Dari penemuan-penemuan arkeologis yang tidak dijamah oleh Konsili Nicaea (#)


1. Desember 1945, di sebuah karang di tepian sungai Nile, di pedalaman Mesir 
dekat wilayah Nag Hamadi, ditemukan Gentong (bejana dari tanah liat) yang nyata 
terlihat sangat kuno dan asli. Dalam gentong tersebut terdapat 13 lembar kulit, 
berisi 50 risalah. Pada bagian akhir dari risalah di codex II koleksi risalah, 
terdapat sebuah judul teks yang telah hilang selama ribuan tahun: "Peuaggelion 
Pkata Thomas", Injil menurut Thomas, atau Injil Thomas, diperkirakan dari tahun 
100 M, edisi paling awal diperkirakan dari tahun 50-60 M. Perlu diketahui bahwa 
Injil Thomas tidak berbentuk cerita naratif seperti 4 Injil lainnya, namun 
berisi perkataan-perkataan Yesus, kalau dibaca oleh seorang Muslim tampak 
seperti penulisan Hadits -tapi tanpa sanad-. Melihat tingkat keaslian dari 
Injil Thomas serta cara penyajiannya, para sarjana Bible mulai mengkaji dengan 
cara membandingkan isinya dengan 4 Injil sinoptik yang diakui Gereja (Matius, 
Markus, Lukas, Yohanes).

Semangat yang mereka bawa adalah, menjawab pertanyaan umum : "Apa sebenarnya 
yang disabdakan oleh Yesus?" Dari kajian 75 sarjana Bible terkemuka yang 
bersidang selama 6 tahun, keluarlah hasil kajian mereka yang dikenal melalui 
laporan berjudul "The Five Gospel" pada tahun 1993. Pertanyaan itu akhirnya 
terjawab dalam sebuah kesimpulan dalam laporan mereka bahwa, dari Injil-Injil 
yang ada, hanya terdapat 18% saja yang diperkirakan asli perkataan Yesus, 
sementara sisanya......???.
Yang patut dicatat dari hasil kajian itu, bahwa dari 114 sabda Yesus, tidak 
satupun ada pernyataan ataupun isyarat terhadap doktrin "Penyaliban" atau 
penebusan dosa melalui kematian Yesus di tiang kayu salib.

2. Wahyu Petrus ditemukan pada tahun 1945 melalui penggalian-penggalian 
arkeologis yang sangat penting di Naga Hammadi Mesir. Ekspedisi-ekspedisi ini 
menggali sebuah perpustakaan dari abad ke-4 Masehi berupa manuskrip-manuskrip 
papirus banyak di antaranya ditulis dalam bahasa Koptik. [Brasher I (1990)]. 
Korban yang disalib adalah simulacrum Jesus, yang sungguh-sungguh sangat mirip 
dengan Jesus [Wahyu Petrus, Robinson JM, 1990].
 
3. Risalah Kedua Set Agung, seperti Wahyu Petrus, ditemukan pada tahun 1945 di 
Naga Hammadi Mesir. Catatan mengenai penyaliban seorang Kristen Mesir Basilides 
pada abad kedua Masehi [Gibbons JA, (1998)]. Penjelasan mengenai penyaliban 
dalam Set dilaporkan dalam sabda-sabda Jesus. Seseorang yang bukan Jesus telah 
dipaku membentuk salib, yang meminum empedu dan cuka serta mengenakan mahkota 
duri [Risalah Kedua Set Agung, Robinson JM, (1990)].
 
4. Perbuatan-Perbuatan Yohannes, ditemukan dalam manuskrip berbahasa Yunani 
yang digali dalam tahun 1897. Waktu penyusunannya pada paruh pertama abad kedua 
Masehi [Cameron R, (1982)]. Penulis manuskrip tsb adalah salah seorang murid 
Jesus, yaitu Yohannes, putera Zabedee. Aku bukan (orang) di atas salib itu 
[Perbuatan Yohannes, Cameron R, (1982)].
----------------------------------------
(#)
Konsili Nicaea I (sumber dari Wikipedia)
/wiki/Berkas:Nicaea_icon.jpg /wiki/Berkas:Nicaea_icon.jpgKonsili Nicea I 

Konsili Nicea Pertama dihimpunkan oleh Kaisar Roma Konstantin Agung pada 325 M. 
Ini adalah konferensi ekumenis[1] pertama para uskup dari Gereja Kristen.
Tujuan konsili ini (yang juga disebut sinode) adalah memecahkan perbedaan 
pendapat di Gereja Alexandria mengenai hakikat Yesus dalam hubungannya dengan 
Sang Bapa; khususnya apakah Yesus mempunyai hakikat yang sama atau serupa 
dengan Allah Bapa. St. Alexander dari Alexandria mengambil posisi yang pertama; 
penatua Arius yang populer, yang merupakan asal-usul istilah pertikaian Arian 
datang, dan mengambil posisi yang kedua. Konsili ini memutuskan menentang kaum 
Arian. Hasil lain dari konsili ini adalah kesepakatan mengenai tanggal perayaan 
Paskah Kristen, yang mulanya berkaitan dengan Paskah Yahudi. Perayaan ini 
adalah perayaan terpenting dalam kehidupan Gereja. Konsili memutuskan untuk 
merayakan Paskah pada hari Minggu pertama setelah equinox musim semi, bebas 
dari Kalender Ibrani Alkitab (lihat pula Quartodecimanisme), dan memberikan 
wewenang kepada Uskup Alexandria kemungkinan menggunakan kalendar Alexandria) 
untuk mengumumkan setiap tahunnya tanggal yang persis kepada rekan-rekan 
uskupnya.
Konsili Nicea secara historis penting karena ini adalah upaya pertama untuk 
mencapai konsensus di kalangan gereja melalui sebuah persidangan yang mewakili 
seluruh dunia Kristen.[2] "Ini adalah kesempatan pertama untuk pengembangan 
Kristologi yang teknis."[3] Lebih jauh, "Konstantin dalam menghimpunkan dan 
memimpin konsili ini menandai adanya kontrol kerajaan atas gereja."[4] Dengan 
dirumuskannya Pengakuan Iman Nicea, ditetapkanlah sebuah preseden untuk 
konsili-konsili umum berikutnya untuk merumuskan sebuah pernyataan iman dan 
kanon yang dimaksudkan untuk dijadikan sebagai ajaran yang benar bagi semua 
orang Kristen. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan Gereja dan memberikan 
pedoman yang jelas dalam hal-hal yang dipertentangkan tentang apa artinya 
menjadi orang Kristen. Ini adalah sebuah peristiwa penting dalam sejarah Gereja 
dan sejarah Eropa di kemudian hari.
 
Daftar isi
1 Sifat 
2 Para undangan 
3 Agenda dan prosedur 
4 Masalah-masalah lain 
5 Catatan kaki 
6 Lihat pula 
7 Bibliografi 
8 Pranala luar      

Sifat
Konsili Nicea Pertama adalah perhimpunan umum pertama para uskup dari seluruh 
Gereja, untuk memecahkan perbedaan-perbedaan iman yang telah muncul dan untuk 
mendefinisikan dengan jelas iman yang diteirma dari para rasul. Dalam konsili 
ini, Gereja dan Negara bertindak bersama-sama. Konsili-konsili sebelumnya, 
seperti misalnya Konsili Yerusalem, memang telah memecahkan masalah-masalah 
penting. Kini Konsili Nicea merumuskan sebuah pernyataan yang tegas terhadap 
ajaran sesat yang berkembang, suatu pengakuan iman yang dimaksudkan untuk 
memperjelas dan membela warisan dari keyakinan yang benar. Konsili ini 
mempunyai dampak di seluruh dunia, bagi seluruh Gereja.
Dalam Arianisme terdapat halangan besar untuk menyelaraskan Gereja dengan 
kesatuan Kekaisaran Bizantium. Karenanya, selama musim panas tahun 325 M., para 
uskup dari semua provinsi diundang ke Nicea di Bithynia, sebuah tempat yang 
mudah dijangkau oleh kebanyakan para uskup, khususnya mereka yang berasal dari 
Asia Kecil, Suriah, Palestina, Mesir, Yunani, dan Thrasia.

Para undangan
Konstantin mengundang ke-1800 uskup Gereja Kristen (sekitar 1000 orang di timur 
dan 800 orang di barat).
Jumlah para uskup yang ikut serta tidak dapat dipastikan dengan akurat: menurut 
Eusebius dari Kaisaria (Kehidupan Konstantin 3.8) ada 250 orang, menurut 
Athanasius dari Alexandria (Ad Afros Epistola Synodica 2) ada 318, menurut 
Eustathius dari Antiokia (Theodoret H.E. 1.7) ada 270, ketiga-tiganya ini hadir 
pada konsili tersebut. Belakangan Socrates Scholasticus (H.E. 1.8) mencatat 
lebih dari 300 orang, Evagrius (H.E. 3.31), Hilarius (Contra Constantium), 
Hieronimus (Chronicon) dan Rufinus mencatat 318.
Para uskup yang ikut serta diberikan perjalanan gratis pulang pergi dari takhta 
keuskupan mereka ke konsili, dan penginapan cuma-cuma. Para uskup ini tidak 
datang sendirian; masing-masing mendapatkan izin untuk membawa serta dua orang 
presbiter dan tiga orang diaken, jadi jumlah keseluruhan hadirin mestinya lebih 
dari 1500 orang. Eusebius berbicara tentang rombongan yang hampir tidak 
terhitung jumlahnya yang terdiri dari para imam, diaken, dan pembantu.
Konsili ini juga penting mengingat penganiayaan terhadap orang Kristen baru 
saja berakhir dengan dikeluarkannya Edik Milano pada Februari 313 oleh 
Konstantin dan Licinius.
Sekadar catatan, para uskup dari Timur merupakan mayoritas besar. Dari mereka, 
barisan pertama diduduki oleh tiga orang uskup agung: Alexander dari 
Alexandria, Eustathius dari Antiokia, dan Macarius dari Yerusalem. banyak dari 
para bapak gereja yang hadir, misalnya Paphnutius dari Thebes, Potamon dari 
Heraclea dan Paulus dari Neokaisaria, telah bertahan sebagai saksi-saksi dari 
iman mereka, dan datang ke konsili dengan tanda-tanda penganiayaan di wajah 
mereka. Para hadirin terkemuka lainnya adalah Eusebius dari Nikomedia, Eusebius 
dari Kaisaria, Nikoas dari Mira, Aristakes dari Armenia, Yakobus dari Nisibis, 
seorang bekas pertapa dan Spiridion dari Trimithous yang meskipun sudah 
diangkat menjadi uskup tetap bermatapencarian sebagai seorang gembala. Dari 
tempat-tempat asing datang seorang uskup Persia, Yohanes, seorang uskup Goth, 
Teofilus dan Stratofilus, uskup dari Pitiunt di Egrisi (terletak di perbatasan 
Rusia dan Abkhazia sekarang, di luar kekaisaran Bizantium).
Provinsi-provinsi berbahasa Latin mengutus sekurang-kurangnya lima wakil, yaitu 
Marcus dari Kalabria dari Italia, Cecilian dari Kartago dari Afrika, Hosius 
dari Córdoba dari Hispania, Nikasius dari Dijon dari Gaul, dan Domnus dari 
Stridon dari provinsi Donau.
Di antara para asisten adalah Athanasius dari Alexandria, seorang diaken muda 
dan pendamping Uskup Alexander dari Alexandria, yang menonjol sebagai "pejuang 
yang paling gigih dalam melawan kaum Arianis," dan demikian pula Alexander dari 
Konstantinopel, yang saat itu seorang presbiter, sebagai wakil dari uskupnya 
yang sudah lanjut usia.

Agenda dan prosedur
Agenda sinode adalah:
Masalah Arianisme, 
Perayaan Paskah, 
Skisma Meletia, 
Apakah Sang Bapa dan Sang Anak itu mempunyai satu kehendak atau satu pribadi 
Baptisan orang-orang sesat, dan Status dari mereka yang murtad pada masa 
penganiayaan di bawah Licinius.

Masalah Arianisme dan Apakah Sang Bapa dan Sang Anak itu mempunyai satu 
kehendak atau satu pribadi, adalah menjadi dasar kriteria untuk menentukan 
Kitab-Kitab Apokrifa dan Kitab-Kitab yang lolos dalam seleksi yaitu: Matius, 
Markus, Lukas dan Yohanes.
 
Konsili ini dibuka resmi pada 20 Mei, di bangunan tengah dari istana 
kekaisaran, dengan diskusi-diskusi pendahuluan tentang masalah Arianisme. Dalam 
pembahasan-pembahasan ini, sejumlah tokoh yang dominan adalah Arius, dengan 
sejumlah penganutnya, khususnya Uskup Eusebius dari Nikomedia, Uskup Theognis 
dari Nice, dan Uskup Maris dari Khalsedon. Hosius dari Cordova mungkin menjadi 
ketua pembahasan ini.
Eusebius dari Kaisaria mengingatkan hadirin akan pengakuan iman (lambang) 
[[aptisan di keuskupannya sendiri di Kaisaria di Palestina, sebagai suatu 
bentuk rekonsiliasi. Mayoritas para uskup setuju dengannya. Selama beberapa 
waktu para ahli mengira bahwa Pengakuan Nicea yang asli didasarkan pada 
pernyataan Eusebius ini. Kini kebanyakan ahli berpendapat bahwa Pengakuan Iman 
ini diambil dari pengakuan iman baptisan Yerusalem, seperti yang dikemukakan 
oleh Hans Lietzmann. Kemungkinan lainnya adalah Pengakuan Iman Rasuli.

Masalah-masalah lain
Lalu para uskup memulai pemebahasan menentang skisma Meletia. Pendirinya 
diskors dari jabatannya namun tidak diturunkan kedudukannya ataupun dibuang.
Akhirnya, konsili merumuskan dua puluh hukum gereja yang baru, yang disebut 
kanon, (meskipun jumlah yang persisnya dapat diperdebatkan, lihat [5]), yaitu 
aturan-aturan disiplin yang tidak berubah. Ke-20 hukum tersebut sebagaimana 
didaftarkan dalam Para Bapak Nicea dan Pasca-Nicea adalah sebagai berikut:[6]
1. larangan pengebirian diri sendiri; (lihat Origenes) 
2. penetapan syarat-syarat minimum untuk katekismus; 
3. melarang hadirnya seorang perempuan muda di rumah seorang rohaniwan karena 
hal itu dapat menyebabkan kecurigaan terhadap sang rohaniwan ; 
4. penahbisan seorang uskup di hadapan sekurang-kurangnya tiga uskup provinsial 
dan pengukuhan oleh metropolitan; 
5. dua sinode wilayah harus diselenggarakan setiap tahunnya; 
6. pengakuan wibawa luar biasa untuk para uskup dari Alexandria dan Roma, untuk 
wilayah mereka masing-masing; 
7. pengakuan terhadap hak-hak kehormatan dari takhta suci Yerusalem; 
8. syarat persetujuan dengan kaum Novatian; 
9â?"14. syarat untuk prosedur yang lunak terhadap orang yang murtad pada masa 
penganiayaan di bawah Licinius; 
15â?"16. larangan pemecatan terhadap imam; 
17. larangan riba di antara para rohaniwan; 
18. para uskup dan presbiter akan terlebih dulu menerima Perjamuan Kudus 
(Ekaristi) sebelum para diaken; 
19. pernyataan bahwa baptisan yang dilakukan oleh para penyesat tidak sah; 
20. larangan berlutut selama liturgi, pada hari Minggu dan selama 50 hari Masa 
Paskah ["pentakosta"]. Berdiri adalah sikap normatif untuk berdoa pada saat 
ini, dan hal ini masih dilakukan di antara kaum Ortodoks Timur. (Kelak, Gereja 
Barat menerima istilah Pentakosta untuk merujuk pada hari Minggu terakhir dari 
Masa Paskah, yaitu hari ke-50.) Untuk teks lengkap mengenai larangan berlutut, 
dalam bahasa Yunani dan terjemahan bahasa Inggris, lihat kanon 20 dari akta 
konsili. 
Sebagai kesimpulan, pada 25 Juli 325, para uskup di konsili itu merayakan ulang 
tahun ke-20 kaisar. Dalam pidato sambutannya, Konstantin sekali lagi 
memberitahukan kepada hadirin betapa ia membenci pertikaian dogmatis. Ia ingin 
Gereja hidup dalam keharmonisan dan damai. Dalam sebuah surat edaran, ia 
mengumumkan tercapainya kesatuan praktik oleh seluruh Gereja pada hari perayaan 
Paskah Kristen.
Namun sinode ini tidak tegas. Arius serta teman-temannya dihukum bersamanya dan 
kaum Meletia memperoleh kembali hampir semua hak mereka yang sebelumnya telah 
lenyap. Selain itu Arianisme terus menyebar dan menyebabkan perpecahan di dalam 
Gereja, sepanjang sisa abad ke-4.

#################################################################################



----- Original Message ----- 
From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 05, 2007 18:24
Subject: [Mayapada Prana] Kenapa disalib bukannya digantung ?

Wah ini sih pertanyaan yang kurang ajar ! Masalahnya Mang Ucup itu orangnya
usil; jadi ingin segala tahu, maka dari itu, saya berusaha untuk mencari
jawaban dari pertanyaan tersebut diatas.

Kenapa Tuhan Yesus harus disalib, bukannya di gantung, di pancung, di bakar
ataupun di rajam? Tugas dan misi Tuhan Yesus turun dan datang ke dunia ini
ialah untuk mati menebus dosa umat manusia. Kalau Tuhan di pancung pasti
lebih dari cukup darah yang akan keluar untuk menebus dosa-dosa kita, jadi
tidak seharusnya Ia menderita sekian lamanya di atas kayu salib, yang
penting kan matiNya! Entah itu mati digantung atau dipancung, atau dirajam
kan sama saja, ataukah mungkin karena orang Kristen membutuhkan tanda salib,
kan enggak lucu kalau di gereja dipasang tali atau batu sebagai pengganti
lambang salib.

Apakah mati dikayu salib juga merupakan satu persyaratan untuk menebus
dosa-dosa kita? Sebab di dalam Alkitab hanya tercantum bahwa upahnya dosa
adalah maut, tetapi tidak mutlak harus disalib! Bahkan tidak ada satu Rasul
Tuhan pun yang mati disalib seperti Tuhan Yesus.

Apakah Anda tahu bahwa bukanlah suatu kebiasaan orang Yahudi untuk menghukum
mati seseorang diatas kayu salib? Menyalibkan penjahat dalam keadaan hidup
tidak terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama, hukuman mati biasanya
dilaksanakan dengan lemparan batu (rajam).

Usai penghakiman biasanya korban dibantai dengan cemeti bertali-tali kulit.
Bantaian ini sangat melemahkan dan mempercepat kematiannya. Setelah itu ia
diharuskan memikul sendiri balok salibnya. Di depannya berjalan seorang
penggawal membawa "gelarnya" yakni tuduhan tertulis yang dituduhkan
kepadanya. Penderitaan yang sangat memalukan bagi seorang korban ialah pada
saat ia memikul kayu salib, karena pada saat tersebut ia masih dalam keadaan
sadar. Oleh sebab itulah orang Roma memakainya bukan hanya sebagai alat
penyiksa dan menghukum mati, tapi juga sebagai alat untuk menghukum
seseorang dengan cara yang sangat memalukan. Yesus tekun memikul kayu salib
dengan mengabaikan kehinaan (Ibr 12:2)

Untuk mempercepat kematian, biasanya pematahan kaki dilakukan, seperti yang
terjadi atas kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus, tapi ini tidak
perlu dilakukan kepada Yesus, karena Ia telah mati sebelumnya. Selama kaki
mereka masih utuh mereka bisa menarik nafas secara wajar, tetapi begitu
kakinya patah mereka akan meninggal dunia dalam saat beberapa menit saja.

Yang boleh menjatuhkan hukuman mati pada saat tersebut, hanyalah pejabat
dari kerajaan Romawi. Dan hukuman salib diberikan kepada para pemberontak
kerajaan Romawi, oleh sebab itulah Pilatus bertanya kepada Yesus "Engkau
inikah raja orang Yahudi?"

Tuhan Yesus diadili sebagai pemberontak yang dianggap ingin menjadi raja
dari orang Yahudi, maka dari itu tidak ada hukuman lain selainnya harus mati
dikayu salib!

Tuhan Yesus harus mati sebagai seorang pemberontak ini sudah di nubuatkan
oleh nabi Yesaya Yes 53:12 disamping itu Daud pun di dalam Mazmurnya telah
bernubuat dimana ia menyatakan bahwa "Ia melindungi segala tulangnya, tidak
satupun yang patah" (Mazmur 34:20)

Penulis-penulis sezaman menyimpulkan, bahwa kematian disalib adalah kematian
yang paling menyakitkan dan mengerikan. Namum keempat Injil tidak merinci
penderitaan ragawi Tuhan Yesus, melainkan dengan sopan berkata "mereka
menyalibkan-Nya".

Kalau dilihat dari text lagu-lagu di gereja ternyata banyak orang menduga
bahwa Tuhan Yesus itu disalib di atas sebuah BUKIT, tetapi sebenarnya tidak
ada satu ayatpun yang menyatakan bahwa Ia disalib diatas bukit, Lukas
menyatakan bahwa itu adalah "tempat" (Luk 23:33), jadi bukannya bukit
Tengkorak, begitu juga Yoh 19:17 Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar
ke TEMPAT yang bernama TEMPAT Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Perkataan bukit pertama kalinya muncul dari tulisan seorang pilgrim dari
Bordeaux pada tahun 333 M dengan sebutan "Monticulus Golgotha" atau bukit
kecil Golgota.

Epiphanius (321 - 403 M) menulis bahwa Tuhan Yesus disalib tepat diatas
kuburannya Adam, kepercayaan ini timbul sebab Tuhan Yesus adalah manusia
kedua yang di ciptakan langsung oleh Allah, jadi Yesus = Adam kedua. Menurut
pendapatnya ditempat tengkorak (Adam) Golgota itulah Ia disalibkan.

Maranatha
Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org

Kirim email ke