Laku-laku Spiritual Soeharto
  [9]

Judul Buku: Dunia Spiritual Soeharto, Menelusuri Laku Ritual,
Tempat-tempat, dan Guru Spiritualnya
Penulis: Arwan Tuti Artha
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta
Cetakan 1: Januari 2007
Tebal: 179 Halaman

Soeharto adalah tokoh yang selalu menarik untuk dicermati. Banyak kajian
politik yang membahas mengenai kepemimpinannya. Ketika menjadi presiden,
Soeharto sangat disegani dan dihormati banyak pihak, baik oleh
kawan-kawan dekatnya maupun dari lawan-lawan politiknya. Beliau juga
satu-satunya presiden yang paling lama pemimpin Indonesia selama 32
tahun.

Lantas, apa rahasia Soeharto bisa kerkuasa selama 32 tahun? Selain
memegang kekuatan militer, dukungan partai politik besar (Golkar) dan
birokrasi, Soeharto diyakini memiliki kekuatan lain, yakni kekuatan
spiritual alias klenik. Tentang "kekuatan klenik" Soeharto ini direkam
sangat apik dalam buku karya Arwan Tuti Artha berjudul Dunia Spiritual
Soeharto terbitan Galang Press ini.
Dalam buku ini pembaca akan menemukan laku-laku ritual dan tempat-tempat
yang digunakan Soeharto menjalani laku ritual serta guru-guru spiritual
yang petuahnya menjadi penting bagi keberlangsungan kekuasaannya.
Dilengkapi foto-foto eksklusif tempat-tempat saat Soeharto menjalani
laku spiritual dan memperoleh wangsit menambah daya tarik buku ini.
Selama ini buku tentang Soeharto hanya menceritakan dari sisi politik
dan pertahanan keamanan. Padahal, Soeharto sering melakukan laku
spiritual yang mungkin tidak pernah diketahui banyak orang. Sebagai
orang Jawa sangatlah wajar jika Soeharto menempuh laku-laku spiritual,
terutama untuk memimpin Indonesia. Sebab, menurut Arwan Tuti Artha,
tidak mungkin dia hanya mengandalkan kekuatan militer saja, mengingat
wilayah Indonesia yang luas dan terdiri dari berbagai macam suku.

Dunia Klenik
Buku ini tentu tidak bermaksud untuk menelanjangi Soeharto, melainkan
untuk mengungkap sebuah fenomena menarik dalam hal spiritual. Sejak
kecil, Soeharto sudah akrab dengan dunia klenik. Salah satu ritual yang
dilakukan merendam di pertemuan dua sungai atau dalam kepercayaan Jawa
disebut tapa kungkum. Bertapa jenis ini dipercaya tidak hanya berefek
secara mistis, tetapi berpengaruh bagi ketahanan tubuh pelakunya.
Tempat-tempat yang sering digunakan kungkum Soeharto adalah Petilasan,
Panembahan Senopati di Dlepih, Tirtomulyo, Wonogiri. Tempat tersebut
sering dikunjungi Soeharto hingga menjelang menjabat presiden. Sedangkan
di saat menjabat sebagai Pangdam Dipenogoro, tempat kungkum-nya di
Kaligarang, Semarang. Setelah menjadi presiden pun, Soeharto sering
melakukan ritual itu, lokasi yang dipilih adalah sebuah tempat di Bogor.
Selain itu, menurut Arwan, Soeharto punya banyak dukun atau guru
spiritual yang dipercaya bisa melanggengkan kekuasaannya. Bahkan, selama
Soeharto menjadi presiden RI, beliau tidak hanya memiliki guru
spiritual, tetapi juga gemar mengunjungi tempat-tempat keramat dan
angker. Di antaranya Padepokan Gunung Jampi Pitu, Padepokan Langlang
Buana di Gunung Srandil Cilacap, dan makam Pangeran Purbaya di Desa
Maguwaharjo, Berbah, Sleman.
Lalu adakah hubungan antara dunia klenik dengan kekuasan? Bagi
masyarakat Jawa yang kental dengan tradisi kejawen tentu saja ada. Orang
yang melakukan laku-laku spiritual akan menemukan kedamaian dan
kesejukan hati. Bahkan, juga dipercaya untuk melanggengkan kekuasaan
yang sedang dipimpin. Dengan cara inilah, menurut Arwan Tuti Artha,
Soeharto mampu mempertahankan kekuasaanya selama 32 tahun.
Tentang relasi dunia klenik dan kekuasaan ini juga pernah diuraikan
dengan cukup menarik oleh Ben Anderson. Menurut Anderson, masyarakat
Jawa suka menggunakan laku-laku spiritual untuk mempertahankan
kekuasaannya. Misalnya, mengunjungi tempat-tempat keramat, bersemedi,
bertapa, puasa, bahkan kadang rela untuk tidak makan dan minum.
Meskipun belum melakukan penelitian terhadap mantan-mantan presiden
Indonesia, Arwan yakin bahwa laku-laku spiritual juga pernah dilakukan
oleh presiden-presiden sebelum dan sesudah Soeharto. Apalagi pada 20
Agustus 2001 media asing terkemuka The New York Time pernah menurunkan
artikel berjudul Jakarta's Rulers Ever in Need of Ghostly Guidence.
Artikel itu memberitakan tentang "klenikisme" para presiden Indonesia.
Buku ini patut diapresiasi sebagai tambahan referensi untuk mengenal
lebih dekat dan komplet tentang sosok mantan presiden RI-yang meskipun
telah lengser-pengaruhnya masih sangat dirasakan hingga sekarang.
Soeharto telah menggariskan sejarahnya sendiri dengan tinta perjuangan,
rekayasa, strategi dan laku prihatin. [Mazwin Azwarini, Pengelolah Rumah
Baca TINTA Yogyakarta]

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/25/index.html
<http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/25/index.html>

Kirim email ke