi Jenar telah bersalah menyesatkan orang-orang 
awwam, ia harus dihukum mati. Namun Wali Songo tidak mengambil sikap terhadap 
ajaran Manunggal Ing Kawula Gusti, karena Syaikh Sidi Jenar akan membuktikan 
bahwa ajarannya tidak sesat. Rupanya Syaikh Sidi Jenar tidak dapat memenuhi 
janjinya, karena sampai pada pelaksanaan eksekusi, ia belum membuktikan 
apa-apa. Setelah pelaksanaan eksekusi, maka darah mengalir membentuk tulisan: 
La- ila-ha illa Lla-h, tiada Tuhan melainkan Allah.

Dalam Seri 001 telah dikemukakan bahwa filsafat dan tasawuf harus dibingkai 
oleh Al Quran dan Hadits shahih, sebab kalau tidak demikian, maka filsafat dan 
tasawuf itu menjadi liar. Sungguh-sungguh suatu keniscayaan, para penganut dan 
pengamal filsafat dan tasawuf tanpa kendali itu menjadi sesat. Pesan yang 
disampaikan oleh cerita di atas itu ialah, bahwa Manunggal Ing Kawula Gusti 
harus dibingkai oleh La- ila-ha illa Lla-h, tiada Tuhan melainkan Allah.

***

Saya mempunyai warisan yang tak ternilai harganya, yaitu sebuah "Handbook", 
berisi ilmu bertuliskan aksara lontara dan huruf Arab, dituliskan oleh Kakek 
saya, Opu Tuan Imam Barat Batangmata, Selayar. Menurut hemat saya beliau 
mempunyai otoritas tentang ilmu yang direkam dalam "Handbook" itu, karena 
beliau sekitar 12 tahun menimba ilmu di AlMakkah lMukarramah. "Handbook" itu 
diberikan kepada ayah saya, diteruskan kepada saya, disertai dengan pesan: 
Ajaran dalam "Handbook" tidak boleh sembarang diajarkan secara terbuka, 
dikuatirkan yang menerimanya salah faham sehingga dapat menyesatkan. Namun 
pesan itu tidak saya tanggapi secara kaku, melainkan sekali-sekali beberapa 
materi saya ungkapkan keluar secara umum, baik dalam khutbah, maupun dalam 
bentuk tertulis.

Berikut ini saya kutip dari "Handbook" tersebut, dalam fasal Al'Abidu wa 
lMa'budu Wahidun. Kutipan dalam bahasa daerah (Makassar, dialek Selayar) 
bertuliskan aksara lontara dan yang selainnya dalam huruf Arab.
 
Iyaminni passala Al'Abidu wa lMa'budu Wahidun, tunyomba na turisomba 
assilennarang. Nubajiki pahanna. Inni paruntu' kananni gelepi ganna'. Riye' 
tambana iyamintu: Tunyomba ma'nassa atatonji, turisomba ma'nassa karaengtonji, 
La- ila-ha illa Lla-h. 
Inilah fasal Al'Abidu wa lMa'budu Wahidun, penyembah dan Yang Disembah melebur. 
Camkan baik-baik. Kata-kata mutiara ini tidak lengkap, harus ditambah dengan: 
penyembah tetaplah hamba, Yang Disembah tetaplah Raja, La- ila-ha illa Lla-h.

Anggu'rangiko, assikirikko, solanna assilennarangi pikkirannu  ri hidayana 
Allahu Ta'a-lay, nasurangampole limannu battuanna panggaukannu 
assilennarantommi ri pappageo'na Allahu Ta'a-lay. Nasaba' lakuana Allahu 
Ta'a-lay lalang ri Koraang S. Al Fatah,10: Yadu Lla-hi fawqa Aydiyhim. Nainjo 
limanna Karaeng Allahu Ta'a-lay lapageoi limanna atanna tungngu'ranginjo ri 
Iya. Akolalo salapahang rikuanjo limanna Karaeng Allahu Ta'a-lay lalang ri 
ayainjo. SubhanaLla-h, injo rikuanjo limanna Allahu Ta'a-lay, gelesikali 
assipole surang limanna atanna, nasaba' injo Allahu Ta'a-lay tide' sipolena: 
Lam Yakun laHu Kufuwan Ahadun . 
Ingatlah, berdzikirlah, maka pikiranmu senantiasa melebur dan menyatu ke dalam 
Hidayat Allah SWT, maka tanganmu dalam arti perbuatanmu melebur pula dalam 
Kendali Allah SWT. Sebab bersabda Allah SWT dalam Al Quran, S. Al Fatah,10: 
Yadu Lla-hi fawqa Aydiyhim. Bahwasanya Tangan Allah SWT di atas tangan hambaNya 
yang selalu ingat kepadaNya.(*) Jangan sekali-kali salah faham dengan istilah 
Tangan Allah SWT dalam ayat itu. SubhanaLlah, adapun yang dimaksud dengan 
Tangan Allah SWT tidaklah sama dengan tangan hambaNya, sebab Allah SWT tak ada 
samanya: Lam Yakun laHu Kufuwan Ahadun.

Nampa baji'mi sikkiri ri atinu, assilennarammi pikkirannu ri hidayana Allahu 
Ta'a-lay, nasurangampole assilennarantommi panggaukannu ri pappageo'na Allahu 
Ta'a-lay, ma'nassa atamakontu ri karaennu, gelemakontu akkulle laatai ibilisi. 
Appakonjominjo ara'na rikuanjo: Al 'Abidu wa lMa'budu Wahidun, tunyomba na 
turisomba assilennarang, tunymba ma'nassa atatonji, turisomba ma'nassa 
karaengtonji, La- ila-ha illa Lla-h.
Kalau sudah berkualitas dzikirmu dalam qalbu, maka meleburlah pikiranmu dalam 
Hidayah Allah SWT, demikian pula perbuatanmu melebur dalam Kendali Allah SWT, 
maka sesungguhnya engkau telah menjadi hamba yang sejati dari Tuhanmu, tidak 
kuasalah Iblis untuk memperhambamu. Demikianlah makna: Al'Abidu wa lMa'budu 
Wahidun, penyembah dan Yang Disembah menyatu, penyembah tetaplah hamba, Yang 
Disembah tetaplah Raja, La- ila-ha illa Lla-h.

Apa yang dapat kita simpulkan adalah: Manunggal Ing Kawula Gusti, Al'Abidu wa 
lMa'budu Wahidun, penyembah dan Yang Disembah menyatu, bukanlah ajaran yang 
sesat, namun cenderung menyesatkan, apabila tidak dipagar oleh: Sesungguhnya 
penyembah tetaplah hamba, turisomba tetaplah Raja, La- ila-ha illa Lla-h. 
WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 2 November 1994
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
------------------------------
(*)
Ayat yang sejenis dengan ayat ini, yang artinya: "Maka (yang sebenarnya) bukan 
kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan 
kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah 
berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada 
orang-orang mu'min, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha 
Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS Al-Anfaal 8:17).

Kirim email ke