BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
013. Air Zat yang Tidak Biasa

Secara biasa atau sepintas lalu, pernyataan judul di atas tidak biasa. Semua 
orang akan berkata bahwa air itu adalah zat yang amat biasa. Marilah kita 
simak! Seperti pernah  dijelaskan dalam seri 009, ilmu  pengetahuan harus 
dibina atas landasan  Tawhid.  Dengan demikian  sumber  ilmu  pengetahuan itu 
adalah  wahyu,  alam  dan sejarah.  Wahyu berwujud Ayat Qawliyah, alam dan 
sejarah  disebut Ayat  Kawniyah. Namun khusus untuk pembahasan mengenai air ini 
tentu saja sumber informasi yang dipakai adalah wahyu dan alam, karena ruang 
lingkupnya adalah ilmu eksakta. 

Kita mulai dahulu dari sumber informasi wahyu. Berfirman Allah dalam S. Al 
Anbiyaa' ayat 30: Wa ja'alnaa minalmaai kulla syay.in hayyin, afalaa 
yu'minuwn., artinya: Dan  Kami jadikan  segala  sesuatu  yang hidup dari air, 
apakah mereka tidak beriman? Kebenaran wahyu harus diterima dengan iman. Namun 
untuk memahami wahyu dengan baik, harus memakai akal. Langkah pertama dalam 
mempergunakan akal adalah memikirkan makna ayat di atas itu. Kalau air itu 
diciptakan Allah sebagai sumber kehidupan, maka air itu adalah zat yang tidak 
biasa, artinya sangat istimewa. Lalu bagaimana istimewanya? Untuk menjawabnya 
haruslah mempergunakan akal untuk langkah berikutnya. Yaitu dalam hal ini kita 
pergunakan sumber informasi yang kedua, yakni alam. Dan dalam hal ini masuklah 
kita ke daerah ilmu / sains. Demikianlah metode pendekatan yang  dipakai dalam 
cakrawala:  Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu.

Tubuh manusia dalam bentuk bayi di dalam rahim berenang selama 9 bulan dalam 
air. Kemudian setelah lahir tubuh manusia terdiri atas sel-sel yang hidup. 
Setiap sel di dalamnya berisi air dengan larutan bermacam-macam zat. Darah kita 
lebih dari 90 % terdiri dari air. Ginjal terdiri atas sekitar 82 % air. Otot 
mengandung sekitar 75 % air. Lever 69 % air. Bahkan tulang yang kelihatannya 
kering terdiri atas 22 % air. Secara keseluruhan tubuh kita terdiri atas 71 % 
air di takar dalam berat. Dan air ini menguap, mengalir dari permukaan tubuh, 
dikeluarkan waktu menghembuskan nafas, dan secara sinambung harus diganti agar 
tetap 71 % untuk dapat mempertahankan hidup dengan ruh di dalam diri manusia.

Tetapi yang disebutkan di atas itu hanya menyangkut dengan tubuh manusia. Ayat 
di atas menyebutkan kullu syay.in, segala sesuatu. Maka perlu disimak lebih 
lanjut.  Rumus kimia air H2O, berat molekulnya 16. Kita bandingkan dengan 3 
saudaranya yang lain: H2Te (Te lambang tellurium), berat molekulnya 129. H2Se 
(Se lambang selenium) berat molekulnya 80. Dan H2S (S lambang sulfur/belerang) 
berat molekulnya 34. Jadi air yang teringan di antara ketiga saudaranya itu. 
Secara logika makin berat makin sukar mendidih. Dan ini benar untuk ketiga 
saudara air tersebut dan  juga untuk  saudara-saudara air lainnya.  H2Te 
mendidih pada -4 derajat C, H2Se mendidih pada -42 derajat C, jadi lebih rendah 
karena lebih ringan, berikut H2S mendidih pada -61 derajat C, lebih rendah lagi 
karena lebih ringan dari H2Se. Jadi kalau air itu termasuk zat yang biasa, maka 
titik didihnya akan lebih rendah dari -61 derajat C, karena air lebih ringan 
dari asam belerang H2S. Tetapi kenyataannya air mendidih pada 100 derajat C. 

Jadi Allah menciptakan air secara tidak biasa untuk keprluan hidup makhluk. 
Dengan titik didih air yang menyimpang itu maka air dalam keadaan udara luar, 
wujudnya dapat berupa tiga Fase / tingkat: es, air dan uap. Apa peranannya 
dalam kehidupan makhluk di permukaan bumi. Makhluk tidak dapat minum air, 
karena jika air itu adalah zat biasa, maka air dalam bentuk cair hanya 
didapatkan di bawah suhu -61 derajat C. Bukan itu saja, es timbul dalam air. 
Dan ini juga tidak biasa, karena zat yang lain tenggelam dalam zat cairnya. 
Coba bayangkan jika Allah SWT menciptakan air itu sebagai zat biasa, artinya es 
tenggelam dalam air. Di musim dingin air sungai dan danau di tempat yang ada 
musim dinginnya, air akan membeku dari bawah. Maka makhluk air akan mati semua. 
Inilah caranya Allah menjaga makhluk air supaya dapat tetap hidup di musim 
dingin. Air membeku dari atas, sampai cukup tebal, maka lapisan di bawah es 
tetap cair. Makhluk air berenang-renang dan tetap hidup di bawah lapisan es.
Bukan itu saja, air adalah zat pelarut yang paling rakus. Ini juga tidak biasa. 
Andaikata Allah menciptakan air dengan sifat biasa, tumbuh-tumbuhan, binatang 
dan manusia tidak mungkin dapat menyerap makanan yang dibutuhkannya, karena 
seperti kita ketahui makanan yang diserap oleh ketiga makhluk tersebut adalah 
berupa zat-zat yang larut dalam air.

Bukan itu saja. Air adalah zat yang paling rakus menyerap panas. Sebagai 
perbandingan bacalah data berkut: Panas penguapan air, 539,55, alkohol 204, 
asam belerang 122,1, bensin 94,3, terpentin 68,6, semua dalam kal/gr. Sifat 
rakus panas ini juga tidak biasa. Andai kata air diciptakan Allah dengan sifat 
biasa, maka bayangkanlah hal berikut: uap air di udara tidak banyak menyerap 
panas sinar matahari. Maka di siang hari seperti di gurun sahara yang kering 
udaranya, telur dapat matang di pasir. Di waktu malam dingin menusuk ke tulang 
sumsum. Keringat yang menguap di badan kita tidak cukup untuk melepaskan panas 
dari tubuh kita. 

Coba bayangkan terus andaikata air membeku dari bawah, maka air akan berkurang. 
Juga uap air di udara akan berkurang pula. Artinya kita disengat panas di siang 
hari dan disengat dingin di malam hari, walaupun tidak berada di gurun pasir. 
Jadi dengan kombinasi ketidak biasaan air: es timbul di air dan air rakus 
menyerap panas, maka ketidak biasaan air ini mengontrol iklim seperti kedaan 
sekarang ini, makhluk dapat bertahan hidup.

Bukan itu saja, air mempunyai tegangan permukaan yang paling besar di antara 
zat yang kita kenal. Akibatnya adalah yang kita kenal sebagai gejala 
kapilaritas, dan timbulnya tekanan osmotik yang tinggi. Dengan kapilaritas air 
dapat naik setinggi pohon yang tertinggi di dunia ini. Dan dengan tekanan 
osmotik yang tinggi, air dapat menembus lapisan akar tumbuh-tumbuhan dan 
menembus pembuluh darah kita.
Demikianlah Allah menciptakan air sebagai zat yang tidak biasa. Air khusus 
didisain oleh Allah SWT untuk kehidupan, seperti diinformasikan melalui wahyu 
dalam S. Al Anbiyaa , ayat 30. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 12 Januari 1993
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
********************************************************************

Kirim email ke