Mg Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 42:1-4.6-7; Kis 10:34-38; Mat 3:13-17

"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."


Di dalam setiap kehidupan bersama, masyarakat, organisasi, suku atau agama ada 
kebiasaan atau tradisi yang disebut 'inisiasi'. Inisiasi dalam bahasa Latin 
'initiatio' berarti upacara penerimaan, peresmian atau pentahbisan, sedangkan 
kata kerja bahasa Latin 'initio' antara lain berarti menerima orang dalam 
agama, memperkenalkan, menjadikan paham akan, mulai melakukan, meresmikan, 
menguduskan, mentahbiskan, menerima, memulai.  Secara konkret bentuk-bentuk 
inisiasi tersebut antara lain: pembaptisan dalam agama Katolik atau Kristen, 
pembacaan/pengucapan syahadat dalam agama Islam, penerimaan Sakramen Perkawinan 
bagi pasangan laki-laki dan perempuan yang membentuk keluarga baru, pentahbisan 
imam, pelantikan Paus/Uskup, kaul hidup membiara, masa orientasi/janji bagi 
para pelajar atau mahasiswa dan pegawai, dll, yang pada umumnya diselenggarakan 
secara meriah dan disaksikan oleh banyak orang, para sahabat atau 
saudara-saudarinya. Dalam upacara-upacara inisiasi ini ada pengikraran dari 
mereka yang sedang 'diinisiasikan' serta penugasan dari yang menerimakan atau 
peneguh/pendamping. Yesus sebelum melaksanakan tugas perutusanNya menerima 
inisiasi dengan pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes, dan ketika Ia dibaptis 
terdengarlah suara dari sorga :"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku 
berkenan." Maka baiklah pada hari raya Pesta Pembaptisan Tuhan hari ini, 
marilah kita mawas diri dan mengenangkan inisiasi yang telah kita terima dengan 
cermin peristiwa pembaptisan Yesus. Hari raya Pesta Pembaptisan Tuhan juga 
mengawali perjalanan kita memasuki Masa Biasa dalam Kalendarium Liturgi, maka 
refleksi-refleksi sederhana berikut di bawah ini saya akan mengangkat aneka 
macam bentuk inisiasi sebagaimana saya sebutkan di atas dan sejauh mana 
iniasiasi tersebut bermakna atau berarti di dalam hidup kita sehari-hari, dalam 
hidup dan tugas perutusaan kita masing-masing.  

 

1)      Pembaptisan

Untuk dibaptis kita memperioleh rahmat untuk menjalani 'hidup baru' antara lain 
hanya akan mengabdi kepada Tuhan saja serta menolak aneka macam godaan setan. 
Godaan setan yang menggejala dalam bentuk rayuan pemilikan 'harta benda/uang, 
kedudukan/jabatan dan kehormatan' dengan serakah dan kemudian menjadi sombong 
merajalela ada di mana-mana. Antara lain dengan harta benda atau uang banyak 
orang telah jatuh pada berbagai kenikmatan seperti seks. narkoba, makanan dan 
minuman yang membuat mereka sakit, menderita dan meninggal dunia. Jutaan atau 
milyardan rupiah telah dibelanjakan untuk kenikmatan seks dan narkoba yang 
merusak dan memperak-porandakan kehidupan. Maka sebagai orang yang telah 
dibaptis, disisihkan seutuhnya kepada Tuhan, marilah kita lawan dan berantas 
aneka macam godaan dan rayuan setan tersebut di dalam hidup dan pekerjaan kita 
sehari-hari. 

"Hanya akan mengabdi Tuhan saja" berarti kita memiliki cara hidup atau cara 
bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan antara lain dengan hidup saling 
mengasihi satu sama lain. Kita dipanggil untuk meneladan "Dia, yang berjalan 
berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai 
Iblis, sebab Allah menyertai Dia" (Kis 10:38). Marilah dalam perjalanan atau 
kesibukan hidup kita dimanapun dan kapanpun senantiasa berbuat baik keapada 
orang lain atau sesama, dan jika kita temui orang sakit dan menderita marilah 
mereka kita sembuhkan dan selamatkan.  Biarlah kita mendengar suara dari 
sorga/atas :"Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan".  

 

2)      Penerimaan Sakramen Perkawinan

"The family is the first and indispensable teacher of peace" (= Keluarga adalah 
guru perdamaian yang pertama dan sangat diperlukan), demikian kutipan Pesan 
Perdamaian 2008 dari Paus Benediktus XVI. Tokoh utama dalam keluarga adalah 
suami-isteri yang telah berjanji untuk dengan  saling mengasihi baik dalam 
waktu sehat atau sakit, untung atau malang, sampai mati. Dasar perdamaian 
adalah kasih, hidup saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap 
akal budi dan segenap tenaga atau tubuh. Bentuk atau perwujudan saling 
mengasihi ini kiranya sungguh menjadi nyata dalam relasi suami-isteri, 
laki-laki dan perempuan yang berbeda satu sama lain saling mengasihi sehingga 
sehati ->sejiwa -> seakal budi -> setubuh (bersetubuh). Bukankah dalam 
persetubuhan yang lahir karena dan oleh kasih sungguh dialami damai sejahtera 
luar biasa (para bapak-ibu atau suami-isteri kiranya dapat mengalami dan 
mensharingkan hal ini). Suami dan isteri saling menyisihkan/mempersembahkan 
diri seutuhnya dalam persebutuhan dan ada kemungkinan lahirlah buah 
kasih,seorang anak , yang sangat berkenan kepada mereka dan Tuhan. Kami 
berharap pengalaman damai sejahtera sebagai yang saling mempersembahkan diri 
dalam kasih tersebut dapat diteruskan dan disebarluaskan pertama-tama kepada 
anak-anak dan kemudian kepada saudara-saudari yang lain yang hidup dan bekerja 
bersama. Biarlah suami-isteri sama-sama mendengarkan suara dari sorga/atas: 
"Inilah pasangan hidup yang Kukasihi, kepada mereka Aku berkenan".   

 

3)      Pengikraran kaul hidup membiara

Dengan mengikrarkan trikaul, untuk hidup murni, taat dan miskin, mereka yang 
hidup membiara atau para religius memiliki tugas perutusan atau kerasulan 
"pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang telah dibaktikan, yang 
harus mereka pelihara dengan doa dan tobat"  (KHK kan 673). Maka dengan ini 
kami berharap kita semua yang merasa menjadi anggota hidup bakti atau  religius 
pertama-tama untuk menjadi saksi atau teladan sebagai orang yang telah 
dibaktikan seutuhnya kepada Tuhan, bukan pertama-tama mengutamakan atau 
mengedepankan gelar sajarna, doktor atau professor dalam karya dan tugas 
perutusan. Agar dapat bertindak demikian memang tidak boleh melupakan kebiasaan 
berdoa dan bertobat alias memperbaharui diri terus menerus agar semakin menjadi 
sahabat-sahabat Yesus. Biarlah kita para religius setiap kali mendengar suara 
dari sorga/atas :"Inilah anakKu yang Kukasihi, yang telah membaktikan diri 
seutuhnya kepadaKu dengan dan melalui cara hidup dan cara bertindak, kepadanya 
Aku berkenan"

 

4)      Pentahbisan imamat

Dengan menerima rahmat imamat ketika ditabiskan, kita, para imam telah menerima 
rahmat Tuhan untuk menjadi penyalur berkat Tuhan kepada sesama dan 
doa-doa/dambaan/kerinduan sesama kepada Tuhan. Peran 'penyalur' bagaikan 
'leher' dalam tubuh kita, yang siap sedia dilewati, menderita dan membahagiakan 
anggota tubuh lainnya. Semua yang lewat langsung diteruskan, itulah peran 
leher, 'leher' tidak pernah korupsi, tidak dapat menikmati apa yang 
melewatinya. Dengan siap sedia dan rela berkorban untuk dilewati, maka 'leher' 
sungguh berperan menyehatkan dan membahagiakan seluruh tubuh. Maka, marilah 
kita para imam menjadi 'leher-leher'yang baik, sehingga kita setiap kali 
mendengar suara dari sorga/atas :"Inilah imamKu yang terkasih, kepadanya Aku 
berkenan".   

 

5)      Janji pelajar/mahasiswa dan pegawai

Para pelajar dan mahasiswa memiliki tugas utama untuk belajar, sedangkan para 
pegawai atau pekerja memiliki tugas utama untuk bekerja. Agar layak disebut 
sebagai pelajar, mahasiswa atau pegawai/pekerja yang baik hendaknya setiap hari 
minimal belajar atau bekerja selama kurang lebih 7 atau 8 jam secara efektif 
dan efisien serta afektif. Persembahkan waktu, tenaga, hati, jiwa dan akal budi 
anda pada tugas belajar atau bekerja yang dibebankan kepada anda, jauhkan dan 
aneka macam bentuk korupsi (waktu, tenaga, harta benda/uang) selama waktu/jam 
belajar atau kerja. Biarlah setiap hari anda mendengar suara dari sorga/atas: 
"Inilah pelajar, mahasiswa, pegawai yang terkasih, kepadanya Aku berkenan".

 

"Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan 
berhiaskan kekudusan! Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, 
TUHAN di atas air yang besar. Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh 
semarak" (Mzm 29:2-4)

Jakarta, 13 Januari 2008   

Kirim email ke