Keperawanan

Membahas Masalah Keperawanan (virginitas) sampai saat ini masih menjadi
suatu permasalahan yang sangat urgen dan slalu diperdebatkan, terlebih lagi
setelah saya membaca tentang seorang laki-laki muda yang bertanya pada
dokter pengasuh rubrik kesehatan di sebuah website. "Dok, mengapa di malam
pertama istri saya tidak mengeluarkan darah ya? Apakah istri saya sudah
tidak perawan?" Jawaban sang dokter ternyata sangat menarik dan sangat
bijak. Ia memulainya dengan kalimat, "Berapa liter darahkah yang Anda
butuhkan untuk meyakinkan diri bahwa istri Anda masih perawan?" Selanjutnya
dokter itu menjelaskan bahwa robeknya selaput dara tidak harus ditandai
dengan perdarahan. Selaput dara atau dalam bahasa medisnya dikenal sebagai
hymen, adalah membran tipis yang sebenarnya secara biologis tidak berfungsi
namun mempunyai beban kultural dan psikologis yang sangat berat bagi wanita.
Utuh tidaknya selaput ini akan menentukan langgeng tidaknya ikatan
perkawinan bagi sebagian orang. Ditambah lagi pemahaman banyak orang
mengenai selaput dara yang cenderung berbau mitos ketimbang faktanya.

Berdasarkan penelitian terhadap pasien yang datang di Klinik Pasutri Dokter
Boyke Dian Nugraha menunjukkan 83 persen laki-laki menghendaki calon
istrinya masih perawan. kemudian dokter Boyke berkata "Saya sempat kaget
sebab persentase demikian tinggi. Pria Indonesia cenderung munafik, mereka
menginginkan calon istrinya masih perawan. Padahal mereka pula yang merusak
keperawanan wanita," kata dr. Boyke Dian di sela-sela seminar nasional
Problema dan Realitas Seks Masa Kini yang diselenggarakan Fakultas
Kedokteran Unsoed.

Kata perawan (dalam kamus bahasa Indonesia), atau virgin (dalam bahasa
Inggris), maupun bikr (dalam bahasa Arab) mempunyai arti seseorang yang
belum pernah disentuh atau belum pernah menikah dan belum pernah berhubungan
intim dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Dan kata perawan dalam bahasa
indonesia bersinonim dengan kata gadis yang mempunyai arti yang sama, namun
jika diteliti, ternyata kata gadis tersebut berasal dari bahasa Arab yang
berarti suci, atau keperawanan adalah lambang kesucian dari seorang
wanita.yang menjadi permasalahan saat ini adalah keperawanan yang selalu
diidentikkan dengan pecahnya selaput darah yang telah menjadi mitos di
masyarakat, padahal faktanya secara medis, robeknya selaput dara tidak harus
diikuti dengan keluarnya bercak darah. Ada beberapa faktor yang menjadi
penyebabnya :

1. Terlalu rapuh

Bisa jadi selaput dara itu sudah robek sebelumnya karena terlalu rapuh.
Beberapa jenis olahraga seperti berkuda, bela diri, bersepeda dan sebagainya
bisa menjadi penyebab robeknya selaput darah. Apalagi kalau selaput darahnya
termasuk jenis yang rapuh.

2. Kelewat elastis

Tidak adanya bercak darah di malam pertama mungkin saja disebabkan belum
robeknya selaput darah karena sifatnya sangat elastis. Harap diketahui,
membran ini sangat fleksibel. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa
elastisitas selaput darah memungkinkannya tidak robek pada waktu pertama
kali berhubungan seksual. Bahkan ada yang baru koyak setelah wanita tersebut
melahirkan!

3. Darahnya tidak banyak

Atau bisa saja sebenarnya keluar bercak darah, tapi karena sangat sedikit
sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Banyak orang yang mengira kalau
selaput darah robek akan keluar banyak darah. Padahal karena sedemikian
tipisnya, selaput darah yang robek tidak selalu menyebabkan keluar darah
dalam jumlah banyak.

4. Tidak punya selaput darah

Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya penelitian tentang selaput
darah secara mendalam. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan karena dalam
penelitian yang dilakukan para seksolog ditemukan beberapa perempuan yang
sejak lahir memang tidak memiliki membran ini. Pada kasus ini keberadaan
selaput darah tidak selalu membuktikan bahwa perempuan belum pernah
melakukan hubungan seksual masih teruji kegadisannya.

MACAM-MACAM BENTUK SELAPUT DARAH

Ternyata tidak hanya tubuh yang bisa dilihat bentuknya, selaput darah pun
mempunyai bentuk dengan derajat kelembutan dan fleksibilitas yang
berbeda-beda. Semuanya bersifat individual, seperti penelitian yang
dilakukan Frank H. Netter, MD. yang termuat dalam bukunya The Human
Sexuality. Menurutnya ada bermacam bentuk selaput darah, yaitu :

a. Annular Hymen, selaput melingkari lubang vagina.
b.Septate Hymen, selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.
c. Cibriform Hymen, selaput ini juga ditandai beberapa lubang yangterbuka,
tapi lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak.
d. Introitus, pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan
seksual, bisa saja lubang selaputnya membesar, namun masih menyisakan
jaringan selaput darah.

Keperawanan (Virginitas) dalam kaca mata orang Timur, lebih merupakan
persoalan kultural. Hanya saja ada ketimpangan atau ketidakadilan gender
disitu, dimana perempuan cenderung dipojokkan dan dituntut untuk menjaga
keperawanannya, sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan
keperjakaannya.Virginitas kemudian menjadi sebuah mitos yang sangat sakral,
sehingga seolah-olah jika perempuan tidak virgin (perawan) lagi, habislah
seluruh harapan hidupnya. Oleh sebab itu, soal selaput dara tidak bisa
menjadi satu-satunya ukuran moral untuk menentukan baik-buruknya seorang
perempuan, sebab bisa jadi ia tidak virgin karena mungkin diperkosa, padahal
di situ cenderung dalam posisi lemah, atau mungkin berolah raga dan lain
sebagainya. Sehingga sangatlah naif dan tidak adil, jika mengukur moralitas
hanya semata-mata kerena ia tidak perawan, yang biasanya ditandai oleh
robeknya selaput darah. Kalau virginitas itu disebabkan oleh karena ia
melakukan seks bebas sebelum pra nikah, barangkali umumnya orang sepakat,
dan khususnya kultur orang Timur akan mengatakan bahwa hal itu merupakan aib
(kekurangan). Namun mestinya stigmatsiasi seperti itu juga harus diberikan
kepada kaum laki-laki, sehingga lebih adil. Oleh sebab itu, harus ada
pergeseran anggapan yang lebih berkeadilan gender. Artinya bahwa tuntutan
untuk menjaga kesucian sebelum pra nikah harus secara adil diberikan baik
kepada kaum laki-laki, tidak hanya perempuan. Memang untuk merubah pola
pikir seperti ini tidak mudah, sebab mitos mengenai keperawanan itu sudah
mengoyot (deep rooted) dalam pikiran, budaya dan kultur masyarakat kita.
Tidak berlebihan kiranya jika dikatkan bahwa masalah keperawanan nampaknya
lebih merupakan persoalan kultur, dimana aroma patriarkhinya sangat kental.
Ia kemudian menjadi mitos yang cenderung merugikan perempuan. Seolah
perempuan kalau sudah tidak perawan lagi dengan serta merta diklaim sebagai
perempuan yang tidak baik dan tidak bisa jadi harapan menjadi istri yang
baik. Akibatnya perempuan akan selalu merasa bersalah dan rendah diri
dihadapan laki-laki jika kehilangan selaput daranya. Anehnya tuntutan
seperti itu hampir tidak pernah diberikan kepada laki-laki. Mungkin karena
alat kelamin laki-laki yang sulit dideteksi secara medis. Namun bukankah
yang menyebabkan tidak virgin karena hubungan seks juga laki-laki? Jadi,
kultur patriarkhi itulah sebenarnya yang sangat mendominasi mempermasalahkan
soal keperawanan perempuan. Sebagai akibatnya soal keperjakaan seolah
diabaikan sama sekali. Sampai-sampai kadang jika lelaki menikahi perempuan
yang tidak perawan lagi, ia merasa tidak marem, ada something loss dalam
dirinya. Pandangan seperti ini jelas tidak adil dan sudah selayaknya
direkonstruksi.

Oleh karenanya perlu dibongkar dengan wacana yang lebih berkeadilan gender.
Sehingga seandainya laki-laki mau menikah dengan perempuan, mestinya tidak
perlu hanya terjebak kepada persoalan keperwanan, apakah selaput darahnya
masih utuh atau tidak, sebab boleh jadi calon istrinya seorang janda.
Memangnya laki-laki mau menikah dengan selaput darah? Oleh sebab itu, bagi
kaum laki-kali, hendaklah bisa memandang kaum perempuan secara lebih utuh
dan tidak parsial. Karena cara pandang seperti itu merupakan cara pandang
yang lebih manusiawi dan merupakan salah satu bentuk penghargaan kepada kaum
perempuan.

Walaupun perdarahan di malam pertama bisa menjadi bukti bahwa wanita
tersebut masih perawan (virgin), tapi tidak tertutup kemungkinan beberapa
wanita yang lihai dan sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, masih
tetap mengeluarkan bercak darah karena sisa selaput darah yang terluka,
sehingga ia terkesan masih virgin.Pendek kata, keperawanan adalah masalah
kepercayaan. Seorang wanita yang selaput darahnya robek karena olahraga dan
tidak mengeluarkan darah di malam pertama, apakah bisa dicap sudah tidak
gadis lagi? Sedangkan di sisi lain, ada wanita yang "lebih beruntung",
walaupun sudah berhubungan seksual berulang kali namun di malam pertama
masih keluar darah karena adanya sisa selaput darah yang terluka. Apakah
adil pelebelan perawan dan tidak perawan pada kasus di atas. Sekali lagi,
keperawanan adalah masalah kepercayaan. Bila kehidupan rumah tangga sudah
sedemikian bahagianya, apalagi dengan hadirnya sang buah hati, masih
memusingkan darah yang tidak "tertumpah" di malam pertama? Mitos tentang
selaput dara memang tidak semuanya sesuai fakta.

KEPERAWANAN DI MESIR DAN NEGARA ARAB

Di mesir, keperawanan adalah benar-benar dijadikan sebagai lambang kesucian
dari seorang wanita, tidak heran jika banyak wanita di Mesir yang diceraikan
pada malam pertama. Biasanya dan sudah menjadi adat orang-orang Mesir,
setelah melangsungkan aqad dan resepsi perkawinan, sebelum memasuki kamar,
kedua mempelai ditemani oleh 2 orang saksi yang setia menunggu di depan
pintu, bilamana sang pria tiba-tiba keluar dan melaporkan ketidak-perawanan
sang istri, hal itu kemudian diperiksa oleh saksi, dan jika hal itu benar,
maka si wanita dicerai pada saat itu juga dan lebih menyedihkan lagi, sang
wanita harus mengembalikan semua mahar. Hal ini jelas sangat merugikan kaum
wanita. Namun dengan kemajuan zaman, tradisi tersebut sedikit demi sedikit
mulai terkikis nilai-nilainya dalam masyarakat perkotaan.

Hal yang sama juga, tidak hanya terdapat dalam tradisi dan adat orang mesir
saja, melainkan juga dapat ditemukan di sebagian besar negara-negara Arab,
seperti Syria, Tunis dll. Dengan kata lain, keperawanan itu sangatlah
penting buat wanita-wanita Arab, dan dalam adat mereka, adalah AIB yang
sangat besar, jika pengantin wanita tidak perawan lagi, sehingga tidak
mengherankan jika wanita Arab yang boleh dikategorikan sebagai wanita yang
bergaul bebas atau nakal, tidak akan menyerahkan keperawanannya meskipun
terdesak, kalaupun tergoda dan nafsu, mereka akan meminta dengan sangat agar
boleh melaukakan apa saja asal tidak mengambil keperawanannya, ataupun
mereka lebih memilih untuk bersenang-senang melalui dubur demi terjaga
keperawanan mereka.

PANDANGAN ISLAM

Lantas bagaimanakah pandangan islam tentang keperawanan? Rasulullah SAW
bersabda : " Tidaklah yang dikatakan kaya itu dengan banyaknya harta
seseorang tetapi yang dikatakan kaya adalah mereka yang kaya jiwanya."
karena salah satu penyakit hati adalah " Hubbuddunya "(cinta akan dunia).

Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika seorang sahabat yang masih bujangan
itu ingin menikah apa yang ditanya Rasulullah padanya?Apakah ia perawan atau
janda?, Jawab sahabat tersebut " Sudah Janda ", Apa jawab Rasulullah ketika
itu? Kenapa tidak kamu nikahi yang masih perawan, agar bisa kamu mainkan.".

Jadi disini kita melihat zaman Rasulullah (mohon jangan dilihat pernikahan
Rasulullah dengan para istrinya, beliau menikah dengan janda kebanyakan dan
satu gadis, karena ini adalah kekhususan beliau, jangan-jangan ada yang
bilang, Rasulullah saja bujangan menikah dengan janda, sementara ketika ia
sudah menikah, masih milih yang perawan, yaitu 'Aisyah).Jangan melihat di
sana, tetapi lihat hadits perkataan Rasulullah dalam hal ini, menganjurkan
agar lelaki bujangan memilih yang masih perawan. Kalau ingin menikahi yang
janda dengan tujuan baik, ingin menolong, silahkan saja.

Dari semua uraian di atas, jelaslah bahwa keperawanan (virginitas) seorang
wanita sangtlah penting, yang merupakan lambang kesucian dari seorang gadis,
Namun yang menjadi permasalahan yang sedikit keliru adalah, virginitas
tersebut diidentikkan dengan selaput darah,yang sangat merugikan kaum hawa.
Padahal keperawanan bukanlah jaminan bahagianya atau langgengnya rumah
tangga. Olehnya itu, dalam masalah ini, Kepercayaan, keterbukaan dan
pengertianlah yang harus dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghargai
keperawanan di dalm menciptakan dan membina rumah tangga yang sakinah
mawaddah warahmah.

Semoga bisa memberi masukan kepada semua sahabat yang ada, Bila ada Kritikan
dan sanggahan Mohon dapat di email langsung ke saya di
[EMAIL PROTECTED]

Alhamdulillah telah Bisa melewati fase kehidupan yang satu ini  pada akhir
desember lalu

2008/1/8 Rofiko Rahayu Kabalmay <[EMAIL PROTECTED]>:

>   wanita diberi banyak keistimewaan secara fisik yang harus disyukuri dan
> dijaga
> namun adakalanya keistimewaan itu digunakan untuk membatasi wanita itu
> sendiri.
> keistimewaan itu juga bisa disalahgunakan dengan dalih karena kau wanita
> yang perlu dilindungi (oleh pria biasanya).
> wanita jelas berbeda dengan pria, dan hanya berdasarkan kodrat makanya ia
> berbeda dengan pria..
> kodrat di sini adalah apa yang diberikan Tuhan kepada wanita yang tidak
> dimiliki pria.
> mengalami menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui (ini kodrat wanita
> yang pria tidak punya!)
> jika soal keperawanan, apakah pria juga tidak punya?
> jika wanita harus dituntut selalu menjaga keperawanannya, lantas bagaimana
> dengan pria?
>
> saya teringat sebuah penelitian kecil sewaktu masih kuliah dulu.
> bersama beberapa teman, kami mengadakan survey kecil tentang pandangan
> terhadap virginitas.
> hasilnya ternyata ada standar ganda, yaitu virginitas harus dijaga wanita
> sebelum dia menikah (entah nantinya dia menikah dengan seorangl aki-laki
> yang juga masih perjaka tulen atau tidak tulen). yang anehnya, pikiran
> seperti ini dimiliki pria dan wanita yang menjadi responden survey
> kecil-kecilan itu. sederhananya begini,, pria boleh tidak perjaka tapi harus
> dapat wanita yang masih virgin, sementara hal sebaliknya tidak berlaku bagi
> para wanita (ini menurut survey itu loh..).
>
> Apa yang bisa kita petik dari sini? ternyata ada standar ganda dalam
> memandang masalah ini.
> Yang menggelitik adalah, kenapa wanita2 yang menjadi responden itu juga
> berpikiran yang standar ganda padahal ini menyangkut nasib mereka?
> Jawabannya adalah karena sejak lama wanita sudah berpikir dan memandang
> dirinya sebagaimana para pria memandang mereka (oto subyektif), dan ini
> adalah kinstruksi sosial yang dibangun sejak lama. Kita wanita hidup di
> dunia yang khas laki-laki (paternalistik).
>
> keperawanan adalah hal yang terberi (anugerah Tuhan, kalau mau dibilang
> demikian--karena pada dasrnya pria juga dianugerahi keperjakan bukan..?).
> menjaga keperawanan adalah pilihan, bukan kodrat (kalau kodrat berarti pria
> juga harus dong!). Artinya karena itu pilihan maka selayaknya sebuah pilihan
> pasti ada konsekuensinya. jika wanita dan pria sama-sama dituntut untuk
> menjaga virginitasnya, maka persoalannya akan mungkin lebih sulit untuk
> seorang wanita. sebab kadang-kadang keperawanan sering diidentikkan dengan
> bukti cinta (demi cinta, serahkan keperawananmu, buktikan bahwa kau cinta
> aku..!). memang tidak semuanya begitu, tapi banyak kan yang begini
> ceritanya..? atau mungkin juga karena virginitas lebih mudah pembuktiannya
> pada wanita dibanding pria.
>
> Akhirnya kembali lagi, HIDUP INI PILIHAN SAYANG....!!! cuma memang
> kadang-kadang pilihan-pilhan itu diberikan dalam posisi yang tidak seimbang
> antara wanita dan pria.
>
> Semoga dapat menjadi inpirasi siapa saja dan barmanfaat.
>
> Jogjakarta, 8 Januari 2008
>
> Rofiko Rahayu Kabalmay_ (ibu dari seorang putri)
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: rikrik wirasetiadi <[EMAIL PROTECTED] <paynasta%40yahoo.com>>
> Kepada: [EMAIL PROTECTED] <sarikata%40yahoogroups.com>
> Terkirim: Selasa, 8 Januari, 2008 10:20:27
> Topik: [Sarikata.com] [sarikata] bahan renungan buat wanita- yang
> wanitalah yang jadi korban
>
> wanita makhluk yang diciptakan alloh dengan segala keindahan, di lihat
> dari sisi manapun, mau dari depan, dari belakang, dari samping, pasti
> menarik, tidak ada yang tida menarik.
>
> itulah kelebihan wanita, apalagi yang kulitnya putih, rambutnya panjang
> terurai, paling enak tuk di belai.
>
> wanita makhluk yang teristimewa di dunia ini, sebab surga saja ada di
> telapak kakinya, surga ada di telapak kaki ibu dan ibu itu adalah seorang
> wanita, wanita sangat di muliakan dan di beri banyak keistimewaan salah
> satunya jika ia mengandungg anak dan melahirkan trus dia meninggal ketika
> berjuangan melahirkan anak, hal itu sudah jadi pahala jihad dan surga
> menantinya di depan mata.
>
> wanita di berikan makhota oleh yang maha kuasa yaitu mahkota keperawanan,
> hal ini yang harus di jaga, di rawat dengan sangat baik, dan suatu saat
> nanti ketika menikah diberikan kepada yang hak, yang di ridhio alloh dan
> orang tua. Namun sangat menyedihkan melihat pergaulan saat ini, begitu
> mudahnya keperawanan di berikan kepada yang tidak hak, pacaran yang terlalu
> lama membuat mereka merasa memiliki dan saling memberikan yang dilarang,
> akhirnya wanitalah yang menderita karena selalu ada bekasnya...
>
> jagalah apa yang dititipkan kepadamu wanita....
>
> menyesal tak ada gunanya karena nasi sudah menjadi bubur
>
> sebelum semuanya rusak...karena setan sangat kuat
>
> tak sedikit yang sampai berani menanggalkan pakainya hanya demi cinta yang
> buta..cinta kepada yang bukan haknya
>
> ------------ --------- --------- ---
>
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
> now.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> <!--
>
> #ygrp-mkp{
> border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px
> 14px;}
> #ygrp-mkp hr{
> border:1px solid #d8d8d8;}
> #ygrp-mkp #hd{
> color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px
> 0px;}
> #ygrp-mkp #ads{
> margin-bottom:10px;}
> #ygrp-mkp .ad{
> padding:0 0;}
> #ygrp-mkp .ad a{
> color:#0000ff;text-decoration:none;}
> -->
>
> <!--
>
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc{
> font-family:Arial;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
> margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
> margin-bottom:10px;padding:0 0;}
> -->
>
> <!--
>
> #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean,
> sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
> #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean,
> sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
> #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
> #ygrp-text{
> font-family:Georgia;
> }
> #ygrp-text p{
> margin:0 0 1em 0;}
> #ygrp-tpmsgs{
> font-family:Arial;
> clear:both;}
> #ygrp-vitnav{
> padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
> #ygrp-vitnav a{
> padding:0 1px;}
> #ygrp-actbar{
> clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
> #ygrp-actbar .left{
> float:left;white-space:nowrap;}
> .bld{font-weight:bold;}
> #ygrp-grft{
> font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
> #ygrp-ft{
> font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
> padding:5px 0;
> }
> #ygrp-mlmsg #logo{
> padding-bottom:10px;}
>
> #ygrp-vital{
> background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
> #ygrp-vital #vithd{
>
> font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
> #ygrp-vital ul{
> padding:0;margin:2px 0;}
> #ygrp-vital ul li{
> list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
> }
> #ygrp-vital ul li .ct{
>
> font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
> #ygrp-vital ul li .cat{
> font-weight:bold;}
> #ygrp-vital a{
> text-decoration:none;}
>
> #ygrp-vital a:hover{
> text-decoration:underline;}
>
> #ygrp-sponsor #hd{
> color:#999;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov{
> padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
> #ygrp-sponsor #ov ul{
> padding:0 0 0 8px;margin:0;}
> #ygrp-sponsor #ov li{
> list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov li a{
> text-decoration:none;font-size:130%;}
> #ygrp-sponsor #nc{
> background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
> #ygrp-sponsor .ad{
> padding:8px 0;}
> #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
> font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor .ad a{
> text-decoration:none;}
> #ygrp-sponsor .ad a:hover{
> text-decoration:underline;}
> #ygrp-sponsor .ad p{
> margin:0;}
> o{font-size:0;}
> .MsoNormal{
> margin:0 0 0 0;}
> #ygrp-text tt{
> font-size:120%;}
> blockquote{margin:0 0 0 4px;}
> .replbq{margin:4;}
> -->
>
> ________________________________________________________
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
> Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>



-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
えるウィン アリアンと
-------------------------------------

Kirim email ke