Agama Cinta Kasih
Oleh: Andika Poetra Yahya

Ayahku beragama Nasrani, ibuku beragama Islam.
Setiap ramadhan, 30 hari penuh ayahku turut berpuasa, turut pula menemani
ibu ke mesjid untuk mengikuti tarawih.
Demikian pula sebaliknya, saat prapaskah, selama 40 hari penuh ibu turut
berpantang, turut pula ke gereja menemani ayah merayakan Paskah.
Saat lebaran tiba, bercucuran air mata ayah mohon maaf kepada ibu dan ananda
atas kesalahan-kesalahannya, juga tulus memaafkan segala kesalahan-kesalahan
kami.
Saat natal tiba, ibu menangis bahagia, mendoakan agar peringatan kelahiran
Nabi Isa AS membawa damai sepanjang masa bagi keluarga juga seluruh umat
manusia.

Dalam diri ayah dan ibuku, aku mendapatkan seluruh gambaran terbaik penganut
Nasrani, juga penganut Islam.
Sewaktu aku masih kecil, setiap Jumat aku shalat di mesjid, setiap minggu
aku khusyuk menangkupkan tangan, berpejam mata, berdoa di gereja. Tidak
apa-apa kata ayah ibuku, suatu hari nanti, nuraniku akan memberiku kekuatan
untuk mengambil satu pilihan.

Saat mengaji, ustadz memintaku untuk berhenti ke gereja dan menegaskan hanya
muslim-lah yang mungkin masuk surga.
Sebaliknya, pendeta memintaku untuk sepenuhnya menjadi pengikut Yesus, agar
aku bisa masuk sorga.
Ustadz dan temen-teman muslimku mengutuk orang-orang nasrani dan kaum kafir
lainnya.
Pendeta dan teman-teman nasraniku mengutuk kaum muslim & domba-domba
tersesat lainnya.
Satu hal yang pasti, mereka semua mengatakan agamanya masing-masing adalah
agama cinta kasih.

Kepada ibuku aku bertanya, benarkah apa yang dikatakan ustadz dan
teman-teman muslimku?
Ibu tertawa dan berkata: "bukankah aku tetap menikah dengan ayahmu Nak?
Hingga saat inipun aku masih mengasihi ayahmu dengan sepenuh hatiku. Jika
membenci sesama merupakan dosa, mungkinkah mengasihi sesama juga merupakan
dosa?".
Kepada ayahku aku bertanya, benarkah apa yang dikatakan pendeta dan
teman-teman nasraniku?
Ayahpun  tertawa, dan berkata "Anakku, aku tidak mungkin mencintai dan
menikahi orang yang menurutku akan masuk neraka."

Kini Ayah dan Ibuku telah tiada.
Tiada lagi tokoh muslim dan nasrani yang menjadi panutanku.
Hanya merekalah yang mampu membuktikan dengan perkataan & perbuatan bahwa
agama mereka sungguh merupakan agama cinta kasih. Sementara lainnya, hanya
mampu mengatakan agamanyalah yang agama cinta kasih, agama keselamatan,
panduan menuju sorga. Sayang, mungkin mereka sendiri masih belum memiliki
rahmat cinta kasih, rahmat keselamatan. Bagaimana mungkin mereka bisa
berharap akan sorga?

Menanggapi orang-orang seperti itu, aku hanya bisa tersenyum dan teringat
bisikan di telingaku suatu kala:
"Anakku, bagaimana mungkin kamu bisa menyembah Tuhan  sekaligus menghina
ciptaan-Nya? Kamu tidak mungkin memuji seorang pelukis dengan meludahi
lukisannya"
___________________________________________

Tuhan memberkati kita semua!

Salam,
skw

Kirim email ke