Basis Teologi Persaudaraan Antar-Agama

Author: Budhy Munawar-Rachman

Mewujudkan persaudaraan—atau dalam bahasa agama disebut silat-u
`l-rahm (saling memberi kasih-sayang atau saling cinta)—adalah
kewajiban setiap umat beragama. Biasanya istilah ini dipakai dalam
hubungan keluarga, maupun kelompok. Tapi bisa juga diperluas dalam
bingkai kemanusiaan. Dasar silaturahmi adalah persaudaraan (ukhuwwah),
yang biasanya dipakai dalam konteks persaudaraan sesama orang beriman
(ukhuwwah islamiyyah), merentang kepada persaudaraan sesama manusia
(ukhuwwah insaniyyah atau ukhuwwah basyariyyah).

Ayat Alquran surah al-Hujurat (49:10-12) menggambarkan segi prinsipil
dan teknis pelaksanaan persaudaraan ini. Ayat panjang ini menggambarkan
bahwa persaudaraan di antara orang-orang yang beriman secara teologis
adalah idaman terbesar umat Islam. Tetapi menurut Alquran itu hanya bisa
dicapai jika etika pergaulan antar manusia diwujudkan dengan tidak
saling memperolok, menertawakan, berprasangka, memata-matai, dan saling
menggunjing. Dalam ayat di atas juga digambarkan bahwa orang beriman itu
bersaudara.

Biasanya pandangan eksklusif memaksudkan orang beriman di sini adalah
orang-orang muslim saja, yaitu golongannya sendiri. Tapi pembacaan
inklusif yang memberi ruang pada paham pluralisme antaragama dewasa ini
memberikan penekanan "orang yang beriman" di sini sebagai orang
yang percaya dan menaruh percaya (trust) kepada Tuhan. Karena itu, kata
"muslim" yang dipakai disini pun, bisa dipakai dalam arti
generiknya, yakini "orang-orang yang memasrahkan hidupnya kepada
kehendak Allah," tak peduli apa agama formalnya.

Pandangan-pandangan keagamaan yang memberikan ruang kepada toleransi
tampaknya semakin penting disosialisasikan, agar apa yang kita sebut
"Pentingnya Menghubungkan Tali Kasih Sayang Antar Umat Beragama"
menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan tanpa ada stigma atau hambatan
teologis. Padahal dalam surah Ali Imran (Q.S. 3:64), Alquran jelas-jelas
menganjurkan kita mencari titik temu (kalimat-un sawa').

Anak-cucu Adam.

Dari sudut pandang agama, kita semua disatukan dalam keluarga anak-cucu
Adam (Banu Adam). Alquran memakai terma ini dalam menegaskan bahwa Tuhan
telah memberi kehormatan dan martabat kepada anak-cucu Adam. Memberikan
kepada kita semua kekayaan fisik, intelektual, moral, spiritual. Dan
dari semua potensi itu, anak-cucu Adam diciptakan dari segi spiritual
yang sama yang bisa dipakai, diperkaya, dan dikembangkan oleh setiap
pribadi untuk masing-masing kehidupannya yang khas, termasuk berkembang
berdasarkan petunjuk agama masing-masing (Q.S. Al-A`raf, 7:172).

Ayat dalam surah al-A'raf itu sering disebut sebagai ayat
"perjanjian primordial" manusia dengan Tuhan. Dasar
spiritualitas manusia yang paling pokok: Kita mengakui bahwa Allah
adalah Pencipta, Tuhan semesta alam, dan kita juga mengakui adanya
kewajiban kita kepada-Nya, yang terbawa oleh kodrat kita yang fitrah.
Dan kewajiban itu bukan hanya segi-segi transendental, tetapi
lebih-lebih kewajiban sosial terhadap sesama manusia. Dalam frase agama,
iman dikaitkan dengan amal-saleh (yaitu kerja-kerja kemanusiaan).

Dalam sebuah analisis, Dr Fathi Osman dalam bukunya The Children of
Adam, kata "Anak cucu Adam" (banu Adam) disebut dalam Alquran
tujuh kali, yang bisa dibandingkan dengan kata manusia (insan) dalam
bentuk tunggal 65 kali; manusia (ins, basyar) 54 kali, dan manusia (nas)
dalam bentuk jamak 239 kali dan secara langsung dikemukakan sebanyak 19
kali. Sedang kata "mereka yang telah memperoleh keimanan" atau
"orang-orang mukmin" dirujuk dalam bentuk-bentuk tunggal atau
jamak (mukmin, mukminun, man amana, alladzina amanu) dalam beberapa
tempat dalam Alquran.

Banyaknya ungkapan ini menegaskan kepedulian Alquran kepada manusia
dalam keseluruhannya, bersamaan dengan penyebutan "orang-orang yang
telah memperoleh keimanan" atau "orang-orang mukmin" secara
khusus. Ini berarti bahwa mewujudkan ikatan silaturahmi dan tali
persaudaraan antaragama memang merupakan kewajiban kita sebagai umat
beragama (Q.S, 49:13).

Di Hadapan Allah.

Ide toleransi dan pluralisme antaragama, sebenarnya akan membawa kita
kepada paham "kesetaraan kaum beriman di hadapan Allah."
Walaupun kita berbeda agama, tetapi iman di hadapan Allah adalah sama.
Karena iman menyangkut penghayatan kita kepada Allah, yang jauh lebih
mendalam dari segi-segi formal agama, yang menyangkut religiusitas atau
bahasa keilmuan sekarang spiritual intelligence. Karenanya, yang
diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah pluralisme antaragama,
adalah pandangan bahwa siapapun yang beriman—tanpa harus melihat
agamanya apa—adalah sama di hadapan Allah. Karena Tuhan kita semua
adalah Tuhan Yang Satu.

Dari segi teologi Islam, harusnya ini tidak menjadi masalah. Alquran
menegaskan bahwa keselamatan di hari akhirat hanya tergantung kepada
apakah seseorang itu percaya kepada Allah, percaya kepada hari akhirat
dan berbuat baik. Dan rupanya inti ajaran agama adalah mengenai ketiga
hal tersebut. Ini dikemukakan Alquran dalam surah al-Baqarah dan surah
al-Maidah (Q.S. 2:62 dan 5:69).

Dalam mengomentari ayat ini, Abdullah Yusuf Ali menegaskan bahwa ajaran
Allah itu satu, Islam mengakui keimanan yang benar dalam bentuk yang
lain, asal dijalankan dengan sungguh-sungguh dan didukung oleh akal
sehat, disertai tingkah laku yang baik—sebagaimana hal yang sama
berlaku bagi orang Islam sendiri. Sementara Muhammad Asad dalam
tafsirnya mengomentari, "the idea of "salvation" here made
conditional upon three elements only: belief in God, belief in the Day
of Judgement, and rightous action in life.

Dengan begitu, agama jelas mengakui adanya kesetaraan kaum beriman di
hadapan Allah. Kalau orang Islam diwajibkan menjalankan agamanya, begitu
juga umat dalam agama lain. Dalam surah al-Maidah (5:66) tertera:
"Dan sekiranya mereka mengikuti ajaran Taurat dan Injil serta segala
yang diturunkan dari Tuhan kepada mereka, niscaya mereka akan menikmati
kesenangan dari setiap penjuru."

Dengan penafsiran atas beberapa ayat Alquran di atas, Islam menegaskan
adanya kesetaraan di antara kaum beriman di hadapan Allah. Ukuran
derajat seseorang dengan orang lain adalah takwa, bukan formalisme agama
apa yang dianut. Perspektif ini akan sangat membantu dalam membangun
kembali cintakasih dan persaudaraan antar agama—dari basis
teologisnya-- yang sekarang kita rindukan dapat lebih baik di masa-masa
mendatang.

* Budhy Munawar-Rachman. Manajer Program Studi Islam pada Yayasan
Paramadina.




Kirim email ke